Antara Purworejo dan Jakarta (3): Magnetnya Pasar Jenar

Sugiyarti Ugie

 

Pulang kampung alias mudik  selalu membuat semangat, selain ketemu dengan ibu, bapak, ragil, saodara, teman-teman waktu kecil dan aneka ragam pernik tanah kelahiran ada  satu yang tak  pernah  terlewat adalah  menikmati kekhasan pasar Jenar.

Pasar Jenar, terletak di jalan raya Purwodadi-Purworejo  tepatnya  di desa Jenar, strategis karena kalau naik angkutan umum bisa langsung turun persis di depannya.  Seperrti  umumnya  pasar-pasar di kampung, pasar Jenar mempunyai hari-hari khusus ‘hari pasar’nya  yaitu Minggu, Selasa dan Jum’at. Terus hari biasa gimana? Hari-hari biasa selain hari pasarnya itu disebut ‘warungan’ artinya tetap ada orang dagang tapi tak se‘pepak’ atau selengkap hari pasar yang 3 hari itu. Apa yang dijual? Semua ada, dari jajanan tradisional yang langka nan ndesooo, sayuran. gerabah, gula jawa  sampai baju, hanya kalau baju koleksinya sekedarnya.

Di wilayah Purwodadi-Bagelen sebenarnya ada 3 pasar  yaitu: pasar Jenar  dan pasar Purwodadi (wilayah Kec. Purwodadi) dan pasar Krendetan (Kec. Bagelen). Tetapi di antara ketiganya yang paling rame dan masyhur adalah pasar Jenar untuk wilayah Purworejo.   Mengapa? Mungkin karena strategis, terjangkau dan murah. Banyak juga pedagang dan pembeli berasal dari luar kecamatan seperti dari kota Purworejo, Kutoarjo, Banyu Urip.. dll. Ramee gitu.

Setiap pulang kampung kusempatkan untuk menjelajahi pasar ini, yang sekarang tampak lebih keren karena belum lama direnovasi oleh Pemda. Dari rumahku yang berbatasan kampung cukup 15- 20  menit jalan kaki, kira-kira 500M ke arah utara. Melewati sawah-sawah  menghijau yang kalau musim kemarau dulu  ditanami timun, makanya suka disebut ‘Timunan’.

Tapi sekarang, sawah-sawah ini ditanami palawija, cabe, jagung atau sayuran saja. Sejatinya aku kangen suasana timunan masa kecil, karena kalau musim timun, sepanjang jalan ada lapak  dengan rumah-rumahan  kecil yang berjualan timun dengan cara   timun ditusuk tali dan diiket  (direntengin)  dan digantung, isi nya 10-12 buah  dengan harga Rp. 1500 2 iket.  Haduuh kayanya masih terasa kriuk-krecesnya timun-timun jaman dulu  yang suka aku beli  sewaktu pulang sekolah yang panas. Kemecer.com.

Kali ini, aku  pulang jelang lebaran  bertepatan dengan musim mbediding yang diiiingin bangett. Dinginya udara tak menyurutkan niat menikmati pasar Jenar dengan makanan khasnya sego peneg atau sekul peneg khas Ngandul. Aku juga gak tau, kenapa untuk wilayah Jenar- Bagelen, makanan ini sangat dinikmati dan sering diomongin oleh perantau macam aku. Padahal apa si sego peneg itu? Nasi, sayur nangka muda bumbu lodeh (?), tempe-ayam, telur   bumbu opor putih yang dapat kita buat sendiri, tetapi akan jadi beda: lebih nyuus kalau itu dimasak ala Ngandul; nama padukuhan di desa Jenar Wetan. Dan  konon  resepnya hanya orang Ngandul turun temurun yang tahu!

Ada juga cerita tentang terjadinya peneg Ngandul ini, konon katanya modifikasi dari gudeg Jogja yang coklat hitam rasanya manis menjadi putih-merah dengan rasa  pedes dan gurih. Memang tak bisa disangkal  karena Bagelen (Purworejo) dahulu adalah wilayah Kraton Mataram, bahkan nama Bagelen  lebih top dari nama Purworejo, karena dulu nama sebuah kabupaten di  wilayah Mataram.

Selain peneg, tentu  banyak lagi makanan yang  perlu dirasa lagi, karena di perantauan tak ada  (susah) di dapat seperti:  geblek, srabi, cenil, clorot, kwehku, bacem tempe benguk /koro, buntil daun tales, lothek, growol (gadungan) dan lain-lain..  Asyiiknya  itu bisa kita beli di pasar Jenar! Semuanya!

Nah, makanya tak heran kalau Minggu, hari-hari libur sekolah, dan terutama jelang lebaran seperti saat ini pasar Jenar penuuuuhhhhh,  umpel-umpelan… … bahkan  jalanan macet, susah parkir; karena banyak mobil dengan  plat B, F, H, AB dsb tumplek bleg di sini.

Ternyata mudik juga merupakan berkah bagi masyarakat di sini. Alhamdulillah… Segala puji bagiMu ya Allah.

Bisa dimaklumi, semua kangen dan ingin bernostalgia..

 

Purworejo, 18 Agustus 2012

Salam sekul peneg dan semuanya…

 

Gerbang pasar Jenar

 

Pedagang sayur yang penuh semangat

 

Riuhnya pasar

 

Bakul peneg Ngandul

 

Kelan gori = sayur nangka peneg

 

Lauknya peneg

 

Bakul gula jawa

 

Srabi

 

Geblek = cireng?

 

Gerabah

 

Bumbon

 

Kelan matengan (sayur mateng) ada semur jengkol hehe

 

53 Comments to "Antara Purworejo dan Jakarta (3): Magnetnya Pasar Jenar"

  1. ugie  9 February, 2014 at 22:31

    Mbak Lina, apa panjenengan yg ku kenal ya?

  2. lina  9 February, 2014 at 19:31

    Wah… ini depan rumahku persis…

  3. ugie  22 September, 2012 at 19:05

    @ mbak Nana : Maaf kelamaan bls komennya … , makasih sudi mampir di sini , Salam sekul peneg juga ya ..
    @ mbak Silvia : … Iya mbak emang enak kog …. Tembira ini juga unik . Makasih ya telah mampir di sini . Salam manis dariku ..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.