[Serial Masa Terus Berganti] Jolang, si Jomblo Belang

Dian Nugraheni

 

Aku dan anak-anakku pindah ke sebuah rumah mungil di bawah kaki gunung di kota kami, beberapa bulan sebelum kami hijrah ke Amerika. Rumah mungil itu berada di sebuah perumahan. Lingkungan di perumahan ini sangat menyenangkan, alami, tenang, dan tidak berisik. Bila pagi datang, nampak kabut pegunungan masih membungkus alam sekitar, udaranya masih sangat sejuk. Bahkan ketika aku mengantar anak-anak ke sekolah, kira-kira jam 6.30 pagi, kabut pun masih nampak tebal, maka harus hati-hati ketika mengemudi.

Di rumah mungilku itu, aku punya tempat favorit, yaitu di dapur. Dapurnya memiliki dua buah jendela yang bisa dibuka lebar, dan tanpa teralis. Maka akan sangat nyaman, duduk di sebuah kursi rotan yang sudah tua, kapan pun waktunya, melepas lelah, melamun, baca buku, ngobrol dengan teman yang berkunjung, atau menikmati jatuhnya air hujan lewat pemandangan dengan frame kedua jendela tersebut. Biasanya, secangkir kopi Nescafe panas akan kuletakkan di kusen jendela, untuk melengkapi menikmati rasa nyaman itu.

Ada yang aneh dengan rumah mungil tempat tinggalku ini, atau, bila ini bukan hal aneh, anggaplah bahwa akulah yang tidak punya pengalaman bergaul dengan para kucing, karena dasarnya, semula, aku bukanlah penyuka kucing. Yaa, tepat di mana aku sering duduk di dapur, ke depan beberapa meter adalah pintu dapur yang bila dibuka, akan mendapatkan pemandangan tanah kosong berumput yang menyambung sampai belakang dapur.

Setelah seharian beraktifitas, antar anak sekolah, ambil cucian di tempat laundry kiloan, kongkow-kongkow dengan Ibu-ibu teman anak-anak, dan seterusnya, sampai tiba waktu jemput anak-anak dari sekolah, maka pulanglah aku dan anak-anak ke rumah ‘atas’, demikian kami menyebut rumah mungil kami.

Begitu aku buka pintu dapur, di depan pintu sudah berkerumun beberapa ekor kucing, mungkin lima atau enam. Terus terang, aku agak ngeri memandang kerumunan kucing itu. Ada yang warna kuning, ada yang belang-belang, ada yang bercak coklat tua dengan dasar bulu warna putih, ada yang hitam mulus, dan ada satu lagi kucing “raksasa” yang nampaknya blasteran dengan kucing “bule”.

Mereka mengeang-ngeong bersahut-sahutan, bercanda-canda bergulingan di rumputan depan pintu. Beberapa saat kemudian, bila aku dan anak-anakku enggak kasih mereka makan, satu per satu mereka akan pergi.Tapi ada dua kucing yang “awet”, dikasih makan atau enggak, masihlah tetep nongkrong depan dapur, yaitu si Cantik, dan si Jolang, demikian anak-anakku menjuluki keduanya.

Si Cantik ini, jelaslah kucing perempuan. Wajahnya memang cantik, dialah kucing berbulu dasar putih bercak coklat tua, dia nampak bersih dan cemerlang. Suara “meong”nya pun lain, lembut, manja, menggoda. Dan kalau belum dikasih sesuatu yang bisa dimakan, dia akan teruuusss…mengeong, berisik banget. Maka aku selalu ngalahin, bila tak punya makanan kesukaan kucing, kadang aku buatkan roti tawar disemir mentega dan parutan keju, dia mau juga.

Lain lagi dengan si Jolang. Kucing ini nampaknya masih muda, dan dia laki-laki. Si Cantik sering kali mendekat pada si Jolang, mendusel-duselkan badannya dan berguling-guling. Tapi sepertinya si Jolang kurang berkenan, maka dia akan menjauh, menghindar.

Anak-anakku memberinya nama si Jolang, mungkin karena terinspirasi dengan sebuah serial di tivi waktu itu, Si Bolang, maka dipas-paskan aja, dan jadilah sebuah nama, Jolang. Sedangkan yang bilang Jolang itu singkatan Jomblo Belang, adalah aku sendiri, karena setelah beberapa waktu mengamati, aku bisa menyimpulkan bahwa Jolang adalah termasuk seekor kucing yang suka menyendiri, alias suka menjomblo…

Si Jolang ini memang agak aneh, lagi-lagi menurut pandangan mataku yang gak pernah bergaul dengan kucing. Pernah dia naik ke tembok pembatas antara rumahku dengan rumah sebelah, dan…ya ampuuun, Jolaaaang, cuma tembok segitu, dia meong-meong mengenaskan, seperti mau turun tapi takut. Maka aku terpaksa ambil kursi, memanjatnya, buat nurunin dia. Itu juga karena anak-anak rame mlulu, “mamah, kasian si Jolang gak bisa turun…” Ohh, my God…

Pernah juga, suatu hari, hujan datang tak seberapa deras, aku sedang ngopi dan menyulut udud semriwingku di dapur, sambil memandang keluar, sedikit melamun, ketika tiba-tiba petir menyambar dengan suara keras mengagetkan, dan Jolang melompat sepuasnya dari luar, menerobos jendela yang terbuka lebar, menubruk cangkir kopiku, dan jatuhlah tubuh si Jolang dengan indah di pangkuanku. “Jolaaang..!! ihhh.., kamu nih bagaimana sih..” teriakku antara kaget, mangkel juga kopiku tumpah. Anak-anak segera menghambur dari ruang tamu, dan setelah aku bilang apa yang terjadi, mereka tertawa-tawa dengan puas. Hmmm…

Sampai aku pernah bilang sama anak-anak, “kayaknya Jolang nih kucing banci deh..”

“Kok gitu, kenapa, Mah..?” tanya anak-anakku waktu itu.

“Lha itu, sama si Cantik aja takut, naik tembok ga bisa turun lagi, ada petir langsung njontrot begitu, kalau dikejar kucing laki-laki lainnya diajak berantem, dia pasti masuk ke rumah…, itu namanya banci..” kataku.

Semakin hari, anak-anak makin sayang sama si Jolang, dan karena aku tidak mengijinkan kucing-kucing itu masuk rumah, maka anak-anak memohon-mohon, “cuma Jolang aja Mah, yang boleh masuk..” Akhirnya aku mengiyakan.

Rasa sayang anak-anak ini semakin parah, bila kami makan malam ngiras di warung lesehan pecel lele, maka anak-anak akan minta tas kresek pada penjualnya, mengumpulkan sisa-sisa tulang lele, “buat Jolang,” kata mereka. Dan keparahan ini makin menjadi-jadi ketika anak-anak akhirnya bilang, “sekali-sekali Jolang dibeliin lele utuh dong, masa dikasih sisa-sisa melulu, kan kasihan…” dan beberapa kali aku menurutinya.

Sampai suatu hari, ketika kami beli pecel lele, di bawa pulang, untuk dimakan di rumah saja, karena hujan nampaknya akan segera datang. Anak-anak makan di kamar sambil nonton tivi. Aku sedang menurunkan beberapa barang dari mobil yang diparkir di depan rumah. Sesudah itu, sedianya aku akan makan, ketika kulihat Jolang sudah “membuka’ bungkusan nasi pecel leleku. Maka kontan aku teriak, “Jolaang..!! Sambil kutepok si kucing dengan handuk kecil yang baru aku keluarkan dari mobil. Jolang terloncat turun dari meja, berusaha menemukan pintu keluar. Langsung anak-anak keluar dari kamar, dan bilang, “kenapa, Mah..?”

“Jolang Mamah pukul…, habis dia buka makanan Mamah, liat tuh..” kataku geram.

Si Kakak langsung menampakkan wajah gusar tingkat tinggi, suaranya nyolot, “dipukul pakai apaaa…?”

“Pakai handuk kecil.., nih..,” kataku sambil menunjukkan handuk kecil yang masih di tangan, rasaku benar-benar seperti terdakwa yang bersalah melakukan kejahatan pemukulan terhadap pencuri makananku sendiri. Kulihat kegusaran di wajah Kakak mereda demi menyadari bahwa Jolang hanya kupukul dengan menggunakan handuk, bukan gagang sapu atau sesuatu benda keras lainnya.

Si Adek terdiam, meletakkan makannya yang belum selesai. Si kakak langsung protes, “Jolang kan cuma kucing, Mah, dia nggak salah. Dia kan nggak tau makanan itu buat siapa, jadi ya salahnya Mamah kok simpannya nggak ditutup kek, pakai apa…, jangan pukul Jolang, dong..” Bicara begitu, si kakak juga meletakkan makannya yang belum selesai. Suasana jadi kacau.

“Sudah, makan Mamah kan sudah diendus sama Jolang, biar dimakan dia aja.., ini sisaku buat kucing yang lain..,” kata Kakak. Adiknya ikut-ikutan, “punyaku juga nih, aku sudah kenyang…”

Akhirnya, lama, Kakak dan Adek memanggil-manggil Jolang, disuruh masuk dapur untuk dikasih makan. Tapi sepertinya Jolang ketakutan, dia hanya ndepis di ujung teras, tanpa mau masuk. Maka anak-anak ambil alas kertas makan untuk membawa leleku yang masih utuh, tapi sudah terendus Jolang, dan memberikannya pada Jolang di teras. Setelah takut dan ragu, Jolang toh akhirnya mau makan juga, Kakak dan Adek menungguinya dengan duduk di depan pintu luar.

Setelah pengalaman hari itu, aku pun mencoba berdamai dengan kehadiran Jolang, berusaha bisa senang bila dia datang, berusaha ikutan gembira ketika anak-anak mencandainya dengan mengacung-acungkan sebuah lidi, atau berusaha ikhlas ketika melihat benang wollku lepas berantakan dari gulungannya ketika anak-anak berusaha membuat Jolang senang dengan segala permainannya, dan tentu saja ikutan memikirkan, tentang makanan si Jolang.

Hanya kurang lebih enam bulan kami bergaul dengan si Jolang, ketika tiba saatnya kami harus berangkat pindah ke Amerika. Setibanya di Amerika pun anak-anak masih terus mengingat Jolang, siapa yang kasih makan, bagaimana kalau hujan, dan lain-lain. Dan lewat Facebook, akhirnya aku tahu, bahwa Kakak minta tolong anak tetangga kami di perumahan, untuk merawat si Jolang, “tolong cari si Jolang, dan tolong dirawat, yaa..” Begitu berita terakhir yang aku dapatkan.

Sekarang, ketika tinggal di apartemen di Amerika, kami tak bebas untuk memelihara pet, atau binatang peliharaan. Karena banyak aturan yang harus kami penuhi bila akan mengadopsi atau membeli binatang peliharaan. Bila kami mempunyai binatang peliharaan, sepenuhnya harus mengurus binatang peliharaan itu layaknya memelihara sesuatu yang bernyawa, tak boleh asal pelihara. Bahkan sebagian orang Amerika memperlakukan binatang peliharaannya bagaikan anak kandungnya sendiri, harus dikasih makan makanan khusus yang tepat untuk binatang peliharaannya, di bawa ke dokter bila sakit, di bawa ke salon buat potong kuku dan memandikannya, diajak jalan-jalan, dan lain-lain.Jadi ketika anak-anak terkenang si Jolang, dan bilang, “Maaah, beli kucing dooong…”

Maka jawabku akan sangat singkat, “meooooong…” Itu saja. he..he…he….

Salam kangen si Jolang.

 

Virginia,

Dian Nugraheni

Sabtu, 28 Juli 2012, jam 10.15 malam

(Hujan berderak di luaran, hanya sejenak….)

Beginilah wajah Jolang, si Jomblo Belang (foto ini aku unduh dari sebuah website, karena beberapa foto si Jolang yang ada, entah hilang ke mana…)

 

14 Comments to "[Serial Masa Terus Berganti] Jolang, si Jomblo Belang"

  1. laura resti  18 February, 2013 at 13:09

    hahaha suka bgt sama komen no.11 nya mbak Tammy, bener bgt mbak kalo piara kucing malah kita yang ngladenin mereka . Manjanya memang berlebih, kelinci aj gak segitunya

    Nice story mbak Dian,jadi ingat Ibu saya waktu pertama kali kami piara kucing dulu hahaha *jempoool

  2. Bagong Julianto  3 September, 2012 at 05:50

    Sering gagal menjalin hubungan dengan kucing….
    Pernah berusaha nyeberangkan dua ekor anak kucing yang kebingungtakutan. Mereka menolak dan sembunyi di semak-semak…..
    Sekalinya ketamuan kucing, beberapa barang dicakarinya, yaaa, dengan susah payah si kucing kami ungsikan ke satu tempat, TPA/tempat pembuangan sampah. Sebelumnya saya pernah lihat beberapa kawannya ada berpesta di situ…..

  3. EA.Inakawa  2 September, 2012 at 18:10

    Dian : kebetulan saya penggemar anjing……pernah piara kucing, kucingnya pipis dimana mana, ampun deh…..kalau anjing bisa dilatih dan setia. salam sejuk

  4. Tammy  1 September, 2012 at 05:19

    Anoew: hahaha! Aku suka ilustrasinya! Pas banget! Tp aku tetep suka kucing. Kucing ada utk mengingatkan kita bahwa tidak semua makhluk diciptakan utk melayani manusia.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *