Kubangan

Fikrul Akbar Alamsyah

 

(Ini hanya keluh-kesah)

“Di kala itu juga, aku berpendapat : Bahwa orang yang punya itu banyak menimbulkan kesusahan pada yang tak punya Dan mereka tak merasai ini”

-PAT ; Bukan Pasar Malam-

 

Suatu pagi di hari kerja, seperti biasa saya memiliki rutinitas yang dijalani hampir tiap hari akhir-akhir ini sebelum bekerja, yaitu menuju daerah timur Kota Malang untuk suatu keperluan. Waktu itu sekitar awal bulan Maret tahun 2012, cuaca yang sejuk tetapi langit mendung & cenderung akan hujan. Sebenarnya melihat awan yang bergulung-gulung mendorong rasa malas saya untuk melakukan rutinitas pagi itu, hanya sajai dengan berbagai pertimbangan tetap harus saya lakoni.

Pagi yang murung, lebih tepatnya jika ingin diberi nama untuk pagi saat itu, dan benar dugaan saya tanpa komando awan yang bergulung-gulung itu dengan segala daya menumpahkan airnya ke permukaan Bumi. Saya yang waktu itu sudah sedang dalam perjalanan tak khawatir dengan tumpahan air yang cukup deras karena ponco/jas hujan/mantel apapun namanya sudah terpakai dari rumah, yang saya khawatirkan hanyalah jarak pandang yang sedikit berkurang. Semua berjalan lancar, sampai saat memasuki kawasan Malang daerah kabupaten, jalan sedikit bergelombang bahkan tidak sedikit yang berlubang, akan tetapi hal-hal seperti itu layaknya hal yang biasa karena memang tiap hari saya dan orang-orang yang melewati jalan itu menjumpainya.

Semua orang sangat “antusias” pagi itu, kendaraan tidak sedikit yang dipacu kencang-kencang agar segera sampai ditujuan dan memang setiap hari seperti itu. Akan tetapi fenomena itu akan menjadi masalah jika dilakukan saat hari hujan, kontur jalan yang tidak rata ataupun berlubang menyebabkan genangan air disana-sini, al hasil semakin kencang kendaraan bermotor dipacu di jalan yang bergelombang itu, maka akan muncul korban-korban akibat percikan air yang tidak sedikit volume air yg dilemparkan. Hal ini juga terjadi pada saya, sebenarnya sesama pengendara roda dua mau tak mau harus bisa menerima jika terpercik air yang berasal dari kendaraan lain, yang saya sayangkan jika seorang pengendara kendaraan bermotor, baik itu yang beroda dua atau empat dengan enaknya menerobos kubangan air yang ternyata percikan airnya mengenai pejalan kaki ataupun orang-orang yang sedang memiliki kesibukan di sekitaran kubangan air itu.

Kadang melihat hal tersebut saya hanya bisa berkata-kata dalam hati semoga saya tidak melakukan hal yang sama, hanya sebatas itu. Pada hal semestinya lebih dari itu, kalau memang benar-benar cinta Negeri ini, kata John F. Kennedy “jangan tanya apa yang negara berikan padamu tapi tanyalah apa yang kamu berikan pada negeri ini”, memang ada benarnya kutipan ini tapi hati kecil saya mengatakan hal itu sedikit Bullshit.

Wajarlah jika saya mempertanyakan kemana potongan gaji saya yang tiap bulan itu, apakah karena kecilnya nominal potongan gaji bulanan itu maka saya tak pantas mempertanyakan?, apakah karena masa kerja saya yang hanya dua tahun ini maka saya tidak berhak menuntut perbaikan jalan? yang sebenarnya merupakan kepentingan bersama. Aaaahh… entahlah…

Kembali pada perjalanan pagi saya, sebenarnya apa substansi pencantuman kuitpan di awal tulisan saya ini dengan percikan air ataupun kutipan JF Kennedy itu?. Kaitan dengan JF Kennedy jujur saya katakan tidak terlalu terkait sedangkan dengan percikan air maka saya tekankan bahwa ada hal yan terkait.

Pertama, saya mempertanyakan dimana rasa empati org yang “berpunya” kendaraan bermotor terhadap pejalan kaki ataupun sesama pengendara lainnya.

Kedua, Andaikan mereka (pengendara bermotor roda 2 & 4) memiliki empati, mana bukti dari empati tersebut.

Saya sadar, beberapa kali terkena percikan air tidak bisa selalu digeneralisir bahwa seluruh pengendara kendaraan bermotor itu kurang peduli dengan sesama. Masih banyak yang beritikat baik, akan tetapi cemar oleh beberapa perilaku pengendara.

Sikap toleransi dari orang yang “berpunya” harus selalu ditanamkan setiap saat, setiap waktu agar setiap orang yang berkendara ataupun yang berjalan di sekitar jalan raya dapat merasa tenang dan nyaman, jika meminjam istilah seorang kawan maka ingin saya sampaikan mestinya setiap orang dan pengendara bisa “bergembira” dalam menjalani perjalanannya.

 

11maret2012; 20:28

 

14 Comments to "Kubangan"

  1. uchix  4 September, 2012 at 18:55

    Seringkali jadi korban cipratan karena tiap hari ke kantor jalan kaki atau naik sepeda hehehe
    Hanya bisa ngelus dada sambil ngomong sabar2 karena sudah capek marah2

  2. Fikrul  4 September, 2012 at 15:05

    Pak Sumonggo, wah enak betul itu kyannya. Moga bapak bisa berbagi seperti apa martabak kubang itu di Baltyra, kalau perlu fotonya pak juga di unggah. Matur Nuwun

    Mbak Dewi, iya mbak pajaknya banyak yang salah alamat kyanya. Perbaikan jalan ga teratur tapi kok gaji bpk itu teratur ya.. ck..ck..g hbs pikir hehe…

    Mas Usop, bener mas. Kadang perlu juga berbagi kesusahan biar orang2 bisa saling menghargai

    Pak J.C. “tepa slira & “nguwongke uwong” bisa dijadikan sebuah tema tulisan baru itu Pak, gimana kalau bapak berbagi tentang itu Pak :-p

    Iya Pak Bagong Julianto, sekarang ritme kehidupan semakin cepat saja, kadang saling terciprat merupakan hal biasa dan saling cuek.

  3. Bagong Julianto  3 September, 2012 at 14:51

    Pernah memerciki orang lain, dan lebih sering terperciki oleh orang lain saat di seputar jalan kubangan…..
    Nggak bisa minta dan atau memberikan maaf, saling lalu saja……

  4. J C  3 September, 2012 at 10:27

    Orangtua saya memberikan petuah yang tidak pernah saya lupakan: “tepa slira” dan “nguwongke uwong”… (pak Hand yang menjelaskan ya… )

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.