[Serial Negara Kapitalis] Betapa…

Dian Nugraheni

 

Kalau sudah rejeki, tak kan kemana, begitu peribahasanya…

Serupa dengan usahaku beberapa bulan ini untuk mencari kerja, aku masukkan dua buah lamaran online pada dua perusahaan ritel yang cukup terkenal di Amerika.

Perusahaan ritel yang ada di dekat tempat tinggalku malah tidak memberikan tanggapan, alias nggak ada panggilan. Satu perusahaan ritel lainnya, sebut saja GE, berjarak sekitar 5 km dari tempat tinggalku, langsung memberi kesempatan interview.

Rupanya jadwal antara yang aku punya, dan yang GE punya, tidak match.., aku hanya punya waktu pagi sampai sore, sedangkan GE mencari orang yang bisa bekerja dari evening, sampai midnight.

Dengan tegas aku sampaikan, bahwa aku tidak bisa bekerja di waktu sore sampai malam, masih aku tambahkan, hari Minggu aku nggak bisa kerja, karena anak-anak nggak sekolah, dan mereka bakalan seharian di rumah tanpa aku, Ibunya..wahh, bagaimana pun, anak-anak adalah segalanya.

Akhirnya, orang yang mewawancaraiku bilang, “I’m sorry, we have no job for you this time..”, alias ditolak, gak diterima kerja.

Aku jawab, “It’s ok M’am, I appreciate, you’ve gimme interview…gud day..”

Beberapa hari kemudian, aku sudah berpikir untuk mencari kerja di tempat lain, ketika tiba-tiba, GE yang sudah menolakku tersebut, ternyata menelepon kembali, dan setuju memberiku kesempatan kerja di pagi sampai sore hari, “Datanglah dan kita bicara jadwal..” begitu katanya.., kemudian, jadilah aku karyawan baru di GE…

Banyak perusahaan ritel di Amerika, di masa krisis ini, berlomba-lomba berusaha menarik perhatian calon customer dengan segala cara.., diskon besar di hari-hari tertentu dalam satu minggunya, harga murah, kualitas bagus, dan lain-lain.

GE, lain lagi, dia ingin memberikan surprising customer, dengan cara melayani, sejak customer masuk ke dalam toko, mencari barang-barang yang akan dibelinya, sampai customer akan masuk ke mobilnya di parkiran, ketika akan pulang.

Salah satu tugasku, mendampingi customer di dalam toko ketika dia menanyakan barang-barang yang sulit ditemukan, sampai mendampingi mereka jalan keluar dari GE menuju ke mobilnya di lot parkir depan..hmmm…

Pegel, capek, karena kerja..ahh..sudah biasa.. Jadi bawahan di suatu perusahaan..juga sudah pernah. Jadi boss dalam usaha sendiri..ya..sangat pernah aku jalani. Jadi boss untuk beberapa crews dalam usahaku..pernah juga. Jadi, lumayan lengkaplah bekalku. Moga-moga berguna untuk kerjaku yang baru ini.

Serupa juga dengan di Indonesia yang terdiri dari suku bangsa..terkadang karakter wajah kita bisa mirip satu sama lain. Misalnya suku Dayak, hampir mirip dengan orang China, orang-orang Indonesia Timur, sedikit mirip dengan wajah orang Arab, dan seterusnya.

Di Amerika pun, orang-orang selalu nylonong gitu aja, ngajak aku bicara dengan bahasa Spanyol, bahasanya Telenovela. Biasanya aku akan tunggu sampai orang itu selesai bicara, habis itu aku akan bilang, “maaf..saya tidak bicara bahasa Spanyol..”, dan biasanya mereka akan terkejut, “..ohh, maaf, habis mukamu kayak orang-orang Spanish sih..” hmmm..(lagi..)

Tapi ketika ketemu Nguyen Dat, seorang konsultan pajak, dan Vily, kasir yang orang Vietnam.., mereka pun langsung nyerocos pake bahasa Vietnam.., ternyata ada muka Vietnam juga pada wajahku.. Dan Nguyen Dat serta Vily pun menanggapi serupa..”ohh, aku kira kamu orang Vietnam…”

Nah, kalau dibilang ..”are you Philipine..?” masih agak pas..he..he…

GE, berada di daerah uptown, daerahnya orang-orang kaya, yang kebanyakan bukan sewa apartemen untuk tinggal, tapi punya single house sendiri. Kalau belanja, para lelaki, pakaian mereka neces, atau pakai jas. Dan yang perempuan, para Lady, ya..menampakkan penampilan kelas atas, berpakaian bagus, rapi, dengan dandanan cantik, perhiasan lengkap.

Kadang, ada seorang Lady, yang cuma beli satu pot kuecil bunga, harusnya dia bisa tenteng sendiri, tapi tetep minta dilayani, minta dibawakan dan diantar sampai mobilnya. Setelah aku dampingi, aku pikir dia cuma pengen ada teman ngobrol sampai parkiran..dan dia mengulurkan tip sedikit dollar untukku.

Salut, untuk kaum manula di Amerika, rata-rata mereka tetap beraktifitas sampai di usia tuanya tersebut. Bener-bener mereka itu tua. Sudah thuyuk-thuyuk, bahkan sudah buyuten, pake teken (tongkat) lagi jalannya.

Meski sudah keliatan sangat tua, bila mereka mampu, mereka masih jalan, belanja, bepergian ke mana-mana, dan nyetir mobil sendiri.

Seperti kali ini, seorang Nenek tua, bongkok, membawa tongkat, mendorong troli belanjanya sendiri menuju parkiran.

Ketika aku tawarkan, “can I help you M’am.. ?”

Dia jawab..” Ohh..no, I”m fine..thank you..”,

Tapi sesuai tugasku, aku tetap mendampingi Nenek itu jalan sangat pelan, dan benar, ternyata manula itu mengajakku ngobrol ngalor ngidul.

Terus terang aku nggak ngerti semua arti kata-kata yang Nenek ucapkan tadi, tapi dengan bahasa tubuhku, aku menyampaikan, “Senang mendampingi anda..,” dan ketika dia membuka dompet untuk memberiku tip, aku menolaknya dengan halus, “…no M’am, I do my job.., thanks for shopping at GE, please come again next time..”

Dan si Nenek itu memekik kecil, ..” ohh, no sweety, my dear.., you’ve help me..I’ll give you dollar..”, dan aku memberikan salam takzim sebagai orang muda, tetap menolak tipnya, karena aku tak membantu apa-apa, cuma menemani dia sampai mobilnya.

“I appreciate that, young lady..” katanya ketika mulai menyalakan mesin mobilnya. Aku sudah senang melihat wajah Nenek keriput itu berseri, sorot matanya mengekspresikan senang, itu sudah lebih sebagai tip dollar bagiku..

Hari ketiga bekerja, suasana GE agak sepi. Aku berdiri dekat Debby, kasir yang hampir selalu mengajak ngobrol customer yang sedang membayar, mengakibatkan antrian di belakangnya tertahan dan bertambah panjang, ketika seorang laki-laki yang cukup tua, memandangku tersenyum. Aku menengok ke belakang, dan sekilas ke sekelilingku, tak ada yang menanggapi laki-laki itu.

Aku maju menghampirinya, ketika dia melambai kecil ke arahku.., “Yes, Sir..can I help you..”

“Yaa.., hmm, Dian..,” begitu sapanya ketika dia melihat nama di Name Tag di dadaku.

“Yes, Sir..”

Kemudian laki-laki tua itu memperkenalkan diri, “my name Muhhamad, dari mana asalmu..”

Aku jawab, “Indonesia, Sir..”

“Ohh.., I love Indonesia…are you married ?”

“Yes Sir..”

“Your husband living here with you..?”

“Yes Sir, I living here with my husband and my two kids..” kataku agak bingung, belum bisa menangkap maksud pertanyaannya.

“Ohh..ya, can you help me, Dian, carikan aku wanita Indonesia untuk aku nikahi..” Glek..! Hmmm (lagi..lagi…).

Sebenernya aku pengen ketawa, tapi aku in charge dalam pekerjaanku, aku harus sopan. “Mmm, I’m sorry, Sir.., I don’t know exactly.., maybe I must ask my husband first, maybe he knows about that…”

“Ohh, ya..it’s okay..I can wait.., I can wait..” lelaki tua itu mengulangi kata-katanya, seolah meyakinkan aku.

“Nice to see you, Dian..see you next.., okay..”

Wadooowww.., cilaka tah kiye (sial nih..), moga-moga ketika Bapak Tua itu belanja lagi di toko ini, jangan pas ketemu aku..hehehe..kalau dia beneran nagih janjiku..apa nggak bingung aku..paling nggak aku harus nyiapin jawaban dari sekarang, bila akhirnya ketemu Bapak itu lagi, mungkin aku akan bilang bahwa aku belum berhasil menemukan pasangan buatnya… Hmm.., dikiranya aku mak comblang, apa..hehhh…

Salam new employee…!

Carlin Spring,

Arlington-Virginia

 

Dian Nugraheni,

Hari Senin, tanggal 19 April 2010, jam 6.23 sore

Angin di luaran menderu-deru..membawa hawa dingin dari bumi belahan utara..

 

17 Comments to "[Serial Negara Kapitalis] Betapa…"

  1. Dian Nugraheni  6 September, 2012 at 08:02

    Ehh, iyaa, baru tau kalau Note ini muncul di baltyra…he2.., maka saya perlu memberi penjelasan lebih lanjut. Soalnya ini Note, saya tulis ketika pertama2 banget “bisa” nulis, sehingga mungkin ceritanya masih belum “ketangkep” yaa.

    Nahh, begini penjelasannya :
    1. Di amrik, kalau kamu sudah menikah, maka pakailah cincin kawinmu, agar orang bisa memperlakukan kamu sesuai dengan statusmu itu. Saya emang nggak betah pakai perhiasan, termasuk cincin kawin pun saya ga bisa pakai, maka pantaslah kalau si Bapak itu bicara sama saya seperti itu, “are you married..?”

    2. Yang nomor dua ini, saya nggak enak sebenere mau bilang, tapi setelah agak lama di sini,aku jadi tau, ternyata ada “kalangan” orang2 Indonesia yang memang dianggap “gampangan”, bahkan kata salah satu dari mereka, ada yang bilang, “kalau perempuan2 yang begitu itu dianggap perempuan one dollar store..”..One Dollar Store adalah Toko Serba Satu Dollar..bayangin deh…Itu mengapa nggak aneh akhirnya saya pikir, knapa si Bapak itu sampai “berani” bilang terus terang minta dicarikan “istri” atau istri orang Indonesia..

    3. Banyak juga di antara sesama orang Indonesia, yang suami siapa diambil siapa, istri siapa diambil siapa, masih punya suami juga bisa nemplok ke mana2…Juga banyak yang di indonesia masih punya suami, di amrik kawin lagi, baik sama bule maupun non bule, dan katanya kalau pulang visit indonesia, ya balik lagi sama suaminya di indon, ntar balik amrik, balik lagi sama yang di amrik…

    4. Untuk kasus si Bapak ini..,ada hal yang mengejutkan lagi, bahwa ternyata, setelah omong punya omong, aku jadi tau bahwa salah satu temen kerjaku di GE ini memang ada yang kerja sambil kerja “samben”..artinya, dia,temenku yang sama2 kerja di GE ini, adalah kasir merangkap “makelar” begituan, bahkan dia bisa sediakan yang short time..bla..bla..bla…

    He2..demikianlah penjelasan singkatnya, perkembangan kasus waktu itu..serius banget ehh kasih keterangannya..ha2..

    Yaa, lama kelamaan, saya jadi banyak ngerti bagaimana hidup di amrik sebagai perantau, dan lebih mengenali apa2 yang ada di sekitar kita, tinggal pilih, mana yang baik, ambil, yang ga baik, jauhin aja..bikin refoth lah ya…ha2..Thanks bangets semuanya yaa…

    salam manis….buat semua teman baltyra, dari mbak Dian yaa…

  2. Bagong Julianto  3 September, 2012 at 15:10

    Ini kisah tahun 2010….
    Pengin tahu, bagaimana saat ini?

  3. Lani  3 September, 2012 at 14:08

    AL : itulah yg aku komentarkan disini………kerja sampingannya buka biro jodoh…….

  4. J C  3 September, 2012 at 10:34

    Dian, membaca artikel ini belajar sesuatu yang lain lagi. Etos kerja di sana dengan di sini sangat jauh berbeda. Aku belum pernah ketemu/mengalami di retailer/hypermarket yang memiliki attitude atau etos kerja seperti dikau, dan yang seperti Dian ceritakan bahwa karena sengitnya persaingan, masing-masing business harus punya strategi yang berbeda dengan para pesaingnya. Salah satunya adalah customer service level yang setinggi-tingginya.

    Perbedaan mencolok dengan etos kerja di sini.

  5. Dewi Aichi  3 September, 2012 at 07:19

    Wakakakakaakakaa…Dian..ketanggor ha ha…itulah menariknya ..

  6. Alvina VB  3 September, 2012 at 04:09

    Mbakyu Lani, lama-lama Dian bisa buka biro jodoh…he..he……(just kidding….)

  7. Lani  3 September, 2012 at 01:58

    KANG MONGGO : kok cm istri ke 4????? sapa tau istri ke 12?????? hahahah……..krn bolak-balik cerai dan mungkin istri2nya dut…….?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.