Democratic Republic of Congo: Drama Kehidupan Congolaise

EA. Inakawa – Kinshasa, Africa

 

Di sepanjang tatapan mata  ………….. di berbagai tepian lintas desa yang kulalui

Yang terpandang hanyalah gubuk jerami di antara ladang jagung dan ubi kayu yang kering bermandikan Matahari 45 derajat celcius, suasananya mengingatkanku tentang sebuah desa terpencil di tanah air.

Di depan sana ada sebuah anak sungai yang berbagi lintasan di antara lahan pertanian yang hanya dihubungi oleh 5 batang pohon kelapa, salah satu batang kelapa tersebut ternyata memiliki satu cabang sehingga titi kelapa tersebut terlihat unik, dijadikan anak Congolaise sebagai tempat berayun sebelum terjun ke anak sungai.

 

Di sebelah kanan jalan ada ladang sayur dengan pematang jalan kecil…..terlihat seorang bocah berkulit hitam pekat bertelanjang dada dengan sepatu dari bahan ban bekas dengan rambut keriting mengkruwel berusaha menyeimbangkan tubuh gembulnya yang lucu seakan sedang berjalan di atas rentang tali layaknya bermain akrobat.

Melihatku yang berkulit bening ada sesuatu yang aneh menurutnya…..DAN itu yang membuat keseimbangannya limbung, aku tersenyum sendiri melihat ia terjatuh berguling tanpa menangis bahkan tertawa-tawa lucu.

 

Di sudut lain sekelompok temannya bermain bola kaki yang dibuat dari kumpulan kertas yang dibalut kantong plastik bekas menjadi bola (mengingatkan kita juga) kepada legenda pesepak bola dunia PELE yang pernah menceritakan masa kecilnya bermain gelondongan bola kertas yang sama dengan anak-anak tadi.

Itulah sebuah pemandangan di sebuah desa Meneditu DR.Congo dimana aku sedang menyambi tugas. Mungkin ada yang mengingat berbagai film perbudakan Afrika/Negro.

DR.Congo di sekitar abad ke 15 s/d 19 di masa masih adanya bentuk Kerajaan merupakan salah satu lumbung penghasil BUDAK belian yang dipasarkan ke berbagai negara Eropa.

Pada artikel kali ini penulis ingin membawa pembaca sedikit mengetahui kondisi DR.Congo dalam drama kehidupan yang cukup memprihatinkan bagaikan tak kunjung sudah……….

 

DR.Congo sebuah negeri dengan sejarah 5 x perubahan nama :

* Congo Free State (1870-1908) di bawah Koloni Belgia. Pada masa itu dikenal sebagai peristiwa Exsplorasi Eropa di bawah sponsor Raja LEOPOLD II. Pada masa koloni Belgia berkuasa inilah Belgia memberikan andil yang besar atas suksesnya serangan Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945 karena menjual begitu banyaknya kebutuhan uranium kepada Amerika sebagai bahan baku bom atom, DRC dikenal memiliki cukup banyak cadangan uranium.

* Belgian Congo (1908-1960) di bawah kekuasaan Belgia dengan ibukotanya Leopoldville (Kinshasa saat ini).

* Rep Of The Congo  (1960) atau dikenal juga sebagai Congo Leopoldville.

Dengan Presiden terpilih di hari Kemerdekaan tgl 30 Juni 1960. Joseph Kasavubu dan Prime Minister I : Patrice Emery Lumumba.

Keduanya dibenci Amerika karena kedekatannya dengan Uni Soviet. Dan kemudian terguling oleh Mobutu Sese Seko.

* ZAIRE (1965 – 1997) di bawah Presiden Joseph Desire Mobutu yang dalam sejarah DRC tercatat sebagai penguasa yang melakukan 2 x perubahan nama……

1.Merubah nama Rep Of The Congo setelah kudeta yang dilakukannya menjadi Zaire pada tahun 1971.

2.Setahun kemudian giliran namanya pula yang ia rubah menjadi Mobutu Sese Seko yang artinya SANGAT AGUNG).

* Dan terakhir 1997 President Laurent Desire Kabila  merubahnya menjadi :

Democratic Republic Of Congo. Laurent Kabila terbunuh pada Jan 2001, putranya Joseph Kabila Kabange mengambil alih kekuasaan setelah secara aklamasi menyetujui sharing power dengan partai oposisi pada masa itu. Kemudian tahun 2006 Joseph Kabila Kabange terpilih secara resmi sebagai Presiden.

Dan nama DRC terus berlanjut di 2012 sesudah Election yang dimenangkan untuk kedua kalinya melalui pemaksaan 1 putaran saja oleh Yoseph Kabila Kabange setelah dilakukan perubahan amandemen pada Nop 2011. Kemenangan kedua kali ini disebut Amerika sebagai Pemilu yang sangat kacau dan cacat hukum.

Konyolnya lagi di saat yang sama Leader Party saingan Kabila dari UDPS ETIENNE TSHISEKEDI wa MULUMBA melantik dirinya sendiri sebagai Presiden DR.Congo. Jadilah dalam sebuah sejarah di 2011 di Kinshasa, DR.Congo diperintah 2 Presiden.

Namun pemerintahan Yoseph Kabila selanjutnya diakui dunia sebagai pelaksana resmi pemerintahan DR.Congo sampai saat ini.

 

Menyimak sedikit tentang PM Patrice Emery Lumumba : Dia sangat mengagumi mantan Presiden Soekarno sebagai sosok Presiden RI yang berjuang gigih untuk rakyat tertindas di kawasan Asia Afrika, bisa jadi juga kedekatan mereka karena sama sama sebagai sahabat dekat Uni Soviet pada masa itu.

Patrice Lumumba sangat disayang dan dikagumi rakyat Congolaise karena berjuang untuk mencerdaskan bangsa Congolaise dari ketertinggalan dan kebodohan ketika berada di bawah kolonial Belgium.

Sebagai rasa solidaritas sesama negara Asia – Afrika, Presiden Soekarno yang juga berkesan dengan Parice Lumumba pada tahun 1965 Presiden Soekarno menabalkan nama Patrice Lumumba di salah satu nama jalan di kawasan Kemayoran Jakarta yang kemudian di zaman ORBA nama jalan ini berubah menjadi Jl.Angkasa dan terakhir menjadi Jl.Benyamin Sueb sebagai rasa hormat pemerintah kepada almarhum Bintang Besar Betawi tersebut. Dan sebaliknya untuk membalas kehormatan kepada Soekarno, Patrice Emery Lumumba juga menabalkan nama kota Jakarta menjadi nama sebuah pasar jalan di Kinshasa, nama pasar jalan ini masih tetap diabadikan oleh pemerintahan Yoseph Kabila sampai saat ini.

Ironisnya di usia yang masih sangat muda Patrice Lumumba kemudian terbunuh oleh Mobutu. Tetapi nama besar Patrice Lumumba kemudian diabadikan oleh Congolaise sebagai Pahlawan Kharismatik DRC, dan oleh keluarga dan kerabat kemudian berdirilah sebuah Institut Lumumba yang cukup terkenal di DRC, perjuangannya untuk mencerdaskan bangsanya telah terwujud, patungnya berdiri dengan gagahnya sebagai lambang selamat datang di Kinshasa.

Dari Moscow yang juga mengenang perjuangan Patrice Lumumba melawan kolonialisme, pada 22 Feb 1961 mendirikan Patrice Lumumba School yang kemudian dalam perjalanannya berkembang menjadi University Patrice Lumumba.

 

Sementara Presiden Joseph Desire MOBUTU dikenal sebagai diktator yang berkuasa selama 32 tahun, dalam pemerintahan “Tangan Besi” Mobutu punya cara yang sangat ditakuti kawan dan lawan, ia memiliki kesenangan membunuh lawan lawan politiknya dengan racun melalui berbagai undangan makan malam.

Dan di masa Mobutu berkuasa inilah pada 30 Okt 1974 kota Kinshasa menjadi tempat pertandingan tinju  Muhammad Ali vs George Foreman. Event sejarah ini menjadi buah bibir kebanggaan Congolaise sampai detik ini.

Dan kebanggaan kedua Congolaise adalah terhadap Aktor Belgian :

Jean Claude Van Damme yang lahir di DRC pada tanggal 18 Oktober 1960 dan sempat menikmati hidup di masa balitanya sampai usia 6 tahun di Elisabethville atau Lubumbashi saat ini (berbatasan Zambia) ketika orang tuanya bertugas di DRC pada era 60 an, tetapi dunia mencatatnya sesuai akte Jean Claude lahir di Sint Agatha Berchem – Brussel.

Orang tuanya bekerja sebagai pimpinan sebuah perusahaan eksplorasi tambang Socite GECAMINES (General Crarriere Or Mines) dimond – uranium dan gold, mereka menetap selama 17 tahun di DRC.

 

Di zaman MOBUTU Sese Seko ini juga semua sudut jalanan Kinshasa bersih dan aman dari anak jalanan – pengemis/tuna wisma hilang ingatan, sudah menjadi rahasia umum bagi Congolaise, Presiden Mobutu menangkap mereka dan kemudian dibunuh dengan membuangnya ke Congo River (nyata-nyata dibuang dalam keadaan hidup dan terikat).

 

DR. Congo  juga sangat HARUM sebagai negeri yang selalu berperang antar suku. Dan berbagai peristiwa pemerkosaan yang berkesinabungan  menjadi warna tersendiri sehingga dunia menjulukinya sebagai Ibukota Perkosaan Dunia”

 

Dengan populasi hampir 66 jt jiwa (sensus 2011 menjelang election) …..DR.Congo negeri yang berada  jantung Africa, sarat dan kaya dengan Gold – Diamond – Uranium dan Oil.

Dengan jumlah suku 250 etnis/kesukuan berikut 500 partai politik yang kemudian ber-aliansi menjadi 50  partai berkuasa di parlemen saat ini.

Drama pertikaian antar suku sering terjadi karena berebut atas berbagai tambang liar diamond dan wilayah pemukiman di tempat t-mpat yang banyak ikan dan kayu.

DRC selain diamond dikenal di wilayah negara tetangganya sebagai peng- exsport Arang Kayu karena jenis hutan kayunya yang bagus, sejenis kayu ulin dan ecaliptus.

Pertumpahan darah karena tambang Diamond di antara batas-batas pemukiman yang berbeda suku sangat sering terjadi di wilayah timur antara perbatasan Rwanda – Uganda dan Burundi. Di banyak tempat tambang ini di bawah kendali para penguasa Militer dan Polisi serta milisi dengan ujung tombaknya para anggota mafia yang menguasai jalur distribusi termasuk wilayah Mbujimahi.

Pada level grosir Diamond ini ditampung oleh saudagar kulakan yang pada umumnya dikuasai oleh para pendatang dari Lebanon yang sudah puluhan tahun bermukim dan ber anak pinak di Kinshasa.

Negeri ini sebenarnya teramat kaya……hanya saja selalu dikelola dengan salah oleh tangan-tangan yang tidak benar dan serakah.

Ke-Maha Besaran dalam membanggakan masing-masing kesukuan membuat berkasih sayang antar sesama Congolaise (antar para Pemimpin partai berkuasa) berbeda sangat jauh dengan budaya kita di Indonesia.

Saya pribadi melihat ….. Rasa kebangsaan secara Global untuk menciptakan Reputasi atas hak-hak warga sipil Congolaise selalu terkotak-kotak hanya untuk sekelompok suku saja (rentang perbedaan suku ini tidak sama dengan rentang perbedaan Kasta di India) tetapi berhubungan erat dalam prilaku jiwa jiwa nista dan berbau hewani ketika kekejaman perang atau perselisihan antar suku mulai berbicara tentang HAK dan PERBEDAAN itu.

 

Kembali kepada berbagai peristiwa pemerkosaan yang cenderung dilakukan oleh oknum tentara sisa milisi yang populer dengan sebutan Mai Mai atau sisa milisi UPC (Uni Patriotic Congo) di wilayah Sud Kivu maupun Ituri bahagian timur DR.Congo dekat perbatasan Rwanda dan Uganda.

Di bawah Komando Militer Nasional Kolonel Nyiragire Kulimushi atau lebih dikenal sebagai Kifaru yang pernah bergabung dengan FARDC (Tentara Nasional nya DR.Congo) pada tahun 2009 setelah perjanjian damai di Kinshasa.

Paska setelah damai tersebut hanya berselang 1 tahun kemudian di 2010 Kifaru kembali memisahkan diri dari Kinshasa, hal ini dikarenakan Kifaru berambisi untuk duduk dalam Parlemen Joseph Kabila namun tidak diperkenankan, dan di dalam perjalanan 1 tahun damai tersebut sebaliknya pasukan Kifaru dengan sengaja ditelantarkan tanpa status yang jelas, mereka hanya diberi sepasang Baju Seragam Tentara tanpa gaji, tanpa tunjangan sama sekali terkecuali ransum makanan yang juga tidak jelas jadwal bantuannya.

Kondisi ketidak puasan inilah yang memicu balas dendamnya Komando Militer Nasional KIFARU dengan berbekal senjata curian akhirnya bergerilya di seputar wilayah perbatasan, awalnya mereka hidup dari berbagai kutipan liar diwilayah perbatasan, seiring waktu pasukan ini kemudian berkembang dan berakhir dengan sulitnya mempertahankan hidup tanpa subsidy, jalan singkat ditempuh dengan melakukan pembalakan penebangan hutan secara liar, pemungutan pajak dilintas perbatasan negara Rwanda dan Uganda, menguasai tambang tambang liar diamond.

Dan di puncak keisengan mereka pada Juni 2011 kemarin sekitar 250 anggota Kifaru melakukan tindakan pemerkosaan secara brutal (bukan saja wanita dewasa tetapi juga kepada bocah-bocah dan remaja tanggung Congolaise) ….. tragis dan pilu hati kita mendengarkannya.

Peristiwa itu terjadi serempak dalam 2 malam yang kemudian berturut dilakukan secara gerilya di hari-hari lainnya. Dari pihak UN Mission  in DR.Congo Badan PBB di Kinshasa, Human Right Watch melaporkan korban hanya 250 orang, tetapi sesungguhnya jumlah ini bahkan mencapai 500 orang lebih yang sebahagian dari mereka takut melaporkan karena di bawah ancaman yang tidak main-main, dan sebahagian dengan sengaja menutup diri takut dan rasa malu – khawatir akan pengucilan sosial dan yang lebih menakutkan di antara korban pemerkosaan ini telah terinfeksi HIV/AIDS yang ditularkan oleh para pemerkosa tersebut.

Kejadian pada 2011 ini masih relatif sedikit jika dibandingkan dengan peristiwa pada 2006 s/d 2007 tercatat 400.000 tindakan pemerkosaan dan kekerasan sexual bahkan pada 2009 lalu tercatat kembali mencapai 15.000 orang yang telah diperkosa sepanjang tahun yang juga dilakukan oleh Pemberontak HUTU Rwanda FDLR dan Milisi dari Uganda sehingga wajarlah dunia memberi julukan buat DRC sebagai Ibukota Perkosaan Dunia.

Pada 2009 lalu Amerika melalui lembaga lembaga NGO yang ada memberikan bantuan sebesar USD17 jt untuk rehabilitasi kekerasan sexual yang terjadi di DR.Congo.

Kondisi berbagai kekerasan ini seiring waktu berdampak kurang baik terhadap kehadiran pasukan Dewan Keamanan PBB yang disebut rakyat DRC tidak mampu melindungi mereka dari berbagai bentuk kekerasan, rona ketidak percayaan ini kemudian menjadi kekuatan politik bagi lawan Joseph Kabila yang mengembuskan berbagai kebencian untuk mengusir keberadaan MONUC dari DR.Congo beserta antek-antek politiknya. Dan dengan berbagai manuver politik Joseph kabila yang berkuasa akhirnya memenuhi tuntutan rakyat dengan  mengumandangkan selesainya Misi MONUC di DR.Congo dengan penarikan dan pemulangan beberapa kontingen ke negara asalnya serta penutupan beberapa Team Site dari beberapa propinsi dan kabupaten. Berikut penarikan/pemulangan Kontingen Tunisia dan lainnya.

Dan berselang 6 bulan kemudian pada tanggal 1 Juni 2010 DK PBB mengumumkan UN memperpanjang misi dengan plakat baru “ Mission de l’Organisation des Nation Unies pour la Stabilisation en Republique DR.Congo “ (MONUSCO) sebuah permainan politik tingkat tinggi dari negeri Paman Sam atau melanjutkan kembali sebuah episode baru mencetak ulang seni propaganda yang sejak ber abad-abad sudah dilakukan nenek moyang mereka dengan berbagai skenario nan maha jahat bin Pintar.

 

Pada 2011 lalu ada 3 orang Milobs PBB yang terbunuh : 1 orang pilot dari South Afrika dan 2 orang tentara dari kontingen Ghana, mereka ini diserang di Airport Mbandaka yang diisukan diserang oleh pasukan Mai Mai, tetapi fakta lain sesungguhnya mereka ini diserang oleh oknum FARDC sendiri. Dan dalam peristiwa ini salah seorang teman Militer Observer Indonesia – Mayor TNI AD Edwin Abel selamat atas takdir, beliau kembali ke Kinshasa 1 hari sebelum peristiwa penyerangan airport tersebut (kebetulan penulis satu rumah dengan beliau di Kinshasa).

Menyinggung tentang Force Army Republic Democratic of Congo (FARDC) dan Police National Congo (PNC). Di DRC…..tidak semua Congolaise respek terhadap keberadaan FARDC dan PNC. Kedua elemen pemerintahan ini dalam kesehariannya selalu mencari peluang untuk kepentingan pribadi sebagai sosok yang merasa tak terkalahkan.

Di kondisi 2012 ini dari pengamatan saya setelah kemenangan Joseph Kabila Kabange untuk kedua kalinya berkaitan dengan kesejahteraan aparat keamanan DRC nyaris tidak ada perubahan dengan 5 tahun sebelumnya.

Dari sisi salary seorang FARDC atau PNC yang bekerja tanpa ijazah hanya dibayar USD 15 per bulan. Oknum tanpa pangkat ini biasanya bergabung sebagai pengganti orang tua mereka yang pensiun atau meninggal dunia, dan jika pada tahun ke 2 mereka memiliki ijazah maka salary mereka disesuaikan menjadi USD 25/bln setingkat Prada. Dan seorang rekan Congolaise yang berpangkat Kapten hanya digaji USD 75/bln. Lucunya pihak gomernment menetapkan rate USD tersendiri dalam konversi ke mata uang localnya untuk membayar gaji mereka.

Misalnya rate umum BANK di luar government USD 1 = 930 Fc…..seharusnya goverment membayar mereka USD 75 x 930 fc…..tetapi karena government memiliki rate sendiri mereka hanya membayar USD 75 x 650 fc = 48.750 fc itu adalah take home pay keseluruhan yang mereka bawa pulang. Dan di saat lebaran dan Tahun Baru  tidak ada budaya THR di DRC. Ingin lebih…..mereka harus mencari dengan caranya masing masing berbekal baju DINAS yang mereka pakai.

Di DRC semua orang sipil yang berkecukupan banyak memakai tenaga Militer dan Polisi sebagai Driver dan security mereka, rate umum biasanya mereka digaji USD 100 exclude lunch/month, nilai USD 100 yang sama juga wajib diberikan ke Komandan mereka, artinya secara total warga sipil kaya tersebut membayar USD 200/month. Keuntungannya tentulah rasa aman karena driver/security merupakan aparat negara sekaligus sebagai bodyguard.

Dari datanya Atma Management 2012 GDP DRC saat ini USD 700/thn, DRC termasuk sebagai salah satu negara termiskin di Africa. di sini kesenjangan antara Kaya dan Miskin seperti Langit dan Bumi.

Bisa dibayangkan bagaimana mereka harus mengelola kebutuhan sehari-hari kalau bukan dengan berbagai cara. Yang menakutkan mereka selalu dibekali dengan senjata bahkan dalam keadaan mabuk merupakan kejadian yang biasa, di wilayah kabupaten dan desa sering terjadi pertikaian antara tentara dan polisi yang ber akhir dengan penembakan….. (nyaris tidak berbeda juga kali yaa dengan di Indonesia “peace”)

Sudut lain : ……….

Saat ini kebetulan saya mendata WNI membantu KBRI Dakkar yang membawahi DR.Congo (di DRC tidak ada KBRI) ….. jumlah WNI nya tidak banyak hanya sekitar 45 orang yang terbagi : 5 orang bekerja sebagai UNV – 1 orang businessman – 13 orang missionaris dan 23 orang bekerja di Freeport Group diwilayah Propinsi Katanga dan 2 orang WNI bekerja di SGS (seperti Sucopindo) Lumbubashi, 1 orang istri diplomat Perancis. Di luar Civilian tersebuat ada Kontingen Garuda Indonesia dan Pengamat Militer sebanyak 192 personil.

(Konga XX-I Monusco) 1 Kompi Zeni sebanyak 175 personil di bawah komando  Dan Satgas : Letnan Kolonel Czi Sapto Widhi Nugroho.

Di luar Kontingen KONGA ada 17 personil TNI berpangkat Mayor dengan 1 orang Senior National Letkol AU Bapak Adi Waskita, ke 17 personil ini kita kenal di Indonesia sebagai Pengamat Militer atau Militer Observer (MILOBS).

Kontingen Garuda Indonesia tercatat pertama sekali ke Zaire pada tahun 1964 (misi PBB ke 2 sesudah Misi I ke SINAI).

Secara keseluruhan jumlah personil di MONUSCO  yang bergabung di bawah bendera PBB berikut team supportingnya saat ini mencapai 18.609 personil (data up date 15 July 2012).

Dengan jumlah kontingen/personil sbb :

  1. India                  = 3707  personil
  2. Pakistan             = 3694
  3. Bangladesh        = 2535
  4. Uruguay             = 1173
  5. R.S.A                 = 1224
  6. Nepal                = 1026
  7. Egypt                =   388
  8. Marocco            =  869
  9. Benin                 =  450
  10. Ghana                =  461
  11. China                 =  218
  12. INDONESIA   =  175
  13. Guatemala         =   150
  14. Jordania             =   218
  15. Belgium              =     22
  16. Ukraina               =   154
  17. Serbia                  =       6

Total Kontingen             = 16.470 personil

18.  Militer Observer                =    713 (dari berbagai negara)

19.  UN Police                            =    377 (dari berbagai negara)

20.  FPU                                     =   1049

Total Keseluruhan Peacekeeper       = 18.609 personil

 

Seharusnya dengan jumlah personil sebanyak ini rakyat Congolaise berharap banyak atas keamanan mereka dari gangguan para Milisi maupun FARDC dan PNC yang nakal-nakal. Mereka sudah terlalu letih sebagai bangsa yang terjajah oleh Koloni selama 350 tahun dan masih terjajah pula oleh perbedaan dan konflik etnis.

Africa memang menarik dengan berbagai potensinya dan akar rumput fenomena berbagai masalahnya juga selalu unik dalam  penyelesaiannya.

Sampai hari ini 15 Juli 2012 konflik di DR.Congo ini masih terus berlanjut terutama di wilayah timur kawasan Rutshuru dekat perbatasan antara Rwanda dan Uganda yang dipimpin oleh Bosco Ntaganda salah seorang pemimpin Milisi yang dikenal dengan Gerakan 23 Maret CNDP (M23). Bosco tercatat sebagai penjahat perang International yang dicari-cari karena dalam kegiatannya menculik anak-anak untuk dijadikan tentara Milisinya.  Dan terakhir pada Juni kemarin 2 tentara kontingen India terbunuh di sana. Disinyalir Militer Rwanda berada di balik kekuatan Bosco Ntaganda melalui dukungan kebutuhan senjata dan amunisi.

Seperti sebuah serial, konflik ini merupakan episode lanjutan dari peristiwa genosida Hutu dan Tutsi 1994 yang menelan korban 800.000 orang mayoritas suku Tutsi terbunuh.

Beginilah garis tangan DR.Congo  yang sebetulnya memberikan banyak keuntungan kepada DUNIA dimana luas hutannya adalah penyumbang OKSIGEN no 2 terbesar sesudah hutan Amazon, tetapi perjalanan konflik di dalam negerinya tak kunjung selesai dimainkan oleh para aktor yang berkepentingan politik di dalam menguasai potensi alamnya……semuanya mereka rasakan dari Terjajah, Konflik suku, ganasnya Malaria dan Ebola dan kemiskinan masih terus mewarnai kehidupan mereka.

Menutup kisah ini…….sekilas kami menceritakan acara berbuka puasa pada tanggal 8 Agustus 2012 kemarin bersama Laksamana Pertama Budi Hardja Raden (Penasihat Militer di perwakilan tetap New York), Kol CPM Victor Hasudungan (Atase Pertahanan RI di South Africa) dan Kol Pnb Hadi Tjahjanto dan Kol Inf Almuchalif Suryo dari Jakarta.

Kunjungan pejabat TNI ini lebih awal bahagian dari kunjungan Wakil Menteri Pertahanan RI Jenderal Sjafrie Syamsoeddin yang akan berkunjung ke DRC pada tgl 16 Agustus meninjau lokasi Satuan Tugas Kontingen Garuda Indonesia XX-I Monusco sekaligus berkaitan dengan penambahan Team Helikopter TNI untuk kepentingan Misi PBB dan peringatan 17 Agustus 2012.

Acara berbuka puasa ini merupakan kejadian pertama bersama seorang Bintang sejak saya bermukim di Kinshasa, berbagai menu khas Minang yang dimasak oleh tangan tangan ahli mengiasi makan malam pada acara berbuka bersama ini penuh kegembiraan.

(akan saya kisahkan selengkapnya pada lain kesempatan)

Terima kasih Admin atas penayangan artikel ini, salam atas semua kebaikan dan kebersamaan di rumah kita “Baltyra”

Kinshasa DR.Congo.  

Avenue Sindicate 10 C/Gombe – Kinshasa DR.Congo.

Community Milobs TNI dan Civilian Indo House – Kinshasa

Salam Setepak Sirih Sejuta Pesan : EA.Inakawa

 

90 Comments to "Democratic Republic of Congo: Drama Kehidupan Congolaise"

  1. EA.Inakawa  8 September, 2012 at 05:40

    Nia : Saya ditegur Patricya…..saya terlambat SADAR,seharusnya saya tidak boleh mem publish Salary/Allowance teman teman di NGO,tidak etis katanya. Mohon dimaafkan bagi yang tersinggung ( saya khilaf )
    terbawa suasana berbalas pantun, salam sejuk

  2. EA.Inakawa  8 September, 2012 at 05:33

    @ Alvina : DRC yang paling rawan itu dikawasan Timur,berbatasan Rwanda-Uganda-Burundi kalau di Kinshasa rawan kriminal umum seperti penodongan & jambret yang dibacking Tentara & Polisi. Mereka merampas disiang bolong.
    Kemudian Orang asing tidak diperkenankan mem photo,kameranya diambil mereka tuduh kita sebagai mata mata dan ujungnya kita didenda.
    Dulu Alvina pernah minta tolong saya shoting video” Harapan Anak Congo” waktu itu saya harus melapor ke RT mereka,kalau tanpa izin saya bakalan bermasalah. Banyak rekaman yg di komersilkan dan bantuannya tidak sampai ke masyarakat.

    Mengenai bumbu masakan Indonesia sulit didapat, banyak yang dipesan melalui teman TNI yang datang & pergi silih berganti. Demikian Alvina.
    salam sejuk.

  3. nia  7 September, 2012 at 10:01

    pak Inakawa itu kang Anoew kasih ide tulisan… nulis ttg profesi2 yg ada disana ya… ada tukang ojek gak? tukang patri, tambal ban, tambal panci?? hehehe…

    kang Anoew… kok kedondong? gak sekalian duku ato anggur? btw kok ngerti sih klo sy mabok naek mobil? dl sampe SMA sy menghindari naek mobil tertutup… lbh milih naek pick up di bak belakang kan semriwing kena angin jd gak mabok

  4. Alvina VB  7 September, 2012 at 08:33

    E. Inakawa, ternyata betulan keadaan di Congo masih rawan sampai saat ini ya……banyak cerita serem2 yg kawan saya asal Africa ceritakan ttg Congo. Ditunggu cerita ttg buka puasa dgn khas makanan minangnya (memang gampang dpt bumbu2nya di sana)….salam damai……

  5. anoew  6 September, 2012 at 19:09

    Yasudah, saya ngelap semangka dan melon saja kalau begitu, pepaya juga boleh asalkan jangan salah dan kedondong.

    Kang Ina, kalau jadi tukang ojek di sana berapa gajinya? Soalnya Nia suka pakai ojek kemana-mana, maklum, kalau naik mobil malah mabuk

  6. Lani  6 September, 2012 at 14:42

    78 EA : mahalo udah dijawab……..dan jawabanmu menjawab rasa penasaranku hehehe…….mmg begitulah sistim kerjanya kontrak, kerjanya tergantung dimana yg ada lowongan, dan mmg dpt mess…….jd duit gaji trima bersih? ndak dipotong pajak? la kok enak men ora bayar pajak????? makane bs keliling dunia tuh orang…………

    bener doctor without border= MSF pusatnya di Switzerland? tp ada kantornya jg di Brussels aku tau itu……….

  7. EA.Inakawa  6 September, 2012 at 14:05

    Nia : Indo House rumah Indonesia tempat tinggalnya para Militer Observer ( Pengamat Militer ) yg bertugas di UN Kalau KBRI nggak ada di Congo, congo under control KBRI Senegal, saat lebaran & natalan Indo House tempat berkumpul nya WNI.
    Lupa bhs Indonesia……ya udah belajar bahasa Jawa saja ehehehe.
    Betul Nia kang anoew cocok juga tuh urusan lap mengelap & menggelapkan ehehehe
    Czi = Corps Zeni salah satu pasukan TNI
    CPM = Corps Polisi Militer
    Pnb = Penerbang/ Pilot
    salam sejuk

  8. nia  6 September, 2012 at 13:42

    ‘(Konga XX-I Monusco) 1 Kompi Zeni sebanyak 175 personil di bawah komando Dan Satgas : Letnan Kolonel Czi Sapto Widhi Nugroho’

    pak Inakawa ‘Czi’ itu apa to? klo CPM dan Pnb sy mudeng…

  9. nia  6 September, 2012 at 13:37

    kang Anoew… tokolan itu kan jatah sy. mbok sana ngelap semangka aja biar meling2.

    pak Inakawa… Indo House itu apa? KBRI? ato markas apa gitu? syaratnya mesti bs ngomong Bhs Indonesia ya? wah sy dah lupa je…

  10. EA.Inakawa  6 September, 2012 at 13:32

    Nia & Kang Anoew : Cook & office boy ” dibawah outsourcing , kebetulan nich saya butuh Nia – Mbak DA dan Kang anoew,kerja di Indo House aja yaa, bisa ngomong Bahasa Indonesia kan ? ehehehehe…………

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *