Terapi Air Seni atau Terapi Urin (1)

Bagong Julianto, Sekayu-Muba-Sumsel

 

Menjawab keterpenasarannya Baltiers, berikut ditulis ulang kembali apa-mengapa-bagaimana/sisik melik/know-how TAS berdasar pengalaman-pengetahuan dan pemahaman pribadi. Artikel ini pernah dimuat di Koki Info-Pedia pada Minggu, 23 Januari 2010. Silahkan juga dilengkapi dengan membaca artikel: “Uiiiihhh, nggilani!!” Baltyra, Jumat 05 Pebruari 2010. (http://baltyra.com/2010/02/05/uiiiihhh-nggilani/)

Urine: Obat atau Racun, Obat Racun Mengobati Racun?

*)Uyuh, Air Seni, Urine, Air Kencing, Apapun Namanya………….

Uyuh, air seni, urine, air kencing adalah benda yang sama. Benda cair yang baru beberapa detik lalu sebelum dikeluarkan mengelilingi jaringan tubuh bersama-sama aliran darah. Pemahaman yang berbeda menyebabkan pula perbedaan cara memperlakukan dan menyikapi keberadaan uyuh. Benarkah uyuh benda tak berguna? Limbah? Racun? Ya dan tidak!. Tidak berguna bagi yang tidak memerlukannya dan bermanfaat bagi yang dapat mengambil faedahnya. Dari limbah kain/berupa perca, bisa menjadi produk ekonomis sarung kasur, tas. Dari sampah kota, menjadi produk pupuk organik, produk plastik, tembaga dsb. Dari kotoran ternak (juga manusia), jadi pupuk, biogas. Dari uyuh manusia jadi obat? Jadi racun? Bagi siapa?

 

Pengalaman Pribadi Jaman Dulu

Jaman noroyono tahun 70-80’an, di majalah bulanan Intisari saya membaca artikel yang menakjubkan: satu keluarga berdomisili di Magelang terdiri atas Bapak-Ibu dan dua anak belasan tahun adalah pelaku therapi air seni. Minum uyuh masing-masing secara rutin! Bapak asli Indonesia, Ibu berkebangsaan Jepang. Kesan saya saat itu: nggilani! Minum uyuh sendiri: huek, huuueeekkkk! Memang saat itu, jika ada tetangga, saudara dan ataupun kenalan yang terkena penyakit belek/mata ada juga di antaranya yang menggunakan uyuh sendiri di pagi hari untuk penyembuhannya. Dan memang terbukti manjur! Bukan diminum, tapi diusapkan ke mata! Tapi pengobatan dan pemeliharaan kesehatan dengan minum uyuh?! Terima kasih!

 

Th 1998-2001: Kecapekan di Lahan, Acheh Timur

Sebagai pekerja di perkebunan kelapa sawit, irama dan lingkungan kerja semestimya menyehatkan jiwa-raga. Udara relatif bersih dari polusi, kesempatan berolah fisik sudah didapat sejak jam 05.00 pagi, irama kerja dan irama biologis tubuh senantiasa mengikuti pola keteraturan yang relatif stabil. Mestinya segar bugar, sehat jasmani rohani adalah kesempatan sekaligus peluang yang terbuka sedemikian lebarbesarnya. Tidak demikian rupanya bagi saya!. Lain harapan (dan peluang), lain pula kenyataan dan derita yang menimpa! Walau telah berupaya hidup sehat: sarapan juice aneka buah plus madu semangkok gajah tiap hari, banyak minum air putih, kenyataannya saya tidak merasa benar-benar fit dan segar-waras.

Memang saya tidak berolah raga secara rutin. Masih makan kerang, jeroan, bakso, mie dan daging seberapa banyak seberapa suka. Di lahan badan terasa mudah capek. Setelah jalan kaki sekian kilometer, keringat enggan keluar, jika keluarpun rasanya seperti keringat buntet, tidak menyegarkan malah menyebalkan. Setelah berjalan kaki naik turun bukit, giliran di mobil baru berjalan beberapa menit, nyalakan pendingin kepala sudah terangguk-angguk dan sekejap kemudian terkulai, mata terpejam. Tidur. Tertidur kecapekan. Entah berapa kali, Satpam penjaga menghormati saya yang tertidur dari lahan dan ataupun kantor menuju rumah. Di garasi, si Man baru membangunkan saya.

Setiap malampun, saya bukannya menikmati tidur nyenyak. Minimal satu kali mesti terbangun untuk berkemih. Dua tiga kali terbangun, juga bukan hal yang aneh. Perjalanan pagi hari dari rumah ke kantor Divisi, +/- 8 km juga minimal sekali mesti berhenti untuk menyirami sawit. Kalau ke Medan, mesti ada botol kosong. Berkemih sambil menyetir di keramaian, itu bisa saya lakukan. Ada isteri di samping. Saat tersesak, demikian mendadak, lagi jauh pula lokasi peturasan maka botol kosong itu jadi andalan. Gak ada yang tercecer tumpah, aman!

Satu lagi ketidaknyamanan yang saya rasakan: keringat di kepala begitu mudahnya jadi butiran dan lembaran tipis kerak sindap (ketombe). Sekali digaruk, dua tiga kali diulang, maka butiran sindap memenuhi permukaan baju di pundak dan punggung! Tidak peduli dua hari sekali keramas!

 

Awal April 2004: Mempertanyakan Kembali: Apakah Jijik Itu?

Saat liburan Paskah di Sampit, Kalimantan Tengah pada April 2004, ke Plasa Sampit masuk toko buku, sebuah buku Terapi Auto Urin menyita perhatian saya. Kamis beli buku. Jumat selesai baca. Sabtu pagi saya sudah mempraktekkan minum air seni sendiri. Pengalaman, kesaksian dan penelusuran serta kajian ilmiah yang disajikan penulisnya yaitu seorang Doktor Pathology dan Mycotoxicology: Dr. Iwan T Budiarso, memacu semangat saya untuk segera memulai hal baru (bagi saya) tapi rupanya sudah sedemikian lama dan jauh maju di beberapa tempat di dunia ini (India, Cina, Taiwan, Jepang, Amerika Serikat dan Jerman). Beliau sembuh dari derita sakit jantung oleh terapi auto urin. Disebutkan oleh Dr. Iwan, urin mengandung mineral, vitamin, enzim, hormon, asam amino, antibodi, antigen, allergen, garam dan nutrien lainnya.

Sejauh ini, lanjut Dr. Iwan, ada sepuluh hipotesa cara kerja terapi auto urin, yaitu:

• Pertama, penyerapan dan penggunaan kembali nutrien.

• Kedua, penyerapan kembali hormon. Misalnya, kortikosteroid yang dapat mencegah infeksi, rematik dan asma. Atau, melationin sebagai obat penenang dan anti kanker.

• Ketiga, penyerapan kembali enzim.

• Keempat, penyerapan kembali urea. Urin mengandung 25-30 gram urea per hari.

• Kelima, memberi efek kekebalan.

• Keenam, memberi efek bakterisida dan virusida.

• Ketujuh, sebagai terapi garam yang berguna untuk memperlancar metabolisme, menyingkirkan kelebihan gula darah, dan mengeluarkan zat-zat toksik dari cairan dan jaringan tubuh.

• Kedelapan, memberi efek diuretika, yakni untuk menstimuler ginjal, meningkatkan produksi air seni, membersihkan ginjal serta ‘mencuci’ gula darah dan zat-zat toksik.

• Kesembilan, sebagai gambar hologram. Biofeedback-nya memberikan gambaran keadaan tubuh. Meminum urin akan mengoreksi dan memulihkan keseimbangan fisiologi tubuh yang terganggu penyakit.

• Dan, kesepuluh, memberi efek psikologis. Terapi ini dianggap sebagai penyembuhan dari dalam tubuh secara mekanistik dan holistik pada tingkat energi.

(Dikutip dari: http://www.indonesiamedia.com/2001/may/kesehatan-0501.htm)

Dengan melaksanakan therapi auto urin, saya juga mempertanyakan ke diri sendiri: apakah rasa jijik itu? Jawabannya tergantung situasi dan kondisi saja. Tergantung pribadi lepas pribadi pada nilai, keyakinan, dogma, ukuran, norma, kepatutan yang secara umum bisa saja lain dibanding saat bersendiri. Apakah ini kemunafikan? Di depan orang bilang jijik, di dalam kamar bilang ciamik?! Saya hanya berpendapat: sejauh mendapat manfaat, dan tidak merugikan orang lain, kenapa tidak?! Tubuh saya sendiri, urin saya sendiri, apa yang dirisaukan orang lain? Dan kenapa pula mesti risau? Saya percaya bahwa masing-masing pribadi dengan sepenuh perangkat organ tubuhnya adalah unik spesifik. Yang bagi seseorang bermanfaat, bagi orang lain bisa saja sampah dan menjijikkan. Apakah urin/uyuh/air seni/air kencing itu obat? Bukankah ia racun? Ya!. Ya dan ya!. Bagi saya itulah jawabnya! Uyuh saya adalah obat yang mengobati beberapa kelemahan saya. Uyuh saya adalah racun yang sukses meracuni beberapa penyakit yang telah membuat saya menderita.

 

Manfaat yang Diperoleh: Perbaikan, Penyembuhan dan Eng Ing Eng…….

Sejak April 2004 tersebut saya rutin meminum air seni mulai pagi hari, siang saat di lapangan dan malam hari sesuka-suka semau saya. Mulai sekitar tiga bulan sesudahnya, efek perbaikan terasa dan secara pasti saya nikmati. Saya tidak mudah capek. Keringat mengucur deras dan sangat menyegarkan. Saat inspeksi lapangan, hembusan dan desau angin sangat merdu bagi telinga saya. Saya tidur nyenyak. Ketombe lenyap. Sedemikian semangatnya saya, maka kualitas, frekuensi dan durasi aktivitas biologis semakin membahagiakan kami berdua suami-isteri. Ibarat laju mobil, dulu sering mogok: sopir pening, penumpang muring-muring (mumet marah gak tentu arah), sekarang tokcer kecepatan penuh, bolak-balik trip, penumpang nyaman, sopir bertenaga dan ….eng ing eeeeennngggggggg.

 

Percobaan, Pengamatan, Pendapat dan Pemahaman Pribadi

Dengan berlalunya waktu, saya terkejut saat berbagi cerita dengan seorang kolega. RH, wong Medan keturunan Minang telah bertahun-tahun didera penyakit kulit di sekujur kakinya. Sembuh karena terapi auto urin. Dia pernah juga menyarankan pada seorang Mandornya yang menderita seperti RH. Sembuh juga. Satu kesempatan mudik ke Solo, saya jumpa teman sepermainan yang juga sembuh dari sakit kencing manis oleh terapi auto urin. Banyak jalan menuju perbaikan tubuh, sangat unik dan berbeda antara satu individu dengan individu lain. Saya percaya bahwa racun tubuh dikeluarkan melalui padatan tinja dan sebagian butiran keringat, sedang yang keluar dalam bentuk urin/uyuh/air seni/air kencing adalah bukan racun.

Guna menguji ulang rasa jijik, saya mendokumentasikan urin selama tiga hari.

• Hari pertama, saya ada makan siang daging dan kerang.

• Hari kedua dan ketiga hanya makan sayuran dan telor saja

Gelas 1 berisi urin, Gelas 2 berisi air putih. Apa yang saya makan, menentukan rasa dan penampilan urin. Mulai gambar 2, tampak bahwa urin dan air putih relatif sukar dibedakan penampilannya. Itulah faktanya: bahwa urin terdiri atas 95 % air dan 5% larutan lain yang (dapat) bermanfaat.

Artikel/tulisan ini adalah kesaksian pribadi, sangat subyektif dan berdasar pengalaman diri sendiri yang jelas berbeda dengan pribadi lain……

 

Sampunnnn. Suwunnnnn.. (BgJ, Jan10, edit Agst2012)

 

55 Comments to "Terapi Air Seni atau Terapi Urin (1)"

  1. Bagong Julianto  6 September, 2012 at 13:52

    Anoew….

    Yo wis kono….. tergantung kekarepan lan kebutuhane awake dhewe.
    Salah sawijining khasiat urine iyo kuwi mau, rambut sansoyo kuat, ora ono rontokan maneh, ugo ora ono thukulan sindap….

    Kuwi nasehate koncomu: nganggo harnet?
    Whuaaaaa balangen theklek kuwi!
    Nganggo harnet sing werno pirang/bule sekalian….
    Lho?!
    Hahaha….

  2. Bagong Julianto  6 September, 2012 at 13:38

    Dian Nugraheni…

    Terima kasih tambahan kesaksiannya!
    Yang emoh nggak Dian saja ‘kok?!
    Jutaan lain yang emoh…
    Wajar.
    Sementara, pelakon terapi uyuh ini lebih banyak yang diam, sembunyi dan sulit untuk ‘come out’, sehubungan banyaknya halangan-rintangan dari lingkungan sekitar.
    Itulah bukti statemen/pernyataan bahwa terapi uyuh ini sesuatu yang kontroversial sekaligus personal….
    Fakta bahwa di China dan Jepang sudah ada RS khusus Uropathy ini nggak banyak juga yang tahu….
    Salam hangat…..

  3. anoew  6 September, 2012 at 09:40

    Iyo Kang, pancen kuy sing dadi alangan selama ini. Masih belum bisa memerangi rasa jijik / gilo / gk tega untuk menelan uyuh. Tapi oke, metode yang Kang Bagong terapkan mau kucoba dan semoga berhasil. Lha iya tho, uyuh uyuhku dewe ooog..

    Nah masalah rambute njenengan Kang, memang terlihat lebih lebat. Hanek seumuran njenengan isih ketel ngono yo apik, manteb tho. Aku malah lagi risau yoan karo rambutku sing wis rodo gogrog, malah dilokne kanca jare dikon nganggo harnet jiaaaan…

    Sip sip, dongakne Kang ben aku iso nuruti carane Kang Bagong.

    NB: mohon maaf buat pembaca yang lain, sengaja tidak diterjemahkan ke bhs Indo.

  4. Dian Nugraheni  6 September, 2012 at 07:27

    wahh, aku emohh aahh…tapi Mbah Putriku dulu melakukan hal itu (secara sembunyi2, karena anak2nya kurang setuju)….Aku bilang secara sembunyi2, karena pernah aku ke kamar mandi ketika Mbah Putriku baru selesai mandi, uyuhe yang di gelas tertinggal di kamar mandi, belum diminum..he2.., pas aku tanya, kata Mbah Putriku..iya, beliau melakukan hal itu secara rutin…ketika aku tanya lagi “siapa yang kasih tau..?” (karena Mbah Putriku buta huruf, ga mungkin baca dari majalah atau koran)…Jawabnya “cuma denger aja ada yang bilang..”

    Entah ada hubungan apa enggak, Mbah Putriku sampai meninggal di usia 80an, nggak pernah sakit…kecuali gignya pada tanggal…

  5. Bagong Julianto  6 September, 2012 at 06:24

    Pak EA Inakawa…

    Falun Gong saya pernah baca. Apa bedanya dengan Falun Dafa? Ritual mandi dan senamnya total tiga puluh menit, rutin dan spartan ternyata menyehatsegarkan…. Perlu disharingkan lagi secara visual…..Pancurannya, drip halus-kasar, di badan-kepala-tubuh dsb……
    Salam sejuk balik….

  6. Bagong Julianto  6 September, 2012 at 06:13

    Anoew…

    Tennan ‘kan! Awakmu ijik eneg, ‘ra tego lan jijik! Kuwi ngono sing kudu mbok upokoro dhisik. Ngelawan roso rasane awake dhewe. Nyat ra gampang. Ra tinalar ning lumrah kedaden. Contone: ngantek saiki, aku (ijik) iso tego mbeleh pitike dhewe ning ijik ra tego mangane. Ra nalar ‘kan?! Nek wis iso nduwe panemu: uyuh iyo uyuhku dhewe, ora akeh bedone karo banyu. Banyu iyo banyuku dhewe, ono roso rodok asin-kelat mergo ono kandhungane uyah. Uyah iyo uyahku dhewe. Tambahi nyuwun kekiyatan saking Gusti, ndonga. Lagek gampang kuwi!

    Rambutku ngono malahan ketel lho?! Mungkin coro/sudhut moto sing ra pas wae. Mengko tak gondrongke. Malah sawijining hasil terapi: ra rontok lan ra ono sindape. Karo konco-sedulur saumuran neng kene opo pas reunian wingi, rambutku kalebu sing ketel. Mbhothaki wingi repot tennan! Saben rong dino kudu ngerok! Telung ndino wae wis mruntus thukule rambut! Berarti pertumbuhane ketel ‘to?!
    Piye?

  7. EA.Inakawa  5 September, 2012 at 21:21

    Pak Bagong : Meditasi itu semuanya sama ( ber kultivasi ) Kalau meditasi yang saya lakukan selain diruang kamar, saya lakukan juga dibawah pancuran air kamar mandi ( 15 menit saja ) sudah lebih dari cukup dan 15 menit berikutnya melalui gerakan senam Falun Dafa, biasanya kalau kepala teramat berat dan pusing, ini saya lakukan, saya sll menghindarkan minum obat analgesik…..saya sudah 15 tahun bergabung di komunitas Falun Dafa……belajar menjadi sosok yang ” SEJATI – BAIK – SABAR ” Demikian sharing saya pak. salam sejuk

  8. Anoew  5 September, 2012 at 19:43

    omong-omong, itu rambut males tumbuh gara-gara urine theraphy atau memang sudah menipis? Dulu kan sempet botak tho?

    *takon tenanan kiy*

  9. Anoew  5 September, 2012 at 19:41

    Kalau begitu benar, bahwa untuk mengurangi bau ini tidak cukup dengan menghindari makanan tertentu karena seperti pengalaman, sesudah minum obat biasanya air seni itu beraoma obat pula. Makan buah-buah segar pun juga belum tentu bisa mengurangi bau itu. Jadi? Mungkin aku akan menuruti jejak Kang Bagong untuk mengemut kopi sesudah makan makanan berat. Tapi karena aku gk suka kopi pahit maka nanti kucoba mengemut sesuatu seperti kopi, siapa tau besok paginya tak pesing lagi.

    Menyimak testimoni dan hasil yang dicapai Kang Bagong aku jadi semakin tertarik meskipun masih eneg, jijik dan gk tega untuk menyruput si bening yang bau pesing itu. Jujur aku dulu pernah melakukan ini atas saran seorang kawan dengan nasihat, tampung air seni pertama kali sehabis bangun tidur di gelas dan jangan pikirkan macam-macam. Kulakukan itu dan, hasilnya keluar lagi berikut isi sate kambing dan tuak sisa semalam. Rugi kan? Tapi okelah, foto ini mau tak save, tak zoom dan tak tempel di dinding yang mudah dilihat supaya jadi penyemangat. Mudah-mudahan tidak ada tikus yang melihat, takutnya nanti mereka malah jadi kuat.

  10. Bagong Julianto  5 September, 2012 at 18:19

    Anoew,

    Ngurangi bau, jika malamnya makan makanan protein hewani…. terus terang saya nggak tahu. Itu bau memang ada karena ada amonia. Upaya paling maksimal, memanipulasi daya cium hidung: tutup kedua lubang hidung, cepat sruput urine, telah siapkan pula sebelumnya segelas-dua gelas air putih.

    Saya sering ngurangi bau pesing urine dengan cara ngunyah bubuk kopi sesendok setelah makan (banyak) petai cina, pete dan ataupun jengkol! (Lhah, ngakui pula ini! Pembelaan: omnivora makan semuanya…..). Tapi saya nggak selalu laksanakan terapi jika malamnya makan makanan nyegrak tersebut. Kalau sekedar makan daging, sering saya tetap terapi. Makan durenpun, aroma urine juga khas…..

    Serius tanya balik ini: masalahmu, menurutku bukan di aroma pesing, tapi di rasa gilo, nggilani dan menjijikkan.
    Itu bukan di lidah. Tapi di pemikiran dan perasaan. Piye?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.