5 September 1949 – Hari Terakhir Mongisidi (3 – habis)

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

HARI ini, 5 September 2012, tepat 63 tahun silam seorang pemuda bernama Robert Wolter Mongisidi dihukum mati oleh negara boneka bentukan Belanda, Negara Indonesia Timur. Kematiannya yang tragis dan sangat emosional serta tak perlu terjadi di saat Indonesia dan Belanda sedang melakukan perundingan untuk mengakhiri masa penjajahan yang sangat keji selama ratusan tahun.

Kematian Mongisidi tidak lepas dari peranan Jaksa Agung Negara Indonesia Timur saat itu, Dr. Soumokil. Ada banyak nama-nama yang mengikuti akhir perjalanan hidup pemuda Mongisidi, seperti pejuang-pejuang kaum nasionalis di Sulawesi Selatan, misalnya Patta Kandjene, Henk Rondonuwu, Jusuf Bauty, Bau Maseppe, Salwati Daud, Keluarga Besar Saelan (Maulwi Saelan bekas komandan Tjakrabirawa dan ipar dari Menteri Pertahanan Keamanan M. Jusuf), sahabat-sahabat Mongisidi seperti Abdullah Hadade, HM Joseph, Lewang Daeng Mattari dan tentunya Soumokil sendiri.

Seharusnya pemuda Mongisidi yang melawan kekuasaan Belanda tidak perlu dihukum mati bila tidak ada campur tangan Soumokil, orang penting dalam pemerintahan negara boneka Negara Indonesia Timur. Apakah Soumokil terlibat dengan kematian Mongisidi? Sejarah yang akan menjawab.

Negeri yang dibela Mongisidi hanya menjawab perjuangan dan pengorbanan pemuda yang sangat heroik itu melalui sebuah anugerah, yaitu gelar pahlawan nasional yang diberikan Presiden Soeharto pada 9 November 1973.

Kita hanya bisa tahu bahwa 17 tahun setelah hukuman mati Mongisidi, Soumokil pun menjalani hal yang sama karena melawan sesuatu yang dibela hingga mati oleh pemuda Mongisidi, Republik Indonesia.

 

 

60 Comments to "5 September 1949 – Hari Terakhir Mongisidi (3 – habis)"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  7 September, 2012 at 15:38

    Ah, mBak Nur jangan suka gitu. Aku juga bangga punya impian berjumpa denganmu…

  2. Esti Yoeswoadi  7 September, 2012 at 13:42

    Mas ISK ku, di Detik sedang dibahas tuh soal Kartosuwiryo. Anyway, saya senang baca sejarah dan setuju kalo mas buat buku (limited edition pastimya). Karena yg sekarang saya lakukan setiap kali mas ISK keluarka cerbungnya adalah, ngeprint plus laminating dan saya kasi anak2 saya yg hanya bingung liat ibunya dan ujungnya saya berikan bapak saya aja untuk bacaan sambil killing his time,hehehehe

    Soal foto saat eksekusi, untunglah tidak ada foto alm saat eksekusi, ga bisa dan ga mau bayangkan…. tp kok lain wkt liat fotonya soumokil ya? Hmmm aneh saya nih

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  7 September, 2012 at 13:01

    Mas OSA, sebenarnya mungkin saja setiap eksekusi ada fotonya. Itu hanya rahasia regu penembak saja yang tahu. Saya sudah melihat beberapa foto eksekusi Kartosuwirjo dan saya tidak bergairah membahas dan melihat. Bagi saya itu hanya sepotong cerita tragedi anak bangsa saja.

    Dulu saya pernah lihat foto-foto Kahar Muzakkar sudah mati setelah dieksekusi. Ibu saya datang dan meilhat jenazahnya yang sudah dibersihkan dan dipamerkan ke publik terbatas. Mungkin saja ayah saya dulu memiliki foto-foto eksekusi Kahar Muzakkar. Tragedi 1965 banyak dokumen dan foto-foto dibakar dibelakang rumah untuk menghindari hal-hal negatif.

    Kalau ingin menulis dan membahas para pemberontak, seperti Kartosuwirjo atau Kahar Muzakkar, bisa saja. Tetapi bukan dari sejarah yang ilmiah, karena kami tidak memiliki kemampuan untuk itu. Paling saya akan menulis seperti, “Kahar Muzakkar, pemberontak dan tetanggaku”, karena memang dia tetangga waktu masih kami tinggal di Mazakkar.

    Salam.

  4. Nur Mberok  7 September, 2012 at 12:46

    Wow….. ISK, luar biasa bener!!!!!

    Bangga nian hatiku mengenalmu. Dapat tanda tangan pula. Tinggal tunggu kapan bisa berfoto bersama….
    Hahahaha….. Kapan???? TAon Piro, kata buto!

  5. IWAN SATYANEGARA KAMAH  7 September, 2012 at 11:58

    Terima kasih ya Phie. Memang tidak akan ada. Ini kan yang disebut Sejarah Kecil. Hanya ada dibenak orang yang kenal dan mengalami saja.

    Masak apa, Phie?

  6. IWAN SATYANEGARA KAMAH  7 September, 2012 at 11:52

    Hallo mBak Esti.

    Terima kasih salam dan doanya. Iya, sepertinya begitu. Tulisan ini agak terlambat diupload karena admin menunggu saya. Saya sangat kesulitan sekali menuliskan bagian ini.

    Bagaimana tidak, kesimpulan ayah saya bahwa kematian RWM itu adalah hasil rekayasa politik Dr. Soumokil. Kalau hal ini diketahui oleh para simpatisan Republik Maluku Selatan di Belanda dan di sini, bisa dibunuh saya.

    Tetapi memang dan saya yakin Dr Soumukil lah yang “ikut” menghukum mati RWM. Inget lho, tahun 1949 Belanda secara historis sudah tidak menjajah dan berkuasa di Indonesia lagi. Cuma mereka menciptakan negara boneka bernama NIT itu. Di negara boneka itu. RWM dihukum mati.

    Kembali kasih dan salam sayang untuk keluarga dari kami semua.

  7. IWAN SATYANEGARA KAMAH  7 September, 2012 at 11:47

    Hai mBak Kornelya, apa kabar Big Apple?

    Biasa ajalah tulisan ini dan saya bukan luar biasa sama sekali. Sebenarnya saya ingin mempersembahkan buat Keluarga Mongisidi yang membalas SMS saya. Jadi agak terburu-buru buatnya.

    Salam Jakarta.

  8. Esti Yoeswoadi  7 September, 2012 at 11:42

    Mas ISK, baru baca lanjutannya. 2hari kemarin training dr kantor.
    Apa itu yg namanya KARMA? Only time will tell deh. Serem ya mas liat fotonya tapi kalo inget jahatnya dia ke RMW, he deserved (Opps maap, siapa saya coba?). Rakyat Kawanua pantas berbangga pernah memiliki seorang Patriot seperti RWM. Thanks mas untuk Sejarahnya. Happy Weekend.. Salam sayang dan cium untuk yang dirumah

  9. IWAN SATYANEGARA KAMAH  7 September, 2012 at 11:35

    Terima kasih Alvina. Halaaah..gak perlu lah dibukukan segala. Biarkan orang baca di Baltyra. Hahaha..mungkin seperti itu tulisan ini.

    Saya sedang siap-siap menunggu hinaan, cercaan juga protes dari orang-orang serta simpatisan Republik Maluku Selatan di Belanda.

    Batuin ya, Alvina kalau aku dikeroyok…

    Salam.

  10. Alvina VB  6 September, 2012 at 23:13

    Bung Iwan,
    Akhirnya rampung juga cerita RWM, apa mau dibuat buku sekalian? he…he…..
    ini kayanya judulnya jadi: what comes around, goes around….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.