Creep Dick

Anoew

 

Aku tidak gila, pikirnya dalam hati sambil menyandarkan kepalanya ke dinding. Aku hanya menyesal dan merasa berdosa. Tapi kenapa mereka mengurungku di sini seperti pendosa? Aku lelah, aku lelah untuk terus bermain api.

Laki-laki itu menengadahkan kepalanya, menatap lampu yang bersinar redup, melampiaskan ketidakmengertiannya terhadap lampu itu. Ia berdiri, lalu meraih asbak di sudut meja dan melemparkannya. Pecah, dan pecahannya mengenai sebagian mukanya. Ruangan itu semakin gelap lalu tiba-tiba, sosok gadis itu tampak di depan matanya, muncul dari balik dinding.

Kulitnya pucat dengan wajah yang tersembunyi di lipatan tangan. Laki-laki itu menahan nafas ketika gadis itu mengangkat kepala dan menatap tajam ke arahnya. Ia menyeringai, lalu mengepalkan tangannya yang membuat si lelaki terhenyak. Seolah belum cukup, gadis itu lalu berjalan ke arahnya sambil menggertakkan giginya dan menggeram, melontarkan suatu rasa keputusasaan ke laki-laki itu.

Tidak.. Jangan.. Pergi kau… Pergi..,”  rintih lelaki itu sambil mengatupkan kedua tangannya ke telinga.

Tapi suara geraman itu terdengar semakin mendekat di telinganya dan bertambah banyak, tidak hanya dari mulut gadis itu tapi juga dari sosok gadis lain yang muncul dari sudut ruangan. Kulit mereka sama pucat dan dengan mata yang menatap tajam, tangan mereka menggapai-gapai…

*****

Saat pertama saya melihatnya di ruangan itu, penilaian saya biasa saja. Tak ada yang menarik, apalagi sesuatu spesial darinya. Dia datang dengan sedikit peluh di dahi yang sesekali diusapnya saat wawancara dengan Deny, supervisor di bagian Keuangan. Hanya saja kalaupun ada yang sedikit menarik perhatian saya adalah, riasan wajahnya yang sederhana. Ini agak aneh, karena biasanya pelamar yang datang ke kantor ini selalu berpenampilan semenarik mungkin. Entah kenapa dengan gadis itu, sepertinya dia cukup percaya diri dengan penampilannya.
Belum Pak, saya belum pernah kerja sebelumnya. Saya baru saja lulus dan menempuh perjalanan jauh untuk bisa sampai ke tempat ini.” Demikian jawaban gadis itu yang sempat terdengar dari balik pintu ruangan yang sedikit terbuka.

Bisa bahasa Inggris dan komputer?” Tanya Deny yang dijawab gadis itu dengan anggukan kepala.

Saya heran dan dan bergumam dalam hati, belum punya pengalaman kerja tapi berani melamar ke sini. Sambil menggeleng-gelengkan kepala dan berlalu dari depan ruangan itu, saya meraih rokok di saku celana dan menuju ke luar ruangan, bermaksud ke Radio Room untuk menanyakan status produksi yang dicapai teman-teman di lapangan. Saya lihat di sana Agus sang operator tengah terkantuk-kantuk dengan extra-mike tergenggam di tangannya yang lantas nyengir begitu melihat kedatangan saya.

Laporan lapangan, ya pak?” Sigap dia mendahului apa yang ada di pikiran saya.

Saya mengangguk, mendudukkan pantat ke kursi di sebelahnya, lalu  menyimak beberapa lembar kertas laporan yang diberikan Agus. Hm.., sepertinya cukup bagus produksi bor sampai tengah hari ini, meskipun cuaca kurang mendukung untuk melakukan aktifitas dikarenakan dari pagi sudah diguyur hujan. Masih menyimak lembar-lembar berikutnya sambil menghisap rokok dan dengan ditingkahi celutukan Agus di radio komunikasinya, tiba-tiba konsentrasi kami terganggu dengan suara halus yang entah kapan munculnya di sebelah kami. Suara itu lebih mirip desahan.

Selamat siang, pak.. Perkenalkan saya pegawai baru di sini.”

Serempak kami menoleh.

Oh, jadi diterima ya, mbak? Syukurlah. Siapa namanya? Berapa ukurannya eh.., maksud saya di bagian apa?” Sambut Agus antusias dengan tangannya terulur ke arah gadis itu.

Jeje,” sahut si gadis itu sambil tersenyum manis. “Saya asisten finance,” sambungnya.

Ooooh..”, Agus mengangguk-angguk, tetapi matanya menjelajahi gadis di depannya dari ujung atas sampai ke bawah.

Halo,” saya menyapa pendek. Seperlunya.

Halo juga pak,” dia tersenyum sambil mengulurkan tangan mungilnya.

Lalu seolah dia tahu bahwa kami akan berniat basa-basi lebih lama lagi dengannya, gadis itu segera beranjak pergi setelah sebelumnya berpamitan akan berkeliling ke seluruh ruangan hendak mengenalkan diri.

Wah, buru-buru amat..” Gerutu Agus memandangi sosok gadis itu yang berjalan menjauh sambil meraih rokok di meja. “Cakep, ya pak? Bodinya boleh juga..,” sambungnya.

Saya menoleh ke arahnya, tersenyum geli lantas “Pffffffttttt…” Si Agus langsung terbatuk-batuk ketika saya hembuskan asap rokok ke mukanya.

******

Pak, nanti malam mau ke kost-an nggak?” Tanya Jeje sambil membereskan mejanya sore itu, sesaat sebelum jam kantor usai.

Iya, nanti habis makan malam kujemput ke kost, lalu kita ke basecamp untuk bikin laporan harian.” Saya menyahut sambil mengusap pipinya.

Nggak pake macem-macem?” Tanyanya sambil mengerlingkan mata.

Enggaklah,” saya menjawab tapi sekaligus, juga tak merasa yakin.

Dia tersenyum, lalu berpamitan pulang setelah sebelumnya menyodorkan pipinya untuk dikecup.

******

Sssst, pak.…” Dia mendesah lirih.

Apa..?” Saya menyahut. Sama lirihnya.

Pelan-pelan…”

Saya tak menjawab dengan kata-kata namun, cukup dengan sedikit mengendurkan serangan di bibir dan usapan di tubuhnya. Kami terlarut dalam suasana birahi meskipun masih berpakaian lengkap dan tak lagi memperdulikan empunya rumah kost yang ada di ruang tengah sedang menikmati siaran televisi. Saya semakin terhanyut dalam dekapan dadanya yang hangat, semakin terbuai dengan belaian tangannya di punggung dan, semakin melayang dengan permainan lidahnya yang panas.

Tiba-tiba,

Crit crit…! Crit crit…! Crit crit…!” suara beep yang menandakan ada pesan masuk via BBM itu terdengar berulang kali dan sungguh merusak konsentrasi. Masih dengan tangan kiri di balik kausnya, dengan enggan saya meraih BB di meja dengan tangan kanan lantas membaca pesan masuk yang ternyata dari kawan di basecamp yang memberitahukan bahwa meeting harian akan segera dimulai. Dengan malas-malasan akhirnya saya pun bangkit lalu diikuti gadis itu yang menanyakan ada apa sambil merapikan kausnya.

Agus,” saya menjawab singkat lantas meraih air mineral di meja. “Dia bilang kalau meeting sudah mau dimulai.”

Ayo pak ke basecamp kalau begitu,” ujarnya sedikit terengah, masih dengan mukanya yang memerah.

Saya tersenyum melihatnya dan sambil mengangsurkan botol air mineral kepadanya, berbisik pelan ke telinga gadis itu, “ngganggu aja ya..” yang disambutnya dengan cubitan di pinggang.

******

Meeting harian yang membosankan. Apa yang menarik dari suatu kegiatan yang sama dan diulang-ulang setiap harinya? Membahas capaian produksi hari ini dan merencanakan peningkatan target di esok harinya, bukanlah sesuatu yang menarik diikuti apalagi disimak. Paling tidak begitulah pikiran saya waktu itu.

Dan pikiran saya bukannya tercurah pada meeting itu melainkan hanya kepadanya, gadis pegawai baru itu. Ah, sungguh menarik matanya, senyumnya, bentuk liku tubuhnya pun sempurna kelihatan di mata saya. Hm hm hm…., tanpa sadar jari saya membentuk bayangan gadis itu di kening, dengan coretan-coretan maya yang membentuk gambar tubuhnya.

Jadi bagaimana pendapat Pak Dicky untuk peningkatan produksi di Lintasan berikutnya? Perlu ditambah peralatan atau ada sesuatu yang lain mau ditambahkan?”  Ujar si boss tiba-tiba yang membuat saya gelagapan sekaligus malu.

Menurut saya sebaiknya ditambahkan personil di sana, mengingat cuaca sedang kurang bersahabat. Tentunya dengan demikian, target bisa dikejar.”  Cepat saya menjawab dan berharap, bisa diterima.

Maksud saya bukan itu, pak Dicky, tapi tentang produksi rekaman. Kita sudah selesai dengan masalah drilling, sekarang pembahasan kita ke recording.”  Tukasnya tajam.

Saya terdiam sambil melirik rekan di sebelah yang tersenyum bahagia melihat kesalahan yang saya lakukan.

Baiklah. Lanjut ke pak Gunawan, bagaimana pendapatnya?

Sial benar. Dan saya merasakan saat itu meeting semakin bertambah lama, seolah tak usai-usai dan sengaja dibuat panjang dengan pemaparan dan rencana produksi yang diulang-ulang. Sungguh menjemukan.

 

Maka kembali pikiran ini tenggelam ke sosok gadis itu, yang telah menyita sedemikian dalam pikiran dan hati ini sehingga saya sempat melupakan segalanya. Entah apa yang membuat saya merasa tertarik dengan kepadanya, terlebih ke matanya. Seperti ada sesuatu di sana yang saya sendiri sukar mengerti. Saya jadi teringat desas-desus di kantor yang mengatakan bahwa gadis itu mempunyai suatu ‘pegangan’ yang selalu dibawanya kemana-mana. Atau tepatnya, selalu bersama dengan dirinya. Suatu jimat yang sepertinya bisa membuat dirinya menarik di mata lawan maupun sesama jenis. Entah bagaimana saya harus mempercayai itu tetapi faktanya adalah, bahwa ia terlihat begitu menarik dan disukai hampir semua orang di kalangan kami. Mulai dari driver hingga party chief sepertinya berlomba-lomba menarik perhatiannya dan berharap bisa menjadi kekasihnya. Saya bingung, apakah harus senang atau sedih dengan kenyataan bahwa sayalah yang berhasil merebut hatinya dan, menikmati kemolekan tubuhnya.

Empat bulan lamanya saya berselingkuh dengan gadis itu, gadis yang menarik dan mampu membuat saya melupakan keluarga di rumah. Dan sialnya, setelah sadar apa yang saya lakukan itu adalah dosa tak terampunkan, semuanya sudah terlambat. Terlambat menyadari bahwa itu menyakitkan hati yang ada di rumah. Terlambat menyadari akan resiko yang timbul akibat perselingkuhan itu. Terlambat menyadari segalanya hanya karena saya terpikat dengan kenikmatan sesaat.

******

Laki-laki itu menggerung, meraung dan berlari dari sudut ke sudut lalu menabrakkan kepalanya ke sudut ruangan. Ia terduduk, dengan air matanya membanjir keluar.

Tidak.. Jangan.. Pergi kau… Pergi..,” rintihnya sambil mengatupkan kedua tangannya ke telinga. Ia mengejang, lalu semua terasa gelap.

About Anoew

Sedari kemunculannya pertama kali beberapa tahun yang lalu, terlihat spesialisasinya memang yang "nganoew" dan "saroe". Namun tidak semata yang "nganoew-nganoew" saja, artikel-artikelnya mewarnai perjalanan BALTYRA selama 6 tahun ini dengan beragam corak. Mulai dari pekerjaanya yang blusukan ke hutan (menurutnya mencari beras) hingga tentang cerita kehidupan sehari-hari. Postingannya di Group Baltyra dan komentar-komentarnya baik di Group ataupun di Baltyra, punya ciri khas yang menggelitik, terkadang keras jika sudah menyenggol kebhinekaan dan ke-Indonesia-annya.

My Facebook Arsip Artikel Website

69 Comments to "Creep Dick"

  1. Lani  9 September, 2012 at 02:36

    KANG ANUUUUU : aku tau kenapa kamu ndak mau dibilang menyamar jd cicak, krn spiderman kan lbh GEDE bener kan?

  2. Anoew  8 September, 2012 at 23:36

    bukan cicak, tapi spiderman

  3. bambang priantono  7 September, 2012 at 21:26

    Menyamar jadi cicak neh….

  4. anoew  6 September, 2012 at 09:15

    ¤ Ayla, kalau merayap gk harus jadi cicak, jadi spiderman malah lebih juosss..

    ¤ Yu Lani, iyo Yu.., iyoooh..

    ¤ Kang EA, halaah kok aku lagi tho yo..

    ¤ Sasayu,. …….

    ¤ EA, yasudah, besok Kang EA gantian yang merayap di dinding yo.., kalau kurang puas, bisa dicoba merayapi dinding Monas.

  5. EA.Inakawa  6 September, 2012 at 04:59

    Anastasia : Coba lihat di awal kata pembuka artikel ini ” AKU TIDAK GILA ” ( kata hati kang anoew ) jadi tidak mungkin kang Anoew merayap rayap di dinding, merayap rayap itukan kerjaan orang gila hikhikhik salam sejuk

  6. Sasayu  6 September, 2012 at 03:01

    Hahahahhaha, lanjut terus Mas Anoew. Sasayu sih percaya practice makes perfect, jadi kalo sesuai record nulis Mas Anoew, sekali lagi kayaknya sih kisah nyata….kikikikik…

  7. Lani  6 September, 2012 at 02:08

    HENNIE : lo, email address mu hilang????? jd msh nyangkut di Phuket? dr sana balik ke Jerman? ok nanti kasih tau email addressmu yg baru japri ya………..ditunggu……enjoy PHUKET………..ato mo bikin artikel???????

  8. Lani  6 September, 2012 at 02:07

    KANG ANUUUUUU : bukan begitu……….aku percaya sama kamu, tp yg plg tau dibalik percaya itu kan dirimu sendiri to???? aku bukan cenayang ndak bs baca pikiranmu apalagi dgn jarak jauh hehehehe………….sekali lagi aku kembalikan pd dirimu sendiri……..dan bertanya: jujurkah aku??????? karo senyum2

  9. Anastasia Yuliantari  6 September, 2012 at 01:55

    Pak EA, mungkin dia sedang merayap2 di dinding….hehehehe. Emang cicak??? Iyo to Noew????

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.