Oleh-oleh dari Ngada (4): Kampung Wogo Mataloko

Anastasia Yuliantari

 

Setelah berada di Kemah Tabor tak lebih dari seperempat jam, kami melanjutkan perjalanan. Pagi masih diliputi mendung. Mentari bersembunyi di balik awan. Udara dingin tak beranjak menyelimuti Mataloko. Di hari Minggu suasana sepi karena penduduk pergi ke gereja atau masih beristirahat setelah seminggu bekerja.

Sehabis melewati sebuah perempatan kami hanya melaju beberapa menit, sebelum Pater Paskalis membelokkan kendaraan ke sebuah tugu, dan berhenti di bawah kerimbunan rumpun bambu. Di hadapan kami ada perkampungan yang senyap. Hanya ada seorang bapa tua berdiri di depan rumahnya yang menghadap rumpun bambu itu. Dia mengenali Pater Paskalis dan menyapanya dalam bahasa setempat.

Ini kampung adat Bena yang begitu terkenal, ya? Mengapa begini senyap? Apakah para turis belum ingin melancong pagi-pagi?

                Rasa penasaran itu membuatku bertanya, “Oh, ini kampung Bena yang terkenal itu, ya?”

“Bukan,” Jawab Pater. “Ini kampung Wogo, masih di Mataloko.”

Lho, ternyata ada desa adat juga di Mataloko sebagai atraksi wisata? Aku pikir hanya di Bena saja desa adat yang perlu dikunjungi.

“Kampung ini bukan khusus untuk atraksi wisata, mereka masih mendiami rumah-rumah itu. Ya, semacam kampung di Manggarai.”

Jadi tempat ini benar-benar sebuah kampung biasa dengan penduduk yang mendiami rumah-rumah yang ada tanpa tujuan sebagai tempat wisata? Kalau benar demikian betapa uniknya. Sama halnya dengan kampung-kampung di Manggarai di mana kesatuan kampung diikat dengan keberadaan Mbaru Gendang sebagai pusat kegiatan adat.

Bapa tua yang mengawasi kedatanganku menyapa dengan bahasa Indonesia logat setempat. Dia menanyakan asal tinggalku, kemudian mempersilahkan untuk berputar-putar ke seluruh kampung yang berbentuk persegi panjang dengan jalan semen bercampur batu di depan setiap rumah.

Hal pertama yang menarik perhatianku adalah rentengan tulang belulang di dinding rumah terdekat. Wah, tulang apa, nih? Kelihatannya sudah lama disimpan atau dipajang di tempat ini. Beberapa di antaranya telah berlumut dengan warna hijau, sementara lainnya kelabu kehitaman karena kering terpanggang panas dan dihajar cuaca.

                Setelah mendekat dan sampai ke depan rumah, tampaklah dua batang tanduk yang dijepit menggunakan bambu. Rupanya tulang-tulang tadi adalah geraham hewan yang dikurbankan dalam acara adat. Tak hanya gerahamnya yang dikoleksi tapi juga tanduk kerbaunya. Memang, hewan yang biasanya dipakai untuk acara adat adalah kerbau. Di Manggarai ada istilah paki kaba istilah harafiahnya adalah menikam kerbau, tetapi maksudnya adalah menyembelih kerbau untuk dikorbankan dalam acara tertentu. Tidak pernah ada paki japi atau menyembelih sapi. Kalau pun pakai sapi biasanya sebagai ute (sayur/lauk).

                Tak setiap rumah dihias dengan tulang-belulang binatang kurban, hanya rumah adat saja yang mempunyai keistimewaan itu. Pater menunjuk rumah yang terbuka pintunya dan berkata, “Lihat, selalu terdiri dari tiga tingkat.”

Maksudnya rumah itu terdiri dari tiga bagian dihitung dari tangga di bagian luar. Tangga pertama menuju teras, kedua adalah bagian dalam rumah, sedang bagian ketiga yang dihubungkan tangga kecil menuju ruangan lain di dalam rumah.

Rumah-rumah ini menggunakan dinding dan lantai papan, bagian plafon dan beberapa bagian kerangka rumah menggunakan bambu. Sementara atapnya terbuat dari ilalang dan ijuk.

                Bentuk perkampungan mengelilingi sebuah tanah lapang. Di tengah tanah itu terdapat beberapa bangunan kecil semacam miniature rumah, payung, kumpulan bebatuan, dan kuburan.

                Rumah kecil itu terdiri dari beberapa buah dalam satu deretan. Masing-masing rumah kecil itu berhadapan dengan bangunan semacam payung. Model payung ini serupa dengan payung-payungan untuk peneduh meja bulat tempat pesiar di Bali.

 

                Namun kiranya bangunan-bangunan ini mempunyai makna penting dalam kehidupan masyarakat Bajawa. Menurut Pater Paskalis, bangunan rumah menyimbolkan hak milik perempuan. Di wilayah Bajawa dengan tradisi matriarchal, perempuan yang mempunyai hak atas tanah dan rumah. Berbeda dengan Manggarai yang patriarchal, semua harta benda diwariskan kepada anak lelaki tanpa terkecuali. Anak-anak perempuan hanya mendapat bagian bila anak lelaki memberikannya, itu pun hanya sebagai hak guna seumur hidup dan sekali waktu bisa ditarik kembali.

Banyaknya jumlah miniature rumah ini, kemungkinan menunjukkan banyaknya keluarga-keluarga dengan anak perempuan yang disimbolkannya.

 

                Rumah ini sungguh unik dengan ukir-ukiran, atau tepatnya gambar-gambar hitam dan putih yang menghiasi tangga, pintu, dan jendelanya. Bila dilihat dari dekat, gambar itu terdiri dari bentuk geometris, lukisan sebangsa tanduk kerbau, serta tanaman, mungkin juga bunga-bungaan.

 

                Sebaliknya dengan miniature rumah, bentuk payung merupakan symbol kaum lelaki yang merantau. Mereka mempuanyai kebanggaan sebagai pekerja keras di tanah seberang dan pulang dengan kesuksesan.

Berbeda dengan bangunan rumah yang mempunyai hiasan, bangunan berbentuk payung ini tanpa hiasan. Hanya terdiri dari tiang kayu dan atap yang terbuat dari ilalang bagian dalamnya, kemudian dilapisi ijuk pada bagian luarnya, sebagai penguat dijepit dengan bambu, lalu ditali dengan ijuk pula. Sebagai penyangga bangunan ini terdapat batu-batu yang disusun melingkar seperti lantai.

                Di depan bangunan berbentuk payung terdapat dua batang bambu yang dipancangkan di atas tanah dan diikat dengan ijuk. Menurut Pater, benda itu adalah tempat orang mengikat kerbau sebelum disembelih atau mungkin saat disembelih juga. Ada beberapa benda seperti itu di depan bangunan berbentuk payung ini. Mungkin hal itu juga menunjukkan bagian-bagian keluarga tertentu.

                Walau tiap bangunan masih dihuni, namun pagi ini hanya terlihat beberapa orang di depan rumah mereka. Termasuk di antaranya adalah anak muda dan adik lelakinya yang sedang bersantai di depan rumahnya. Lelaki itu menatapku saat melintas di depannya dan tertawa melihatku mengambil fotonya. Dia mengucapkan sesuatu yang aku tak ketahui artinya. Kebetulan saat itu Pater sedang permisi ke toilet sehingga aku tak bisa menanyakan apa yang dikatakannya.

Bila para orang tua tak tampak batang hidungnya, sebaliknya anak-anak ramai bermain di bagian lain kampung itu. Mereka bercakap-cakap dengan sebayanya, atau bermain dengan sanak saudara, sampai ada seorang yang terperosok ke dalam got kecil di depan rumah. Wajahnya yang mengernyit hampir menangis jadi batal ketika aku mendekat dengan kamera.

“Jangan foto, Ibu.” Ujar anak perempuan yang lebih besar. “Dia malu.”

Aku hanya tertawa, dan menyembunyikan kamera ke balik badan. Anak kecil itu melihat dengan takut-takut atau mungkin curiga saat aku lewat di dekatnya.

                Di bawah ini ada beberapa detail menarik dari rumah-rumah di Wogo, di antaranya adalah bagian atap, tangga, dan susunan ilalang yang dipasang sebagai atap.

                Sama halnya dengan kepercayaan masyarakat Manggarai bahwa orang yang sudah meninggal masih tinggal meyatu dengan mereka, maka di tempat ini terlihat kuburan keluarga yang diletakkan di depan rumah. Terlihat foto dari almarhum di sisi sebelah kiri bangunan, dan satu kuburan lagi di sebelah kanan, yang menunjukkan anggota keluarga lainnya yang baru saja meninggal

 

                Seperti halnya di tempat lain kuburan keluarga itu juga dihiasi bunga-bunga sebagai tanda kasih terhadap orang yang sudah meninggal Selain itu, terdapat tanda salib yang menunjukkan kepercayaan mereka sebagai orang Katholik.

 

                Di wilayah Manggarai, dan Ruteng khususnya, banyak anggota masyarakat yang sudah meninggal dimakamkan di halaman rumah, dengan makam yang sangat indah. Bagi mereka kuburan bukan hal yang menakutkan, namun mendekatkan yang hidup dengan yang sudah meninggal. Tradisi bakar lilin menjadi kebiasaan terutama dalam tahap-tahap penting kehidupan.

Awan masih menggantung di atas kampung Wogo, setengah jam waktu yang diberikan oleh Pater Paskalis untuk kami menikmati kampung ini semakin habis. Setelah menyapa beberapa perempuan bersarung yang mengintip dari balik pintu-pintu rumah mereka, kami meninggalkan tempat itu di bawah tatapan mata bapa tua yang masih tetap berdiri di depan rumahnya, di bawah kerimbunan batang-batang bambu.

 

31 Comments to "Oleh-oleh dari Ngada (4): Kampung Wogo Mataloko"

  1. Anastasia Yuliantari  14 September, 2012 at 09:49

    Linda, thank you Linda, emang eksotis sekali tempatnya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.