The Penang Peranakan Mansion

Tjandra Ghozalli

 

Pada liburan Lebaran silam, kami (saya, isteri, dan anak bontot) beranjangsana ke Penang (Malaysia) pakai bus, berangkat dari Singapura. Dengan biaya per orang S$ 45.- kami naik bus di terminal Golden Miles.  Berangkat pk 10.00 pagi dan melewati border Singapura dan Malaysia (dua kali turun – naik), maka bus berjalan melalui labuh raya (jalan tol). Di sepanjang jalan labuh raya dari Johor Bahru ke Kuala Lumpur lalu ke Penang, pemandangan kiri kanan dipenuhi dengan pepohonan yang hijau rimbun, sebagian berupa kebun sawit dan sebagian lagi hutan perawan termasuk bukit bukitnya rimbun pepohonan, jarang terlihat rumah.

Ini bagusnya tata kota Malaysia yang melarang pengembang bikin rumah seenaknya, sama sekali bukan karena populasi Malaysia lebih sedikit dari Indonesia.  Di Malaysia hutan dan kebun dipelihara baik, tidak boleh ada selingan rumah penduduk.  Kalau di Jawa dan Batam saya lihat tata kotanya tidak berjalan sebagai mana mestinya, di mana saja orang boleh bikin rumah bahkan ada satu dua rumah nyelip di antara perkebunan. Jarang saya melihat perkebunan dan hutan semulus itu di Indonesia, bahkan di Sumatera dan Kalimantan!!  Karena saya penyuka tanaman, maka perjalanan selama 11 jam tak terasa.  Di dalam bus, kami berjumpa dengan teman seperjalanan dari Jakarta, namanya Mama Marry yang pergi ke Penang bersama suami dan puterinya untuk berobat. Melalui Mama Marry saya di kenalkan dengan ibu Ping ping, penyewa apartemen sehingga saya bisa bermalam di apartemen yang biayanya cuma 50% dari hotel bintang 4 tapi fasilitasnya tidak kalah bagus.

Esoknya saya menyewa mobil yang drivernya seorang peranakan Penang, namanya Meng meng (di Penang banyak orang yang namanya berulang seperti Ping ping, Meng meng, Cen cen, Kim kim, dsb). Empat jam perjalanan seharga 100 ringgit (setara Rp 300.000 an,-).

Mula pertama kami kunjungi The Penang Peranakan Mansion yang berlokasi di Church Street.

Bangunan ini berwarna hijau, makanya sering juga dinamakan The Green Mansion yang dibangun oleh  Chung Keng Kwee yang lahir di Guangdong pada tahun 1821 dalam masa pemerintahan Manchu, kaisar Daoguang (1820 – 1850).

Di saat itu China lagi lemah, rakyat menderita kelaparan, maka ayahnya – Ching Hsie Fah dan saudaranya Chung Keng Seng merantau ke Nanyang (Asia Tenggara) dan meninggalkan Chung Keng Kwee yang masih kecil bersama ibunya.

Sampai tahun 1841 tiada berita dari ayah dan kakaknya, makanya sang ibu menyuruh Keng Kwee yang sudah dewasa mencari mereka di Nanyang, tepatnya Penang. Lalu Keng Kwee menemukan mereka di Larut, daerah tambang perak di mana ayah dan kakaknya sudah menjadi saudagar perak yang cukup kaya.

Chung Keng Kwee berjiwa usaha dan pemimpin yang hebat, dalam waktu 20 tahun (pada usia 40 tahun) Chung Keng Kwee sudah menjadi “godfather” di kalangan masyarakat asal  Zengcheng di Larut dengan nama perkumpulan Hai San yang berbahasa Hakka.

Saingan Hai San adalah perkumpulan Ghee Hin yang anggotanya warga asal Huizhou.  Seperti film Godfather Hongkong era Kolonial, di Penang juga sama bobrok dan kejamnya.

Pada tahun 1861 terjadi perang antar geng di Larut – pakai golok, samurai, bahkan senapan locok.  Perang antar geng ini terjadi berkali-kali dan dimenangkan oleh perkumpulan Hai San di bawah pimpinan godfather Chung Keng Kwee seorang yang tegas dan pemberani sehingga akhirnya oleh pemerintah kolonial Inggris dia diangkat menjadi Kapitan yang membawahi masyarakat Tionghoa di Penang.

Secara resmi Keng Kwee memiliki dua isteri Tionghoa dan beberapa isteri tidak resmi dari suku Melayu. Dari isteri Melayu inilah lahir warga peranakan Tionghoa Penang yang pakaian dan tradisinya mirip peranakan Tionghoa di tanah Jawa.

Di mana kaum wanitanya memakai kebaya atau baju kurung dan kain sarong (kain batik).  Sedang kaum prianya pakai baju twikim yang mirip baju koko.

Chung Thye Phin adalah putera Chung Keng Kwee yang lahir pada tahun 1879. Thye Phin mengikuti jejak ayahnya menjadi pebisnis yang sukses antara lain di bidang tambang perak dan perkebunan.

Thye Phin memiliki sejumlah rumah untuk sejumlah isterinya yang bersuku Tionghoa dan Melayu. Salah satu rumahnya menjadi restoran  & hotel Shanghai dan ada lagi Villa Relau sebagai rumah pertama di Penang yang punya kolam renang dan taman luas. Thye Phin meninggal pada tahun 1935 dan dia adalah kapitan Tionghoa Penang terakhir.

The Green Mansion resmi dibuka untuk umum pada tahun 2004. Peter Soong adalah hartawan yang mendonatur 21 juta Ringgit ( Rp 60 miliaran) dengan perincian 4 juta Ringgit untuk membeli rumah aslinya, 2 juta Ringgit biaya renovasi dan 15 juta Ringgit untuk membeli berbagai benda seni untuk memenuhi tiap ruang.

Jadi barang dan meubel yang ada di Green Mansion bukanlah barang aslinya, tetapi benda seni lain yang dibuat matching dengan kondisi tiap ruang.

Minggu depan akan saya buat laporan perjalanan ke The Blue Mansion milik Chong Fatt Tze.

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung pak Tjandra Ghozalli. Make yourself at home dan terima kasih atas ijinnya sharing artikel ini di BALTYRA. Artikel ini juga bisa dibaca di http://asia.groups.yahoo.com/group/peranakan-tionghoa/

 

13 Comments to "The Penang Peranakan Mansion"

  1. Dj.  6 September, 2012 at 23:25

    Bung Candra…
    Terimakkasih untuk cerita perjalanan dan dekorasi rumah yang sangat indah.
    Salam kenal dari Mainz.

  2. Kornelya  6 September, 2012 at 20:31

    pa Tjandra, elok sekali rumah dan furniturenya. Terima kasih sudah membagi informasi. Salam.

  3. Dewi Aichi  6 September, 2012 at 20:13

    Salam kenal dan selamat datang pak Tjandra…ditunggu tulisan selanjutnya..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.