A Hero

Night

 

Dalam tubuh yang dianggap dewasa, saya selalu merasa masih memiliki jiwa anak-anak…

Kegemaran menonton kartun, membaca komik, mengidolakan tokoh fiktif dan menikmati segala sesuatu yang cenderung dianggap untuk anak kecil. Setiap orang punya minat yang berbeda, saya tidak terlalu peduli pendapat orang mengenai minatku tersebut bahkan sebenarnya bangga masih memiliki jiwa tersebut karena saya selalu beranggapan anak-anak bisa merasa bahagia untuk hal sepele yang tidak menarik bagi orang dewasa…

Membaca berbagai petualangan dari berbagai tokoh superhero, ada seseorang yang kupanuti serta kuanggap hero pertamaku, tokoh ini bukanlah tokoh fiksi. Sosok ini adalah ayahku, saya yakin saya bukan satu-satunya yang memiliki perasaan tersebut meski ada juga yang tidak seberuntung diriku karena tidak bisa memiliki memori atau perasaan tersebut.

Sejak kecil saya selalu merasa nyaman dan aman ketika berada di dekat sosok laki-laki tersebut, bahkan bagaimana pun takut dan respeknya saya terhadap dia, saya tidak pernah merasa takut untuk berada di sampingnya. Dia membuatku merasa saya akan baik-baik saja dan terlindungi dengan kharisma yang membuatku merasa bahwa dia adalah sosok yang paling luar biasa di dunia. Pikiran naif begitu luar biasanya dia lahir dari pemikiran seorang anak kecil, namun hingga saat ini saya masih merasa bangga dan kagum terhadap dia…

Saya sadar dia hanyalah manusia biasa, bisa melakukan kesalahan dan memiliki cela tapi saya juga manusia biasa yang sadar punya kelemahan. Memiliki seorang ayah bagiku adalah satu hal yang berharga, namun justru setelah jauh darinya. Ketika saya masih begitu mudah bertemu dengannya, saya tidak memiliki perasaan demikian, namun saya merasa beruntung bisa menghargai sosok seorang ayah saat ini ketika mendengar penyesalan teman-temanku menceritakan apa yang dirasakan ketika mereka tidak lagi memiliki ayah.

Banyak yang ingin kuungkapkan ke dia, namun kata-kata ini selalu sangkut di tenggorokan dan sulit diungkapkan. Mungkin didikan atau budaya yang membuatku merasa sulit untuk mengatakan bahwa saya peduli dengannya. Namun saya yakin dia sadar tanpa harus kukatakan, saya selalu ingin menjadi anak yang dia banggakan, anak yang bisa membuat dia sadar bahwa saya bukan anak durhaka, dan ingin menunjukkan bahwa dia memiliki anak yang tidak akan pergi meninggalkannya untuk ego-ku.

Dia, sama seperti sosok ayah-ayah yang lain, yang bekerja untuk anaknya, menjaga anaknya… Setiap ayah yang ada di dunia, yang peduli dengan anaknya… Saya yakin kalian semua adalah sosok pahlawan bagi anak-anak kalian, seperti saya melihat sosok ayahku.

 

12 Comments to "A Hero"

  1. elnino  11 September, 2012 at 21:12

    Ayahku idolaku.. Sosok yg tekun, teliti, pintar dan serba bisa. Sayang, di usia tuanya, seluruh anaknya berpencar n beliau tidak mau ikut bersama salah satu dari kami. Beliau tidak mau meninggalkan rumah kesayangannya

  2. EA.Inakawa  9 September, 2012 at 20:06

    Yaaa memang prihatin yaa Pak DJ …… kalau kita menemukan anak anak yang kehilangan kasih sayang orang tuanya dan saling bermusuhan :
    * ada ayah yang terlalu egois – keras dan kejam
    * ada ayah yang meninggalkan anaknya tanpa tanggung jawab ( tp kelak akan ada undang undang yang melindungi anak anak yg ditelantarkan secara perdata )
    * ada ayah yang tidak memberikan motivasi kepada anaknya, terserah mau jadi apa
    * ada ayah yang suka berlebihan poligaminya menciptakan anak anak demotivasi dan terlantar
    Bermacam macam type ayah…….dan bersyukurlah bagi yangmemiliki sosok ayah terpuji, salam sejuk

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.