Déjà vu Galau

Diday Tea

 

 “Suasana hati seringkali mempengaruhi kesehatan badan kita

            Entah kenapa, walau pun hari itu sangat melelahkan bagiku, karena aku harus menangani pekerjaan teman-temanku yang sedang cuti lebaran, tiba-tiba aku ingin sekali pergi ke warnet.

Saking sibuknya, hampir satu minggu aku tidak sempat melihat isi inbox-ku.

Ketika melihat angka yang tertera di dalam surat penawaran kerja (job offer) yang baru saja kubuka dari email, otakku secara otomatis langsung merubahnya ke dalam rupiah.

Aku langsung tersungkur bersujud syukur di atas lantai warnet itu. Entah berapa lama aku bersimpuh. Entah berapa kali bibirku bergetar beryukur kepada Yang Maha Kaya di antara tangis kebahagiaanku saat itu. Mimpiku yang nyaris mustahil, akhirnya menjadi kenyataan.

Aku akan bekerja di luar negeri!

Kemudian, tanpa ragu dan tanpa berpikir panjang lagi, segera saja kububuhkan tanda tanganku di atas surat penawaran kerja itu. Bagaimana tidak, gaji yang akan kuterima itu hampir sama, bahkan mungkin lebih besar dari General Manager di tempatku bekerja. Belum lagi fasilitas dan embel-embel penghasilan lain yang akan kuterima. Sesuatu banget lah, kalau dibandingkan dengan gajiku saat itu.

Tanpa kutunda-tunda, seketika itu juga aku kirimkan kembali surat yang sudah ditandatangani tersebut kepada agen penyalur tenaga kerja yang sudah mengurus proses perekrutan sejak awal.

Keluar dari warnet, tubuh kurusku yang tadinya kelelahan luar biasa, tiba-tiba terasa enteng. Kakiku yang tadinya terasa sungguh berat walaupun sekedar untuk dibawa turun dari atas mobil jemputan, tiba-tiba terasa sangat sangat ringan.

Wajahku yang tadinya kusam, kucel, kumal, dan kuleuheu (bahasa Sunda, digunakan untuk mendefinisikan wajah yang dekil), langsung terlihat bersih dan bersinar, dihiasi dengan senyuman ceria, seperti pelangi terbalik yang terbit setelah hujan lebat. Kalau ini sih, karena memang sebelum keluar, aku cuci muka dulu dengan sabun pembersih wajah. Hehehe.

Pokoknya, hari-hari setelah kuterima surat itu, kujalani hidupku dengan penuh keceriaan dan kegembiraan.

Senyum super lebar, selalu menghiasi wajahku.

Tapi semua itu hanya bertahan beberapa minggu saja.

Beberapa hari setelah aku kirim surat penawaran yang sudah kutandatangani, ada balasan dari agen, yang menyebutkan bahwa aku tinggal menunggu visa. Setelah visa sudah jadi, baru mereka akan mengirimkan tiket penerbangan dari Jakarta ke Doha.

Setelah lebih dari sebulan menunggu, ternyata visa yang kutunggu itu tidak kunjung datang. Hampir setiap hari kuhabiskan puluhan ribu rupiah di warnet, hanya untuk memeriksa email-email yang datang.

Hatiku mulai galau.

Jangan-jangan ngga jadi nih!”

            Hatiku yang sedang galau dalam penantian itu menjadi lebih galau, ketika aku mendengar desas-desus bahwa ada beberapa kasus yang sama. Orang yang sudah menerima job offer ternyata belum tentu seratus persen akan direkrut.

Waddduuh…gaawwwwaat nih!”

            Sejak kudengar kabar seperti itu badanku langsung lemas dan lunglai. Bagaimana tidak, aku membayangkan bagaimana kelanjutan hidupku jika sampai aku tidak jadi pergi ke Qatar.

Hutangku ke Bank sudah menumpuk, kuliahku sudah tidak terbayar, usahaku pun sudah kembang kempis.

Hari-hariku yang tadinya penuh kegembiraan dan keceriaan, berubah drastis menjadi hari-hari galau. Hari-hari murung di dalam penantian yang tidak jelas.

Selera makanku mulai hilang. Mungkin, sebulan sejak masa penantian itu, aku hanya makan sekali dalam satu hari. Itu pun aku harus memaksakan diri, karena takut terjadi apa-apa pada kesehatan tubuhku.

Dan akhirnya, yang kutakutkan pun terjadi.

Aku jatuh sakit.

Penyakit maagku yang tadinya kusangka sudah sembuh total, kali ini kambuh lagi.

Hampir setiap hari penyakit itu kambuh. Telat makan sedikit saja, rasa pedih di lambungku langsung menyerang hebat.

Pada puncaknya, aku tidak kuat lagi dan harus berobat ke klinik berkali-kali ketika maagku kambuh. Dokter di klinik itu akhirnya membuat surat rujukan agar aku dirawat saja di rumah sakit, agar penyembuhannya optimal. Dia beralasan, dengan kondisiku yang tinggal sebatang kara di rumah kontrakan, pasti aku tidak akan bisa makan teratur. Tidak ada yang mengingatkanku untuk minum obat.

Dan akhirnya aku pun harus merelakan tubuhku terbaring lemah di rumah sakit. Dan untuk pertama kalinya seumur hidup, akhirnya aku merasakan juga jarum infus menusuk urat di tanganku.

Ternyata diinfus itu tidak enak dan sakit.

Tapi sampai sekarang keluargaku tidak pernah tahu, bahwa aku pernah dirawat gara-gara penyakit maag akut. Aku sengaja tidak memberitahu mereka, agar mereka tidak khawatir.

Hampir semua tetanggaku dan teman-teman kerjaku yang datang menengok mengetahui bahwa penyebab aku sakit itu adalah karena aku terlalu memikirkan masalah visa kerjaku yang tidak kunjung datang.

Mereka semua menenangkan dan menyemangatiku untuk tidak terlalu memikirkan visa itu, karena toh nanti juga akan datang. Dan kasus pada orang-orang yang sudah menerima job offer, tapi akhirnya tidak jadi direkrut pun, itu hanya terjadi pada beberapa orang, tidak terlalu banyak terjadi.

Setelah tujuh hari dirawat, dokter spesialis penyakit dalam di rumah sakit itu akhirnya memperbolehkan aku untuk pulang.

Walau pun hatiku masih galau, tapi Alhamdulillah kondisi maagku sudah mulai membaik.

Yang menyemangatiku waktu itu adalah keinginanku untuk sehat kembali, dan ketakutanku jika ternyata ketika visa sudah kuterima, dan aku malah tidak jadi berangkat karena penyakit ini.

Karena setelah keluar dari rumah sakit, ada isu baru.

Isu bahwa ada beberapa kasus juga, orang  yang sudah menerima visa, dan sudah menginjakkan kaki di Qatar, ternyata dipulangkan lagi karena alasan kesehatan. Katanya sih  rumah sakit di Qatar jauh lebih canggih, sehingga bisa mendeteksi penyakit yang tidak dapat terdeteksi oleh  rumah sakit/klinik kesehatan di Indonesia.

Aku berusaha untuk hidup “normal”, kembali kepada rutinitas pekerjaan dan kehidupanku sebelum menerima job offer itu. Walau pun tentunya aku masih berharap dan menunggu visa kerja itu datang. Karena pada waktu itu, hanya itulah harapanku satu-satunya agar bisa “bertahan hidup”.

Aku ke warnet mungkin hanya satu minggu sekali, itu pun jika aku ada waktu dan tidak harus bekerja lembur di akhir minggu.

Tepat sebulan aku keluar dari rumah sakit, aku sudah bisa menjalani hidupku seperti biasa lagi. Tapi pikiran dan penantianku kepada visa kerjaku masih saja membebani pikiranku, walau pun tidak separah sebelum aku dirawat.

Aku sudah mulai datang lagi ke kampus.

Aku sudah mulai berjualan pin dan bros Islami lagi ke toko-toko buku di Cilegon.

Seminggu kemudian, aku akhirnya pergi ke warnet. Itu pun karena berniat untuk membuat laporan keuangan usahaku dan mengirimkan email ke supllier, untuk memesan barang jualanku.

Sama sekali tidak ada niat untuk melihat apakah visaku sudah jadi atau belum. Dan lagian, kulihat ada ratusan unread messages di dalam inboxku.

Subhanalloh, ternyata tak kuduga dan kusangka-sangka, di antara ratusan email yang kubaca, ada terselip satu email dari agen penyalur tenaga kerja itu.

“Visa”, hanya satu kata yang menjadi judul email tersebut.

Alhamdulillah, dan ternyata benar saja, visa yang sudah lama kunanti itu akhirnya tiba juga!

Selama beberapa menit, hampir tak berkedip mataku memandangi gambar scan copy dari secarik kertas yang berbahasa Arab itu. Hanya namaku saja yang tertera di dalam huruf latin.

Seperti Déjà vu, keceriaan dan kegembiraan yang kurasakan ketika melihat job offer  itu terulang kembali.

Aku bersimpuh sujud syukur lagi kepada Allah Yang Maha Kaya. Air mataku mengalir deras di antara kedua bibirku yang tak henti-henti bertasbih dan bersyukur. Bersyukur karena penantian yang sebenarnya akhirnya berakhir juga. Bersyukur karena akhirnya aku akan bisa menggapai mimpi-mimpi dan rencana-rencana terbesar di dalam hidupku.

Malam itu juga aku langsung membuat surat pengunduran diri. Sambil tersenyum-senyum sendiri, dan celingak-celinguk salting di dalam petak kecil warnet itu, kurancang surat perpisahan yang pasti akan mengejutkan semua orang di tempat kerjaku besok.

Hujan gerimis menyambut aku yang  keluar dari warnet dengan perasaan seperti bintang iklan obat flu dan pilek. Orang yang bisa bernapas lega karena terbebas dari lilitan kencang tambang di sekujur tubuhnya dan menyisakan hanya kelegaan dan kesegaran yang luar biasa. Gerahnya kota Cilegon, kali ini hilang disapu oleh kesejukan sang gerimis.

Dan tidak pake lama juga, besoknya aku membuat geger di departemenku, karena mengajukan surat pengunduran diri, tepat sehari setelah departemen kami mengadakan acara selamat datang untuk karyawan baru. Hehehe.

Dua bulan kemudian , akhirnya aku bisa menginjakkan kaki di Qatar dan bekerja dengan tenang, bahagia, ceria, dan damai di tempatku bekerja sekarang.

Alhamdulillah, sampai sekarang aku tidak pernah lagi mengalami sakit yang disebabkan oleh karena berlarut-larut memikirkan suatu masalah. Paling banter pilek atau sakit leher karena salah posisi tidur saja.

Haahh….leganyaaa…!

 

9 Comments to "Déjà vu Galau"

  1. Dewi Aichi  11 September, 2012 at 04:48

    Saya bersyukur termasuk orang yang tidak gampang stress, saya coba ingat ingat apa yang bikin saya stress, kayaknya ngga ada kalau sampai stress berat. Tapi orang-orang di sekitar saya bilang, saya suka menyembunyikan masalah, perasaan, atau keinginan. Dan itu saya sadari, tidak baik.

  2. Dj.  11 September, 2012 at 02:36

    Kang Diday…
    Tderimakasihn untuk ceritanya.
    Ijinkan Dj. mengambil keksimpulan dari cerita diatas.
    Sakit dan badan yang segar, hanya dikkarenakan satu kabar berita yang belum juga dialami.
    Seorang saria, dia tidak pernah menggunakan sendiata untuk melawan musugnya.
    Bila kita bisa menggunakan kekuatan dalam diri kita, maka kita juga bisa melawan berita-berita
    yang kedengaran negativ.
    Toch hidup ini berjalan terus, dengan atau tanpa berita baik atau jelek.
    Semoga kita bisa mengendalikan kehidupan bathin kita.
    Selalu gunakan pikiran positiv…
    Semoga sukses selalu.
    TUHAN MEMBERKATI…!!!
    Salam,

  3. HennieTriana Oberst  10 September, 2012 at 22:37

    Aku juga kalau stress sering sakit perut.
    Semoga sukses selalu di Qatar ya.
    Aku hampir berangkat ke Doha juga, tapi ternyata jalan hidup berkata lain, jadinya pindah ke tempat sekarang

  4. Silvia  10 September, 2012 at 20:38

    Selamat.

    Saya kalau kurang tidur suka masuk angin. Padahal setelah anak2 tidur sy hobi baca dan nonton DVD.

  5. Bagong Julianto  10 September, 2012 at 12:13

    Selamat berjuang lagi di Qatar…
    Ditunggu kisah-kisah berikutnya…

    Trims..

  6. Anwari Doel Arnowo  10 September, 2012 at 10:49

    Diday Tea,
    Begitulah memang, stress itu harus bisa disembuhkan dimulai dan utamanya oleh diri sendiri. Begitu surat persetujuan anda kirim, yang anda perlukan adalah manajemen waktu, harus sabar dan sebagainya. Itulah salah satu cara cara kita mengurangi sress
    Salam saya,
    Anwari Doel Arnowo – 2012/09/10

  7. [email protected]  10 September, 2012 at 10:10

    saya kalo stress larinya ke perut…. jadi pengen beser2…

    sampe2 nunggu taksi kagak dateng2 jg bs bikin sakit perut…… ataupun nungguin istri yang lagi siap2 buat pergi….. bwaaah…

  8. J C  10 September, 2012 at 09:45

    Selamat, selamat perjuangannya berbuah manis. Hahaha…ngomong-ngomong masalah stress, aku sekali-sekalinya stress adalah waktu Mei 1998, beberapa hari setelah kerusuhan hebat, aku kena diare parah, periksa ke dokter, tidak ada obat, katanya karena stress berat. Stress melihat kekacauan yang paling mengerikan aku pernah saksikan dalam hidupku, semoga tidak ada yang kedua dan tidak ada lagi selamanya di bumi pertiwi ini…

  9. Linda Cheang  10 September, 2012 at 09:40

    Rupanya Kang Diday, sering juga sakit gara-gara stress.

    Nyantei saeutik we, atuh, Kang, da tos ejeki, mah, moal ka mamana..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.