Masih Meleset

Anwari Doel Arnowo

 

Apa saja yang masih meleset?

Macam-macam laaah …

Bahasa Indonesia  –  saya kutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia oleh Pusat Bahasa Indonesia, DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL  EDISI KEEMPAT dengan penerbitnya: PT Gramedia Pustaka Utama tahun 2012; 1701 halaman dan harganya Rp. 375000,–

  • Kata geming – bergeming berarti: tidak bergerak sedikitpun juga; diam saja, contoh kalimatnya: walaupun sudah dipersilakan meninggalkan ruang itu, wanita itu bergeming tanpa mengindahkannya. Banyak sekali, atau malah hampir semua orang-orang  menggunakan istilah tak bergeming yang sebenarnya tidak usah memakai kata tak di depannya. Dengan demikian tak bergeming itu menjadikan artinya menjadi tak tak bergerak,  maka malah berarti: bergerak
  • Kata silakan sering dan hampir selalu digunakan dengan salah eja: silahkan dengan huruf h disisipkan. Asal kata yang benar adalah sila dari posisi duduk bersila. Bukan silah karena kata silah di dalam kamus disilakan merujuk ke kata sila. Kata silsilah memang ada, tetapi tidak ada hubungannya dengan kata sila.
  • Kata carut marut ini seharusnya karut marut, kata karut itu artinya kacau dan karut-marut: kusut tidak karuan, rusuh dan bingung ;
  • Relawan juga dirujuk ke kata sukarelawan, dengan demikian pemakaian yang diakui resmi adalah sukarelawan
  • Sudah tahukah anda apa kata yang mewakili arti dan makna efektif dan berhasil guna? Kata yang benar adalah mangkus yang juga berarti: mustajab, mujarab manjur.
  • Atlet pemanah itu yang benar adalah atlet pepanah, seperti atlet petinju dan atlet pegulat, atlet pesilat. Ini sudah dikemukakan oleh seorang ahli Bahasa Indonesia di siaran televisi serta sebuah artikel di harian Kompas. Dengan demikian yang benar maka atlet petembak, atlet pepanah

Dan sebagainya,  masih banyak lagi, karena Bahasa Indonesia itu ternyata bukan mudah seperti anggapan kita selama ini, marilah kita mulai memakainya secara benar. Menulis skripsi dengan bahasa campur-campur atau memang kurang memberikan keperdulian yang piawai, kemungkinan akan menemui kegagalan.

UCAPAN

Saya kurang mengerti apa urgensi atau keperluannya waktu dulu ditetapkan pemakaian huruf H bila mengeja di dalam kata KHABAR, KHUSUS dan lain-lain kata yang menggunakan huruf H secara berlebihan, karena sebelumnya kita kan sudah nyaman menggunakan ejaan yang KABAR dan Kusus. Apa salahnya?? Bila itu adalah karena sebelum itu banyak orang yang menggunakan CHABAR dan CHUSUS, maka itu adalah upaya memasukkan unsur Arabisme juga secara berlebihan.

Kemudian muncul bahasa prokem, atau bahasa sehari-hari sebagai ekspresi menentang kemapanan, yang mengucapkan huruf e dalam kata-kata pentas, idea, peta, PERMEN (untuk Peraturan Menteri) dan

Ada bahasa pejabat model mantan Presiden Suharto, yang ditiru dengan penuh kebanggaan oleh para pejabat orde baru (baik dia itu jenderal yang berpendidikan, atau professor serta ulama-ulama sekalipun) maupun orde yang sekarang. Pengucapan kata mangkin, serta daripada yang terlalu banyak, dan akhiran KEN di mana-mana !! Kalau pejabat masa kini dicampuri dengan kata Indonesian English atau Bahasa Indonesia yang ke Inggris-Inggrisan, padahal istilah resmi di dalam bahasa Indonesianya jelas sekali ada. Lihat saja kata signifikan, wauuw dan sebagainya.

Banyak bertebaran diucapkan oleh para pejabat dan penyiar TV, huruf e dalam kata televisi itu sebenarnya harus diucapkan seperti e didalam edan, bukan seperti e di dalam kata mekar? Silakan saja menyimak betapa banyak lawan bicara yang menerimanya saja tanpa melakukan koreksi (di sini membaca huruf e-nya lain lagi!!). Yang begini inilah yang disebut KARUT MARUT.

Pusat Bahasa Indonesia itu apa sudah bekerja keras dan tepat guna serta mangkus? Tolonglah kami orang Indonesia yang kecewa karena tidak mempunyai tokoh panutan, sehingga pemakaian Bahasa Indonesia terasa kurang dapat berfungsi baik apabila dipakai sebagai alat yang membuat perasaan lebih bersatu dari bangsa yang amat majemuk ini.

CATATAN: Apabila Kamus Besar Bahasa Indonesia yang disebut di atas memiliki jumlah halaman sebanyak 1701 halaman, maka patut diketahui bahwa kamus-kamus di negara-negara lain itu sudah banyak yang tebalnya mencapai lebih dari 4000 halaman. Saya sering menghabiskan waktu membaca di Library di Yonge Street, Toronto, Ontario, Canada yang memiliki buku-buku sekitar lebih dari 200000 judul di dalam 80 Bahasa. Ada banyak library tersebar di kota Toronto yang lengkap dan nyaman bahkan terasa mewah, terbuka bagi manusia siapapun dia.  Saya juga amat sering berada di National Library di Middle Road, Singapore yang gedungnya mewah, modern, bersih berkelas prima dan berlantai lebih dari 12 lantai. Kapan kita bisa mengatur diri kita menghormati bahasa Indonesia, bahasa kita sendiri? Mendirikan perpustakaan baru secara terus menerus, biarpun era digital sudah amat maju sekalipun. Membaca sebuah buku memberi kenikmatan yang lebih dibanding membaca e-book yang membuat mata cepat capai dan lelah.

Bahasa itu boleh hidup dan diubah sesuai kebutuhan. Bukan dibunuh dengan cara tidak memperdulikannya serta malah bersikap mencampakkannya dengan sengaja.

Mau lihat ada berapa bahasa di dunia yang masih aktif dan hidup dipakai? Silakan buka: http://www.translationblog.co.uk/exactly-how-many-languages-are-there-in-the-world/

Berapa jumlah pemakai bahasa-bahasa di dunia, kelihatannya bukan bahasa Inggris yang penggunanya terbanyak, tetapi justru mungkin sekali Mandarin. Silakan periksa: http://www.translationblog.co.uk/exactly-how-many-languages-are-there-in-the-world/

http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_languages_by_number_of_native_speakers .

Dahulu, sekitar 5 tahun lalu, saya pernah mencatat di dalam salah satu topik bahasan tulisan saya, bahwa di dunia ini ada sekitar 6000 bahasa dan setiap tahun kita kehilangan sekitar sepuluh buah bahasa, hilang dan lenyap. Orang Jawa yang jumlahnya sekitar sepuluh kali orang belanda saja, bahasa Jawanya mulai sayup-sayup di”buang” oleh banyak orang Jawa sendiri. Bahasa daerah yang lain, juga bernasib kira-kira serupa serta sama. Janganlah mem”benci” apa yang telah kita miliki sendiri, apalagi mulai memuja milik orang lain berlebihan.

Anwari Doel Arnowo

31 Agustus, 2012

 

22 Comments to "Masih Meleset"

  1. Kornelya  12 September, 2012 at 06:31

    Pa Anwari , kemampuan berbicara / menulis bahasa Indonesia yang baik dan benar, selain pelajaran formal juga dipengaruhi oleh gaya bahasa yang dipakai sehari-hari. Anak yang sehari-harinya dilingkungan keluarga dan teman memakai bahasa gaul, akan kesulitan memahami struktur bahasa Indonesia yang benar. Salam.

  2. Dewi Aichi  11 September, 2012 at 08:10

    Pak Anwari, memang benar, lama-lama jika dibiarkan , tidak terasa semua menuliskan dan mengucapkan bahasa Indonesia dengan kesalahan sana sini. Apalagi jika banyak pembicara, tokoh masyarakat , atau figur publik menggunakan bahasa Indonesia yang salah, masyarakat tidak banyak yang tau bahwa itu salah, dan di Indonesia hampir tidak bisa ditemukan tempat kursus bahasa Indonesia.

    Ada sebuah tayangan di TV Globo, reporter yang terjun ke masyarakat lalu bertanya satu per satu kepada masyarakat yang ditemui, untuk mengetahui seberapa banyak kesalahan pengucapan atau penulisan, misalnya seperti yang bapak sebutkan untuk menuliskan tidak bergerak, pakai “bergeming” atau “tak bergeming”

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.