Pilkadal

Ki Dalang : Leo Sastrawijaya

 

Widara Kandang, sejatinya adalah sebuah Kadipaten yang permai terletak di kaki Gunung Jamurdipa dengan kehidupan masyarakatnya yang harmonis dan gemah ripah loh jinawi alias subur makmur (catatan: makmur di sini berarti cukup sandang pangan, bukan Bang Makmur yang lagi galau karena sudah setengah tahun ditinggal Tati sang istri yang aduhai pergi merantau ke luar negeri dan tidak kunjung memberi kabar).

Jangan salah, meski di dunia pewayangan umumnya menggunakan sistem keturunan sebagai pemegang tampuk kekuasaan, baik di tingkat kerajaan induk maupun kadipaten-kadipatennya, namun tidak demikian dengan Kadipaten Widara Kandang. Dari jaman bahulea, Widara Kandang telah menerapkan model pemilihan pemimpin politik secara demokratis, enggak tahu apa mereka belajar langsung dari Demikritos sang pencetus teori Demokrasi atau justru sebaliknya Demokritos yang diam-diam menyelinap mempelajari sistem mereka kemudian menuliskan konsep itu di dunia para manusia. Entahlah. Untungnya fakta ini jelas tidak layak untuk diperdebatkan karena memang ini hanya narasi yang ugal-ugalan bin ngawur bin asal comot macam pidato pemimpin-pemimpin politik generasi instan yang kini menjadi trend di seantero dunia wayang.

Alkisah, Adipati Widara Kandang, Yang Mulia Raden Onto Broto sudah mendekati masa pensiun ditandai dengan keadaan jasmaninya yang mulai renta, bungkuk, sering batuk-batuk dan  terlihat   telah menjadi pelupa tingkat akut. Hampir semua hal gampang sekali dilupakan, apalagi soal janji-janji pilkada kepada rakyat yang dulu sepuluh tahun lalu selalu diteriakan lantang dalam kampanye-kampanye terbuka yang selalu ingar bingar dengan kehadiran artis-artis dangdut papan atas. Satu-satunya hal yang tidak beliau lupa hanya Raden Rara Tailor Nyemit, istri muda kualitas impor yang masih terlihat sangat menggoda dan unyu-unyu yang tentu saja memang layak untuk selalu diingat, dijaga dan diawasi sebelum diam-diam dibawa kabur deputi-deputinya…

Pilkada, sudah dekat, suhu politik lokal Widara Kandang tentu saja melejit naik gara-gara para kontestan calon Adipati yang berkampanye seenak udel mereka sendiri. Sialnya lagi, meski mempesona dan penuh potensi, Widara Kandang berada di perbatasan utama dua kerajaan besar Astinapura dan Amartapura yang meskipun sesungguhnya dikuasai oleh trah yang sama namun selalu ribut baik karena permasalahan ideologi hingga masalah sepele: para Pangeran mereka ribut berebut  cewek! Bah!

Widara Kandang merupakan bagian integral dari Karajaan Astinapura dengan semua kemanjaan politik yang diberikan kepadanya, berbagai-bagai paket otonomi yang mustahil diberikan kepada Kadipaten-kadipaten lain members of Astinapura Kingdom, diberikan secara murah hati oleh sang penguasa pusat Astinapura. Namun demikian, jangan pernah percaya bahwa Pandawa (Penguasa Amartapura) dan kaki tangan kepetingannya tidak pernah terlibat dalam persoalan-2 internal Kadipaten yang menjadi bagian dari negara adidaya saingannya itu. Jangan salah RR Tailor Nyemit, mantan penyanyi, bintang pilm dan foto model yang imut dan unyu serta semlohai itu sesungguhnya merupakan bagian dari paket under-table diplomacy yang dijalankan oleh Biro Pusat intelijen Amartapura. Tidak lain tidak bukan semua dilakukan demi ‘kepentingan strategis’ Amartapura Kingdom.

Ya, begitulah, suhu politik demikian meninggi, dan nampaknya terus akan melejit, apalagi menjelang pemilihan putaran dua, dimana dua kandidat tersisa diyakini terindikasi memiliki kedekatan politik yang berbeda, Haryo Brow dan Raden Jankuwi. Bayangkan Haryo Brow, doktor ilmu Utak-atik Gathuk lulusan terbaik Universitas Negara Astinapura, meski ada sas-sus bahwa nilai yang diperolehnya lebih karena keahliannya menyontek. Sedang seteru terberatnya Raden Jankuwi yang berwajah lebih lugu, murah senyum namun memiliki persediaan taktik yang melimpah mulai dari taktik yang sering disebut sebagai Teori Akal Bulus, Teori Akal-akalan hingga Teori Akal Kancil. Raden Jankuwi adalah Master Ilmu Komunikasi Ghaib, juga lulusan terbaik, almamaternya sangat mentereng di Amartapura yaitu Universitas Amartapura Utama (Universitas paling berpengaruh yang sekaligus ternyata melahirkan koruptor-koruptor andal di negaranya) dan penerima beasiswa luar negeri dari Yayasan Pandawa Lima Untuk Semesta.

Jelas sekali bukan? Pertarungan ditanggung sengit dan berdarah-darah baik Darah Muda (lagu dangdut) hingga Darah Malam Pertama (judul film).

Walau tentu saja  tidak pernah diakui secara terbuka, dua kubu sangat intens mendukung wakil-wakilnya. Dari sumber yang tidak mau disebut namanya diperoleh kabar bahwa Negara Astinapura bahkan mengutus Mahapatih Sangkuni sendiri sebagi pemimpin Team Pemenang Pilkadal untuk Haryo Brow. Please be informed that Sangkuni Phd, diketahui adalah juga kepala intelijen Astinapura, walau berwajah kecut dan berbibir memble, beliau adalah pakar sejati dunia intelijen. Jagonya-jago, terkenal sebagai pemrakarsa berbagai operasi konspirasi, konon dikabarkan memiliki kapasitas kelicikan di atas mahluk halus bernama Tuyul (bukan Tukul)…. Wuiiih!

Sedang di pihak Amartapura tentu saja masih dari sumber yang tidak jelas tadi membentuk team sukses yang berada di balik kubu Raden Jankuwi, merekapun mendukung jagonya secara tidak tanggung-tanggung dengan memasang Shri Kreshna sebagai Chief Mission. Kreshna adalah intelijennya intelijen, yang kalau beliau hidup di dunia manusia pasti akan membuat agen-agen intelijen sekelas orang-orang Mossad dan CIA minder bin keder. Operasi-oparasi kontra intelijennya walau lebih sering berbau keberuntungan selalu sukses, kelicikannya pun disinyalir di atas kemampuan Sangkuni. Jadi Pilkadal di Widara Kandang bisa dikatakan menjadi semacam El Classico di dunia wayang yang sesekali memang absurd, apalagi kalau dalangnya ndalang sambil fly, macam pengemudi yang ngefly lalu menubruk orang-orang di halte itu. Ditanggung rame, habis-habisan hingga heroik.

Di sebuah resort tersembunyi, dekat sebuah gua yang kini telah dipenuhi berbagai rupa perangkat elektronik, sambil mendengarkan musik Rap yang dinyanyikan oleh penyanyi rap kenamaan dari negara India, Shri Kreshna sedang menunggu laporan dari salah satu orang kepercayaannya Nala Gareng.

“Lama be’eng tuh belis… “ Gerutu Kreshna sambil mengisap dalam-dalam curutu Kuba yang entah bagaimana caranya bisa masuk ke istana Amartapura dan menjadi semacam cerutu kenegaraan.

“Sorry boss, telat dikit, makluuum macet total boss…” Tiba-tiba Nala Gareng yang kini menggunakan rambut jambul ala Mohawk sudah nongol di depan Kreshna.

“Eh, elu ngagetin orang aja, mana telat lagi. Ketuk pintu dulu napa?!!!” Semprot Krisna yang sedikit merasa terganggu karena tadi khayalannya sudah mulai masuk fase mesum tiba-tiba terpotong oleh kedatangan Gareng.

“Wah, si Boss, dasar neeh. Pan tadi Gareng dah ketuk-ketuk pintu, si Boss aja kagak respon. Jadi aku masuk saja… Ngomong-ngomong ngelamun mesum ya Boss????”

“Kampret, mesum jambulmu! Mana tuh laporan intelijennya?”

“Nih boss, lengkap se flashdisk ukuran 25 giga…”

“Gile! Ni laporan intelijen apa download filem XXX…???”

“Dua-duanya boss, tapi ini bukan hasil download boss, ini kerja intelijen juga jadi ditanggung ekslusif dan original.”

“Muke gile lu! Ini situasi genting elu masih sempat-sempatnya nyempil ngurusin yang begitu-begituan … Bener-bener muke gile lu!”

“Ah, si Boss, kita semua tahu kok kegemaran si Boss, pan kita tidak boleh tegang terus menerus boss, mesti dilemesin dikit gitu boss.”

“Wah gede banget niiih data, tiga menit belum abis di kopi…”

“Beres boss, lihat aja nanti, ditanggung boss bakal berbinar-binar menontonnya.”

“Awas loooh kalau elu omdo… udah ngabis abisin waktu berharga gua tau!”

“Siip boss, lihat saja boss. Pecat Nala kalau boss kecewa.”

“Lima belas file Reng?”

“Iya boss.”

“Yang ini doang kan hasil pertemuan dengan koordinator-koordinator wilayah?”

“Akur boss. Tapi boss, rasanya tidak ada yang istimewa boss dari laporan itu. Hampir sama dengan laporan sehari lalu, berkutat soal pengusiran terencana team penggalang dana yang jualan sarung nyambi propaganda. Rupanya strategi kita sudah kecium pihak lawan boss… Tapi tenang, team sedang berkoordinasi untuk mencari alternative lain boss. Hasilnya akan sampai ke tangan boss besok pagi sebelum sarapan pagi.”

“Ngomong-ngomong apa dana operasi masih aman Reng?”

“Aman boss, ada tambahan dari sumber tidak terduga malahan… Boss terima bersih saja, nanti hasilnya ditanggung boss yang panen pujian dari Raja.”

“Kedengaran manis laporannmu Reng. Kalau ini semua sudah selesai kita bisa liburan ke laut tengah Reng… Aku janji. Seluruh team bakal kuangkut.”

“Siip boss… Saya pesen tarian perut yang live boss.”

“Husssss … kerja dulu, baru senang-senang.”

“Boss, pilemnya belum dibuka boss. Coba aja boss, ini diambil dari dalam istana kadipaten.”

“Serius?”

“Serius boss.”

“Obyeknya?”

“Permaisuri paling muda adipati Boss…”

“Gile… Tailor Nyemit maksudlu????”

“Siapa lagi boss kalau bukan dia ? Emang boss mau ngintip bini adipati yang tua itu?”

“Wah, kebangetan elu. Kalau ketahuan kan bisa berabe operasi kita.”

“Tapinya aman kan Boss? Buktinya tuuuuh, boss bisa nikmati sekarang hasilnya!”

“Diem lo, muke gile!”

“Hehehe.. file yang nomor satu boss.”

“Diem gue tahu …”

Mereka berdua kemudian asyik melihat layar laptop, sesekali terdengar helaan nafas dalam dari kerongkongan Kresna, sedang Gareng, entah berapa kali terdengar suara ‘cleguk’ dari lehernya yang pendek kekar tersebut. Semua adalah karena video hasil karya intelijen Amarta dari kamar pribadi Sang Adipati dan Permaisuri mudanya.

“Wah, mantaf Reng, rupanya mantaf sekali body si Semit itu…”

“Benar kan apa yang Gereng bilang bosss…???”

“Si tua Bangka itu benar-benar kuwalahan dibuatnya…”

“Ya boss, paling-paling sebentar lagi  mantan adipati itu game over boss…”

“Terus?”

“Ya si Tailor Semit jadi janda muda tidak beranak lah bossssssssss…”

“Iya juga ya?”

“Si boss bakal tambah selir dong!”

“Ah elu tahu aja!”

Gareng ; “hihihi… dasar si Boss, soal cewek mah paling tajem!”

“Boss, yang lain gambar-gambar bagus dari orang-orang enggak penting boss. Yang boss perlu lihat sekarang ya video nomor sebelas itu boss. Sensasional!”

“Soal apa Reng? Kloning Marlyn Monroe nari perut?”

“Bukan boss. Itu video Putra Mahkota kerajaan Astina lagi kencan sama pasangannya.”

“Wah itu mah biasa…”

“Eit tunggu dulu boss… “

“Maksud lu dia kencan ama selir babenya gitu?”

“Bukan boss, jadi rupanya desas desus itu nyata boss. Lesmana Mandrakumara itu benar-benar gay boss…”

“Busyeeeet … ini baru heboh!!!!”

Buru-buru Krisna memutar video kencan Lesmana Mandrakumara sang Putera Mahkota Astinapura yang ternyata memang memiliki perilaku seksual yang menyimpang.

“Hihihi. Lucu….” Kata Gareng.

“Hebat Reng. Beri bonus sepuluh kali gaji buat yang membuat video ini.”

“Kok gitu bosss??? Gede amat????!!!”

“Eh, elu jadi intel bego amat siiih?”

“Ya bosss. Ane memang o’on.”

“Nggak usah ngaku, semua orang juga tau.”

“Terus?”

“Ini video punya nilai luar biasa untuk perang politik kita tahuuuuuuuuuuuuuuuu…?????”

“Oh, gitu ya bosss??? Siap boss, laksanaken!!! Sepuluh bulan gaji untuk bonus.”

Keduanya kemudian kembali asyik menyaksikan video berdurasi satu setengah jam sambil cekakak, cekikik menertawakan polah putra utama seterunya tersebut. Sementara diluar Gedung mewah yang tersembunyi itu, puluhan agen pilihan berjaga dari segala kemungkinan. Ketegangan politik memang bisa merupakan kepura-puraan yang mahal rupanya. Karena di pihak Astinapurapun para pemimpin dan perencana intelijen mereka juga sedang ribut, tetapi bukan meributkan angka statistik, atau strategi kontra intelijen. Mereka pada ribut melulu karena masalah jatah komisi anggaran operasi, juga terus meributkan untuk penempatan di daerah-daerah ‘basah’ yang akan membuat pundi-pundi keungan mereka bertambah gembul.

Sang pemimpin intelijen, Sengkuni, sering kali hanya bisa mengelus dada memperhatikan polah anak buahnya yang tidak kapabel namun banyak menuntut dan mau gampangnya saja.

Sementara di luar sana rakyat Widara Kandang dibuat menderita akibat kenaikan suhu politik yang luar biasa namun diantisipasi oleh aparat dengan biasa-biasa saja. Suhu politik yang panas, udara kering musim kemarau serta petasan sisa lebaran, telah membuat kebakaran menjadi semakin mudah untuk terjadi… Dari hanya kebarkaran jenggot hingga kebakaran yang menghabiskan berpuluh rumah warga. Ternyata pesta demokrasi di Widara Kandang, adalah derai air mata untuk sebagian warga kelas bawah mereka.

Padahal di hari H pelaksanaan pemilihan itu, hanya aka ada pertunjukan bagaimana para calon bupati melepaskan kadal dari kandang-kandangnya, kemudian menunggu beberapa lama agar umpan mereka dikerubuti para kadal… siapa yang umpannya  lebih banyak dikerubuti para kadal adalah pemenangnya.

Ya, Pilkadal di Widara Kandang memang hanya bab tentang kadal, dimana para pemilih berusaha menguasai para kadal, lalu mengkadali kadal agar mau mamakan umpan sang kadal.

Maklumlah di dunia pewayangan di mana sang dalang sedang fly, Kadal adalah eksistensi utama.

Semboyannya adalah : Be a Great Kadal then you will be the most!

Ah di dunia perwayangan hidup terkadang begitu keras, liat dan tidak adil. Juga sebaliknya. Tergantung di mana sang wayang diletakkan oleh sang dalang.

Serem kan?

 

Wassalam.

 

15 Comments to "Pilkadal"

  1. Leo Sastrawijaya  5 October, 2012 at 12:35

    Untuk para komentator semua, terima kasih. Walau saya menulis ‘sedikit negatif kesannnya’ tentang kadal, tapi sebanarnya saya merasa bersalah juga kepada Sang Kadal … Mereka itu salahnya apa sih ? Kok lebih sering dicitrakan sebagai bagian ‘remang-remang’ rada gelap dari kisah manusia ….

  2. Handoko Widagdo  11 September, 2012 at 06:41

    Pilkadal = Pilsyahwat?

  3. Dewi Aichi  11 September, 2012 at 03:26

    Mas Leo…wakakakaka…dalang gaul..pasti mantannya Taylor Nyemit ha ha ha ha ha…aku ngakak baca satu nama ini. Ngomong-ngomong soal Taylor Nyemit, nanti tanggal 22 Oktober saya akan melihat show nya, tiket sudah beli sejak Juli. Tapi bukan kemauan saya, wong saya ngga suka lihat show, tapi dipaksa suruh nonton.

  4. Dj.  11 September, 2012 at 01:40

    Bung Leo….
    Terimakasih…

    Dasar Dalang…!!!
    Dj. suka dengan cara dialog yang dibawakan oleh sang dalang.
    Hebat…!!
    Salam,

  5. HennieTriana Oberst  10 September, 2012 at 22:05

    Pingin komentar tapi tidak mengerti dengan cerita ini.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.