Selubung Hitam Konspirasi (16) : Key Pass

Masopu

 

Dengan tangan terborgol, Arya berjalan menyusuri koridor menuju sel tahanan. Tepat ketika sampai di tengah-tengah koridor, matanya menangkap sosok AKBP Irwanto yang sedang berbicara dengan seorang tahanan. Arya hampir saja memekik kaget saat mengenali sosok yang sedang berbicara dengan AKBP Irwanto. Dengan tangan terpasung borgol, Beni berbicara dengan AKBP Irwanto. Mata Arya beradu pandang dengan Beni, sosok lelaki yang diketahuinya sebagai orang yang selalu mengawasi apartemen Joni.

“Kenapa lelaki itu ada di sini?” gumam Arya sambil terus melangkah mengikuti polisi menuju sel tahanannya. ”Kenapa pula AKBP Irwanto ada di sel lelaki itu?” gumam Arya kembali. Setelah dia masuk ke selnya dan polisi mengunci pintu, Arya duduk termenung di sudut ruangan memikirkan semua kejadian yang dialaminya.

Rasa sesal mengingat yang Aneeva alami datang silih berganti dengan rasa penasaran yang terus menghantuinya.  Wanita yang setia menemaninya di kala suka dan duka itu ditemukan bersimbah darah di samping tubuh Joni yang memegang pistol. Menurut cerita Anita, Joni diduga menembak Aneeva sebelum akhirnya bunuh diri. Tapi apa yang menyebabkan Joni bunuh diri, hingga kini belum diketahuinya. Polisi pun tidak menemukan motif yang membuat Joni menembak kepalanya sendiri.

_ _ _

AKBP Irwanto berdiri lama di koridor sel tahanan. Matanya terus menyapu suasana sekitarnya dengan teliti. Satu persatu sel tahanan yang berpenghuni diperhatikannya. Dipastikannya semua tahanan telah tertidur. Setelah memperhatikan sejumlah sel dari tempatnya berdiri, matanya mengarah ke arah sel Arya. Dilihatnya Arya tidur meringkuk di atas selembar tikar yang tergelar di atas lantai. Sesekali suara dengkurannya menyapa telinga AKBP Irwanto.

“Semuanya sudah tidur. Ini waktunya untuk menutup rapat-rapat sumber kebocoran.” gumamnya pelan. Tangan kanannya segera mengeluarkan sebuah anak kunci dari saku celana. Perlahan dimasukkannya anak kunci itu ke sel tahanan Beni. Dengan hati-hati dia masuk ke dalam sel. Sekali rengkuh, tangannya yang kekar telah mencengkeram leher Beni. Beni yang lelap tertidur memekik pelan, dia berusaha berontak. Beberapa kali mulutnya berusaha teriak, tapi selalu kedahuluan tangan AKBP Irwanto menutupnya.  Setelah cukup lama berusaha menundukkan Beni, akhirnya AKBP Irwanto berhasil mengunci leher Beni. Makin lama kuncian tangannya makin kencang, Hingga membuat Beni susah bernafas. Tak berapa lama kemudian, tubuh Beni terdiam lemas. Tak terdengar lagi bunyi tarikan nafas dari hidungnya. Setalah yakin Beni sudah mati, AKBP Irwanto segera menggantungkan selembar kain ke teralis besi yang ada di jendela. Diikatnya erat-erat kain itu, kemudian ujung lainnya diikatkan ke leher Beni. AKBP Irwanto segera keluar sel dan kembali menguncinya.

_ _ _

Siaran berita di telivisi pagi itu diramaikan dengan berita bunuh dirinya seorang tahanan Mapolresta Surabaya. Lelaki yang baru kemarin siang ditangkap atas upayanya menghilangkan barang bukti, ditemukan mati tergantung pada selembar kain yang terikat di teralis jendela ruang tahanan.

Septian yang sedang memperhatikan berita itu, dikejutkan dengan dering Hp-nya yang tergeletak di meja. Sebuah sms dari nomer asing membuat dahinya berkerut.

Di sini aku bersimpuh, semaikan amal dan Budi untuk mengagungkan Sang Pencipta, memenuhi rongga segala penjuru, bersama tiupan angin yang selalu berkumandang. Tegak memancang meski hujan badai menerpa. KebesaranMU tak tergantikan

_ _ _

“Seperti sms-nya tadi pagi, harusnya dia sudah ada di sini. Adzan Dzuhur sebentar lagi akan berkumandang, tapi kok dia belum kelihatan?” gumam Septian sambil berjalan mondar-mandir di dekat mobilnya yang terparkir di samping sebuah APV biru berkaca gelap. Kumandang ayat suci al Qur’an mengalun dari dalam masjid Al Akbar syahdu menyerbu setiap sisi hati. Matanya terus mengawasi orang yang sedang berjalan menuju masjid.

Saat Septian hendak naik kembali ke mobilnya, pintu APV di sampingnya terbuka perlahan. Sesosok Budi turun sambil mengedarkan pandangan berkeliling. Septian kaget, dia tak menyangka jika Budi telah berada di sampingnya sejak lama.

“Ada berita apa?”

“Beni tidak bunuh diri.”

“Bagaimana kamu tahu?”

“Sedari awal aku tidak yakin dengan polisi yang bertugas di sana, terutama AKBP Irwanto. Aku yakin dia adalah bagian dari kelompok itu. Karena itu, sebelum kamu datang, aku memasukkan alat penyadap ke sabuk Beni. Alat itu terhubung dengan perekam yang ada di mobilku. Semalaman aku parkir mobilku tak jauh dari tahanan mapolresta. Sebelum ditemukan gantung diri, ada yang masuk ke selnya semalam.” Budi menjelaskan alasannya.

“Ada yang masuk?” tanya Septian kaget.

“Iya. Beberapa saat lamanya ada suara gaduh seperti orang yang sedang berusaha lepas dari cekikan. Dan aku yakin itu adalah Beni. Selain itu, tadi aku sempat menjenguk Arya, dia cerita jika semalam ada seorang berpakaian polisi yang masuk ke sel Beni.”

“Benarkah apa yang kamu katakan?”

“Arya yakin itu AKBP Irwanto. Aku tadi merekam semua pembicaraanku dengan Arya. Kamu dengar sendiri pembicaraan kami tadi.”Jawab Budi sambil menyodorkan hp yang digunakannya merekam cerita Arya. Septian mendengarkan rekaman itu dengan teliti.

“Ok. Aku percaya dengan ceritamu dan cerita Arya.”

“Satu hal yang ingin aku tanyakan kepadamu. Ini tentang Anee dan Joni. Bagaimana posisi Joni dan Anee waktu kamu temukan mereka?”

“Anee sudah tergeletak pingsan. Sementara Joni sudah dalam kondisi tak bernyawa. Kenapa?” tanya Septian heran.

“Joni tidak bunuh diri, Beni yang menembak Aneeva dan Joni. Alat perekam yang aku pasang di sana merekam semuanya.” Terang Budi.

Setelah diam sejenak, Budi mengajak Septian masuk ke dalam mobil. Laptopnya tergeletak di jok tengah mobil dalam keadaan menyala. Begitu di dalam, Budi segera memutar sebuah rekaman video yang menggambarkan detik-detik penembakan terjadi. Aneeva yang mondar-mandir sambil menelepon Septian, setelah itu duduk terdiam di kursi tengah. Saat itulah, Joni masuk dan menodongkan pistol sambil meminta Aneeva menyerahkan bukti-bukti yang dia punya. Sesaat setelah menyerahkan koper, di bawah todongan pistol, Aneeva kembali duduk membelakangi jendela. Saat duduk itulah, tiba-tiba sebuah tembakan memecahkan kaca jendela dan  menerjang bahu Aneeva. Tembakan itu membuatnya tersungkur.

Adegan terus berlanjut dengan aksi Joni yang merangkak ke dapur sambil menyeret koper yang didapat dari Aneeva. Namun tak lama setelah itu, Joni kembali ke ruang tengah di bawah todongan pistol seseorang. Beberapa kali Joni menyebut nama orang itu sebagai Beni. Begitu di dekat Aneeva, lelaki itu menembak perut Aneeva. Setelah itu dia menembak pelipis Joni dari jarak dekat.

Septian terbelalak melihat rekaman itu . Polisi melalui AKBP Irwanto sudah mengumumkan jika Joni mati bunuh diri, setelah sebelumnya menembak perut Aneeva. Tapi mereka tidak menyebutkan motif di balik peristiwa itu.

_ _ _

“Jadi kamu melihat AKBP Irwanto menemui Beni di selnya?” tanya Septian kepada Arya.

“Iya aku melihatnya. Saat aku digelandang kemarin, AKBP Irwanto sedang di dalam sel orang yang selama ini memata-matai Joni. Malamnya aku melihat seseorang berpakaian polisi mondar-mandir di depan sel. Aku berpura-pura tidur sambil memperhatikannya. Dan aku melihat dia masuk ke dalam sel itu. Meski lampu penerangan di sini kurang baik, aku yakin itu AKBP Irwanto, karena caranya berjalan dan bentuk tubuhnya sama persis.” Jawab Arya.

“Apalagi yang kamu tahu?” tanya Septian lagi.

“Tidak ada, hanya itu yang aku tahu.” jawab Arya. Suasana hening sesaat lamanya. Sementara polisi yang berjaga sesekali melihat ke arah mereka berdua.”Bagaimana keadaan Aneeva saat ini?” tanya Arya dengan raut muka sedih.

“Menurut Anita, keadaan istrimu sekarang  sudah stabil, meski belum sadar dari pingsannya.”

“Aku menyesal. Seandainya aku tidak merencanakan pelarianku, tidak merencanakan penjebakan itu bersama Budi, pasti Aneeva saat ini akan baik-baik saja. Harusnya aku yang menjebak mereka, bukan Aneeva. Dia  sudah banyak berkorban untukku.” Arya terdiam. ”Dia sudah banyak berkorban untukku, tapi…..” suara Arya tertahan. Matanya kembali berair. Suara sesenggukan kembali mengalir pelan dari rongga tenggorokannya.

“Sudahlah Ar, semua sudah terjadi. Yang jelas, aku tak akan tinggal diam. Aku, Anita dan Budi saat ini sedang mencari jalan untuk membebaskanmu. Kamu kuatkan diri. Jangan mau berbicara tanpa didampingi seorang pengacara.”

“Baik Mas.”

“Seandainya kemarin yang datang hanya AKP Yohanes Jaka saja, pasti ceritanya sudah lain. Sayangnya AKBP Irwanto ikut datang juga.”

“Dasar bajingan. Bagaimana dia tahu kalau Budi berhasil menangkap Beni?”

“Aku gak tahu. Aku hanya minta AKP Yohanes Jaka datang untuk menjemput orang yang ditangkap Budi, tapi tak tahunya dia datang bersama AKBP Irwanto.”

“Berarti keadaan kita masih sama seperti dulu, masih tak tahu siapa lawan kita sesungguhnya?” tanya Arya sambil mendongakkan kepala.

“Berdo’a saja semoga kita segera mengetahui siapa kawan dan lawan kita dalam kasus ini. Ok, aku pergi dulu. Aku mau menemui seseorang yang ikut mengotopsi jasad Beni, semoga ada informasi yang bisa aku dapatkan darinya.” Septian berdiri sambil menyalami Arya.

“Terima kasih bantuannya mas.” jawab Arya sambil membalas salam Septian.

_ _ _

Malam yang semakin larut tak mampu memaksa mata Septian untuk terpejam. Bayangan kondisi tubuh Beni yang dilihatnya tadi sore cukup mengganggu pikiran. Beni yang dikabarkan mati bunuh diri, kondisi tubuhnya terlihat tidak wajar. Lingkaran hitam di lehernya tidak mirip sama sekali dengan lebam akibat jeratan selimut yang digunakannya untuk bunuh diri. Selain posisinya yang ada di tengah-tengah leher, serasa makin aneh dengan adanya lebam di ulu hati. Hal itu membuat Septian makin ragu.

Perlahan Septian bangun dari pembaringan. Cepat dia menuju meja yang ada di dekat pintu masuk kamar. Dia kembali memutar rekaman percakapannya dengan Adrian, temannya yang bertugas di ruang otopsi. Sesekali dia mempause rekaman yang sedang didengarnya, sementara tangan kiri terus meneliti beberapa foto orang bunuh diri yang dia unduh dari internet. Dia kembali lekat membayangkan luka lebam di leher lelaki malang itu.”Jika dia mati bunuh diri, pasti luka lebamnya di bagian atas leher, ini kok di tengah? Apa benar dugaan Budi dan Arya?”

Septian kembali menghidupkan laptopnya. Begitu terkoneksi dengan internet, dia segera mencari informasi yang dibutuhkan. Matanya terbelalak saat membaca informasi mengenai ciri-ciri orang yang mati gantung diri. Semua ciri-ciri itu tidak terdapat di tubuh Beni. Luka lebam di bagian atas leher, lidah yang terjulur, mata terbelalak serta kotoran yang keluar dari dua lubang pembuangannya, semua itu tidak ada pada tubuh Beni.

Dengan rasa penasaran yang semakin dalam, Septian mencoba mencari informasi tambahan mengenai orang-orang yang mati bunuh diri dari beberapa website. Hasilnya sama saja, semakin menambah rasa penasaran, tak ada satupun referensi yang mengacu pada kondisi Beni saat ini. ”Bingo. Aku yakin apa yang dikatakan Budi dan Arya benar. Referensi ini sudah cukup.” kata Septian pelan. Tangannya segera meraih handphone dan memencet nomer Anita.”Ayo cepetan diangkat.” pekiknya pelan.

“Halo….. halo……” Septian berkata dengan nada tak sabar begitu panggilannya tersambung.

“Iya sabar. Ada apa malam-malam begini menelepon?” tegur Anita.

“Maaf membangunkanmu. Ada kabar baru mengenai sebab kematian Beni.”sahut Septian bersemangat.

“Aku belum tidur. Ada apa dengan Beni? Bukankah polisi sudah mengumumkan jika dia mati bunuh diri?”

“Nah itu yang ingin aku bicarakan denganmu. Tadi siang aku bertemu dengan Budi dan Arya secara bergantian. Menurut cerita Budi, dia memasang alat penyadap di sabuk Beni dan mendengar ada sedikit kegaduhan semalam. Sementara Arya menceritakan tentang seseorang yang diyakininya sebagai AKBP Irwanto semalam masuk ke sel tahanan Beni. Paginya,Beni ditemukan mati gantung diri. Arya dan Budi menduga Beni tidak bunuh diri, tapi dibunuh.”Septian berhenti sejenak.”Setelah menemui Arya, aku  sempatkan ke rumah sakit dan melihat kondisi jenazah Beni. Sekalian aku juga berbincang dengan Adrian, temanku yang kebetulan ikut menangani jazad Beni. Menurutnya, tidak ada ciri-ciri orang bunuh diri di tubuh Beni. Dia lebih mirip orang yang mati karena tercekik.”

“Maksudmu?” tanya Anita keheranan.

“Begini, dari posisi luka lebam di leher dan tanda-tanda lazimnya orang bunuh diri, semua berbeda. Tidak ada satupun tanda-tanda di tubuhnya yang mengidentikkan kematiannya dengan tanda-tanda orang bunuh diri. Malah setelah aku cari referensi di internet, luka-luka di tubuh Beni lebih mirip orang yang mati dibunuh. Ada lebam lain di ulu hati-nya. Seperti bekas tekanan benda tumpul.”

“Kamu yakin dengan apa yang kamu lihat tadi? Apakah pernyataan Adrian bisa kita percaya?”

“Aku yakin. Tentang pernyataan Adrian, aku yakin dia bisa dipercaya. Dia salah satu teman terbaikku. Aku juga punya catatan dan rekaman yang aku lakukan dengan sepengetahuannya. Jadi kamu tak usah kawatirkan hal itu.”

“Ok, aku percaya. Mengenai Aneeva ada berita yang yang sebenarnya ingin aku ceritakan ke kamu besok, tapi sekedar info saja, aku tadi berhasil memaksa dokter untuk cerita mengenai proyektil peluru yang berhasil diangkat dari tubuh Aneeva, proyektil itu telah diambil oleh polisi dan kamu tahu siapa yang mengambilnya?”

“Siapa?” tanya Septian penasaran.

“Seorang yang mengaku dari penyidik internal kepolisian. Dia sedang menyelidiki beberapa orang polisi yang diduga terlibat penyalahgunaan jabatan. Dia telah menugaskan beberapa orang polisi untuk menjaga Aneeva. Mereka langsung di bawah komandonya. Dia tidak mengijinkan seorang pun masuk ke ruang perawatan Aneeva, selain Dokter dan perawat yang ada di daftar. Siapapun yang keluar masuk ruang perawatan Aneeva dicatat oleh petugas jaga. Selain dokter dan perawat, dia hanya mengijinkan aku, kamu, Budi dan Arya.”

“Sebegitu ketatnya kah? Apa alasanya sehingga Aneeva diperlakukan seperti itu?” tanya Septian dengan nada heran.

“Aku tidak tahu. Tapi menurut AKBP Achmadi, tidak hanya Aneeva yang akan mendapat perlakuan khusus, Arya pun akan dipindahkan dalam pengawasan provost polda Jatim. Untuk lebih jelasnya, besok kamu dengar langsung penuturannya. Aku sudah berjanji akan menemuinya besok.”

“Kenapa baru sekarang kamu cerita?”

“Sedari tadi HP-mu tidak ada yang aktif. Budi sudah setuju untuk menemui AKBP Achmadi dan memberi keterangan. Bagaimana denganmu?”

“Baiklah kalau begitu. Mungkin ini jawaban dari perjuangan kita. Setelah selalu salah pilih orang, semoga dia orang yang tepat untuk kita percaya.”

“Amien. Sampai ketemu besok.” Anita menutup teleponnya.

_ _ _

“Dorrr….dorrr….dorrrr” suara gedoran daun pintu mengagetkan AKBP Irwanto yang sedang sarapan bersama anak dan istrinya. Dengan rasa penasaran, dia bergegas ke arah pintu depan. Matanya terbelalak saat melihat beberapa orang berseragam provost berdiri di sana. Tangan mereka siap siaga di gagang senjatanya masing-masing.

“Selamat pagi. Maaf mengganggu pagi anda AKBP Irwanto.” sapa seorang petugas yang merupakan komandan pasukan.

“Tidak mengapa. Apa yang bisa saya bantu.” tanya AKBP Irwanto berusaha menahan rasa gugup yang menyergapnya.

“Perkenalkan, saya AKP Doni Gunawan dari provost. Saya ditugaskan menjemput anda untuk dimintai keterangan atas dugaan penyalahgunaan wewenang dan jabatan. Ini surat penugasan saya.” AKP Doni memperkenalkan diri. Tangannya segera menyodorkan surat penugasannya.

“Penyalahgunaan seperti apakah yang dituduhkan kepada saya?” tanya AKBP Irwanto.

“Untuk persisnya, nanti kita jelaskan di kantor. Sekarang mari ikut saya.” jawab AKP Doni sambil memberi tanda kepada anak buahnya agar mengawal langkah AKBP Irwanto. Sebelum berjalan, AKP Doni meminta senjata AKBP Irwanto agar diserahkan padanya.

“Sebentar saya akan pamit ke istri dan anak-anak saya.”

“Silahkan.”sahut AKP Doni.

AKBP Irwanto berjalan kembali masuk rumah. Dua orang provost segera mengikuti langkahnya. Setelah berbicara sebentar dengan anak dan istrinya, AKBP Irwanto berjalan menuju ke AKP Doni yang menunggunya di pintu masuk.

_ _ _

Yudi tertegun. Sms dari istri AKBP Irwanto membuatnya terkejut. Istri AKBP Irawanto mengabarkan jika beberapa saat yang lalu suaminya digelandang ke markas provost Polda. Belum hilang rasa terkejutnya, sms dengan berita yang hampir sama masuk ke handphonenya. Kali ini dari AKP Yohanes Jaka yang sedang digelandang empat orang provost Polda Jatim.

“Ayo pak Cepetan diangkat.” gumam Yudi sambil berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya.”Selamat siang pak Rudi. Ada berita buruk untuk kita.” cerocos Yudi begitu telepon tersambung.

“Yudi! Bisa kamu bicara lebih tenang dan jelas, jangan seperti orang yang sedang diburu setan seperti itu!” potong pak Rudi setengah membetak.

“Gawat pak. Keadaan di sini makin kacau dan tak terkendali. Provost Polda telah menangkap  AKBP Irwanto dan AKP Yohanes Jaka.”

“Tuduhan apa yang ditujukan ke mereka?”

“Saya belum tahu pasti pak. Saat ini saya masih di kantor untuk membereskan semua tugas-tugas saya.”

“Tugasmu bisa diurus nanti, sekarang cepat cari tahu tentang keadaan AKBP Irwanto dan AKP Yohanes Jaka. Jangan sampai mereka buka mulut tentang kita. Setelah tahu keadaan mereka, segera laporkan semuanya kepadaku”

“Baik pak.”

“Segera beritahu aku jika ada yang tak mampu kamu tangani. Jangan buat keputusan sendiri. Ingat, tugasmu hanya mengamankan semua asset-aset yang kita punya. Bukan untuk bertindak di luar keahlianmu. Masalah AKBP Irwanto dan AKP Yohanes Jaka, biar orang lain yang mengurusnya. Sekarang segera suruh orang kepercayaanmu untuk menjenguk mereka di tahanan.”suara tegas pak Rudi mengakhiri pembicaraan lewat telepon.

_ _ _

Pak Rudi terdiam di kursinya. Baru kali ini dia benar-benar merasa harus turun tangan sendiri untuk menyelesaikan pekerjaan anak buahnya. Tugas-tugas yang biasanya ditangai Joni dan Beni kini terbengkalai. Selama ini dia cukup puas dengan kinerja ke tiga orang kepercayaannya, Joni dan Beni yang lebih banyak bertindak sebagai perancang dan ekskutor, kini telah tiada.

Yang tersisa kini tinggal Rudi, lelaki yang kurang cakap untuk urusan di lapangan. Urusan pengalihan isu yang butuh detail ketelitian mulai dari rencana hingga ekskusinya, tentu tidak cocok buat lelaki sepertinya. Dia lebih banyak berkutat dengan urusan administrasi dan mengamankan aset-asetnya dari endusan aparat berwenang. Sementara pengalihan isu adalah keahlian Joni dan Beni. Dua anak buahnya yang ada di tubuh kepolisian AKBP Irwanto dan AKP Yohanes Jaka yang biasanya bahu-membahu menyebarkan agitasi berlebihan kepada orang-orang tak bersalah kini telah diamankan provost kepolisian polda Jatim.

“Aku harus segera membereskan masalah ini. Bagaimanapun caranya.” gumamnya sambil beranjak bangkit dari kursinya.

_ _ _

 

 

Masopu

 

15 Comments to "Selubung Hitam Konspirasi (16) : Key Pass"

  1. agung "Masopu"  12 September, 2012 at 14:05

    @ Dj
    “Hhhhhmmmm…!!!
    Makasih

    @ Dewi Aichi
    ” Contoh polisi seperti kedua AKBP itu memang nyata, banyak sekali yang seperti itu, contohnya saja Gayus bisa jalan jalan, tahanan kok jalan jalan, kalau ngga nyuap yang mau disuap kan ngga mungkin. Dan masih banyak lagi kasus..”
    Banyak lagi deh…kehilangan motor, diurus polisi, malah kehilangan mobil…

    Mas Agung…jangan pake lama ya…aku tunggu di perempatan Denpasar he he he he…ngga sabar nunggu endingnya…cepetan dong..kasihan Yayangku…eh Arya maksudku he he he

    Kan lebih enak dibikin penasaran dulu mbak.
    Silahkan ditunggu kelanjutannya

  2. agung "Masopu"  12 September, 2012 at 14:02

    @ Anoew

    Satu kata saja buat si perancang aksi

    “Dasar bajingan”
    Eh satu kalimat maksutnya, dua kata. Ikutan gemes jadi napesu

    Napesu nunggu kelanjutan ceritanya ya
    Tenang om, pasti nanti akhirnya malah bikin penasaran. Haha

  3. agung "Masopu"  12 September, 2012 at 13:59

    @ J C
    ” Naaaaahhh gantian si Beni yang modiaaaarrrr…kapokmu kapan…

    AKBP Irwanto dan AKP Yohanes Jaka adalah CONTOH NYATA bagaimana institusi pulisi di mata masyarakat, hampir tidak ada baik-baiknya blaaaassss…

    Contoh sepele. Kehilangan sepeda motor, lapor dimintai duit. Setelah ketemu mau ambil sepeda motor sendiri dimintai duit juga…”

    Saya malah kesusahan disuruh bayar. Kakak sepupu kecelakaan, mau urus surat untuk klain jasa rahradja malah disuruh bayar 2,5 juta, baru dibuatkan suratnya.
    Bapak saya jawab ” ya sudah kalau memang masih disuruh bayar, mending pak polisi ambil saja deh uang asuransinya. “

  4. agung "Masopu"  12 September, 2012 at 13:55

    @ Alvina VB
    “ Yang tersisa kini tinggal Rudi, lelaki yang kurang cakap untuk urusan di lapangan.”
    maksudnya Yudi kali ya…..
    lanjut mas… ”

    Iya mbak. Salah ketik nama tuh
    Makasih koreksinya
    Salam

  5. agung "Masopu"  12 September, 2012 at 13:54

    @ Linda Cheang
    ” lanjut ”
    Jangan ketinggalan lanjutannya ya mbak

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.