Oleh-oleh dari Masa Lalu (6): Peradaban Majapahit

Osa Kurniawan Ilham

 

Melanjutkan laporan tentang kunjungan ke Museum Trowulan, kali ini saya mau menulis sedikit mengenai peradaban yang sudah cukup maju di Kerajaan Majapahit. Ini adalah laporan terakhir mengenai Museum Trowulan.

Musafir Cina Ma Huan melaporkan bahwa baik laki-laki maupun perempuan biasa mengunyah sirih sepanjang hari. Jadi kalau ada tamu yang datang ke rumahnya, mereka bukan disuguhi jamuan the seperti di Cina tapi akan disuguhi oleh pinang dan sirih. Saya terkenang dengan almarhum nenek saya, beliau juga memiliki kebiasaan mengunyah sirih. Dan memang penelitian ilmiah membuktikan bahwa sirih berguna dalam menjaga kesehatan gigi, gusi dan mulut. Sekarang saja saya menggosok gigi menggunakan pasta gigi yang katanya mengandung ekstrak daun sirih he..he..Nah berkaitan dengan kebiasaan mengunyah sirih maka di museum juga dipamerkan benda-benda peninggalan berupa baskom untuk meludahkan sirih, sayang saya lupa mengambil fotonya.

 

Peninggalan Peradaban Majapahit (Sumber: Buku Mengenal kepurbakalaan Majapahit di daerah Trowulan)

Anak-anak Majapahit dididik untuk menyukai kesenian dan seni berperang. Seperti anak-anak sekarang mereka ternyata juga menyukai boneka-boneka yang pada saat itu dibuat dari tanah liat. Kalau plastik sudah ditemukan, pasti anak-anak Majapahit akan menyukai boneka plastik ketimbang boneka tanah liat he..he..

 

Boneka Majapahit (Sumber: Buku Mengenal kepurbakalaan Majapahit di daerah Trowulan)

Lihatlah wajah boneka di bagian atas itu. Wajah itu oleh Muhamad Yamin dipromosikan sebagai wajah Gajah Mada. Walaupun masih menjadi kontroversi, khalayak ramai sudah menerima wajah itu sebagai wajah Patih Gajah Mada, bahkan menjadi lambang CPM (Corps Polisi Militer) segala.

Kalau bulan purnama, anak-anak akan bermain-main di luar rumah lalu bergantian menyanyikan sebuah lagu dolanan, bergiliran antara kelompok anak laki-laki maupun kelompok anak perempuan. Saya ingat betul waktu saya kecil kami masih mempraktekan model-model permainan seperti itu. Kalau anak-anak jaman sekarang, jangan harap deh, mereka lebih suka main di depan komputer.

Kata Ma Huan, pada saat-saat tertentu mereka menggelar kesenian wayang beber, yaitu dengan membeber sebuah kain yang berisi lukisan mengenai cerita Ramayana atau Mahabarata.

Majapahit sangat kaya pada kesenian ukir, arca atau pun keramik. Hal ini dibuktikan kala kami menuju pada pendopo di bagian belakang yang dipenuhi dengan artefak-artefak berharga.

Lorong menuju pendopo belakang (koleksi pribadi)

 

Pendopo belakang (koleksi pribadi)

Berikut ini adalah beberapa artefak itu.

 

Relief (koleksi pribadi)

Foto di atas adalah potongan-potongan relief candi. Relief di candi mungkin kalau jaman sekarang seperti komik yang mengandung cerita tentang kisah tertentu. Pembuatnya membuat dengan mengukir batu-batuan sesuai dengan desain perancangnya.

Batu bertanggal (koleksi pribadi)

Kalau Anda mengunjungi bangunan-bangunan tua pasti sering melihat ada angka tahun di bagian tertentu atapnya untuk menunjukkan pada tahun berapa bangunan tersebut dibangun. Nah, foto di atas adalah beberapa batu bertanggal dengan fungsi dan maksud yang sama dengan angka tahun di bangunan tua. Biasanya angka tahun dimisterikan dalam wujud sengkalan, yaitu suatu kalimat yang mengandung sandi angka di setiap katanya.

 

Prasasti Batu (koleksi pribadi)

 

Prasasti perunggu (koleksi pribadi)

Foto atas menunjukkan salah satu prasasti yang dipamerkan, yang atas ditatah di atas batu sementara yang bawah diukir di lembaran perunggu. Biasanya untuk menandai adanya acara peresmian suatu tempat atau bangunan, untuk memperingati suatu kejadian penting atau berisikan hukum-hukum kerajaan, biasanya ditaruh di tempat-tempat strategis supaya penduduk bisa membacanya. Mungkin kalau jaman sekarang seperti Mading ya, Majalah Dinding.

 

Batu bercakar (koleksi pribadi)

Kata pengarah kunjungan (guide tour), batu di atas adalah batu bekas cakaran raja. Kalau raja lagi iseng atau marah, dia melampiaskan kemarahan atau keisengannya dengan menguji kesaktiannya dengan mencakari batu di atas. Kalau memang benar, saya membayangkan hebat benar nih raja he..he…

Majapahit adalah kerajaan yang terbuka dengan negara mana saja. India, Cina maupun kerajaan di Nusantara pasti pernah berkunjung atau berdagang. Karena itu tidak heran banyak peninggalan keramik Cina di area Trowulan ini. Komunitas Cina juga berkembang di sini. Karena itu saya heran sekali ketika ditunjukkan ada sebuah prasasti berhuruf Cina yang dipastikan berasal dari waktu Kerajaan Majapahit masih eksis. Prasastinya halus sekali, huruf-hurufnya pun rapi sekali, karena itu saya sempat menyangkanya prasasti di makam-makam Cina yang dulu biasa saya pakai main-main saat masih di Kediri dulu.

Cuma sayang, saya tidak bisa membacanya. Mungkin Mas JC bisa membantu saya untuk membacakan sekaligus menerjemahkan prasasti Cina ini? Terima kasih banyak lho.

 

(Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan, 7 Agustus 2012)

 

8 Comments to "Oleh-oleh dari Masa Lalu (6): Peradaban Majapahit"

  1. Handoko Widagdo  13 September, 2012 at 07:43

    Sayang sekali situs Majapahit hancur. National Geography Indonesia Bulan September 2012 memuat situs Majapahit yang penuh kepahitan.

  2. Bagong Julianto  12 September, 2012 at 18:14

    Osa KI…

    Laporan terakhir?
    Sambungannya tentang Daha, Kediri….
    Ditunggu..
    Tentang nginang, nyirih….
    Orang Acheh dan Papau, konon lelakinya sampai sekarang masih ngunyah pinang….
    (Lagi-lagi)…aphrodisiak!

  3. HennieTriana Oberst  12 September, 2012 at 15:46

    Peninggalan masa lalu yang berharga.

  4. J C  12 September, 2012 at 11:07

    Itu dia yang aku bilang, bahwa artefak berserak begitu saja di bangsal, inventarisasinya hanya dengan cat atau spidol…

    Kalau Kang Anoew yang jadi raja, batunya pasti ditaruh di samping ranjang, supaya kalau dia ‘nyakar-nyakar’ sedang ‘olah kanuragan’ bisa nyakari batu…

  5. J C  12 September, 2012 at 11:05

    Mas Osa, matur nuwun reportase luar biasa ini. 海 澄 —> nama satu daerah di Fujian Province. Aku tidak begitu paham tulisan di prasasti itu. Cuma mengenali beberapa huruf saja, selebihnya harus menelaah lebih jauh. Ada marga 吴 (Wu) dan juga marga 林 (Lin).

  6. Anoew  12 September, 2012 at 09:51

    dari foto-fotonya saja sudah luar biasa, menceritakan kejayaan masa lalu yang gilang gemilang apalagi ditambah narasi yang apik, jadi serasa 3D, berada di lokasi kejadian.

  7. Alvina VB  12 September, 2012 at 09:30

    Ini museum yg di Mojokerto kah?
    Trims utk reportase kunjungan ke museumnya mas O.K.I

  8. Dewi Aichi  12 September, 2012 at 08:28

    Ini oleh olehnya malah nih

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.