Terapi Air Seni atau Terapi Urin (2)

Bagong Julianto – Sekayu-Muba-Sumsel

 

Subjective Namun (Berharap) Seductive, Subversive Pula (Mau) Securitative

1. APA?

• Terapi urine adalah pengobatan (pemeliharaan, perawatan dan perbaikan) dengan menggunakan urine/air seni/air kencing/uyuh.

• Terapi urine adalah cabang/anggota/himpunan bagian Metode Pengobatan Naturopathy. Metode Pengobatan ada 3, yaitu Allelopathy, Homeopathy dan Naturopathy.

 

2. BAGAIMANA?

• Sebagian besar diminum (kumur untuk pengobatan sakit gigi berlubang)

• Diusapkan, dioleskan, dikeramaskan.

 

3. SIAPA?

• Manusia

• Sebagian ternak (sapi, kerbau, anjing, kambing dll) diketahui dan dilaporkan mengencingi (juga menjilati) luka-luka maupun penyakit yang ada di tubuh anak-anaknya.

 

4. MENGAPA?

• Urine terdiri atas 95% air dan 5% bahan lain-lain yang (masih) bisa bermanfaat bagi tubuh.

• Bersifat holistik (menyeluruh), self healing system (pengobatan-pemeliharaan diri sendiri oleh diri sendiri dengan bahan dari diri sendiri/ini ada episode serba-serbinya).

• Sebagai pilihan dan bentuk ‘free will’/kehendak bebas pengobatan bagi pribadi lepas pribadi.

 

5. DI MANA?

• Negara sudah maju (Jerman, Jepang, Taiwan, Amerika Serikat), negara pasti maju (China, India), negara entah kapan-kapan baru mau malu-malu maju (Sekayu-Indonesia).

 

6. BERAPA?

• Secukupnya: setetes, secangkir, segelas, sebotol, seember….

 

7. KAPAN?

• India kuno, China kuno, Indian kuno, Jawa kuno dan banyak peradaban masa lalu yang lain dilaporkan telah mengenal (dan pasti melaksanakan) terapi urine.

Serba-Serbi Urine, Terapi Auto Urine dan Terapi Urine:

a. Mengapa urine berbau pesing menyengat? Urine mengandung amonia/urea yang jika terpapar udara maka teroksidasi, muncullah aroma itu. Tak semenyengat saat anda berada di lingkungan gudang pupuk urea. Maka terapi urine pada umumnya minum urine segar, namun urine yang disimpan bisa juga dimanfaatkan untuk perawatan luar.

 

b. Urine berasa/mempunyai rasa tak jauh beda dengan makanan yang dicerna. Makanan kaya protein (banyak kandungan amino, belerang) memproduksi urine yang benar-benar menyengat lekat. Makan banyak sayuran dan buah-buahan akan menghasilkan urine dengan rasa dan aroma yang relatif sama, tapi tetap (relatif) masih ada sedikit rasa asinnya. Maka untuk mengawali terapi urine, dianjurkan puasa makanan kaya protein dan yang beraroma tajam menyengat (daging, ikan, ikan asin, jeroan, pete, petai cina, jengkol, tahu, tempe, kerang/sea food dan sejenisnya). Kalau sudah terbiasa, apapun… hajar saja bleh!

 

c. Bisa membedakan jijik mata-jijik lidah-jijik pikir, itu suatu keberuntungan sebab mengawali terapi urine akan semudah membalik tangan. Silahkan praktek dan berpendapat: blenderan atau kerokan kasar-halus alpukat versus (maaf) faeses bayi di bawah umur satu tahun. Persis tekstur dan penampakannya ‘kan?. Juga tekstur ‘jangan tumpang’, satu lauk sayuran khas Jawa Tengah berbahan dasar tempe bosok/busuk/dibusukkan tak jauh beda dengan yang maaf tadi.

 

d. Apakah jijik itu? Saya pernah nyedot ingus anak saya (saat bayi), pun juga JC bersaksi. Begitu juga yang lain. Sedot buang, bukan sedot telan! Jika diberi dan ada kesempatan lain, saya mau saja nyedot ingus bayi yang lagi kepayahan terkena flu-pilek. Bukankah di liur kita terkandung bahan anti virus dan anti bakteri? Tentu saya akan berhati-hati: tidak makan jengkol-pete, sambal pedas dan atau minum alkohol. Tentang jijik, mata bisa tertipu. Lidah juga. Pikir juga. Dua gelas, diisi air bening. Kita akan biasa-biasa saja jika diinfokan bahwa kedua-duanya diisi H2O atau air. Saat disebutkan, bahwa satu di antaranya adalah urine oleh sebab konsumsi buah-buahan, saya yakin, jika bersebelas kita di situ maka akan timbul sebelas reaksi pula! Itulah uniknya kita manusia! Begitu juga spesifik uniknya kondisi jeroan kita…

 

e. Sekedar mengenal terapi urine, sudah nyaris empat puluh tahun yang lalu. Pun begitu, setelah memahami dan meyakini, saya hanya butuh dua hari untuk eksekusi dan langsung laksanakan minum uyuh sendiri. Awalnya saya minum dengan tutup hidung. Sekejap saya berpikir, saya harus yakin, ini air dari tubuh saya sendiri…. adakah yang salah dengan itu?! Tapi berdoa dan mohon kekuatan dari padaNYA yang membuat hidup, itu saya lakukan juga.

 

f. Gaya hidup (makan: dengan segala bentuk-cara-ragam-aneka, kerja: dengan segala corak-irama-fisik non fisik-pikiran-seluruh aktivitas, tidur: waktu-keteraturan-kualitas-kuantitas), menentukan potensi sehat-sakitnya manusia. Timbullah istilah penyakit oleh sebab gaya hidup. Untuk mengoreksi rasa sakit oleh penyakit gaya hidup, tentu pula mesti ada koreksi gaya hidup. Pernah dituliskan satu kebijakan kuno nenek moyang bangsa Cina: cairan sehat dan cairan sakit, itu semua sudah ada di dalam tubuh manusia.

Saat cairan sehat lebih banyak, sehatlah badan kita, saat cairan sakitnya lebih banyak pula sakitlah badan kita. So simple?! Ya! Pasti simple! Yang suka rumit, buatlah segala sesuatunya rumit. Yang suka simple, banyak hal bisa disimplekan……kadang-kadang saja mau rumit. Bagi saya, terapi urine adalah hal yang simple. Di manapun, kapanpun, berapapun, bagaimanapun, mengapapun saya bisa melakukannya.

 

g. Pernah dituliskan, di suatu pelosok dusun di India, terdapat dua wanita penyembuh. Mama dan menantu. Banyak penduduk setempat yang sakit, disembuhkannya dengan ‘cairan ajaib’. Satu saat terbukti bahwa cairan penyembuh itu ternyata urine mereka berdua! Banyak orang merasa tertipu dan marah. Mereka berniat mengusir kedua wanita tersebut. Terjadi perdebatan, antara yang setuju dan yang tidak setuju. Faktanya banyak yang sembuh. Memang tidak dituliskan, apakah ada yang lebih menderita atau bahkan meninggal oleh sebab ‘cara dan metode sableng’ itu. Akhirnya kedua wanita penyembuh itu terselamatkan. Yang mau berobat silahkan, yang tidak mau lagi ya monggo kerso!

 

h. Juga dituliskan, seorang Pastor di Jawa Tengah (Purwokerto? Magelang?), memakai terapi urin bagi penyembuhan anak-anak muda yang terkena/pecandu narkoba. Dipaksanya si anak muda minum uyuhnya sendiri. Ditunggui dan disaksikannya si anak muda berkemih dan menampung-nya di satu wadah. Satu. Dua. Tiga. Si anak muda ragu-ragu, membantah, menolak. Secepat itu, direbutnya wadah urine, diteguklah sebagian urine si anak muda oleh sang Pastor! “Aku saja mau minum uyuhmu! Sekarang minumlah!”. Tuntas sudah!

 

i. Saat berumur 6-7 tahunan, Agus terkena sakit gigi lubang. Khas anak-anak oleh sebab makanan kimia modern (yang nenek moyang kita dulu nggak kenal). Semula kami pakai getah jarak untuk menetesi lubang gigi dan mengurangi rasa sakitnya. Tuntas sudah juga oleh sebab kumuran uyuh saya dan ataupun uyuh dia. Tentu saja saya pakai trik untuk menampung uyuhnya. Manakala dia sudah duluan berkemih, maka saya berikan uyuh saya untuk dikumurinya. Kami biasa mandi berdua setiap ada kesempatan. Sampai sekarang! Dan sampai sekarang, Agus hanya sekali itu saja terkena sakit oleh sebab lubang gigi! Terapi auto urine, terkoreksi menjadi terapi urine, bagi kami!

 

j. Terapi urinepun saya laksanakan semau-sebebasnya. Saat Agus dan Mamanya tinggal di Sampit untuk bersekolah, saya sendirian di rumah dinas di kebun. Saat di rumah, nyaris semua urine saya kumpulkan (setelah sebagiannya saya minum) atau saya berkemih di botol eks sirup. Saya simpan. Setelah lima-enam botol, pagi hari saya panaskan air seteko kemudian urine saya campurkan diember untuk mandi dan keramas. Kerontokan rambut saya menurun drastis.

Di antara kawan sebaya, saya termasuk yang agak nggak botak…… Relatif nggak pernah saya jumpai lagi rontokan rambut di baju. Sampai sekarangpun saya nggak punya sama sekali referensi merk sabun dan atau merk shampoo tertentu. Itu urusan Mama Agus. Ada shampoo, ada sabun. Mau pakai, nggak mau pakai itu menurut keperluan saja. Terus terang, Mama Aguspun nggak setuju jika saya bermandikeramas ria dengan urine. Agus pula diajaknya bersekutu. Nggak pa-pa. Kalah dan mengalah. Kalau nggak bisa demonstratif, pasti ada saja kesempatan sembunyistratif……

 

k. Saat bertestimoni bahwa saya pelaku terapi urine, sangat bervariasi reaksi para sahabat atau kenalan saya. Itu hal yang sangat wajar! Itu pilihan! Termasuk jadi bahan guyonan, bahkan! “Awas, kalau mau kencing jangan sampai tahu Pak Bagong!”, itu bahan candaan yang sering dilontarkan mantan Boss dan kolega saat inspeksi di lapangan. Pada ngakak! Nggak ada yang salah dengan itu, biasa saja! Sekarang terpikir juga oleh saya: ayo taruhan minum kombinasi urine kita! Siapa berani?

 

Jadi terapi urine?!

Up to you!

Monggo kerso……..

 

Sampunnnn. Suwunnnnnn. (BgJ, 082012)

 

33 Comments to "Terapi Air Seni atau Terapi Urin (2)"

  1. Maruli  30 January, 2013 at 16:47

    Untuk penyakit luar, saya yakin 100% dengan terapi urin. kalau hanya sekedar kutu air/eksim sekali oles atau dikencingi 2 – 3 hari langsung bablas sakite…!

  2. Fidelis R. Situmorang  22 October, 2012 at 03:17

    Baca 1 dan 2, ternyata banyak banget manfaatnya ya…

  3. Bagong Julianto  14 September, 2012 at 02:22

    donaLd….

    Terapi urine, menurut pendapat pribadi saya mengatasi perasaan membohongi dan dibohongi.
    Bukan perasaan yang dibohongi, justru perasaan ditata-ulang.
    Yang selama ini merasa jijik, mempertanyakan kembali.
    Yang selama ini merasa aneh, melihat dari sisi lain.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.