We Are Friends Forever? Maybe Yes, Maybe No

Bambang Priantono

 

Kali ini saya ingin cerita tentang seputar pertemanan yang saya jalin sepanjang hidup ini. Tentunya pertemanan atau persahabatan di tiap fase usia memiliki konteks yang berbeda, pertemanan di masa TK, SD, SMP, SMA, Universitas sampai tuapun mempunyai konsepnya sendiri. Sudah pasti pula faktor kesamaan asal, keyakinan, tempat tinggal, selera termasuk hobi mempengaruhi apakah kita bisa berteman dengan seseorang ataukah tidak. Dan ketika kita bertambah usia, maka pertemanan itu akan berubah pula, seiring makin banyaknya kenyataan hidup yang dihadapi.

Seringkali di usia anak-anak dan remaja selalunya ada istilah We are friends forever..berteman atau bersahabat untuk selama-lamanya. Tapi kemudian saya berpikir kembali setelah mencapai usia dewasa, selamanya…sampai kapan? Sampai maut memisahkan? Ataukah memudar seiring perjalanan waktu hingga ketika kita bertemu dengan orang yang katanya sahabat itu setelah sekian tahun tak jumpa, justru dia melihat kita ibarat orang asing, dan kita??? Bak kambing congek!!! So awkward…

Persahabatan di kala SD dan SMP tak banyak saya ingat. Namun di masa SMA, saya sempat menjalin persahabatan dengan beberapa orang dikarenakan sama-sama pernah ikut kegiatan kerohanian. Tapi hanya dengan satu orang yang saya ingat pernah bilang “Mbang, mau nggak jadi sahabatku.” dengan inisial M, saya benar-benar merasa punya seorang sahabat yang ada -hampir-setiap saat. Pulang bersama, bercerita banyak hal, sampai bermainpun bersama-sama..namun seiring dengan kelulusan SMA, saya dan dia terpisah. Setelah 6 tahun, kami bertemu. Tapi apa yang saya lihat?? Dia di mata saya sudah bagai orang asing. Sama sekali asing dan saya seolah tak dianggap lagi. Duegghhhh waktu itu saya sempat sakit hati, tapi…kemudian untuk apa ditanggapi. Pelan-pelan menerima kalau dia bukan lagi sahabat yang saya kenal di masa silam…tutup buku.

Lantas di kampus, saya juga punya beberapa sahabat yang juga berkesan. Ada sahabat berinisial DX yang saya kenal waktu Penataran P4 tahun 1995, di situ kami sama-sama mengikuti unit kerohanian yang sama dan akrab. Saya dulu sering sekali main ke kos-kosannya, dan berbagi cerita banyak hal hingga KKNpun bersama-sama. Namun kemudian di tahun 2001, kami terpisah setelah dia menikah muda, dan di sebuah jejaring sosial saya tanpa sengaja berjumpa lagi dengan dia. Namun seperti itu, dia sudah berbeda, dan jelasnya sudah tak seperti yang saya bayangkan…serasa asing.

Pada saat-saat inilah saya merasa friendless. Memang saya semasa sekolah aslinya sangat suka ngobrol, tapi karena banyak faktor akhirnya saya cenderung diam jika ada di lingkungan yang saya rasa tidak cocok. Di jejaring sosial satunya saya banyak bertemu dengan teman-teman masa SMA dan kuliah. Memang sangat menyenangkan, namun ada hal-hal yang sering membuat saya terasing bagaikan makhluk luar yang tersasar di bumi. Tidak nyaman karena topik pembicaraannya seringkali mengacu masa lalu yang mungkin sudah banyak terlupakan atau teringat sebagian. Sama seperti yang dicurhatkan Jeng Nana di jurnalnya, sahabat atau teman datang dan pergi.

Bila ada sahabat yang menikah, saya sering memilih langkah mundur dari kehidupannya karena pastinya hidupnya akan difokuskan pada keluarga barunya. Dan sering kala bertemu, dia sudah sangat berbeda dengan yang saya kenal kala masih bersama-sama dulu. Namun seiring waktu saya sadar kalau pertemanan dan persahabatan mayoritas tak permanen atau minimal tidak lagi seakrab dulu, tidak nyambung seperti saat bersama dan..yah, jelasnya buat saya semua sudah berubah! Sampai akhirnya saya lebih percaya pada diri sendiri….kemana-mana sendirian (jangan bicara soal pendamping di sini!!!!!) dan kadang bergabung dalam suatu komunitaspun, rasanya saya seperti kambing congek yang hanya melongo tanpa paham maksud pembicaraan komunitas itu.

Saya berusaha menyesuaikan, tapi karena saya tidak merasa nyaman dengan komunitas tadi maka akhirnya saya pilih mundur. Dulu kala MPers Malang masih solid, kami banyak melakukan kegiatan bersama atau kopdar meski kecil-kecilan. Tapi setelah sibuk masing-masing, akhirnya hubungan itu jadi renggang. Hanya beberapa yang masih aktif dan itupun tak seakrab 3 tahun yang lampau. Intinya, persahabatan atau pertemanan bisa memudar seiring dengan waktu…Jujur juga saya suka kesal bila ada acara kopdar atau reuni meski tak saya ungkapkan, teman selalu bawa anak atau pasangan. Karena tidak bisa lega dan gayeng…namun itu tadi, mereka punya kepentingan masing-masing dan saya harus mengalah meski makan hati.

Dari semua itu saya ‘terpaksa’ ambil hal positifnya saja. Berlapang dada, membiarkan mereka datang dan pergi. Hanya sedikit teman khususnya di alam nyata yang benar-benar nyambung meski jarang-jarang bertemu pula. Kenyamanan! Itu yang penting…percuma memaksakan diri berteman dengan seseorang bila kita justru merasa tersiksa didekatnya, lebih baik sendirian saja dulu! Teman yang bisa membuat kita nyaman sangat sedikit dan makhluk langka yang sekali bertemu perlu dilestarikan. Terlebih diusia yang terus bertambah ini, istilah we are friends forever ini disikapi dengan biasa saja karena entah kapan pertemanan itu bisa terputus atau hilang tertelan kesibukan, tempat dan waktu. Orang-orang yang bisa membuat kita nyaman jadi diri sendiri..itulah sahabat idaman, tanpa membuat kita berubah kecuali ke arah kebaikan.

Saya tak peduli jumlah sahabat dekat yang sangat sedikit, yang penting bisa membuat saya nyaman jadi identitas saya sendiri. Sebagaimana kutipan yang saya dapat…

AVOID PEOPLE WHO MAKE YOU INSECURE TO BE YOURSELF..

Itu perasaan yang sebagian saya ungkap. Saya juga ingin berteman tapi bila yang diajak itu tidak memberi respon positif, meski saya sangat ingin akhirnya saya tinggalkan saja. Saya yakin masih banyak orang yang menerima saya sebagai teman dengan tangan terbuka.

Sekian

Bambang Priantono

Kamis Legi

20 Oktober 2011

Semarang

 

About Bambang Priantono

kerA ngalaM tulen (Arek Malang) yang sangat mencintai Indonesia. Jebolan Universitas Airlangga Surabaya. Kecintaannya akan pendidika dan anak-anak membawanya sekarang berkarya di Sekolah Terpadu Pahoa, Tangerang. Artikel-artikelnya unik dan sebagian dalam bahasa Inggris, dengan alasan khusus, supaya lebih bergaung di dunia internasional melalui blognya dan BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

35 Comments to "We Are Friends Forever? Maybe Yes, Maybe No"

  1. Rismapurnamaa  17 September, 2012 at 14:17

    teman itu macam macam ya, ada teman kerja, teman sekolah, teman sepermainan, teman jalan..jadi emang beda tergantung sikonnya…

  2. Lani  14 September, 2012 at 00:28

    EA : ber-TEMAN dgn ber-SAHABAT mmg berbeda……..teman bs didpt dimana saja, kapan saja…….wlu mungkin cm teman kebo (bukan kumpul kebo lo ya………hahaha), ato sekedar ber hai………hai…………tp klu seorang SAHABAT…..sll ada didlm hati kita wlu sahabat itu dipisahkan dgn jarak yg jauh………seorg sahabat bs menerima sahabatnya satu paket……bs saling mengerti……dlm kondisi apapun tetep bersahabat………

  3. Lani  14 September, 2012 at 00:25

    DA : 24 aku geloooooooo karo mbrebes mili……..ndak diakui sbg SAHABAT………tp malah sbg sodara kenthir pie iki??????

  4. Lani  14 September, 2012 at 00:24

    BP : dikomentar no 30 apa itu NUBITOL????? karo clingak-clinguk ora mudenk………hahaha

  5. EA.Inakawa  13 September, 2012 at 22:03

    @ Mas Bambang Priantono : Saya hanya bisa memberikan satu sugesti ” Untuk mencari seorang sohib, seorang sahabat memang tidak mudah, dibutuhkan pengorbanan waktu yang tidak singkat, kita ini rambut sama hitam, hati siapa yang tau……kalau saya pribadi, begitu saya cocok dengan seseorang dalam berbagai sudut pandang biasanya saya bisa lama berteman dan begitu saya ketahui sifat buruknya sebagai bawaan lahir saya bisa memakluminya, artinya dia itu demikianlah adanya,saya tidak akan meninggalkannya, yang paling saya tidak suka kalau ada seorang teman menjadi pecundang karena pengaruh lingkungannya, artinya orang ini tidak setia kawan, dia cepat terpengaruh dan berbahaya bisa dipengaruhi teman temannya, dia tidak berketetapan hati, orang seperti inilah yang sering menjadi PENGHIANAT ( kita lihat di komunitas partai & politik banyak terjadi penghianatan oleh teman dekat ) ini diluar yang saya sebutkan diatas tadi.
    Seperti yang dikatakan Triyudani, beliau mendapatkan kebahagiaan hidup sejak bergabung di community Baltyra, saya pun sama……karena saya sudah mengenal para Senior saya sejak zaman KOKI, lama sekali kan…..saya sudah mengorbankan waktu untuk sebuah kebersamaan ditengah kesibukan pekerjaan, itu sebuah harga yang mahal untuk sebuah pertemanan yang bisa saling memahami & menghargai. Dan karena itulah saya bertahan di Rumah Kita Baltyra ini……Mas Bambang jangan ragu, inilah rumah KITA, tidak ada kasta disini. Insya Allah …… memang tidak semua bisa menjadi sahabat, tapi disini ada NILAI untuk membangun sebuah persahabatan yang akan mas Bambang dapatkan, percayalah…….salam sejuk

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.