Menemukan Keunikan di Pusat Belanja (2): Mendadak Sawah

Linda Cheang

 

Halo Teman-teman Baltyra,

Kini sambungan artikel sebelumnya yang Taman Atap, sekarang di pusat belanja (mal) bisa ada Mendadak Sawah.

Perihal sawah yang bisa mendadak ada di tengah mal ini, berawal dari ketika mengantarkan Oom Djoko dan Tante Susi Paisan untuk menuju tempatnya Si Paduka Raja Bebek “bertahta” di sudut sebuah mal terkenal. Ketika melewati sebuah pelataran untuk mencari tempat parkir mobil, kami melihat beberapa orang bekerja menggarap pelataran depan mal yang biasanya digunakan untuk kegiatan pertunjukan, promosi produk sampai untuk sekedar duduk-duduk bengong. Saat itu saya hanya berpikir bahwa penggarapan pelataran itu biasanya untuk ada acara tertentu.

Tepat di pekan depannya, saya mengantar seorang teman penulis dari media citizen journalism on line di rumah lama, jalan-jalan ke pusat belanja ini, ternyata pelataran yang digarap tsb sudah berubah menjadi sawah. Saya ingat, saat itu tanaman padi dan jagungnya ada dalam polybag dan disusun rapi, serta ditempatkan sebuah patung Si Cepot yang nama aslinya keren sekali, Astrajingga, salah satu tokoh punakawan dalam seni tradisi Wayang Golek. Rupanya ada sebuah usaha untuk mengenalkan sawah kepada penduduk urban kota yang mungkin sudah lama tidak tahu dari mana nasi yang mereka makan itu berasal.

Si Cepot di tengah-tengah sawah di mal

Tepat pada hari terakhir cuti bersama Lebaran, saya dengan si teman lama yang beberapa waktu sebelumnya jalan-jalan di Taman Atap mal  ini, menikmati sawah ini dari dekat di waktu menjelang sore hari sehingga terlihat lebih jelas penampakan sawahnya dan kali ini saya sempat perhatikan padi-padinya ditanam dengan digenangi air. Sayang, genangan airnya lupa saya ambil gambarnya dan sayaang juga patung Si Cept sudah tidak ada lagi, yang tersisa hanya Bebegig  alias orang-orangan sawah yang dibuat dari jerami dengan bentuk yang acak kadut atau tidak keruan.

Sawah yang dibuat di pelataran mal ini memang sengaja untuk menghadirkan suasana persawahan, lengkap dengan dangaunya dan ada kandang kambingnya, diisi dengan beberapa ekor anak Kambing Ettawa.  Menghadirkan suasana kesejukan, di saat ketika musim kemarau seperti ini, di wilayah Selatan Khatulistiwa, kekeringan di mana-mana, tapi di pelataran mal ini justru ada sawah ijo royo-royo. Siapapun yang ingin belajar nyawah dan beternak, boleh datang ke sini, tetapi masuk ke sawah yang ini pakai bayar tiket masuk, lho! Sepengetahuan saya, sawah dan kambing yang dibawa masuk mal, ya, baru ada di kota saya ini. Coba tanya ke Oom Dj dan Lani van Kona, apakah di Jerman sana dan di Hawaii sana, pernah ada kambing hidup diboyong ke mal? :D

Jika ingin menikmati sajian cemilan lokal yang lezat seperti Colenak atau Tape Uli (Ketan) Bakar, bisa juga mampir ke dangau yang ada di dekat pintu masuknya, tapi karena sudah berada di mal maka harganya jadi kurang ramah di kantong atau dompet, untuk ukuran kami, warga lokal.

Simak gambar-gambar berikutnya di bawah ini. Harap saya dimaafkan untuk beberapa gambar yang kualitasnya memang tidak baik. Pakai kameranya masih yang Digital Saku Lan Ringkes, sudah begitu, kamera pinjaman pula :P.

 

Salam,

Linda Cheang

Agustus 2012

 

Farming area

 

Pintu masuk ke sawah dari arah mal

 

Pintu masuk

 

Harga tiket masuk

 

Bebegig alias orang-orangan sawah

 

Ada ditanam pisang juga, lho

 

Ada dangaunya juga

 

Anak-anak urban perkotaan bermain di sawah

 

Ingin belajar beternak?

 

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

16 Comments to "Menemukan Keunikan di Pusat Belanja (2): Mendadak Sawah"

  1. Linda Cheang  14 September, 2012 at 13:41

    EA INakawa kupkir itu bukan soal membawa masa ORBA, tetapi murni membisniskan ketidaktahuan anak-anak zaman sekarang yang nggak tau nasi yang mereka makan itu dari mana. Ide yang sangat brilian!

    Pak Hand Panjenengan lebih unik lagi, tapi aku emoh nulis tentang Panjenengan.

    JC Kerbau bajak sawah itu hal yang normal, daripada kuda naik joki di dapur di NZ oleh Lani Gemblung van Kona…

    Alvina iya, bisnis yang memberi edukasi.

    Kang Anoew Cleopatra nggak suka berkotor-kotor di sawah. Kalo orang yang Kang Anoew bilang itu seperti yang dibilang Bang Inakawa, itu, mah, bebegig sawah, hahaha…

    Inakawa tuh, udah dibilangin…

    Oom Dj itu dia, di Jerman nggak akan nemu padi dan nggak pernah nemu kambing hidup di mal

    Kornelya idenya memang kreatif, tapi ujungnya teteup bisnis. Terima kasih kembali.

  2. Kornelya  14 September, 2012 at 02:29

    Wow, kreatif sekali pemilik idenya. Unik dan mengundang. Salam te’ Linda, terima kasih fotonya.

  3. Bagong Julianto  14 September, 2012 at 00:55

    Cerdik nian si penggagas Paddy Field!
    1. Belum panen padi sudah panen pengunjung yang bayar…
    2. Padi bisa ditanam sepanjang tahun, suplai air lancar.
    3. Padi ditanam di babybag.

    Salut!

  4. Dj.  13 September, 2012 at 23:13

    Linda Cheang Says:
    September 13th, 2012 at 14:32

    Oom Dj dicontoh di Jerman sana, bagaimana?
    ——————————————————-

    Linda…
    1. di Jerman masih banyak penghujauan-
    2..Mana bisa tanam padi di Jerman. Kalau kambing sih ada ditaman dikota Mainz.

    Shalom…!!!

  5. EA.Inakawa  13 September, 2012 at 23:07

    Linda Cheang : Kang Anoew salah lihat tuh, gambar no 3 dikirain orang benaran padahal orang orangan yaa teman nya Cepot, Linda bilangin iyaaa aja yaaa……

  6. Anoew  13 September, 2012 at 21:53

    itu foto ketiga dari atas, sayang dijepretnya dari samping. coba kalau dijepretnya dari belakang, kan keliatan tuh warna apa yang dipakai si eneng berkaos merah yang, kaosnya sedikit terangkat…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.