Cara Koruptor Indonesia Menyelesaikan Masalah Korupsi

Handoko Widagdo – Solo

 

Jika penjahat korupsi di China dapat hukuman mati di tiang gantungan atau ditembak mati, lain lagi di Korea Selatan. Tersangka korupsi bunuh diri. Demikian salah satu Tajuk Rencana di Harian Kompas. Tajuk Rencana ini ditutup dengan kalimat sebagai berikut: ‘budaya rasa malu dan rasa bersalah, ditambah penegakan hukum tanpa pandang bulu, telah memperkuat basis nilai perjuangan melawan korupsi di negeri itu. Tajuk Rencana tersebut aku baca menjelang tidur. Dalam tidur tersebut aku bermimpi.

Pemilihan umum telah usai. Pihak-pihak yang kalah dengan besar hati memberi selamat melalui pidato yang disiarkan oleh TVRI dan seluruh TV swasta. Bahkan TV-TV luar negeri meliput ucapan selamat yang dilakukan oleh dua pasang capres-cawapres kepada pasangan yang menang. Sebab acara yang demikian adalah yang pertama kali di Indonesia. Dalam Pemilu kali ini, tidak ada yang bermuka cemberut. Semua pasangan, baik yang kalah maupun yang menang sama-sama sumringah berbahagia. Bahkan mereka saling berpelukan di depan kamera.

Mimpi berikutnya, masih bersambung dengan mimpi yang tadi, aku melihat suatu rapat raksasa. Kira-kira 2000 orang berada di lapangan terbuka. Masih banyak lagi, beratus-ratus ribu yang berjubel mengelilingi lapangan. Ada kira-kira 15 orang berada di panggung memimpin rapat. Meski berpeluh karena sengatan mentari, semua peserta bersemangat. Bahkan mereka yang berdesak-desakan menyaksikan rapat pun bersemangat. Sesekali terdengar sahutan saat pemimpin rapat memekikkan sesuatu. ‘Ini demi bangsa, setuju?’ demikian teriakan dari pemimpin rapat berkali-kali. Dan setiap kali dia meneriakkannya, semua yang ikut rapat, sekitar 2000 orang, dan mereka yang berjubel mengelilingi lapangan akan menyambutnya dengan pekik ‘Setuju! Merdeka!

Rapat yang berjalan dari subuh itu akhirnya selesai menjelang maghrib. “Kita sepakat bahwa kita semua akan mencalonkan diri, sebagai legislatif maupun sebagai aparat pemerintah. Setuju?” Serta merta peserta rapat dan mereka yang mengelilingi lapangan, menyambut: “Setuju! Merdeka!” Dan rapat pun bubar. Semua wajah sumringah dan bahagia, meski peluh membasahi wajah dan baju. Setelahnya lapangan menjadi senyap.

Mimpiku berpindah lagi ke tempat lain. Memang mimpi selalu tak mau mengikuti ruang dan waktu. Mimpi itu meloncat-loncat ke masa depan dan masa lalu, atau ke masa yang sebenarnya tiada kala. Para peserta rapat tadi beramai-ramai mendaftarkan diri menjadi calon legislatif. Ada yang mencalonkan diri di tingkat kabupaten/kota, ada yang di tingkat propinsi ada juga yang di tingkat pusat. Wajah mereka penuh senyum. Kemana-mana mereka membawa uang cash. “Ayo ambil uang ini. Tidak perlu pilih saya. Yang penting uang ini diterima. Ayo…ayo….”, demikian mereka berteriak-teriak di pasar-pasar, di jalan-jalan, di gedung-gedung di tempat-tempat ibadah. Masyarakat berbondong-bondong, tapi tertib, mengantri pembagian uang dari masing-masing caleg tersebut. Mereka bisa tertib karena jumlah yang membagikan uang cukup banyak. Di suatu pasar, misalnya, bisa ada 10-20 calon yang membagikan uang. Ketika tiba waktunya pengumuman hasil pemilu legislatif, mereka semua saling memberi selamat. Baik yang terpilih maupun yang tidak terpilih santai-santai saja. Bahkan senyuman tetap menghiasi wajahnya. “Mari kita lanjutkan dengan pemilihan presiden”, kata mereka.

Nah kali ini mimpiku loncat lagi ke mimpi yang pertama. Yaitu mimpi tentang pasangan capres dan cawapres yang tidak terpilih yang saling berangkulan. Upacara itu ternyata dihadiri oleh 2000 orang yang datang pada rapat di lapangan, dari mimpiku yang sebelumnya. Wajah mereka semua tampak ceria. Tibalah saatnya capres terpilih memberi pidatonya. “Saudara-saudara, ingat janji kita. Inilah saatnya kita menepati janji kita. Janji yang dulu kita ikrarkan saat rapat terbuka. Tidak penting partai asal kita. Tidak penting apa yang dahulu kita lakukan. Ini adalah saat yang baik untuk membangun bangsa. Bangsa Indonesia. Kita telah mendapat jabatan. Kita telah mendapat mandat rakyat. Mari kita biayai pembangunan dengan uang kita sendiri. Bukankah uang yang kita kumpulkan adalah uang rakyat? Uang yang dulu kita ambil secara tidak halal? Jadi mari kita menebus dosa. Kita biayai pembangunan dengan uang hasil korupsi kita. Jangan bodoh seperti China yang membunuh anak bangsanya. Atau seperti orang Jepang dan Korea, yang malah bunuh diri saat disangka jadi koruptor. Marilah kita jadi koruptor yang bermartabat. Yaitu koruptor yang bisa membeayai pembangunan negeri sendiri, tanpa perlu pinjaman asing. Koruptor yang…..

“Mas..bangun…mas. Sudah pagi. Sarapan sudah siap tuh…nanti terlambat ke kantor lho….”

Ternyata pidato presiden terpilih yang berapi-api bersambung dengan suara istriku yang membuyarkan mimpi tentang bagaimana cara koruptor Indonesia menyelesaikan korupsi.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

70 Comments to "Cara Koruptor Indonesia Menyelesaikan Masalah Korupsi"

  1. Handoko Widagdo  28 September, 2012 at 06:37

    Ary Hana, kalau sudah bertobat para koruptor dilarang membangun rumah ibadah.

  2. AH  27 September, 2012 at 09:15

    eh ralat.. 2 juta orang ding :p

  3. AH  27 September, 2012 at 09:14

    indahnya mencuci dosa.. mirip polpot yang membantai ribuan orang, lalu mendirikan pagoda sembahyang sebagai jalan menuju surga )

  4. Handoko Widagdo  23 September, 2012 at 18:00

    Kornel, mereka itu harus diajak ke negeri mimpin supaya bertobat. Jangan ditembak.

  5. Kornelya  22 September, 2012 at 05:04

    pa Handoko, kapan ya koruptor Indonesia dieksekusi a la China. Yang jelas sudah menantang digantung di Monas aja masih bebas berkeliaran atas nama asas praduga tak bersalah.

  6. Alvina VB  19 September, 2012 at 07:58

    Han….jadi Republik mimpi dong……

  7. Handoko Widagdo  19 September, 2012 at 06:39

    Avy cara untuk mereka bertobat adalah dibawa ke alam mimpi.

  8. Alvina VB  18 September, 2012 at 22:01

    Lah caranya spy mereka bertobat itu gimana Han???

  9. Handoko Widagdo  18 September, 2012 at 21:19

    Avy, gak apa-apa mereka gak punya malu asal bertobat dan mengembalikan apa yang mereka rampok dari negara.

  10. Alvina VB  18 September, 2012 at 21:18

    Han,
    Semoga mimpimu itu jadi kenyataan, he..he….
    Masalahnya di Ind itu para koruptornya gak punya rasa malu, di sini aja kl politician ketahuan korupsi ngundurin diri kok, mereka tahu dirilah udah ketangkep basah dan gak bisa ngeles lagi, he..he…..
    Partai Liberal di Quebec baru aja jatuh (cuman kalah 4 kursi dari PQ) ini juga gara-gara banyak kasus korupsi dan pemimpinnya ngundurin diri dah stl 28 thn ada di dunia politik. Untung itu PQ gak menang telak, cuman 54 kursi aja, kl menang telak gawat dah pasti ada referendum lagi, minta Quebec jadi negara independent, weleh…weleh……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.