Leo Tolstoy vs Sidik Nugroho

Fikrul Akbar Alamsyah

 

Rasa-rasanya untuk beberapa orang tertentu akan berkerut kening jika membaca judul di atas, karena jika pengemar dunia tulis menulis ataupun penggemar kegiatan membaca akan mempertanyakan apa kaitan antara Tolstoy dan Bung Sidik, apa alasan yang tepat untuk “mengadu” antara kedua orang tersebut, dan mungkin pertanyaan lain yang bisa muncul di tiap-tiap benak orang yang menyempatkan untuk membaca atau sekedar sekilas melihat.

Sebelumnya akan saya coba untuk menunjukkan beberapa alasan yang menunjukkan mengapa saya “mengadu” antara kedua penulis di atas, berikut saya sampaikan poin demi poin :

  1. Saya memiliki hasil karya dari kedua penulis tersebut, sehingga rasa-rasanya ingin saya bandingkan dari kacamata pembaca awam. Jika Tolstoy memiliki karya berjudul “Kalender Kata-Kata Bijak”, maka Bung Sidik memiliki karya berjudul “366 Reflection of Life”.
  2. Selain karena saya memiliki karya kedua orang tersebut, kebetulan genre dari buku yang saya miliki diantara dua penulis tersebut sama. Yaitu berada pada ranah nonfiksi/pengembangan diri/psikologi/inspirasi, atau jika benar-benar dicari kata yang pasti adalah pada ranah refleksi diri.
  3. Alasan yang ketiga ialah dari kedua penulis tersebut, keduanya mendasarkan atas hitungan hari dalam satu tahun untuk memberikan refleksi diri, yang mana pada tiap harinya diberikan sebuah tema.
  4. Untuk yang keempat, sedikit mengada-ada akan tetapi cukup signifikan juga jika dijadikan alasan. Yaitu ketebalan dua buku ini hampir sama tapi tidak benar-benar sama, yang pertama 376 dan yang kedua 384. Mungkin persamaan ini juga dikarenakan dasar hitungan hari dalam satu tahun sehingga muncullah jumlah pada kisaran yang saling mendekati.

Selain itu sebenaranya ada beberapa alasan lain mengapa saya “mengadu” antara dua buah buku ini, tetapi tidak begitu penting dirasa sehingga cukup empat hal diatas yang cukup signifikan untuk ditampilkan.

Rasanya dapat saya mulai komparasi dari kedua buku karya dua penulis diatas, dan akan saya sampaikan secara mengalir bukan poin demi poin.

Pada karya Tolstoy setiap hari disampaikan sebuah tema akan hal tertentu begitu juga pada bung Sidik, akan tetapi perbedaannya jika Tolstoy memberikan beberapa kata-kata bijak maka bung Sidik hanya memberikan satu buah kata-kata bijak saja. Meski Begitu pada karya Tolstoy tidak terdapat “pengantar” untuk menjelaskan / memperkuat kata-kata bijak yang disampaikan untuk hari itu, berbeda dengan bung Sidik, pada tiap satu tema untuk kata-kata bijak yang akan disampaikan terdapat semacam pengantar atas kata-kata bijak yang ia sampaikan untuk tiap harinya. Sehingga seakan-akan dijelaskan “Ashbabun Nuzul” atas disampaikannya kata-kata bijak untuk hari itu, pada karya Tolstoy kita dapat menerjemahkan secara bebas apa yang sedang kita baca pada hari itu sehingga di satu sisi dapat menghasilkan penafsiran yang begitu luas atas pemaknaan yang telah dibaca, hal ini bagi saya dapat memberi hal baik juga buruk terhadap refleksi diri. Baik karena akan membebaskan pikiran dalam rangka pemaknaan, buruk karena apa yang ingin disampaikan tolstoy rawan terbelokkan atas pemaknaan pembaca yang bisa saja luas ataupun sempit.

Saat membaca Pendahuluan dari Tolstoy maka ia menyampaikan bahwa kutipan kata-kata bijak yang ia cantumkan dapat berasal dari berbagai sumber sekaligus berasal dari penafsiran Tolstoy sendiri atas berbagai kutipan yang sumbernya beragam pula. Pada karya bung Sidik, ia tampaknya juga memperoleh sumber dari berbagai kutipan orang-orang penting, akan tetapi yang spesial dari pendahuluan / Kata Pengantar yang bung Sidik sampaikan ialah ada semacam kalau boleh dibilang SOP (Standar Operating Procedure) untuk membaca karyanya. Yaitu kapan dan bagaimana sebaiknya bukunya dibaca.

Pada tema karya Tolstoy sejauh saya membaca rata-rata ia mendasarkan pada Kemanusiaan, Ketuhanan yang universal, kejujuran dan kesederhanaan. Ada sebuah kutipan dari Tolstoy yang cukup sederhana tapi bermakna yaitu “Satu-satunya makna kehidupan adalah mengabdi pada kemanusiaan“, makna dari kata-kata bijak yang ia sampaikan cukup dalam dan seperti yang saya sampaikan diatas untuk pemaknaan dapat sangat luas. Sedangkan pada buku bung Sidik, juga dicantumkan kutipan kata-kata bijak yang bermakna dalam, akan tetapi “pengantar” yang disampaikan cukup sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari bahkan mungkin tidak jauh berbeda dengan pengalaman sehari-hari dari masyarakat umum Indonesia.Sebelum kegiatan banding-membandingkan antara dua buah karya ini semakin jauh, ada baiknya saya cukupkan sampai sekian saja. Ada kekhawatiran makin dalam kegiatan banding-membandingkan ini maka saya terjebak dalam mana yang lebih baik dan mana yang lebih kurang baik. Yang pasti dua karya ini layak dikonsumsi untuk memperluas refleksi diri terhadap fenomena pengalaman manusia yang niscaya tidak dapat kita jalani semua.

 

Malang, Minggu 11 April 2012

23:14 WIB

 

12 Comments to "Leo Tolstoy vs Sidik Nugroho"

  1. Fikrul  16 September, 2012 at 06:05

    Mbak Dewi & Pak Handoko : Wah bukunya Pak Anoew Tolstoy pasti bisa memberi pencerahan ya Pak…

    Pak Bagong, mungkin memang sedikit berlebihan kalau memperbandingkan antara kedua orang tersebut karena Sidik Nugroho seorang penulis lokal yang baru2 saja “mengorbit” ia rekan saya di kota Malang Jawa Timur, akan tetapi saya pastikan ia adalah seorang novelis Pak, berikut salah satu link blognya http://penulisgembira.wordpress.com/

    Salam.

  2. Bagong Julianto  16 September, 2012 at 05:54

    Fikrul AA

    Leo T, novelis. Apakah Sidik N juga novelis?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.