Balada Seorang Wanita yang Kucintai dengan Payah

F. Rahardi

 

I. aku akan menulis tentang
seorang wanita yang kucintai dengan payah
wajahnya gundul
ia telah bosan sendiri meratapi sejarahnya
nasibnya yang berurat berakar pada tanah
sejak hari pertama tahun yang sudah lama
berlalu
ayah ibunya menunai pekerjaan mulia itu
mencangkuli tanah-tanah
mengairi sawah-sawah
dan menancapkan nasibnya dalam-dalam
di tiap jengkal
dan waktu pun tak henti-henti berbiak
adalah gadis itu setelah begitu lama bertingkah
kembali menyesali keadaannya
mengapa ia mendadak saja menjadi kaya
dengan pertanyaan-pertanyaan
dan saudara-saudaranya pun lahirlah
dengan derasnya

II. pada waktu mula pertama ia menjadi remaja
dan mulai mengerti laki-laki
berkenalan dengan mahasiswa dan tentara
bergaul dengan tubuh-tubuh dan benda-benda
kenikmatan-kenikmatan itupun datanglah
bagai banjir
tiap pagi matahari terseyum dan membukai
pintu-pintu dan jendela kamarnya
mulailah aku jatuh cinta padanya
sambil tersenyum

III. harapanku yang pertama ialah bisa
memegangi
tubuh itu dan sekali-sekali
menghindar dari misteri-misteri
maka kutulis sebuah surat cinta yang lebar
malam bertambah sebal
bulan dan bintang menukik di atas mataku
ubun-ubunku pecah ketika surat pertamaku itu
tak dibalasnya
mulailah kuhitung-hitung
masa depanku yang konyol
dan masa remaja itu pun berlalu seadanya
sampai dengan hitungan yang keberapa
sampai aku lupa tak satu pun suratku
dibalasnya
malam kembali letih
meluruskan pohon-pohon
meja-meja yang kaku
kertas-kertas kuyu
alangkah pedih
tubuhku kuremas dan kuinjak-injak
seluruhnya kayal itu terbingkai dan terkaca
tak satupun kulihat lagi.

IV. setelah lama sekali waktu menanggalkan
ibanya
matahari di atas pohon-pohon, kota pun menjadi
ramai
kudengar sebetik kabar
tentang gadis itu telah bersuami dan hamil
dan tinggal di sebuah kota yang jauh
ia telah menjadi kaya-raya dan pasti
hidupnya adalah benda-benda
seluruh tubuhnya adalah
wanita belaka
aku mulai senang dan bintang-bintang pun
menukik
di atas mataku malam bertambah hitam
penyesalanku tentang wanita itu tak
terbayarkan
mengapa dulu kutulis surat-surat cinta
mengapa tidak kutumpahkan saja berbotol-botol
tinta itu
menjadi sebuah kisah
cerita-cerita tentang warna-warna
tentang suara-suara dan wanita
malam semakin gundul
seluruh tubuhku menjadi putih
dan mulailah kucintai wanita-wanita
sambil tersenyum.

Ambarawa, 1 Januari 1973

 

5 Comments to "Balada Seorang Wanita yang Kucintai dengan Payah"

  1. Bagong Julianto  17 September, 2012 at 11:36

    Mencintai dengan payah, menyayangi dengan susah….
    Memang mencintai dan menyayangi itu harus bersusah-payah….

  2. Dewi Aichi  16 September, 2012 at 20:25

    Pak F Rahardi, usaha yang susah payah, tapi hasilnya pasti luar biasa….

    He he….sajak, puisi F Rahardi, tak lekang dimakan waktu, karya karyanya tetap bisa mengikuti jaman.

  3. anoew  15 September, 2012 at 20:59

    Sepertinya figur yang susah dijangkau, si wanita itu.

  4. Handoko Widagdo  15 September, 2012 at 10:12

    Terima kasih Mas F Rahadi, pada puisi yang ini lebih mudah bagiku menemukan makna.

  5. James  15 September, 2012 at 09:53

    SATOE Balada Seorang Wanita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.