Pejaten (3)

Fidelis R. Situmorang

 

“Sayang… kamu di mana?”
“Di musium Layang-layang”
“Di mana?”
“Di Pondok Labu. Ada acara peluncuran buku baru kawanku.”
“Oh… sampai malam?”
“Iya, sampai malam. Kamu di mana?”
“Di Pejaten…”
“Ngapain?”
“Lagi nyari kado untuk teman yang mau ulang tahun…”
“Sama siapa?”
“Sama teman.”
“Cowok?”
“Hahaha… ceweklah… eh, sepertinya udah dapet kado yang cocok nih…”
“Ya, udah kalau gitu…”
“Nanti aku telpon lagi yaaa… Muuaaaccchhhh…”
“Oke… bye…”
“Kok nggak balas ciumanku?”
“Di sini banyak orang…”
“Hahaha… malu ya? Ya, udah, nanti pulangnya hati-hati yaaa… Muacchhh muaaacchhh muaccchhh…”
“Iya, Kamu juga ya… bye…”

Malam perlahan merambat turun di sini
Bulan bersinar dari genangan air sisa hujan di jalan
Tiba-tiba aku merasa seperti sedang sendiri
Seperti bulan yang kesepian di genangan itu

Sungguh aku menginginkanmu ada di sini
Astaga! Kenapa jantung ini terasa ngilu setiap menginginkanmu ada di dekatku?
“Jangan hubungi aku yaa… nanti aku saja yang menghubungi kamu… “
Begitu katamu waktu itu.

Peduli amat! Aku pengen kamu!
Kutekan satu nama di ponsel yang akan membawaku kepadamu.
Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
Cobalah beberapa saat lagi.

Bulan tak lagi nampak di genangan. Sembunyi di balik awan.

“Ri, kamu tahu nggak?”
“Apa?”
“Yang aku suka dari kamu?”
“Apa…?”
“Coba tebak!”
“Ini, yaa? Umpetin ahh…” katanya sambil bergerak menutupi bagian dadanya dengan tas.
“Hahaha… jangan mancing-mancing deh…”
“Hee… muka kamu merah tuh… Hahaha…”
“Aku serius nih… Hehehe… sini coba aku periksa kepalamu…”
Dia memberikan keningnya.
“Panas ya?”
“Harus segera ke dokter! Very hot!”
“Hahaha…” kami tertawa bersama.

“Apa?” dia bertanya saat tawa kami sudah reda.
“Apanya yang apa?”
“Ihh… Tuh kan… langsung mupeng aja sih…. itu, yang kamu suka dari aku?”
“Oh, hahaha… hampir lupa. Kamu sih ngomongnya nyerempet-nyerempet… Aku suka alis kamu.”
“Alisku?”
“Iya, alismu keren banget!”
Dia tersenyum mengelus-elus alisnya.
“Awas, kupingmu naik sebelah, tuh!” Kataku
“Hahaha…” Dia tertawa cantik sekali. Alisnya makin terlihat manis.
“Nggak dipasangin susuk kan?”
“Hahaha… Enak aja!” Jawabnya pura-pura marah.
“Asli! Keren banget!” Sambungku lagi.
“Dia juga bilang begitu…”
“Ha? Siapa?”
Dia diam sebentar seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
“Namanya siapa ya? Aduh, aku sudah lupa. Sudah tertimpa nama-nama cowok lain… Hahaha…”
Dia berhenti tertawa melihatku tak ikut tertawa.
“Kok, kamu diam?”
“Aku lagi dengerin kamu…” jawabku kesal.
“Wajahmu berubah, lho…”
Aku diam. Dia juga diam, lalu menyandarkan kepalanya ke pundakku.

Kami diam beberapa waktu lamanya, sampai kemudian ia mengeluarkan tissu dari tasnya, menunduk ke arah kakiku, lalu mengusap sepatuku dengan tissu di tangannya.
“Kotor,” katanya, pelan, “ada bekas tanah…” Lalu ia kembali menyandarkan tubuhnya ke tubuhku.
“Antar aku cari taksi yuk, hari ini aku capek banget…” katanya lagi.

Taksi yang membawamu, bergerak semakin menjauh meninggalkanku.
Malam semakin larut, tapi masih ada beberapa ibu yang menggendong bayinya mencari sedekah.
Langit mulai melepaskan embun satu per satu.
Bulan nampak cantik sekali. Ada pelangi kecil tersenyum di sekelilingnya.
“Terima kasih, Om,” kata seorang ibu menerima sedikit uang dariku.
“Semoga enteng rejeki, enteng jodoh… Amin.”
“Terima kasih, Bu,” jawabku menerima doanya.
Ponselku bergetar. Ada pesan dari si alis manis itu.
“Sayang, aku sudah sampai rumah. Jangan terlalu banyak ngopi ya, nanti susah tidur. Love you.”
kutandaskan birku, lalu pulang.

 

bersambung…

 

10 Comments to "Pejaten (3)"

  1. Lani  21 September, 2012 at 00:09

    waaaaaaah……….bacanya klewat asyikkkkkkk………endingnya msh bersambung yaaaaaaaah gelo nih……..ditunggu sak cepatnya sambungannya ya bang (?) Fidelis…….

  2. Fidelis R. Situmorang  20 September, 2012 at 23:54

    @James:
    @Pak Dj: Hahaha… Malu tapi mau
    @Matahari: Tararengkyu
    @Mbak Dewi: Hehehe… Sepertinya mereka cocok ya, Mbak
    @Om anoew: Hahaha… Siapppp… Laksanakan!
    @Pak Bagong: Hehehe… Malam memang selalu berbaik hati untuk mereka yang sedang memadu kasih ya…
    @J C: Hahaha…

  3. J C  17 September, 2012 at 12:12

    Asik banget bacanya…(jadi kepingin tahu, apakah memang Ririn rumahnya di Pejaten)

  4. Bagong Julianto  17 September, 2012 at 12:10

    Penasaran juga nunggu Pejaten (4)…

    Apa masih seputar kisah cinta malam hari….?!

  5. Dewi Aichi  16 September, 2012 at 21:31

    Wakakakakaa…Anoew kumat…

  6. anoew  16 September, 2012 at 20:42

    Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.Cobalah beberapa saat lagi.

    untuk bahasa tubuh, tekan satu. Untuk bahasa isyarat, tekan dua. Untuk menghubungi operator, tekan dada. Untuk berbicara dengan operator kami, siapkan tiga-tiganya.

  7. Dewi Aichi  16 September, 2012 at 20:11

    Sepakat dengan Matahari, dialognya aku sukaaaaaa he he he he…

  8. matahari  16 September, 2012 at 14:29

    Swear !!! Bagus banget..

  9. Dj.  16 September, 2012 at 13:59

    “Kok nggak balas ciumanku?”
    “Di sini banyak orang…”
    “Hahaha… malu ya?

    ———————————————-

    Lha didepan pacar, masakan mau kasi balasan ciuman… hahahaha…!!!
    Salam,

  10. James  16 September, 2012 at 10:46

    SATOE….Pejaten

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.