Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Pejaten (3)

Sunday, 16 September 2012

Viewed 625 times, 1 times today | 10 Comments |

Fidelis R. Situmorang

 

“Sayang… kamu di mana?”
“Di musium Layang-layang”
“Di mana?”
“Di Pondok Labu. Ada acara peluncuran buku baru kawanku.”
“Oh… sampai malam?”
“Iya, sampai malam. Kamu di mana?”
“Di Pejaten…”
“Ngapain?”
“Lagi nyari kado untuk teman yang mau ulang tahun…”
“Sama siapa?”
“Sama teman.”
“Cowok?”
“Hahaha… ceweklah… eh, sepertinya udah dapet kado yang cocok nih…”
“Ya, udah kalau gitu…”
“Nanti aku telpon lagi yaaa… Muuaaaccchhhh…”
“Oke… bye…”
“Kok nggak balas ciumanku?”
“Di sini banyak orang…”
“Hahaha… malu ya? Ya, udah, nanti pulangnya hati-hati yaaa… Muacchhh muaaacchhh muaccchhh…”
“Iya, Kamu juga ya… bye…”

Malam perlahan merambat turun di sini
Bulan bersinar dari genangan air sisa hujan di jalan
Tiba-tiba aku merasa seperti sedang sendiri
Seperti bulan yang kesepian di genangan itu

Sungguh aku menginginkanmu ada di sini
Astaga! Kenapa jantung ini terasa ngilu setiap menginginkanmu ada di dekatku?
“Jangan hubungi aku yaa… nanti aku saja yang menghubungi kamu… ”
Begitu katamu waktu itu.

Peduli amat! Aku pengen kamu!
Kutekan satu nama di ponsel yang akan membawaku kepadamu.
Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
Cobalah beberapa saat lagi.

Bulan tak lagi nampak di genangan. Sembunyi di balik awan.

“Ri, kamu tahu nggak?”
“Apa?”
“Yang aku suka dari kamu?”
“Apa…?”
“Coba tebak!”
“Ini, yaa? Umpetin ahh…” katanya sambil bergerak menutupi bagian dadanya dengan tas.
“Hahaha… jangan mancing-mancing deh…”
“Hee… muka kamu merah tuh… Hahaha…”
“Aku serius nih… Hehehe… sini coba aku periksa kepalamu…”
Dia memberikan keningnya.
“Panas ya?”
“Harus segera ke dokter! Very hot!”
“Hahaha…” kami tertawa bersama.

“Apa?” dia bertanya saat tawa kami sudah reda.
“Apanya yang apa?”
“Ihh… Tuh kan… langsung mupeng aja sih…. itu, yang kamu suka dari aku?”
“Oh, hahaha… hampir lupa. Kamu sih ngomongnya nyerempet-nyerempet… Aku suka alis kamu.”
“Alisku?”
“Iya, alismu keren banget!”
Dia tersenyum mengelus-elus alisnya.
“Awas, kupingmu naik sebelah, tuh!” Kataku
“Hahaha…” Dia tertawa cantik sekali. Alisnya makin terlihat manis.
“Nggak dipasangin susuk kan?”
“Hahaha… Enak aja!” Jawabnya pura-pura marah.
“Asli! Keren banget!” Sambungku lagi.
“Dia juga bilang begitu…”
“Ha? Siapa?”
Dia diam sebentar seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
“Namanya siapa ya? Aduh, aku sudah lupa. Sudah tertimpa nama-nama cowok lain… Hahaha…”
Dia berhenti tertawa melihatku tak ikut tertawa.
“Kok, kamu diam?”
“Aku lagi dengerin kamu…” jawabku kesal.
“Wajahmu berubah, lho…”
Aku diam. Dia juga diam, lalu menyandarkan kepalanya ke pundakku.

Kami diam beberapa waktu lamanya, sampai kemudian ia mengeluarkan tissu dari tasnya, menunduk ke arah kakiku, lalu mengusap sepatuku dengan tissu di tangannya.
“Kotor,” katanya, pelan, “ada bekas tanah…” Lalu ia kembali menyandarkan tubuhnya ke tubuhku.
“Antar aku cari taksi yuk, hari ini aku capek banget…” katanya lagi.

Taksi yang membawamu, bergerak semakin menjauh meninggalkanku.
Malam semakin larut, tapi masih ada beberapa ibu yang menggendong bayinya mencari sedekah.
Langit mulai melepaskan embun satu per satu.
Bulan nampak cantik sekali. Ada pelangi kecil tersenyum di sekelilingnya.
“Terima kasih, Om,” kata seorang ibu menerima sedikit uang dariku.
“Semoga enteng rejeki, enteng jodoh… Amin.”
“Terima kasih, Bu,” jawabku menerima doanya.
Ponselku bergetar. Ada pesan dari si alis manis itu.
“Sayang, aku sudah sampai rumah. Jangan terlalu banyak ngopi ya, nanti susah tidur. Love you.”
kutandaskan birku, lalu pulang.

 

bersambung…

 

Share This Post

Posted by Sunday, 16 September 2012 on 09:42.

Categories: Pojok Sastra. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

10 Responses to “Pejaten (3)”

  1. 10
    Lani Says:

    waaaaaaah……….bacanya klewat asyikkkkkkk………endingnya msh bersambung yaaaaaaaah gelo nih……..ditunggu sak cepatnya sambungannya ya bang (?) Fidelis…….

  2. 9
    Fidelis R. Situmorang Says:

    @James:
    @Pak Dj: Hahaha… Malu tapi mau
    @Matahari: Tararengkyu
    @Mbak Dewi: Hehehe… Sepertinya mereka cocok ya, Mbak
    @Om anoew: Hahaha… Siapppp… Laksanakan!
    @Pak Bagong: Hehehe… Malam memang selalu berbaik hati untuk mereka yang sedang memadu kasih ya…
    @J C: Hahaha…

  3. 8
    J C Says:

    Asik banget bacanya…(jadi kepingin tahu, apakah memang Ririn rumahnya di Pejaten)

  4. 7
    Bagong Julianto Says:

    Penasaran juga nunggu Pejaten (4)…

    Apa masih seputar kisah cinta malam hari….?!

  5. 6
    Dewi Aichi Says:

    Wakakakakaa…Anoew kumat…

  6. 5
    anoew Says:

    Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.Cobalah beberapa saat lagi.

    untuk bahasa tubuh, tekan satu. Untuk bahasa isyarat, tekan dua. Untuk menghubungi operator, tekan dada. Untuk berbicara dengan operator kami, siapkan tiga-tiganya.

  7. 4
    Dewi Aichi Says:

    Sepakat dengan Matahari, dialognya aku sukaaaaaa he he he he…

  8. 3
    matahari Says:

    Swear !!! Bagus banget..

  9. 2
    Dj. Says:

    “Kok nggak balas ciumanku?”
    “Di sini banyak orang…”
    “Hahaha… malu ya?

    ———————————————-

    Lha didepan pacar, masakan mau kasi balasan ciuman… hahahaha…!!!
    Salam,

  10. 1
    James Says:

    SATOE….Pejaten

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)