Mengamati Sinetron Anak Indonesia

Wesiati Setyaningsih

 

Beberapa ahli percaya, bahwa media memberikan pengaruh yang besar bagi para penontonnya. Sebagai contoh, Adorno dan Horkheimer (1972) melihat propaganda yang sangat kuat datang dari media dalam menjelaskan peristiwa berdarah Holocaust dan peristiwa-peristiwa brutal lainnya yang terjadi ketika Perang Dunia Ke-II. Chomsky dan Herman (1988) melihat bahwa media merupakan kurir yang sangat kuat dalam mempromosikan ideologi baru kepada anggota masyarakat yang memiliki tingkat melek media yang rendah, anak-anak misalnya. (Wikipedia)

Dengan referensi yang masih sedikit, anak-anak belum mampu membedakan mana  yang baik dan mana yang buruk. Semua yang mereka dengar, lihat, rasa dan bau akan mereka serap begitu saja. Apalagi bila pengalaman tadi mereka alami secara berulang-ulang, maka sangat dimungkinkan akan masuk ke alam bawah sadar dan muncul dalam perilaku keseharian.

Hal inilah yang saya yakini sehingga saya membatasi anak-anak menonton televisi. Dengan berbekal keyakinan ini pula saya begitu bersemangat ketika terlibat dalam kegiatan LESPI (Lembaga Pers dan Informasi) Semarang mengenai literasi media.

Setelah terlibat dalam penulisan kumpulan dongeng literasi media yang berjudul “Pocong nonton tivi”, pada 14-15 September saya kembali terlibat dalam workshop Literasi Media yang diadakan LeSPI.

Hari pertama dilaksanakan pematerian oleh Anto Prabowo dari LeSPI mengenai media watch, Liliek BW dari LeSPI mengenai pemantauan sinetron anak, Budi Maryono dari Lini Kreatif mengenai pemantauan sinetron dewasa, dan Aulia Muhamad dari Suara Merdeka mengenai pemantauan infotainment.

Pembekalan di hari pertama digunakan untuk pelaksanaan kegiatan di hari kedua berupa pemantauan oleh kelompok. Semua peserta dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing untuk memantau sinetron anak dibimbing oleh Wiwien Wintarto, sinetron dewasa dibimbing oleh Budi Maryono dan infotainment dibimbing oleh Aulia Muhammad.

Saya terlibat dalam kelompok pemantau sinetron anak dan sinetron anak yang kami pantau adalah sinetron ‘Tendangan si Madun’ di MNCTV. Kategori yang kami amati meliputi logika cerita, konflik, penokohan dan pesan moral.

Dari yang kami amati, dari segi logika, sinetron ini tidak logis karena tidak konsisten dalam menggunakan setting tempat. Dalam sinetron ini diniatkan awalnya sebagai sepak bola, tetapi kadang-kadang ketika latihan dilakukan di dalam ruangan sehingga bukan sepak bola lagi tetapi futsal. Adegan tidak logis dan sangat tidak realistis seperti tendangan bola yang sampai menjebol tembok, pemain yang berputar-putar sebelum menendang, juga muncul seolah menjadi tempelan yang tidak jelas.

Tokoh-tokoh yang ada tidak memberi teladan yang baik karena terlalu ingin menonjolkan kelucuan dari sisi yang tidak pas. Seperti tokoh pelatih yang diperankan Tora Sudiro dengan karakter cengeng, manajer yang tengil, sehingga anak-anak menghadapi perilaku orang-orang dewasa ini dengan cara mereka sendiri yang akhirnya terkesan ‘kurang ajar’.

Kelucuan yang mestinya menjadi ciri dari tayangan anak-anak diwakili oleh humor-humor slapstik dan kekonyolan tokoh-tokohnya tadi. Entah kenapa agak susah mendapatkan kelucuan yang dimunculkan dari keluguan anak-anak dalam sinetron Indonesia.

Kebanyakan sinetron Indonesia selalu menonjolkan satu tokoh antagonis untuk mempermudah pengadaan konflik. Padahal yang sebenarnya konflik tidak selalu melalui peran antagonis. Dengan perbedaan karakter tokohnya saja, sudah bisa dijadikan konflik. Dalam kehidupan ketika keinginan membentur dengan realita, itu sudah menjadi konflik. Jadi tidak harus ada tokoh antagonis yang bahkan dalam sinetron dilebih-lebihkan karakternya.

Yang menyedihkan adalah bahwa dalam sinetron si Madun ini banyak kata-kata kasar yang muncul. Umpatan untuk orang lain seperti cemen, jongos, bego, muncul dalam sinetron ini. Hal ini ditambah lagi dengan miskinnya pesan moral yang dibawa oleh sinetron ini. Membandingkan dengan film Amerika tentang olah raga (mohon maaf kalo perbandingan ini agak idealis), cerita tentang olah raga yang mestinya ditampilkan adalah sportifitas, kekompakan, nilai perjuangan, yang dalam sinetron ini justru tidak tampak. Konyolnya, lawannya selalu Malaysia dan bahkan dimunculkan konflik antara keluarga yang bicara dengan dialek melayu Malaysia bermusuhan dengan keluarga berbahasa Indonesia.

Yang agak ironis adalah bahwa terjadi kerancuan mengenai tontonan anak-anak itu sendiri. Ada beberapa sinetron lain yang sebenarnya tidak untuk anak-anak karena konflik yang dimunculkan adalah konflik-konflik orang dewasa, namun pemainnya adalah anak-anak. Hal ini membuat beberapa orang tua agak susah memutuskan mana yang boleh ditonton anak-anaknya dan mana yang tidak boleh.

Di akhir pantauan, kelompok kami mendiskusikan tayangan serial anak yang layak tonton untuk direkomendasikan. Dengan agak sedih kami menyadari bahwa tidak ada serial anak buatan Indonesia yang layak tonton. Kami masing-masing punya favorit sendiri seperti, Shaun the sheep, Scooby Doo, dan saya sendiri suka Winnie the Pooh yang mengajarkan banyak nilai kehidupan.

Dengan menengok lagi bahwa anak-anak sebagai anggota masyarakat dengan tingkat pemahaman tentang media yang rendah, apa kiranya yang terjadi pada anak-anak Indonesia bila setiap hari mereka menonton sinetron anak-anak dengan mutu seperti yang diuraikan diatas? Sampai kapan kita akan berdiam diri berusaha memaklumi masalah tuntutan rating dan kejar tayang yang dijadikan alasan para produser sinetron sehingga mereka menghasilkan sinetron yang bermutu rendah?

Harus ada yang kita lakukan, sekecil apapun gerakan itu. Saya sendiri memulai dengan membatasi tontonan anak-anak. Setelah workshop ini, sudah ada rencana literasi media di komunitas-komunitas dan jelas saya akan melakukannya di komunitas yang saya punya. Sementara baru itu yang mampu saya lakukan sambil berharap bahwa sekecil apapun yang kami lakukan saat ini, akan bermakna besar di kemudian hari.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

22 Comments to "Mengamati Sinetron Anak Indonesia"

  1. donaLd  22 September, 2012 at 01:01

    Bahkan kita sering tak peduli ketika sebuah sinetron anak menyajikan tayangan yang bukan untuk diri mereka, atau barangkali tontonan seperti ini dianggap sebagai hiburan semata? Bisa saja.
    Tontonan televisi dilihat bahkan sebatas remote televisi, selesai langsung ganti saluran.

  2. wesiati  20 September, 2012 at 14:40

    haha.. ibu saya aja penggemar sinetron. dari dulu saya bilang, nonton orang ribut gitu apa di hati enggak ngos2an to? jadi kalo lagi pengen ngobrol sama ibu, pas ke kamarnya, dan ibu lagi nonton sinetron, kadang saya enggak tahan liat sinetronnya… marah2 dan ngomel2 gitu. akhirnya cuma bentar ngobrol, saya tinggal keluar…

    sekarang ibu saya keliatannya makin jengkel dengan sinetron film yang enggak mutu seperti tutur tinular yang sumpah, bikin bego banget. hadeh. capeeek banget nontonnya. hahahaha..

    memang urusannya sama instansi2 tertentu. kenapa ini semua bisa amburadul kaya gini. cuma daripada kita enggak ngapa2in dan cuma berharap biar akan ada perubahan sementara pemerintah masih belum sadar juga, ya mending kita bergerak dari rumah sendiri, lalu ke lingkungan. dan berharap nanti virus kebaikan ini menyebar luas..

    salam hangat..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *