Oleh-oleh dari Ngada (6): Kampung Adat Bena

Anastasia Yuliantari

 

Setelah menikmati pemandangan gunung Inerie, kami menuju Kampung Adat Bena. Sama halnya dengan perjalanan sebelumnya, kendaraan kali ini juga menyusuri jalanan sepi dengan kebun penuh pepohonan di sepanjang tepinya. Melihat situasi demikian, aku menduga bahwa perjalanan ke desa adat harus ditempuh menggunakan kendaraan pribadi atau carteran, tak ada kendaraan sebangsa angkot atau mikrolet yang menuju ke tempat itu. Bila dimungkinkan, barangkali hanya ojek saja kendaraan umum yang bisa dipakai.

Begitu tiba di sana, kami disambut dengan tumpukan batu seumpama mezbah yang dihiasi tangga untuk menaikinya. Ukuran tangganya memang tidak sesuai dengan kaidah arsitektur modern yang nyaman untuk melangkah, perlu sedikit lebih dalam menekuk lutut agar dapat menapakinya. Tapi tunggu dulu, sebelum kita berniat menginjakkan kaki di sana, pengunjung harus menuju sebuah rumah di ujung lokasi untuk mengisi buku tamu dan memasukkan sedikit sumbangan ke dalam kotak yang disediakan. Berapa besar sumbangannya?

“Sukarela, aja.” Kata Pater Paskalis sambil memasukkan selembar uang.

Jumlah relative tersebut pasti mengacu pada kewajaran di wilayah ini. Berapa pastinya bisa ditanyakan langsung pada guide atau tuan rumah bila suatu saat berkunjung ke sana, karena menyangkut kondisi yang harus up to date.

Begitu kita sampai di bagian atas tangga, yang ternyata sebuah tanah lapang, tampaklah bangunan khas rumah adat Bajawa, berupa miniature rumah dan payung. Seperti halnya di kampung adat Wogo, di sini bangunan rumah merupakan simbol hak milik anak-anak perempuan, sedang payung simbol anak-anak lelaki yang tak memiliki hak atas rumah dan tanah, namun mempunyai kemampuan untuk sukses di perantauan.

Berbeda dengan kampung adat di Wogo, kondisi kampung adat Bena lebih teratur dan bersih, bangunan-bangunannya terawat dengan baik, dan teras-teras dari batu sesuai kontur tanahnya dibangun demikian indah dan menarik. Mungkin karena kampung ini telah menjadi tujuan wisata maka tampak lebih terawat dan indah.

Perbedaan lainnya adalah jumlah tanduk kerbau yang dipasang di rumah adat. Bila di kampung Wogo hanya terdapat dua buah tanduk kerbau, dan beberapa puluh tulang rahangnya, di kampung Bena terdapat lebih dari selusin tanduk kerbau, namun tak tampak tulang-belulang rahang binatang itu. Tanduk-tanduk itu dijepit pada dua batang mambu dan diletakkan di kanan dan kiri pintu rumah adat.

Bila melihat warnanya yang telah kehitaman dan memudar, pasti tulang-tulang ini telah berumur puluhan tahun. Melalui foto di bawah ini tampak bagaimana tulang-tulang tanduk kerbau tersebut diikat dengan tali agar dapat disusun secara teratur ke bawah, menjadi sebuah rentengan tanduk kerbau yang menarik.

Seperti halnya di Manggarai, terdapat kumpulan batu yang diletakkan di tengah tanah lapang depan rumah adat. Di Manggarai hal ini biasa disebut compang, yaitu tempat peringatan akan roh nenek moyang. Namun berbeda dengan bentuk compang di Manggarai yang bundar, tempat peringatan di sini bentuknya persegi. Keistimewaan tempat peringatan arwah nenek moyang di tempat ini, batu-batunya berbentuk seperti tugu, beberapa malah dibuat seperti meja batu. Hal ini dilakukan dengan meletakkan lempengan batu di atas batu lain yang dibuat tegak sebagai penyangganya. Ada beberapa meja batu di tengah kumpulan batu-batu yang ditanam dengan ukuran beragam.

Bila simbol-simbol adat diletakkan di atas tanah lapang di tengah kampung, rumah-rumah penduduk berada di samping tanah lapang itu dalam wujud jajaran yang saling berhadapan. Di depan rumah-rumah itu terdapat jalan semen yang dihiasi pecahan batu. Pengunjung bisa turun dari tanah lapang di tengah kampung menggunakan tangga di bagian samping dan dapat melihat-lihat rumah penduduk dengan hiasan kain tenun, barang-barang kerajinan, serta hasil bumi setempat.

Rumah penduduk di sini terbuat dari kayu dan beratap rumbia yang dicampur dengan ijuk. Bentuk atapnya seperti bangunan tropis lain di Indonesia, dengan kap rumah yang tinggi untuk mengantisipasi derasnya air di musim hujan. Sebagai penyambung atap sekaligus menjadi atap beranda, dipergunakan bambu dengan susunan berbalikan. Model atap bambu seperti ini juga banyak terdapat di Manggarai.

Status kampung ini sebagai obyek kunjungan wisata membuat penduduk kampung mulai menjajakan hasil kerajinan setempat. Kain songket/tenun beraneka warna digantung di depan rumah bersama dengan cengkeh yang ditaruh dalam tempat-tempat sebangsa mangkuk, kalung dan cincin, barang ukiran, dan tak ketinggalan parang dengan sarungnya yang dihias demikian menarik.

Pater Paskalis yang katanya mempunyai hobby mengoleksi barang-barang tradisional tertarik melihat parang yang dijajakan. Melalui perbincangan diketahui harganya lima ratus ribu.

“Kalau boleh tiga ratus ribu, saya beli, deh.” Kata Pater sambil memeriksa mata parangnya.

“Oleee, Pater. Buat apa beli parang segala, macam orang mau tebang kayu.” Komentarku dan Yustin bersahutan.

“Saya suka koleksi, tuh. Tapi harganya mahal, e.” Ujarnya masih menimang-nimang parang itu untuk mengagumi corak sarungnya.

“Memangnya kalau mama tua ini kasih dengan harga tiga ratus, Pater mau beli?” Tanyaku heran. Tiga ratus ribu untuk sebilah parang? Mending buat beli bakso aja untuk traktir orang sekampung.

“Tidak, e saya tahu mama tua itu tak akan menurunkan harga.” Jawabnya sembari tertawa dan menggantungkan kembali parang ke tempatnya.

Bukan hal aneh bila di tempat wisata harga barang yang diperdagangkan bisa berkali lipat. Aku dan Yustin hanya saling pandang saat kami menanyakan harga seplastik kecil cengkeh yang dipajang. “Dua puluh ribu rupiah.” Jawab seorang Ibu yang duduk menunggui dagangannya. Wah, dua puluh ribu, sih memang pantas untuk turis Eropah yang tak pernah bertemu cengkeh sehingga harus berkelana ke negeri ini untuk memperolehnya, bahkan menjajah untuk menguasainya, tapi bagi turis dari Manggarai, cengkeh bisa diperoleh gratis dengan beramah-tamah kepada para tetangga. Jadi dua puluh ribu terasa mahal sekali.

Sesampai di ujung kampung, kami sekali lagi menaiki undakan batu. Di bagian paling atas ini terdapat gua Maria dengan hiasan bunga-bunga dan lilin tanda tempat orang berdoa. Di sebelah gua terdapat tempat untuk duduk-duduk sambil memandang gunung Inerie yang tampak memayungi kampung.

Karena saat kunjungan kami adalah hari Minggu, banyak anak-anak penghuni kampung yang duduk-duduk bermain di depan rumah atau di depan gua Maria. Pater Paskalis yang membawa sekantung permen mendekati mereka dan bertanya siapa yang suka permen. Bisa ditebak, semua datang berkerumun untuk mengantri.

“Ole, Pater,” kata Yustin, “Bila menuruti mereka, satu kampung bisa datang mengantri minta bonbon (permen).”

“Biarlah, saya bawa di dalam tas, nih.” Katanya.

Anak-anak ini menikmati sungguh permen rasa mint yang dibagikan. “Jangan lupa bilang terima kasih, dong.” Kata Pater.

“Terima kasih, ya Pak.” Kata mereka bersahutan.

Dan berita tentang bonbon ini cepat meluas, anak-anak kecil datang karena celoteh dan ajakan anak-anak yang lebih besar, bahkan ketika kami melalui sebuah rumah, sang kakak lelaki mengisiki adiknya tentang bonbon yang diperolehnya sehingga si gadis cilik menangis meminta milik kakaknya. Kami berhenti sesaat karena Pater kembali menghentikan langkah untuk memberikan permen.

“Nah, apa saya bilang,” Kata Yustin. “Biar kakak Pater bagi bonbon untuk seluruh kampung, dah.” Dan aku mengiyakan.

“Pemberian yang tulus akan menyentuh jiwa, aku ingin menyentuh jiwa yang bersih pada wajah manis mungil ini, aku merasakan betapa dia sangat menyambutku.”

Aku dan Yustin terdiam serta saling pandang, sebelum dengan tergesa kuambil gambar mereka secara diam-diam, nantinya foto ini kupakai sebagai ucapan ulang tahun imamat Pater Paskalis yang kebetulan dirayakan hari itu.

Waktu berlalu dengan cepat. Rasanya belum puas melihat-lihat dan merasakan kesejukan alam Bajawa saat Pater mengajak kami untuk segera beranjak pergi. Beliau akan mengantarkan kami ke terminal Watujaji di mana travel yang akan membawa kami ke Ruteng menanti. Perjalanan weeked yang sangat menyenangkan. Aku merasa beruntung dapat pergi ke tempat-tempat yang indah, di mana terdapat kekayaan cultural negeri Indonesia yang patut mendapat apresiasi. Selain mendapat pemahaman yang sedikit lebih banyak tentang budaya Flores aku merasakan persahabatan yang tulus dengan orang yang baik hati.

Ucapan terima kasih buat Pater Paskalis Patut yang rela mengantarkan kami keliling Bajawa di tengah kesibukan yang sangat padat, juga memback up kameraku saat kehabisan baterai dan lupa mencharge. Hanya Tuhan saja yang dapat membalas kebaikan Pater dan teman-teman sekalian di biara.

Di saat kendaraan perlahan meninggalkan Bajawa, ada kenangan indah yang tersimpan dalam benak kami tentang kota kecil di kaki gunung Inerie itu.

 

29 Comments to "Oleh-oleh dari Ngada (6): Kampung Adat Bena"

  1. Anastasia Yuliantari  22 September, 2012 at 18:16

    Yu Lani, betoooolllll….wis dirimu tuh paling tahu perasaan terpendamku, hahahaha. Sekarang udah masuk kandang di Jogja yg semakin panas, jadinya sulit ke mana2 lagi.

  2. Anastasia Yuliantari  22 September, 2012 at 18:15

    Linda, salah satu kesulitan di daerah luar Jawa adalah sarana dan prasarana serta promosi wisatanya. Jadi biarpun indah, yang tahu malah turis2 dari mancanegara.

  3. Anastasia Yuliantari  22 September, 2012 at 18:14

    Mbak Silvia, senang berbagi dengan Mbak Silvia dan semua pembaca di Baltyra. Kapan2 main ke sini, yaaa.

  4. Lani  20 September, 2012 at 23:51

    AY : waaaah…..bu guru jalan2 trs…..murid2nya ditelantarkan………apakah ini balas dendam dulu sebelum ndekem dikampus???? balik ke ndeso tercinta?????

  5. Linda Cheang  20 September, 2012 at 21:00

    Tempatnya terpencil, tapi indah, ya. Coba kalau semakin diberdayakan.

  6. Silvia U  20 September, 2012 at 20:05

    Kalau ga Ada artikelnya Tia mana tahu tempat ini.

  7. Anastasia Yuliantari  19 September, 2012 at 21:17

    Alvina, kalo dr Ende ke Bajawa lumayan dekat, deh. Kira2 tinggal 4-5 jam berkendara gtu, hehehe. Di Flores kalo naik kendaraan antar kabupaten pakai jam ukurannya, bukan KM karena kalo dihitung KMnya ga gitu jauh, tapi belak-beloknya yg bikin lama.

  8. Alvina VB  19 September, 2012 at 20:54

    An, kawan saya dari Ende, ttp dia dah dari kecil tinggal sama tantenya di Jkt, jadi kl ngomong dialek betawinya kental sekali, kita suka ketawain dia, soalnya dulu kita bilang gak cocok sama tampangmu yg hitam manis, kl mpok Siti/ bang Bokir yg logat betawi sih cocok, he…he….

  9. Anastasia Yuliantari  19 September, 2012 at 15:50

    Mbak Nur Mberok, nanti banyak yg protes kalo aku pasang foto nang kene. Ntar disangka numpang promosi, hahahaha.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.