Hoarder

Dian Nugraheni

 

Di Amerika, iklan obat sakit kepala, obat penghilang rasa sakit, obat flu,ataupun balsam penghilang pegal linu, bisa jadi ditawarkan dengan iklan yang berdurasi pendek, sangat ringkas. Ya, mungkin karena dianggap, semua orang tuh tahu, apa sakit kepala, apa migrain, apa sakit gigi, apa flu, apa pegal linu.., jadi ya pokoknya gue nawarin obat buat penyakit-penyakit itulah..gitu.

Lain lagi dengan iklan obat “stress”, wow.., durasinya bisa 4 atau 5 kalinya iklan obat sakit kepala dan kawan-kawan tadi. (Di sini, aku sebut saja stress, gitu ya, yang secara awam akan dibayangkan sebagai suatu gangguan yang dialami seseorang akibat dari tekanan kejiwaan, dengan muacem-muacem tingkat “keparahannya”…)

Iklan obat stress, biasanya diawali dengan ilustrasi, seseorang yang dengan sangat ekspresif (kelihatan sedih, lemah, tatapan mata kosong…) menceritakan tentang bagaimana dia TIDAK MAMPU mengatasi persoalan hidupnya, hingga membuatnya “sakit”. Trus ya, gitu deh, sampailah pada intinya, menawarkan obat stres merek A yang dikeluarkan dari pabrik obat X, gitu…

Habis itu, ada narasi yang menerangkan, secara “thirik-thirik” alias panjang lebar, tentang apa kandungan obat stress itu, cara kerjanya, dosis yang disarankan, efek samping, dan bila ada “kebimbangan” untuk mulai mengkonsumsinya, silakan konsultasikan pada dokter anda terlebih dahulu.

Ngemeng-ngemeng, sebanyak apa sih orang stress di Amerika..? Sama aja kale ya, dengan di Indonesia atau di negara mana pun di dunia. Di mana ada persoalan hidup, di mana orang tidak mampu mengatasi persoalan hidupnya, di situlah akan tumbuh bibit-bibit sakit pikiran alias stress, dan seterusnya.

Di Amerika, di mana banyak hal selalu mendapat perhatian dan perlakuan yang serius, apalagi hal itu sudah menimbulkan banyak masalah yang bisa membahayakan seseorang, keluarga, bahkan orang lain.., ya sudah, pasti dapat perhatian lebih.

Apa sih akibat dari stress itu? Wuahh, buanyak banget, dari yang hanya merugikan diri sendiri, sampai membahayakan banyak orang. Iya kalau cuma bunuh diri.., nah, yang paling menakutkan dan sudah sangat sering terjadi adalah, tiba-tiba si Stress ini datang ke suatu kerumunan, seperti perkantoran, sekolah, taman kota, dan secara brutal dar der dor nembakin orang.., ya banyak yang matilah mereka yang kena tembak.

Salah satu “kelanjutan” dari sakit pikiran alias stress, yang cukup banyak jumlahnya di Amerika adalah apa yang disebut HOARDING, dan pelakunya disebut kaum HOARDER..

Ini adalah sebuah syndrome, yang ‘penampakan” dari luar adalah, seseorang ini mempunyai kebiasaan “nyusuh” (bahasa Jawa) yang artinya adalah kebiasaan menimbun barang-barang apa pun di dalam rumahnya, sampai-sampai rumahnya-asli deh…- seperti TPA, alias Tempat Pembuangan Akhir sampah.

Bukan cuma itu, kadang dia juga memelihara pet yang beranak pinak, tanpa perlakuan yang selayaknya bagi petnya tersebut, seperti imunisasi, kebersihan kandangnya, kelayakan makanannya, dan lain-lain. Sebagai catatan, pet di Amerika, biasanya anjing atau kucing, bisa dibilang mendapat hak yang SAMA dengan manusia. Soal makanan, kesehatan, asuransi, kecantikan, gak boleh stress juga, maka harus diajak jalan-jalan, disekolahkan…he..he…

Kenapa sih bisa jadi Hoarder …?

Sepanjang yang aku simpulkan setelah melihat ulasan khusus yang ditayangkan secara berseri di sebuah stasiun TV, awalnya, si Hoarder ini adalah orang yang hidup secara lumrah, bersuami, atau beristri, punya anak, bekerja, dan seterusnya. Nah, setelah dia mengalami suatu peristiwa yang menekan pikirannya, maka, sedikit demi sedikit dia akan mengalami stress, depresi.., lengkap dengan timbulnya kecemasan yang luar biasa, khawatir yang luar biasa, panik, sakit kepala, putus asa..dan seterusnya.

Barang apa sih yang ditimbunnya…?

Whoalahhh..luar biasa deh, dari kaleng Pepsi, sandal jebol, buku-buku yang sudah bulukan, bungkus permen, boneka butut, pakaian yang wuakeh buanget alias buanyak banget, sampai barang macam kamera, radio lawas, barang-barang kristal, dan lain-lain.., hingga tak satu inchi dari rumahnya ini ada tempat luang. Jadi kalau dia orang mau masuk rumah, ya loncat jendela,dan langsung landing di barang-barang simpanannya itu.

Siapa saja yang bisa jadi Hoarder..?

Siapa pun, usia berapa pun, termasuk anak-anak, jenis kelamin apa pun…

Trus, memang kenapa kalau orang jadi Hoarder?

Bahaya lah.., banyak bahayanya. Tentu saja judulnya adalah TIDAK SEHAT. Gimana mau sehat, lha wong rumahnya aja bagaikan timbunan barang-barang sampah, yang banyak kemungkinan juga ada yang membusuk, kotoran hewan, sisa makanan, toilet yang wuampunnn deh.., dapur yang acakadut…

Debu, adalah yang utama, bisa menimbulkan masalah pernafasan, alergi, hingga sakit kepala. Bahkan katanya pernah terjadi, di mana akhirnya, anaknya si Hoarder ini, meninggal gara-gara kejatuhan box yang ditumpuk secara asal-asalan oleh ibunya.

Bahaya lain lagi..? Ya tentu saja rawan terjadi kebakaran.., gimana coba kalau tiba-tiba terjadi korsleting listrik di dapurnya, gitu.. dan kalau terjadi kebakaran, tentu saja bukan cuma membahayakan si Hoarder, keluarganya, tapi juga para tetangganya.

Apa kata ahli jiwa mengenai syndrome ini?

Seorang ahli Jiwa yang diwawancarai di TV berkaitan dengan penayangan soal Hoarder ini, menyebutkan, bahwa ini adalah “common illness in America”. Ini mungkin adalah bentuk dari Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Ini bukanlah kemalasan, tapi memang sebuah gangguan kejiwaan, yang gak akan sembuh, kecuali dia diberi perlakuan atau diterapi.

Jalan keluarnya, gimana..?

Nah, orang yang kayak gini, kan biasanya, selanjutnya akan ditinggalkan oleh suaminya, atau oleh istrinya. Dan bila dia punya anak, maka, anak-anaknya ini akan diurus oleh pemerintah. Bila memungkinkan, anak-anak akan diikutkan Bapaknya, bila Ibunya yang Hoarder, atau sebaliknya.., atau di”pelihara” oleh negara.

Sudah gitu, tetangga yang terganggu atas kebiasaan si Hoarder, biasanya akan melapor ke biro terkait. Dan di Amerika banyak voluntir yang akan benar-benar menolong si Hoarder ini.

Bagaimana menolongnya..?

Ingatlah bahwa Hoarder adalah orang “sakit”. Maka penyelesaiannya pun mengikutsertakan pihak-pihak yang berkompeten, seperti Dokter, Ahli Jiwa, dan bila punya, tentu saja keluarganya. Biasanya si Hoarder akan dimotivasi, misalnya, “kamu mau gak, anak-anakmu pulang bersamamu.., tapi kan rumah ini ga sehat buat anak-anak.., bagaimana kalau kita bereskan..?”

Dengan lembut…dengan tetap menghargai harga diri si Sakit, tidak ada cemoohan atau hinaan, apalagi kasar..!

Trus kalau si Hoarder setuju, ketika mau beres-beres, si Hoarder “dimanjakan” bagikan raja atau ratu, dia akan duduk-duduk saja melihat para sukarelawan membersihkan rumahnya, tentu saja seorang Dokter akan selalu ada pada operasi pembersihan itu, karena di tengah proses pembersihan, biasanya si Hoarder akan “bereaksi” seperti menangis, mengamuk, bahkan mencoba bunuh diri ketika barang-barangnya dibuang.

Maka, juga akan ditanyakan, barang-barang apa saja yang tidak boleh dibuang..? Ya, boleh sih, tapi jangan semua ga boleh dibuang ya..gitu.. Dan biasanya si Hoarder akan memilih-milih barang yang gak boleh dibuang, yang secara umum, mungkin bisa dibilang tidak berharga, tapi, tentu saja sangat berharga bagi si Hoarder, misalnya, ada kenangan yang indah dari barang itu.

Dalam salah satu tayangan di Tv, si Hoarder, seorang wanita, rela membuang barang-barang kristalnya, tapi tak rela, dan tetap mempertahankan sekardus baju bayi ketika pertama kali dia punya anak, dan saat ini, usia anaknya sudah 25 tahun.., berarti baju-baju bayi itu pun usianya sudah 25 tahun juga, kan..he..he.. dan kita tidak boleh sewenang-wenang main buang aja barang-barang milik si Hoarder ini, karena apa, karena jika kita “mencuri-curi” untuk membuang semua barangnya, ini malah akan memperparah “sakit” si Hoarder.

Pembersihan, akan dilanjutkan pengecatan, perbaikan yang diperlukan, dan tentu saja mengganti kasur dan perabotan, karena yang lama sudah amat sangat tidak layak digunakan.

Selanjutnya, janji akan dipenuhi, apa yang menjadi motivasinya semula akan dibuat nyata, misalnya, anak-anak akan datang ke rumahnya, kemudian menginap, kemudian mungkin menetap. Dan tentu saja, si Hoarder tidak cukup hanya dibersihkan rumahnya, diganti perabotnya, tapi akan terus dipantau, diterapi, dan mungkin juga dipadu dengan pengobatan medis lainnya, sampai dia dinyatakan “normal” kembali.

Sebuah pengakuan dari bekas Hoarder yang aku ingat, dia bilang gini, “Padaku, masih tetap ada kecenderungan untuk mengumpulkan barang-barang, tapi aku selalu berusaha keras, dan berpikir bahwa itu, tidak perlu…”

Ngik..ngok..! Nah, kalau dia sudah bisa bilang gitu, berarti dia sudah waras..he…hegud luck, selamat meneruskan hidup, dengan harapan yang terus berkembang lebih positif, menggunakan tenaga dan waktu untuk hal-hal yang lebih berarti…dan jangan lupa, jagalah jiwamu untuk tetap “sehat…”

Okay..kawan-kawan.., sekarang saatnya kita bertanya pada diri sendiri, apakah kita berbakat jadi Hoarder..?

Tapi yang jelas, mohon kesadaran dan kepedulian kita semua, bila di sekitar kita ada orang yang nampaknya stress, segeralah, sebisa mungkin ditolong, karena, dalam banyak kasus, orang stress tidak bisa “menolong dirinya sendiri..” harus dengan bantuan dari pihak lain.

Dengan membantu orang yang seperti itu, maka, sama saja, anda telah menolong menyelamatkan jiwa seseorang, dan jiwa-jiwa lain yang terkait (misalnya, keluarganya..).

Kurang lebihnya mohon maaf, ini cuma “hasil pengamatan”ku setelah berhari-hari nongkrongin TV yang mengulas khusus mengenai Hoarder, yaa, cuma pengen cerita-cerita saja…

___________________________________________________

Virginia,

Dian Nugraheni,

Jam 6.38 sore, hari Minggu, tanggal 3 Januari 2010

.

Minus enam derajat skala Celcius.., mesin pemanas di ruangan pun, cuma berhasil menyejukkan, bukan menghangatkan, apalagi memanaskan ruangan..brrr..huihhhhihh…

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

27 Comments to "Hoarder"

  1. reni  21 September, 2012 at 18:00

    keluarga kami nyebutnya ‘ngegombal’. fenomena ini biasanya terjadi pada anak2 dan orang tua. almarhumah ibuku suka marah sama ibunya (almarhumah nenekku) karena kebiasaan nyimpen aneka barang bekas. waktu ibuku wafat, kami menemukan banyak aneka gombalan di lemarinya.

  2. ugie  21 September, 2012 at 11:48

    Dian , mungkin semua ada bakat nyusuh ya? apa maneh nek alasanne ada nilai nostalgi nya .. hhahha

  3. lili  21 September, 2012 at 11:34

    pada dasarnya manusia ada bakat nyusuh kok… paling siip yo nyusuh DUIT…. ha ha ha .. coba lani bilang ga nyusuh bilang ga nyusuh…. nek di kasih duit yo pasti nyusuh lah…. opo maneh U$ ha ha ha…… lha pak Han aja termasuk nyusuh “saudara tua”

  4. Handoko Widagdo  21 September, 2012 at 10:57

    Lani, orang koplak gak bisa stres.

  5. Lani  20 September, 2012 at 23:53

    20 DA : wakakakak………rak sah melu2 aki buto…….dia itu kan usaha menghindar mengakui diri sendiri…….hahah la itu silent is golden…….I no follow 2X kkkkkk

  6. Lani  20 September, 2012 at 23:52

    21 HAND : nah, klu gabung disini malah jd STRESS………trs salah sapa?????

  7. Handoko Widagdo  20 September, 2012 at 17:05

    Mbak Dewi, kita jadi koplak karena mengoleksi Baltyrans. Makanya tidak bisa stres.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *