Tanjung Puting, Rumah Terakhir si Orangutan

Handoko Widagdo – Solo

 

Setelah hanya ditemani birunya Laut Jawa dan lambaian hangat gugusan pulau-pulau kecil, kami mendekati garis pantai. Dua muara sungai menyambut pesawat BAE Linus Airways yang kami tumpangi. Menyusuri muara Sungai Kumai, melewati tumbuhan hutan yang mencoba tumbuh kembali, kebun-kebun masyarakat dan akhirnya mendaratlah kami di Bandara Iskandar Pangkalan Bun. Bandara ini sekarang sudah bisa didarati pesawat jet.

Kunjungan saya ke Pangkalan Bun kali ini bukanlah yang pertama kali. Sejak enam tahun yang lalu saya sudah mondar-mandir ke Kabupaten Kotawaringin Barat ini. Saya sudah pernah membuat catatan perjalanan yang membahas tentang buah-buah eksotik Kalimantan (Tengah) yang saya temui. Sayang sekali tulisan tersebut dimakan virus dan saya tidak punya backup. Mungkin suatu saat akan saya tulis ulang. Masygulnya hati karena kehilangan file ini menjadi semacam kanker yang menghalangi kandungan untuk menghadirkan kembali anak yang hilang.

Taman Nasional Tanjung Puting adalah Taman Nasional yang didedikasikan secara khusus untuk pelestarian orangutan. Adalah Birute Mary Galdikas, salah satu dari tiga malaikat Leaky yang menemukan dan mendorong Pemerintah RI menjadikan wilayah yang mirip puting susu ini menjadi taman nasional. Dulunya, sebelum menjadi taman nasional, wilayah ini, sejak jaman Belanda, adalah Suaka Margasatwa Kotawaringin. Namun sejak pemerintahan Presiden Suharto, statusnya dinaikkan menjadi Taman Nasional. Dan namanya pun diubah menjadi Taman Nasional Tanjung Puting, karena wilayah taman nasional ini meliputi seluruh wilayah tanjung yang berbentuk puting di bagian selatan Pulau Kalimantan.

Bagi anda yang belum mengenal Birute, baiklah saya berikan beberapa informasi tentang dia. Louis Leaky adalah salah satu ahli antropologi yang disegani. Ia berteori bahwa ada keteraturan evolusi antara manusia dengan kera-kera besar yang ada saat ini. Ia menghabiskan masa produktifnya di Afrika untuk membuktikan teori tersebut. Louis Leaky mempunyai tiga murid, ketiganya perempuan, yaitu: Dian Fossey si peneliti gorila, Jane Goodall yang meneliti simpanse dan Birute Mary Galdikas yang meneliti orangutan di Kalimantan. Karena kegigihan dan keberhasilan mereka, biasanya mereka bertiga disebut sebagai Leaky angels, meniru Charley angels si tiga perawan pembasmi kejahatan anak buah Charley. Jadi tidaklah salah apabila berbicara tentang Taman Nasional Tanjung Puting harus juga bicara tentang Galdikas. Sampai sekarangpun seluruh hidupnya didedikasikan untuk menyelamatkan orangutan spesies Kalimantan di Taman Nasional Tanjung Puting.

Jika sudah sampai ke Bandara Iskandar di Pangkalan Bun, anda tinggal menyebut nama Ibu Profesor, atau Ibu Galdikas, atau Pak Bohap, maka semua taksi sudah tahu kemana harus mengantar anda. Pak Bohap adalah tokoh adat dayak yang menjadi suami Ibu Galdikas. Mereka tinggal di Desa Pasirpanjang. Di dekat rumah mereka, Ibu Galdikas mendirikan Care Center, yaitu semacam rumah sakit yang dikhususkan untuk memelihara orangutan-orangutan yang disita dari para pemburu atau yang diserahkan oleh pemiliknya secara sukarela. Di Care Center ini orangutan yang baru datang (kebanyakan bayi) diobservasi.

Observasi dilakukan untuk mengetahui apakah orangutan tersebut mengidap penyakit-penyakit tertentu, khususnya penyakit manusia. Pengawasan terhadap penyakit ini sangat penting karena nanti kalau mereka dikembalikan ke hutan tidak akan menulari orangutan liar dengan bermacam-macam penyakit tersebut. Care center juga berfungsi sebagai rumah perawatan bagi orangutan-orangutan yang biasanya dalam kondisi sakit ketika diserahkan. Banyak orangutan yang baru datang menderita patah tulang, luka menganga, atau gizi buruk. Di Care center ini mereka dirawat, diberi makanan bergizi untuk memulihkan kesehatannya. Setelah fisiknya bagus, orangutan-orangutan tersebut akan mendapat latihan untuk kembali berperilaku liar. Care center sendiri dihuni oleh lebih dari 200 ekor orangutan. Sehari-hari beberapa dokter hewan spesialis dan para perawat secara penuh waktu menjaga orangutan-orangutan tersebut.

Anda bisa menjadi orang tua asuh dari salah satu orangutan di Care center. Caranya ialah dengan mengadopsinya, membantu biaya perawatannya dan anda akan mendapatkan laporan perkembangan dari ’anak’ anda tersebut setiap bulan. Banyak artis Hollywood yang menjadi orang tua angkat di care center ini. Atau anda juga bisa memesan nama anda untuk menjadi nama salah satu orangutan yang ada di care center ini. Tentu saja jika nama anda ingin diabadikan menjadi nama orangutan, anda harus membantu pemeliharaan orangutan tersebut, dengan cara mengadopsinya. Itulah tempat pertama yang bisa anda kunjungi untuk sekedar berkenalan dengan orangutan.

Karena kedatangan pesawat adalah sore hari, yaitu kira-kira jam tiga sore, maka anda harus menginap di Pangkalan Bun. Ada berbagai hotel yang bisa anda pakai untuk menginap. Namun Hotel Blue Kecubung adalah hotel yang saya rekomendasikan. Selain hotel ini cukup mudah untuk dicari, kamarnya pun bersih. Sebenarnya anda bisa melanjutkan perjalanan dan menginap di Desa Sekonyer. Di Desa Sekonyer ada dua hotel di tepi sungai yang sangat nyaman. Hotel yang pertama adalah Ecolodge, hotel ini berada di rerimbunan tanaman rumbia –si palm rawa. Hotel kedua, tempatnya lebih ke dalam, dan lebih besar, adalah Rimbalogde. Hotel Rimbalodge menempati bangunan bekas tempat Seminar Kera Besar tahun 1985 yang diselenggarakan di Indonesia, tepatnya di Desa Sekonyer. Seminar kera besar itu sendiri dihadiri oleh hampir semua pakar kera besar dari seluruh dunia dan dibuka secara resmi oleh Menparpostel kala itu, Bapak Susilo Sudarman. Tentu saja seminar ini adalah atas prakarsa Ibu Galdikas. Di hotel ini anda bisa menemukan kamar-kamar tradisional berdinding bambu, tempat tidur berkelambu dan beberapa furnitur sederhana. Kamar mandinya standar hotel berbintang. Dan yang menarik lagi, anda bisa memesan kamar yang pernah ditiduri oleh berbagai artis Hollywood. Saya sendiri menginap di kamar Isabella Rosallini, si artis cantik keturunan Itali. Ada kamar lain dimana Brad Pitt, Julia Robert dan lain-lain, pernah menidurinya. Jadi jika anda adalah pemimpi, tidur di matras bekas mereka akan serasa tidur dengan mereka. Asyik kan?

Jika anda masih di Pangkalan Bun, untuk makan malam, anda bisa mencoba makanan laut. Pangkalan Bun adalah salah satu surga bagi penyuka makanan laut. Ada dua restoran yang menyajikan makanan laut dengan nuansa tradisional. Yang pertama adalah Kabonangan -restoran lesehan. Jika anda penyuka ikan bakar atau kepiting, restoran ini adalah pilihan yang tepat. Berbagai ikan laut, seperti senangin, kerapu dan lain-lain bisa disajikan dengan cara digoreng atau dibakar. Sambal terasi dan lalapan disajikan sebagai teman ikan bakar atau ikan goreng. Jika anda penyuka ikan air tawar atau udang, Restoran Prambanan adalah pilihan yang baik. Di restoran ini udang bakarnya sungguh menggugah selera. Ikan seluang dan berbagai ikan khas Sungai Sekonyer bisa anda nikmati di restoran ini. Banyak tempat lain seperti Kabonangan atau Prambanan yang bisa memuaskan makan malam anda.

Dari Pangkalan Bun anda bisa menyewa angkot ke Kumai. Dari Kumai menyewa boat ke Kamp Leaky. Kamp Leaky dulunya merupakan pusat penelitian perilaku orangutan yang dipakai oleh Ibu Galdikas. Nama Leaky sendiri dipilih sebagai penghormatan kepada sang guru. Saat ini Kamp Leaky, selain masih menjadi tempat penelitian juga merupakan tempat kunjungan wisata. Di Kamp ini anda bisa bertemu dengan orangutan yang sedang dalam proses peliaran. Anda bisa bergabung dengan tim yang memberi makan kepada orangutan-orangutan yang sudah setengah liar. Atau sekedar bercengkerama dengan beberapa orangutan yang tinggal di kamp, yang tidak mampu lagi menjadi liar.

Perjalanan dari Kumai ke Kamp Leaky sungguh menakjubkan. Mula-mula anda menyusuri muara Sungai Kumai ke arah selatan. Sungai ini besar karena Kapal RoRo dari Semarang bisa bersandar di pelabuhan Kumai melalui muara sungai ini. Karena muara ini langsung menghadap ke Laut Jawa, maka riak-riak ombak Laut Jawa masih terasa di boat kita. Getaran-getaran menjadi semakin besar saat kita menjauhi pelabuhan. Setelah memotong batang sungai, kita akan dibawa membelok ke kiri, memasuki Sungai Sekonyer. Sungai ini lebih kecil. Di kiri kanan sungai ditumbuhi rumbia dan beberapa pohon rawa yang cukup tinggi.

Setelah melewati Ecolodge, anda akan disapa oleh kera-kera ekor panjang. Kera-kera pemakan kepiting ini akan menyambut anda dari atas pohon diptesiocarpa yang muncul di antara rumbia, rotan dan jenis-jenis fiscus yang menghuni bibir sungai. Mereka akan memandang anda sejenak, dan selanjutnya tidak mempedulikan anda. Semakin ke dalam, kera-kera yang anda temui akan semakin banyak. Bahkan bekantan, si kera kuning berhidung panjang, bisa juga anda temui. Kera yang hanya ada di Kalimantan ini, pada sore hari akan berceloteh dengan riang. Mereka berloncatan menjauh apabila boat kita mendekat. Jika anda beruntung, di dekat Desa Sekonyer kadang-kadang bisa bertemu dengan buaya yang sedang berjemur di tepi sungai. Itulah sebabnya pengemudi boat memperingatkan anda untuk tidak melampaikan tangan keluar boat sejak saat mendekati Desa Sekonyer. Bisa-bisa tangan anda dianggap sebagai umpan bagi si buaya yang lagi menikmati matahari. Air sungai yang di hilir berwarna krem keruh, di bagian hulu ini menjadi coklat jernih, bagai coca-cola.

Seperti kunjungan-kunjungan sebelumnya, ketika boat kami merapat di Kamp Leaky, Siswi, si orangutan menyambut kedatangan kami. Siswi selalu menggandeng tamunya dan menuntun kami melintasi jembatan ulin meunju ke bangunan utama Kamp. Sesampai di Kamp, kami menuju ke salah satu bangunan berdinding kawat. Kami berada di dalam untuk menikmati kopi dan bekal makanan yang sudah disiapkan dari Kumai. Pada saat menyeruput kopi kami bisa menyaksikan si Kunyuk, Si Siswi dan kadang-kadang Kosasih. Atau mereka yang menyaksikan kami di dalam ’kebun manusia’? Karena sesungguhnya kamilah yang berada di dalam kerangkeng.

Kosasih adalah orangutan jantan yang dulu dominan. Dia pernah main film dengan Julia Robert dan menggigit cuping telinga Julia. Saat ini ia terlalu tua untuk tinggal liar di hutan. Itulah sebabnya ia kembali ke Kamp untuk pensiun. Meski sudah pensiun, Kosasih masih sangat disegani. Beratnya yang lebih dari 150 kg masih sangat berbahaya bagi pengunjung. Itulah sebabnya tak ada yang berani mendekatinya. Berbeda dengan Siswi atau Kunyuk yang lebih ramah, Kosasih masih sangat garang. Dengan Siswi dan Kunyuk, kita bisa minum teh bersama. Jangan harap hal itu terjadi dengan Kosasih.

Setelah sejenak beristirahat, kami diajak untuk menyaksikan feeding. Yaitu kegiatan untuk memberi tambahan makanan bagi orangutan yang sudah berada di hutan. Kami berjalan menyusuri jalan setapak. Jalan setapak ini berada dibawah rerimbunan batang-batang kayu hutan yang meredam matahari. Lumut-lumut berbagai jenis tumbuh di tanah dan di batang tersebut. Kadang-kadang kita harus memanjat melewati pohon roboh yang melintang. Atau sekedar meniti akar untuk menghindari tanah yang becek.

Setelah berjalan kira-kira 2,5 km, kami sampai ke tempat yang berpanggung. Panggung tersebut dipakai untuk meletakkan pakan bagi orangutan. Di dekat panggung terdapat banyak pohon besar dan sedang. Di antara pohon-pohon tersebut ada yang berakar gantung yang melambai dari atas ke dekat pangung. Pakan orangutan berupa buah-buahan, seperti pisang, mangga, kadang-kadang apel. Semua pakan diletakkan pada panggung terbuka. Kami duduk di batang kayu yang sengaja dilintangkan. Orangutan-orangutan yang mengikuti kami sekitar sepuluh menit sebelum kami mencapai panggung, segera saja berebut buah-buahan yang telah tersaji. Mula-mula orangutan muda dan betina yang masih menggendong bayi. Akhirnya, Win, seekor jantan dominan mendekat dengan suara yang gaduh. Ketika Win datang, semua orangutan lain menyingkir. Dia menjumput sesisir pisang dengan kaki kirinya. Menggenggam dua buah mangga di kaki kanan dan tangan kanannya, sementara tangan kirinya dipakai untuk memanjat akar gantung. Sejenak ia bertengger di dahan pohon tepat diatas panggung. Sambil menikmati buah-buahan yang sudah dicengkeramnya, matanya selalu awas untuk menjaga supaya tidak ada orangutan lain yang mendekat. Ketika seekor orangutan muda mencoba-coba, ia menghardik dan mengejarnya.

Setelah prosesi makan siang hampir selesai, Rini, seekor orangutan betina, menggendong anaknya yang berumur kira-kira 4 bulan mendatangi kami yang duduk di kayu yang dilintangkan. Dia duduk di sebelah saya. Buah mangga yang dibawanya diberikan kepada anaknya. Tangannya yang panjang berbulu menggapai mangga yang saya pegang. Saya sodorkan mangga kepadanya. Dikupasnya mangga tersebut dan dimakannya. Dia merasa nyaman duduk di dekat saya. Beberapa teman tersenyum dan mulai mengganggu saya.

Sambil mengambil gambar kami, mereka bergurau: ”Keluarga baru yang berbahagia”. Untuk menyambut gurauan mereka, aku letakkan tanganku di punggung Rini sambil mengelusnya dengan manja. Dan jepret-jepret-jepret, kamera-kamera teman-teman segera saja beraksi. Kami meninggalkan feeding station ketika matahari sudah mulai menerobos dari antara batang-batang. Ketika mendekati camp hari sudah gelap. Setelah menghangatkan perut dengan teh manis dan kopi, kami melanjutkan perjalanan pulang dari Camp ke Kumai dengan boat yang berpenerangan seadanya. Sayangnya deru mesin boat tak memungkinkan kami mendengarkan konser serangga hutan Tanjung Puting.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

87 Comments to "Tanjung Puting, Rumah Terakhir si Orangutan"

  1. Handoko Widagdo  31 August, 2013 at 07:33

    Saya tidak terlalu kenal dengan beliau, setahu saya beliau bekerja di Kaltim melalui Borneo Orangutan Survival. Ketua board of trusty dai BOS adalah Dr Bungaran Saragih, mantan Menteri Pertanian, temannya Josh Chen dan Iwan Kamah.

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH  30 August, 2013 at 17:27

    Berita terakhir dari Menteri kehutanan, dia bercerita bahwa aktifitas Ibu Galdikas tetap seperti sediakalanya, bahkan makin galak dalam melindungi orangutan. Soal dr. Smith mungkin Mas Handoko bisa menjawab,

  3. Swan Liong Be  30 August, 2013 at 17:22

    Saya pernah baca bahwa ibu Galdikas ini mendapat kesulitan dengan pemerintah dan hasil karya beliau terancam berhenti. Apakah ibu Galdikas ini achirnya bisa melanjutkan tugasnya yang sangat berharga iniß
    Satu lagi apakah pengasuh orangUtan asal belanda juga masih aktif diKalimanta, namanya Dr. Smit kalo nggak salah.

  4. IWAN SATYANEGARA KAMAH  30 August, 2013 at 16:50

    Gak….sepertinya sudah terlalu banyak tenang Tanjung Puting, karna ada Dr. Birute. Tapi yg di Sumatera sepi….

  5. Handoko Widagdo  30 August, 2013 at 15:23

    Oh… saya kira ada terbitan NG baru tentang Tanjungputing.

  6. IWAN SATYANEGARA KAMAH  30 August, 2013 at 08:35

    Ya Inggris lah…gak pernah yg Indonesia, meski gak bisa boso kresten aku. Banyak Mas Handoko, ada 4-5 edisi khusus orangutan.

  7. Handoko Widagdo  30 August, 2013 at 05:41

    NG Indonesia atau NG ver Inggris? Bulan apa?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.