Berguru, Berburu

Bagong Julianto, Sekayu – Muba-Sumsel

 

Alam takambang jadi guru. Pepatah utama urang Minang. Alam terkembang jadi guru. Bergurulah pada alam sekitar. Dengan menguak alam, menjelajahi alam ternyata mendapat (banyak) ajaran. Alam. Mengalami. Pengalaman.  Diri sendiri dan juga pengalaman lain orang.

Adalagi pepatah Melayu. Berburu ke padang datar, dapat rusa belang kaki, berguru kepalang ajar bagai bunga kembang tak jadi. Jadi kalau mau dapat rusa yang sempurna, berburulah ke padang bersemak onak duri. Kalau mau bunga itu berkembang sempurna, jangan tanggung-tanggung belajarnya.

Topik yang selalu hangat adalah berguru sehat, berburu kesehatan. Sehat jiwa raga. Badan kuat, jiwa sehat. Jika jajaran atlet bersemboyankan ‘Men sana ini corpore sano’, hal itu kiranya susah diterima jajaran gedibal pemangku kuasa negeri ini. Bagi atlit, di dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Lihat para koruptor kita. Mereka sehat badannya, wangi, trendy dan selalu hai sana hai sini.   Tapi sehatkah jiwanya?! Mereka mencederai semboyan itu!

1.    Makan Pisang, Medan Tahun 2000

Saya menjumpainya di pesta nikah adik sepupu di Medan. Kecil tapi bergaya perlente: sepatu kets, jean, lengan panjang digulung, rompi. Wadah kacamata gaya di i­­kat pinggangnya. Kedua anaknya lagi tampil. Yang laki pemain organ tunggal. Yang perempuan nyanyi. Lagunya: To Love somebody,  irama reggae. Total anaknya sembilan orang. Umurnya 70 tahun! Mata-telinga-gigi-lidah semua masih bagus. Aliran darahnya lancar dan kenceng! Biologis rutin dan menyenangkan, katanya. Ini yang gayeng!

“Kakakmu di rumah, minta terus….”, imbuhnya.

Kami berderai tawa di pojok.

Rahasianya?

Makan pisang dua buah setiap mau makan pagi, makan siang dan makan malam. Terbalik dengan kebiasaan banyak orang: makan pisang setelah makan makanan utama! Pisangnya pisang apa? Itu yang nggak sempat saya tanyakan. Takjub oleh usia dan vitalitasnya! Lupa tanya pisang apa…..

 

 2.    Ibadah-Jalan Pagi-Nggak Makan+Mandi Malam, Pekanbaru Tahun 2006

Saya menjumpainya di Pekanbaru. Saya lagi antri periksa dan berobat saraf tulang belakang. Dia ‘ngawani keponakannya. Umur 65 tahun, penampilannya seputar 55 tahun. Tegap gagah berkumis tebal ala Charles Bronson. Berjaket jean. Pensiunan AURI. Bermarga Tapanuli Selatan. Nggak pernah sakit.

Rahasianya?

Selesai sembahyang subuh, jalan-jalan pagi. Nggak ada olahraga khusus. Makanan nggak ada pantang, kecuali yang diharamkan agama. Seberapa dan apapun mau, makan saja. Ada perilaku khusus dan spartan: nggak makan besar selepas jam lima sore. Nggak mandi lagi selepas jam lima sore juga. Artinya: makan besar untuk malam sebelum jam lima. Mandi juga sebelum jam lima sore. Jika malam ada pengin makan, makan buah-buahan saja. Jika terpaksa pulang selepas jam lima, cukup bilas wajah seperlunya saja. Petuah nenek moyang, petuah kampung halaman, katanya.

 3.    Minum Makanan Kambing dan Sapi, Solo, Tahun 2009

Saya jumpa dengannya di warung HIK seputar Mangkubumen Kulon, pinggir rel sepur. Umur sudah 65 tahun dan masih kerja di bengkel arah timur Solo. Taukenya sudah kasih kebebasan. Mau kerja silahkan, mau istirahat silahkan. Kalau istirahat siang hari, sekedar pejamkan mata di kursi beberapa menit. Nggak sampai terjadi relaksasi atau bahkan sampai mendesis-mengorok-mendengkur. Gaji bulanan tetap diterima. Masuk golongan/kaum yang bagus kerja dan tetap disayangi taukenya. Anaknya dua, sudah kerja semua. Satu di Jakarta, satu di Solo. Isteri masih tetap jualan jajanan pasar. Secara ekonomis nggak ada beban, tapi toh tetap beraktivitas rutin. Sebelum kerja di bengkel, bantu isteri antar jajanan ke warung-warung. Selesai kerja sore hari, kutip hasil harian. Berkendaraan Vespa. Di rumah, bantu siapkan bahan hingga jam sepuluh malam. Tidur kelonan berdua mulai jam sepuluh malam. Jam empat pagi sudah beraktivitas lagi: bantu kesibukan isteri di dapur siapkan dagangan.

“Ada sakit penyakit ini-itu Pak?”, tanya saya.

“Nggak kenal dan nggak mau  sakit. Sudah 15 tahun lebih nggak pernah jumpai Dokter”, jawabnya.

Rahasianya?

Setiap pergi-pulang berkendaraan selalu cari rute baru yang diharapkan jumpa penggembala kambing dan atau sapi. Apa yang dikunyahmakan kambing dan sapi, dikutip dan dikumpulkan serta dibawa pulang. Bagasi Vespanya cukup luas lebar. Apapun dibawanya: rumput, semak, daun ranting. Asal dikunyah sapi dan atau kambing! Dia cobai mencecap dan merasai secara segar. Banyak aneka rasa dan aroma, katanya: pahit, kelat, asem, kecut, manis, getas, getir, penguk, langu dsb. Di rumah, diblendernya makanan mahluk bertulang belakang itu. Diminumnya juice hebat aneh tersebut. Menyegarkan, katanya. Rutin. Tiap pagi. Eksplorasi dan kreativitasnya bertambah. Dibuatlah kombinasi aneka rasa juice itu. Sekali saya ikuti tabiat sehat itu: blender rumput lulangan. Manis-asem-sepet rasa juicenya!

 4.    Renang , Mengunyah Makanan dan Sinshe, Sekayu 2012

Di kolam renang Sekayu, Juli 2012 saya jumpa dengannya lengkap: suami isteri dan sepasang anak. Isterinya nggak ikut nyemplung. Kami  renang di kedalaman sekitar dua meter. Si sulung, lelaki kelas  satu esempe, pandai dan kuat berenang. Si bungsu, perempuan masih TK, pakai pelampung di kedua lengannya.

“Saya belajar renang justru dari si kakak, Pak!”, katanya.

Lho?!

Inilah kesaksiannya lebih lanjut:

Saraf tulang belakang saya no 3, 4 dan 5, kata dokter, terjepit. Itu yang sangat menyakitkan saya beberapa tahun lampau. Mendera dan menyiksa saya selama masih dinas di perkebunan sekitar Baganbatu-Riau. Saya bisa lumpuh jika tidak segera diobati. Padahal kurang apa? Saya olahragawan,  walau amatiran saya mahir dan kuat bermain tenis, bulu tangkis, sepakbola, ping-pong, volley dan basket.  Saya rutin berolah raga, makanpun tidak berlebihan. Aktivitas di kebun juga mestinya menyehatkan.  Mengapa saya mesti dideritakan oleh terjepitnya saraf tulang belakang no 3, 4 dan 5? Kata dokter: jenis olah raga yang saya ikuti, itu semua beresiko. Penuh resiko bahkan, katanya. Singkat info, terjepitnya saraf, itu karena saya (nggak kidal) membebani kedua anggota badan (tangan dan kaki) secara tidak merata antara kanan dan kiri. Memang tangan dan kaki kanan saya lebih dominan saat berolah fisik tersebut. Berarti eksploitasi otot dan saraf tidak imbang antara kanan-kiri badan saya.

Berbilang bulan menderita sakit, saya menjalani pengobatan secara fisiotherapy di Pekanbaru. Merepotkan. Rasa sakit nggak berkurang juga. Vonis itupun datanglah! Operasi! Saya harus dioperasi untuk menghilangkan rasa sakit dan derita itu. Bukan pula di Pekanbaru. Saya diberi rujukan dan silahkan pilih: operasi di Jakarta, Medan atau Kuala Lumpur. Tentu saja saya pilih Medan! Keluarga, sahabat, kawan handai tolan,  dan kenalan saya bertaburan sekitar dan seputar Medan. Kata dokter:  peluang keberhasilan operasi adalah 50%! Lha?! Fifty-fifty untuk berhasil atau gagal! Sehat atau lumpuh! Berat bagi saya. Saya butuh tidak sekedar second opinion, pendapat+pandangan kedua! Saya butuh banyak masukan.  Juga opini.

Saya beruntung, bahwa keaktifan pelayanan rohani semasa kuliah dulu memberi hasil: banyak kawan yang jadi dokter memberi masukan dan pandangan.  Juga kawan dan sahabat dari berbagai profesi dan yang kaya pengalaman memberi masukan. Pilihan saya, akhirnya menyembuhkan saya! Secara pelan, pasti dan nyata! Saya tidak jadi operasi! Saya ikuti saran-saran kawan yang tahu dan ada pengalaman! Saya berobat ke sinshe, rutin berenang dua kali seminggu dan diajarkan untuk setiap makan mengunyah makanan minimal 28 kali tumbukan geligi atas dan bawah! Saya sembuh, sakit penyakit hilang! Sungguh berenang, mengunyah 28 kali dan obat sinshe itu memerdekakan saya dari sakit-penyakit saraf!  Saat berenang, seluruh otot kanan kiri badan dituntut untuk seimbang beraktivitas.

Tentang sehat, ternyata harus banyak berguru juga berburu. Berguru dari alam sekitar, berburu dari pengalaman (banyak) orang lain. Banyak cara. Banyak kemudahan dan kesempatan. Garis merahnya adalah rutinitas dan konsistensi. Keteraturan dan kuatnya kemauan. Terus selamanya belajar, berburu dan berguru! Sampai batas akhir! Jangan bosan membuka tabir alam! Jangan segan menelisik pengalaman orang!

 

Selamat beraktivitas!

Salam tetap sehat!

Sampunnn. Suwunnnnn. (BgJ, 06092012)

 

19 Comments to "Berguru, Berburu"

  1. Anoew  22 September, 2012 at 22:30

    ternyata pisang tak hanya disuka kaum hawa, pria juga gemar memakannya ya? lha baru tau saya kalau pisang banyak khasiatnya yang salah satunya buat pengganjal, di saat lapar.

    Kang Josh, kowe malah nyimpan pisang di mejamu waktu itu diam-diam saja, aku gk disuguh blas

  2. J C  21 September, 2012 at 15:27

    Mas BagJul, salut, salut, sampeyan berusaha mencari metode-metode yang unik, “aneh” dan “nganeh-nganehi” dengan logika dan metodologi yang pener (bukan bener, tapi pener ). Hasilnya memang nyata, setidaknya aku pernah ketemu sampeyan lha memang kelihatan seger…hehe…

    Wah, Kang Anoew segera kulakan pisang satu tandan (bukan satu sisir lagi), dan tanam pisang di halaman rumah…

  3. Bagong Julianto  21 September, 2012 at 11:59

    KangMas Dj…

    Setuju dengan upaya senantiasa mencari second, third, fourth opinion ect…….
    Saya punya staff, periksakan istrinya hamil usia 7 bulan. Dokter sampaikan: bayi sungsang, kasih saran: segera daftar operasi sama dia… Dua bulan lagi, sudah disuruh daftar! Akhirnya lahir normal…. dan dia juga ganti dokter lain……
    Kami saat sunatkan Agus dan sepupunya, juga “digiring” untuk pakai fasilitas “satu hari operasi”. Padahal tinggal cres-cres selesai…. Kami pindah RS, itu yang terjadi. Cres-cres-cres, besoknya mereka sudah nyaman beraktivitas ringan….

    KangMas, itu pengalaman operasi KangMas karena ada jaminan 98.5% berhasil. Dan memang berhasil. Saya percaya jika ilmu pengetahuan diamalkan secara wajar, pasti kemaslahatan yang diperoleh. Kenyataan yang terjadi adalah komersialisasi ilmu pengetahuan pada level yang nggegirisi….
    Di atas itu semua: hikmat, kuasa dan campur tanganNYa itu yang paling utama……

  4. Bagong Julianto  21 September, 2012 at 11:42

    mBak SU….

    Masih bergidik terapi urine?!…..
    Hehehe… nggak pa-pa… itu wajar…
    Nanti kalau sudah coba, dan ada manfaat..nggak dishare juga nggak pa-pa…
    Mama Agus sampai sekarang masih nggak rutin..
    Yang pasti, asmanya sudah bablas…
    Sebelum dia nekad terapi, asmanya relatif sering kambuh. Beberapa kali opname, pakai oksigen…
    Kalau kambuh: keringatnya melebihi basahnya mandi, napas mengkis-mengkis…, punggung dipaksa melengkung, jalan tertatih-tatih. Satu kesempatan di Semarang, (kontrol ulang operasi kista) asmanya kambuh. Itu hotel tanpa elevator, dari lantai 3, jalannya tertatih-tatih turun… Tanpa ngomong ke saya, pagi itu ditenggaknya urinenya. Sore dia sudah segar… Sampai sekarang, asal ada gelagat awal serangan, dia tahu obat penangkalnya…… Yang pasti: sejak saat itu, nggak ada lagi cerita opname di RS karena asma….

  5. Bagong Julianto  21 September, 2012 at 11:28

    Pak EA Inakawa….

    Pisang banyak khasiat…. yaaaa benar….
    Itu kebiasaan Kanjeng Nabi memang terbukti menyehatkan…
    Upaya harus sepanjang waktu… ini lingkar perut masih nggilani…..

  6. Bagong Julianto  21 September, 2012 at 11:21

    Mas Hand….

    Itulah nasib kambing Mas…
    Dia menemukan, tapi yang menikmati yang punya kumis dan pakai kacamata sambil ngitihik-ithiki Rini…..

  7. Bagong Julianto  21 September, 2012 at 11:19

    Linda Cheang!

    Selamat! Kayaknya Linda sudah punya kegiatan yang menyehatkan…..
    Aktivitas menyegarkan, makan nikmat, istirahatpun nyenyak……

  8. Bagong Julianto  21 September, 2012 at 11:14

    “Orang yang tidak banyak pikiran dan tidak banyak beban kehidupan…memang jauh dari penyakit…sepertinya orang orang yang pak Bagong jumpa adalah orang orang yang baru saja saya sebut…..”

    matahari,
    Mungkin saja mereka banyak pikiran dan banyak beban, tapi mereka bisa-pandai-ligat-cerdik-cerdas-proporsional menghadapinya….. Pula bersuka-cita apapun keadaannya?!
    Yang saya lihat adalah: mereka punya keteraturan-konsistensi dan semangat….. Itu peminum makanan kambing+sapi adalah contoh yang komplit….

  9. Bagong Julianto  21 September, 2012 at 11:06

    Alvina VB…

    Ya. maunya fit…. Tapi godaan TV dan main domino/margap/batu masih diupayakan untuk ditumpas. Masih suka begadang lewat jam 01.00 dinihari….

    Kalau Alvina sudah punya banyak modal untuk melancarkan tekanan darah itu! Selamatlah!
    Coba dishare…. mungkin dilengkapi dengan data general check up?!
    Suka donor darah? Kalau rutin dilaksanakan (setiap 2,5 bulan, 300 cc), efeknya juga bagus….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.