Mei-mu, Mei-ku

Fikrul Akbar Alamsyah

 

“Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri” ― Pramoedya Ananta Toer

 

Bulan Mei, bulan penuh kenangan. Rasanya tak perlu di sebut dengan detail kembali apa yang terjadi beberapa waktu yang lalu, sudah banyak yang memperingatinya, sudah banyak pula yang melupakannya. Sebuah keberanian atau mungkin orang oportunis akan mengatakan kenekatan yang tidak perlu, meski begitu dari ketidak perluan itulah perubahan bisa terjadi, bisa merubah kondisi yang nyatanya akan sulit di ubah oleh generasi sebelumnya.

Up and Down

Kekuasaan yang berkepanjangan hanya akan membuat lemah, ya …. lemah. bukan lemah secara kemampuan militer atau kemampuan dalam mengambil keputusan akan tetapi lemah dalam memperhatikan apa yang benar. Mereka yang saat itu berkuasa bukanlah iblis yang sekehendak hatinya menyingkirkan yang tidak sependapat, akan tetapi tidak bisa dipungkiri sudah ada pembelokan terhadap tujuan yang semula. Sudah jadi kesepakatan bahwa negeri ini dibangun atas azas demokrasi yang seharusnya tidak sekehendak hatinya untuk dikangkangi selama 30 tahun lebih, saya yakin awal menjabat tak ada niat untuk mengangkangi selama itu, tapi kenyamananlah yang membuatnya lemah dan lupa.

Sebuah sistem dari manusia dilahirkan / dibuat tentunya tidak memiliki kesempurnaan layaknya Tuhan (bagi yang mempercayai) yang Maha sempurna, sebuah sistem dari manusia tentunya memiliki berbagai kelemahan yang mana tak ada habisnya jika dikorek dan dicari. Meski begitu mental korupsi tidak hanya dilahirkan dari sistem yang lemah akan tetapi dari adanya niat dan kemauan atas hal seperti itu, manusia bukanlah binatang yang tidak bisa berpikir dan berbuat untk menentukan mana yang baik dan yang seharusnya dilakukan meski tak ada aturan yang mengekang. Moralitas bagi saya adalah kuncinya, moral untuk mempertegas apa yang ada di hati nurani niscaya semakin kabur saat terlalu berkuasa.

Jas Merah

Sebaik-baik manusia terlalu lama berkuasa dan dekat dengan kenyamanan, ikut arus adalah sebuah pilihan yang mudah untuk diambil. Sebuah keputusan yang baik jika ikut arus dalam hal yang baik, akan tetapi bukan hal mudah bagi moralitas lemah (termasuk saya) untuk menghindari hal-hal yang kurang baik. Butuh usaha keras untuk merubah, dan bagi orang terdahulu (saya tidak mengatakan kaum tua akan tetapi siapa saja yang terlalu lama dlam kenyamanan yang menghanyutkan) itu tdk mudah. Bagi siapa saja yang berjiwa muda perubahan adalah biasa, merubah hanya mampu dilakukan untuk orang berjiwa muda, untuk Pemuda.

Bersemangatlah untuk memastikan bahwa hidup harus bermanfaat dan berjuang sekuat-kuatnya sebelum realitas membenturkanmu dengan kebutuhan-kebutuhan dunia yang akan memusnahkan apa yang ada sewaktu muda.

“Hidup harusnya bermanfaat” –> (entah untuk siapa hahaha…. :D)

Salam…

Cause everybody hurt

 

 

Minggu 13 Mei 2012, 07.15 WIB

Terinspirasi setelah baca ini http://baltyra.com/2010/05/14/mei-mei/

 

11 Comments to "Mei-mu, Mei-ku"

  1. Anoew  22 September, 2012 at 22:24

    kemarin Anoew baru memposting soal kerinduannya sama kepemimpinan Soeharto, memang diakui, lebih tentram di banding sekarang

    Wik, jangan salah. Aku rindu jaman kepemimpinan Soeharto lebih dikarenakan di jaman itu, apalagi di saat-saat awal beliau menjadi presiden, aku masih menerima uang jajan dari uang tua. Sekarang lain lagi, tak bisa seperti itu lagi, harus mencari uang sendiri supaya bisa jajan. Dan itu menyedihkan.

    Mas Fikrul, tulisannya menarik. Menarik disimak juga menarik buat diingat. Memang sejarah tak boleh dilupakan karena, dari situlah hari ini dan esok ada.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.