Innocence of Muslims

Juwandi Ahmad

 

Film Innoncence of Muslims telah berhasil, sukses melebih apa yang diharapkan pembuatnya: kemarahan, anarkis, dan demonstrasi besar-besaran oleh jutaan umat Islam terutama di negara-nerara Timur Tengah, bahkan Dubes Amerika untuk Libya tewas. Bahwa itu hanya sebuah film, menjadi menarik untuk dibicarakan.

Mudahnya Memproduksi Penghinaan

Saya telah meluangkan waktu untuk menonton Innocence of Muslims. Dan yang paling saya sesalkan bukan apa yang oleh banyak orang disebut sebagai penghinanaan terhadap Nabi Muhammad atau Islam, tapi kualitas film yang sangat buruk, baik dari segi acting, alur, setting, costum dan tata rias. Kalau saja digarap dengan serius mungkin kekecewaaan saya tidak bertambah-tambah. Dan tentu saja saya sangat faham bahwa untuk melakukan penghinaan tidak perlu perencanaan serius, dana yang besar, atau pertimbangan artistik. Bukan bagaimana agar sebuah film menarik, berkualitas, tapi apa yang perlu ditunjukkan untuk menimbulkan kemarahan. Semakin anda dapat melekatkan hal-hal lucu, irasional, naif, kotor dan konyol pada simbol-simbol suci keagamaan, akan semakin berhasil penghinaan dan pelecehan yang anda lakukan. Misalnya, membuat gambar Ka’bah dengan sekumpulan anjing dan tentara Amerika berada di atasnya, mengincingi kayu Salib atau membuat patung Budha bertato wanita telanjang.

Ego-Keterikatan

Ego-Keteritakan membuat penghinaan terhadap Muhammad akan terasa olehmu lebih menyakitkan dari penghinaan orang terhadap ibu, ayah, keluarga dan bahkan dirimu sendiri. Dari segi ajaran, Islam menempatkan kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya di atas segala-galanya. Secara psikologis, Muhammad bukanlah orang Arab yang telah berlalu di masa silam, melainkan jiwa yang ada dan hidup dalam struktur kesadaran dan ketidaksadaranmu. Mengapa engkau marah saat Muhammad dihina, dan bersikap biasa saja ketika Yesus dilecahkan? Ya, karena Yesus tidak ada dalam struktur kesadaran dan ketidaksadaranmu. Yesus tidak menjadi bagian dari jiwa dan hidupmu. Ego-keterikatan terhadap jiwa-jiwa di masa lalu yang hidup dalam stuktur kesadaran dan ketidaksadaranmu, akan mendorongmu untuk membela orang-orang yang bahkan tidak dapat lagi kau jumpai tulang-belulangnya di pekuburan. Ada dasar dan mekanisme psikologis bagi keterikatan antara jiwa-jiwa yang telah pergi dengan jiwa orang-orang yang masih tinggal.

Nalar-Perbandingan

Berbeda dengan Ego-Keteritakan yang membuat penghinaan terhadap Muhammad akan terasa olehmu lebih menyakitkan dari penghinaan orang terhadap ibu, ayah, keluarga dan bahkan dirimu sendiri, dari segi Nalar-Perbandingan penghinaan terhadap Nabi Muhammad hanyalah serupa lalat yang hinggap di halaman istana nan megah. Saat engkau telah mencapai kesuksesan dan melakukan hal-hal besar dalam hidupmu, namun dihina, dilecehkan oleh orang-orang yang belum menghasilkan hal-hal penting dalam hidupnya, maka tersenyum adalah tindakan yang paling pantas untukmu. Sebab dengan kebesaran yang kau miliki, tak lagi pantas bagimu untuk menengok, mendengarkan, menanggapi penghinaan dari orang-orang yang derajatnya dalam banyak hal jauh tertinggal di belakangmu.

Bila Tuhan saja memuji Muhammad dan meninggikan namanya, apalah artinya penghinaan orang yang dialamatkan kepadanya. Dari segi Nalar-Perbandingan itu, penghinaan terhadap Nabi Muhammad, al-Qur’an atau Islam hanyalah serupa lalat yang hinggap di halaman istana yang megah. Seorang raja tidak akan merasa terhina dan mengerahkan bala tentaranya untuk membunuh sekor lalat yang mendarat di halaman istananya. Tanyakan kepada para penghina Muhammad, apa yang telah mereka lakukan untuk manusia, sejarah dan peradaban? Apakah mereka telah merubah manusia, sejarah dan peradaban? Apakah nama mereka terpampang di dinding dinding rumah, disebut, diagung seluruh penjuru bumi? Apakah mereka membawa sebuah kitab yang jutaan orang dengan penuh cinta belajar mengeja huruf dan membaca kalimat-kalimatnya meskipun tidak tahu artinya? Nalar-Perbandingan membuatmmu merasa bangga dan berharga menjadi umat Muhammad, tanpa harus melakukan tindakan-tindakan berlebihan yang justru akan merendahkamu.

Nalar-Perbandingan dan Ego-Keterikatan

Kau dapat mengungkapkan Ego-Keterikatanmu tanpa harus mengabaikan Nalar-Perbandingan. Hanya dengan begitu, kau masih dapat masuk dalam daftar orang-orang yang beradab, berpikir jernih dan rasional yang merupakan tanda keislaman yang sangat mendasar. Penghinaan terhadap Nabimu sama sekali bukan alasan, dan bahkan suatu kesalahan bila kau bertindak membabi buta.

Penghinaan Terhadap Semua Agama

Dalam konteks hubungan antar agama, kata toleransi sering ditekankan sebagai cara atau sikap menghindari kemungkinan benturan. Padahal, tolerasi adalah konsep yang sudah kuno dan tidak lagi relevan dengan konsepsi baru tentang bagaimana kita hidup bersama, co-existence. Kita harus melompat lebih jauh, bukan hanya tolerasi yang sering kali semu, dipaksakan, dan penuh prasangka, melainkan bekerja sama secara tulus untuk mewujudkan misi dan nilai-nilai universal dari semua agama: keadilan, kesejahteraan, penghargaan, cinta dan kedamaian untuk semua orang, setiap agama dan bangsa. Mendasarkan pada konsepsi ini, penghinaan terhadap satu agama harus dimaknai, disadari sebagai penghinaan terhadap semua agama, termasuk penghinan terhadap nabi atau orang-orang suci. Juga dengan segala bentuk tindakan ketidakadailan dan kesewenang-wenangan terhadap umat agama apapun, dan dilakukan oleh siapapun adalah musuh bagi semua agama. Ini hanya mungkin terjadi bila kita juga menghayati, belajar merasakan, dan memasukan nilai-nilai universal semua agama dan jiwa orang-orang suci agama lain dalam struktur kesadaran kita.

Dunia yang Kontradiktif

Keadilan, kesejahteraan, penghargaan, cinta dan kedamaian tidak akan mungkin hidup secara masal disemua tempat, dimuka bumi ini. Akan selalu ada benturan dengan mengatasnamakan agama, kepentingan politik, ekonomi dan budaya. Akan selalu ada kebencian antara satu umat dengan umat agama yang lain. Akan selalu ada kepentingan identitas keagamaan yang menyembul melalui politik, ekonomi dan kebudayaan. Akan selalu ada dorongan untuk mengalahkan, menguasai, menghapus kelompok lain. Demikianlah sifat khas dari kehidupan yang akan selalu menunjukkan wajah kontradiktifnya yang tidak akan pernah dapat dihapuskan, meskipun kita sangat menginkannya. Kita hanya perlu menempatkan diri, mengambil bagian dari suatu arus yang kita percaya sebagai tindakan-tindakan luhur yang menjadi tanggung jawab setiap manusia. Saya kira, hanya dengan begitu kita dapat menemukan arah dan arti kesejatian diri yang memungkinkan kita dapat mengucapkan selamat tinggal pada dunia, pada banyak orang dengan hati yang puas lagi diberkati.

(International Herald Tribune)

Demi waktu
saat cahaya masih belia
dan malam apabila telah sunyi
Sungguh, Tuhanmu tidaklah meningalkanmu,
dan tidak pula membencimu, dan bahwa akhir
lebih baik dari permulaan. Akhir lebih baik dari permulaan.
Berdirilah dengan keteguhan, dan kelak Ia akan
memberimu karunia dan kemualiaan yang memuaskan hatimu.
Ingatlah ketika Ia mendapatimu sebagai anak yatim,
dan Ia selalu melindungimu.
Ketika Ia mendapatimu dalam kebingungan,
Ia datang memberimu petunjuk.
Dan ketika Ia menjumpai dalam kekurangan,
Ia hadir memberikan kecukupan.

 

Note Redaksi:

Juwandi Ahmad, selamat datang dan selamat bergabung ya…make yourself at home. Ditunggu artikel-artikelnya yang lain. Terima kasih Dewi Aichi yang sudah mengenalkan Baltyra ke Juwandi Ahmad.

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

32 Comments to "Innocence of Muslims"

  1. Juwandi Ahmad  26 September, 2012 at 21:03

    Pak DJ…
    Selamat malam dari Jogja. Sama-sama Pak, saya juga senang sekali boleh berkenalan dengan Bapak. Wah, kalau saya seusia dengan putra Bapak yang no 2, wah Bapak dah kenyang ini makan garam kehidupan: ya sebuah alasan terbaik untuk belajar banyak dari Bapak. Saya orang Jawa Pak, lahir di Palembang dan besar di Jogja. Dan berarti Jogja sama sama berarti buat kita pak. He he he ngarit (cari rumput) mengingatkan masa kecil saya. Ok Pak terimakasih. Salam sejahtera, sehat, dan semoga hari hari bapak dan keluarga menyenagkan.

  2. Dj.  26 September, 2012 at 11:33

    Mas Juwandi….
    Selamat Pagi dari Mainz….
    Dj,. juga senang boleh berkenalan dengan anda yang Dj. lihat dari kalimat-kalimat yang anda tuliis
    sangat bijaksana.
    Dj. asal daari Semarang mas, tapi kalau mudik ya selalu ke Jogya, karena Jogya, banyak kenangan untuk kami sekeluarga.
    Benar, anda seumuran dengan anak kami yang nr. 2 ( si Dewi )
    Tapi tidak jadi masalah untuk Dj. mau dipanggil apa saja, kan kita sudah kenal.

    Okay, Dj. sudah harus siap-siap untuk ngarit.
    Salam Sejahtera dari Mainz.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *