Latihan, latihan…

Anwari Doel Arnowo

 

Ketrampilan apapun akan bisa mencapai tahap mahir apabila melalui setiap tahap latihan dan latihan dan latihan, sampai tua.

Saya sudah berumur sekian ini toh masih diwajibkan, oleh keperluan saya sendiri, untuk tetap latihan dan latihan tanpa berhenti, baik fisik maupn mental.

Masa? Apa saja?

Fisik? Saya berjalan kaki setiap saat saya sempat dan kondisi alam menunjang . Selama lebih dari lima belas tahun, sejak tahun 1998an,  saya berjalan kaki berolah raga, tetapi sejak satu bulan yang lalu saya sudah mulai disuntik di lutut saya kanan dan kiri masing-masing lima kali, untuk diisi dengan pelumas. Lebih dari satu tahun terakhir saya selalu menghindari konsultasi dengan dokter dan tentu saja saya tidak mengonsumsi obat dari dokter, karena saya tidak menemui dokter. Saya upayakan hidup sehat dan membebaskan pikiran-pikiran dari yang ruwet-ruwet dan justru menambah jumlah tulisan setiap saat saya sempat.

Mental? Saya siapkan diri menghadapi risiko hidup paling maximum. Apa itu? Berhenti Hidup atau Mati!

Sebelum mati saya siapkan hampir setiap hari dengan cara mengisi pengetauan yang banyak berlalu lalang di sekitar, saya olah di dalam pikiran dan kemudian saya tuangkan dengan daya pikir sendiri menjadi tulisan yang sudah ratusan jumlah judulnya itu. Saya tidak bisa mengingat lagi, meskipun telah dibantu oleh ratusan Giga bytes jumlahnya disimpan di dalam Flash Disks, External Hard Disk serta hardisk di dalam Desk Top Computer. Itulah bukti perangkat software saya pribadi, yang nyata-nyata bukan buatan manusia, yang sudah melemah. Alat-alat penyimpan memori buatan manusia sudah demikian  banyak volumenya, jenisnya dan kecanggihannya, akan tetapi apa daya bila ingatan nama filenya saja SUDAH LUPA?

Mau buka file yang mana, tentang apa? Saya lupa …..  Ada teman yang merasa ingin mendapat komentar dari saya, tetapi saya sedang temporarily blank or a little black out atau sedang hang sementara, sang teman tidak sabar, mendesak apa komentar saya. Mungkin saya waktu itu sedang konsentrasi untuk sesuatu yang lain, maka sang teman merasa dilecehkan hanya oleh karena tidak mendapat jawaban dari saya. Salah terima seperti ini bisa saja terus berkelanjutan di kedua belah pihak, padahal kedua belah pihak sudah ikut berkontribusi terhadap karut marut yang terjadi itu. Saya hang, dia juga hang. Dua-duanya merasa benar sendiri. Bagaimana cara mengobati situasi seperti ini? Menurut saya: ciptakan time out sendiri dulu, kemudian belajarlah agar bisa mentertawakan (ini ejaan yang benar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia 2012) diri sendiri. Kalau sudah mampu melihat bagaimana lucunya anda sendiri ketika sedang hang, ha ha ha maka akan turunlah ketegangan yang ada. Maafkanlah (cukup di dalam batin sendiri saja) pihak lain itu sebelum dia minta maaf. Maka datanglah sebuah dunia yang damai dan aman setelah itu, meskipun dia sudah lupa dan tidak kunjung juga meminta maaf.

Latihan-latihan dengan tata cara dan gaya di atas telah menyelamatkan saya selama ini dari dunia pergaulan yang ada di sekeliling saya, dengan saudara, famili dan teman-teman, yang sudah muda maupun yang masih tua, ha ha. Kan kadang-kadang saya gunakan juga nama julukan untuk diri saya: AWETTUA. Itu nama yang membuat hati saya terasa nyaman. Mungkin anda nanti setelah mencapai umur setara saya, akan mentertawakan apa yang saya tulis ini.

Bukalah link berikut:

dan

Bukankah jelas bagaimana latihan sejak kecil itu akan bisa membuktikan bahwa sesuatu capaian akan terwujud dengan nyata apabila dilakukan berlatih sejak dini sampai kapanpun. Sampai umur yang lanjut sekalipun dapat anda nikmati di link yang berikut:

Anda yang kini sedang berada di usia antara dua video pertama dan dua video terakhir, jangan berputus asa karena sebab apapun. Keempat link itu telah membuktikannya.

Selamat merenungkan dan segera memanfaatkan waktu anda menuju ke tingkat tepat guna.

 

Anwari Doel Arnowo – 13 September, 2012

 

21 Comments to "Latihan, latihan…"

  1. Anwari Doel Arnowo  25 September, 2012 at 23:56

    Mas Bagong Julianto,

    Kesempatan atau peluang itu seperti bola berbulu yang sedang melintas di hadapan kita. Ternyata bagian belakang bola itu gundul. Saat itulah paling tepat segera bergerak mengulurkan tangan untuk merengkuh dan menggenggam bola tersebut. Atau malah kehilangan kesempatan baik ini sebab kemungkinan tidak akan berulang.lagi.

    Best regards / Kirim Salam,
    25/09/2012 – 23:50
    Anwari Doel Arnowo Awettua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.