Back to Jogja (4): Perjumpaan Kembali dengan Jadah Tempe

Anastasia Yuliantari

 

Artikel sebelumnya:

Back to Jogja (1): Di Antara Panasnya Udara

 

Kenangan bukan sesuatu yang bisa disepelekan. Bisa kenangan apa saja, dari tempat, peristiwa, bau, dan juga rasa yang dikecap oleh lidah. Kenangan akan Jogja begitu beragam menyesaki sebagian besar ruang memoryku. Pahit dan manis mengisi hari-hari masa laluku.

Beruntung aku dapat kembali tinggal di Jogja untuk beberapa lama, rasanya masih seperti mimpi saja. Semua terasa mendadak tanpa direncanakan, namun kenyataan yang meyakinkanku bahwa akhirnya diriku memang telah seminggu menghirupi udara Jogja yang khas.

Pagi ini dibuka dengan kedatangan adikku ke kamar di saat subuh. Tak ada keadaan emergency apapun selain keluh kesahnya karena Blackberry miliknya kembali blank. Kekesalannya membuatku membuka mata yang terasa masih berat, kutunjukkan rasa prihatin, sebelum beranjak ke dapur untuk mengambil segelas air hangat untuk membasahi kerongkonganku yang terasa kering.

“Kita ke pasar aja, yuk.” Ajakku melihatnya masih mengutak-atik gadgetnya sambil cemberut.

“Nantilah, tunggu sampai jam setengah tujuh.”

Aku mengangguk dan kami kembali bercakap-cakap tak tentu arah. Pasar Banteng memang mulai ramai sekitar jam enam pagi. Pasar itu hanya berjarak 200 meter dari rumah adikku.

“Gimana kalau kita ke pasar Kolombo, aja?” Usul adikku saat medengar jam berdentang enam kali.

“Wah, boleh juga, tuh. Tapi kita jalan aja ke sana, kan?” Tanyaku.

“Yup. Himmy biar tinggal di rumah sama Parmi aja.” Parmi adalah asisten rumah tangga adikku.

Ternyata Himmy, anak tunggal adikku, memang tak mau ikut ke pasar. Dia tahu harus berjalan sekitar satu kilometer ke pasar Kolombo. Selain itu, banyaknya orang yang beraktivitas di pasar tak begitu disukainya.

Matahari sedang tertutup awan ketika kami berangkat ke pasar. Begitu keluar pagar kami bertemu dengan orang-orang yang menenteng buku sambil bercakap-cakap. Kebanyakan di antara mereka telah berusia lanjut. “Mereka baru pulang dari gereja Banteng.” Kata adikku. Rumahnya memang tak begitu jauh jaraknya dengan gereja Banteng.

Begitu sampai di pasar, sasaran pertama adalah jajanan. Ada sebuah lapak di pinggir Jalan Kaliurang, tak begitu jauh dari pintu pasar, yang menjual aneka kue basah. Kami memilih lopis, arem-arem, serabi yang cara membungkusnya digulung daun pisang, risoles, dan dadar gulung. Anggapan kami, begitu jajanan dibeli acara belanja sayur untuk dimasak akan lancar karena keinginan ngemil lebih mendominasi acara belanja daripada tujuan semula untuk membeli bahan-bahan buat masak.

Kami memang tak melirik macam-macam jajanan yang dijual di dalam pasar. Pengunjung yang semakin ramai, banyak di antaranya yang mengendarai motor di dalam pasar, benar ini, mengendarai motor di tengah lalu-lalang orang di dalam pasar karena tempat parkirnya mungkin jauh di dalam sementara pedagang meluber di pinggir-pinggir jalan, membuat kami bergegas pergi.

Tapi tunggu dulu, adikku melihat pedagang baceman dan tiba-tiba berkata, “Kita beli lauk untuk makan pagi dulu, ya. Aku pingin tempe bacem.”

Otomatis aku mengikutinya, dan olala!!! Ternyata Si Ibu penjual baceman juga menjual jadah yang dikepal-kepal dan diletakkan di atas helai-helai daun. Bukankah ini makanan khas Kaliurang? Jadah tempe yang terkenal itu?

Jadah adalah ketan yang dicampur dengan kelapa dan sedikit garam. Bila kebanyakan jadah diiris segi empat membentuk kotak, jadah khas Kaliurang ini ditumbuk lembut, lalu dibuat bulat setengah gepeng serta diletakkan di atas lembaran daun.

Sementara pasangannya, yaitu tempe dibacem atau direbus dengan gula merah dan bumbu-bumbu sehingga tampak kecoklatan serta berasa manis sekaligus gurih. Cara makannya dengan cara direkatkan antara jadah dan tempenya. Rasanya sungguh nikmat, apalagi bila dinikmati di tempat wisata Kaliurang yang dingin dengan ditemani secangkir teh panas.

Aku sudah mulai melirik-lirik jadah yang tampak menggiurkan ketika adikku bertanya, “Kamu mau baceman apa?” Ada tiga macam makanan yang dibacem: tempe, tahu, dan apa, sih satunya ini?

“Gembus, Bu.” Jawab penjualnya.

Dari dulu aku sudah tahu tempe gembus, tapi tak pernah tertarik untuk mengecapnya. Jadi, “Rasanya gimana, sih?”

“Coba aja.” Si penjual tiba-tiba mencuilkan tempe dan mengulurkan padaku. Sebagai catatan, si penjual mengenakan sarung tangan plastic bening. Wah, kemajuan besar untuk kebersihan jualannya dan alamak sekarang tersedia tester pula.

Berbeda dengan kenanganku akan tempe gembus yang dulu terasa asin dan tak begitu cocok di lidahku, tempe tester ini rasanya enak sekali. Manis-manis gurih. Seketika aku memesan dua potong.

Saat adikku ragu-ragu untuk membeli jadah, Ibu penjual itu juga segera mencomotkan sepotong makanan dari ketan itu. Jadah juga ada testernya, bayangkan service yang semakin canggih ini!

“Wah, engga apa-apa, nih Bu pakai tester segala?” Tanyaku sambil mengunyah baceman gembus.

“Ya ndak papa, to Mbak. Kan, biar tahu rasanya sebelum beli.” Jawab ibu penjualnya.

Dua jempol untuk pelayanan yang istimewa. Siapa pun akan merasa puas memperoleh service sekeren ini di sebuah pasar tradisional.

Bisa ditebak, akhirnya aku membeli lima potong jadah beserta pasangannya, yaitu tempe bacem plus empat potong tahu. Harga makanan itu hanya sepuluh ribu.

Sambil menenteng belanjaan kami meninggalkan pasar Kolombo. Aku sudah tak sabar menikmati potongan kenangan dalam wujud jadah tempe yang menggiurkan.

 

29 Comments to "Back to Jogja (4): Perjumpaan Kembali dengan Jadah Tempe"

  1. Anastasia Yuliantari  26 September, 2012 at 13:29

    Anoew, tak pikir serasa bantal….hahaha.

  2. Anastasia Yuliantari  26 September, 2012 at 13:29

    Mas Bagong, terima kasih infonya ttg jadah bakar di Solo. Pasti Anoew dan Pak Hand sdh juga merasakannya…hehee. Layak dicoba tuh kapan2.

  3. Anastasia Yuliantari  26 September, 2012 at 13:27

    Mas Sumonggo, lha sebenernya cuma buat gaya, abis itu lomboknya buat sambel…ehhehe.

  4. Anastasia Yuliantari  26 September, 2012 at 13:27

    Pak Hand, ya Pak. Pasar Kolombo.

  5. Anastasia Yuliantari  26 September, 2012 at 13:26

    Henny, aku juga hobby makan tempe, hehehe. Lebih menggoda drpd tahunnya.

  6. Anastasia Yuliantari  26 September, 2012 at 13:25

    Yu Lani, lha kapan leh pulkam. Jadah bakare selak gosong nek ora cepet mulih ki…hahaha.

  7. Anastasia Yuliantari  26 September, 2012 at 13:24

    Silahkan Pak DJ, masih manget2, lho….hehehe.

  8. Anastasia Yuliantari  26 September, 2012 at 13:23

    Pampan, sini tak lempar ke S’pore. Kalo ga nyampai ke sini aja langsung, ada penerbangan Jogja-S’pore daily, lho.

  9. J C  26 September, 2012 at 13:22

    Bulan depan, tanggal sudah pasti, yang penting: TAON PIRO?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.