Seksi Mencubit Diskusi

Alfred Tuname

 

Hiruk-pikuk kota pelajar berjalan lambat. Tidak lagi tampak anak muda yang hilir-mudik menjejakkan langkah di jalan-jalan sempit dekat kampus. Biasanya, mereka mampir di tempat fotocopy sekadar menggandakan jurnal. Atau beramai-ramai di lobi kampus yang megah.

Kios-kios penduduk sudah tutup. Sepi seperti tak berpenduduk kota ini. Deru sebuah sepeda motor akan menimbulkan gema pada bangunan-bangunan penduduk yang nyaris tak berpenghuni. Sebagian penduduk sedang berpindah kota. Merayakan hari Kemenangan bersama sanak-keluarganya. Hari kemenangan adalah yang tepak untuk berkumpul.

Sebagian orang menyerbu tempat-tempat belanja. Maklum, di hari besar seperti ini, banyak ditemukan barang berdiskon. Pengidap compulsive buying disorder sangat menggilai momen ini.

Di tengah kota yang lengang dan sepi, beberapa pemuda tidak suntuk untuk mengisi waktu. Mereka memperbincangkan sesuatu. Lompatan pembicaraan bergerak dari satu tema ke tema yang lain. Semacam diskursus.

Asap rokok terus mengepul di bibirnya ketika Rebilus mengurai tema diskursus sore itu. Rebilus seorang aktivis jungkitan di kota ini dan kader partai politik. Sebagai seorang kader partai politik, ia melahap setiap jengkal ideologi Soekarnoisme. Bahkan hampir sama seperti Soekarno, ia membaca Das Kapital ketika sahabat-sahabatnya terlibat aktif dalam romantisme pacaran. “Sebuah habitus yang naif”, komentar sahabat-sahabatnya yang menganggap diri mereka modern.

Flabi adalah tandem diskusi Rebilus yang asik. Prinsipnya, carpe diem. Sepertinya ia juga pengikut Soekarno, tetapi pada sisi yang berbeda. Flabi senang berbicara tentang perempuan. Perasaannya yang smooth membuatnya sangat mengagumi perempuan. Banyak perempuan dekat padanya. Tetapi tidak seperti Soekarno yang mencintai para gadis, Flabi lebih tertarik pada perempuan yang lebih ber-umur dari padanya. Katanya, “mereka lebih perhatian dan penyayang”. Mungkin lantaran ia terlahir sebagai juru kunci.

Berbeda dengan Flabi, seorang pemuda bernama Krenus adalah seorang anak yang memberi nama sapaan kepada ayahnya. Ia anak pertama dari dua bersaudara. Keluarganya mekar di bawah panji keberhasilan progam Keluarga Berencana pada masa Orde Baru. Dengan badannya yang gemuk, ia seorang yang mudah bergaul dan gemar bicara. Ia senang membicarakan topik-topik yang hangat dibicarakan dalam televisi. Maklum, televisi hampir menjadi agama baginya. Setiap saat ia selalu “menyembah” televisi. Televisi membuat dirinya seakan terselamatkan dari derita masyarakat tanpa informasi nasional maupun global.

Pembicaraan sampai pada topik-topik bertenaga, tentang compang-camping politik di daerah. Mereka membicarakan sebuah gugusan pulau pecahan “Sunda Kecil” yang mengapit negara Timor Leste dan bertetangga dengan propinsi yang punya julukan miris, “Nasib Tergantung Bali”.

“Begini kawan”, kata Rebilus, “kita harus membedakan posisi seseorang ketika ia menjadi pejabat negara. Seorang kepala dearah itu berbeda dengan kader partai, meksipun partai kami sebagai partai pemenangya”.

Jawaban Rebilus itu bermula dari perntanyaan Krenus tentang seorang pejabat gubernur yang diduga telibat kasus korupsi.

Mendengar jawaban itu, Krenus dan Flabi saling melirik. Dalam pikiran mereka, syaraf pikir orang ini mudah dipancing. Sekali buang umpan, lansung ditelan. Mungkin begitulah tabiat aktivis, selalu liar-menggeliat.

Di selang waktu itu, Rebilus menambah jawabannya. “Seorang kader partai harus mengakhiri pengabdianya kepada partai ketika ia sudah menjadi pengabdi rakyat. Maksudnya, kepala daerah. Ia dipilih secara lansung oleh rakyat, jadi ia harus mengabdi kepada rakyat”.

“Mantab jawabanmu, kawan. kalau saja kawan di daerah, pasti sudah jadi PNS saat itu juga”, Krenus mencoba memuji.

“Sori kawan, saya tidak bercita-cita jadi seorang PNS, kecuali kalau menthok”.

Krenus dan Flabi meledak tertawa. Rebilus pun juga turut tertawa. Mungkin maksudnya memang hanya untuk sebuah candaan.

“Dasar aktivis picisan”, ejek Flabi

“Bukan begitu juga kawan. Kalau negara membutuhkan tenaga saya, yah, mengapa harus ditolak?”

“Ya ya ya, negara memang butuh tenaga”, sela Krenus, “Tetapi aparatur negaranya butuh uang. Minimal amplop kecil”.

“Maksudnya?”

“Uang foto copy, mungkin?”, flabi mencoba masuk pada pembicaraan.

“Boleh jadi begitu. Sekarang, kalau benar-benar niat jadi menggunakan seragam kuning itu, orang harus punya setumpuk uang kes. Anggap saja judi. Kalau rezeki, pasti masuk. Kalau tidak, berarti ada yang bayar lebih besar. Itu saja”, Krenus menjelaskan dengan menggebu-gebu.

Rebilus mengangguk-anggukkan kepala. Seolah-oleh dia baru mendengar tentang cerita lama itu.

Oh itu berarti ketidakjesalan dan tipu-tapu hari kabar lulus calon PNS itu ada hubungannya dengan tebal-tipisnya amplop ya?”, tanya Flabi.

“Ya iyalah. Tebalnya amplop dapat memerintahkan komputer untuk mengubah nama calon di  data base.”

Rebilius masih terdiam. Dia asik mendengarkan kedua kawannya berdialog. Jari telunjuk dan tengahnya menyentuh kumis tipisnya setelah rokok menyentuh bibirnya. Arabica memberi aroma nostagik sekaligus pelengkap pada diskusi politik lokal malam itu.

Wuies… seksinya…”

Ekspresi erotis Flabi tiba-tiba memecah arah diskusi. Lenggak-lenggok langkah ibu kos menyita perhatian. Ibu kos datang ke arah datang ke arah mereka. Pandangan mata Flabi semakin fokus. Sinar matanya menghujam tubuh ibu kos. Ternyata ibu kos datang untuk mengingatkan Krenus untuk menagih uang listrik pada teman kosnya yang lain. Lalu, tanpa basa-basi lain, ibu kos pergi.

“Mirip Yuni Sara, yah?”, komen singkat Krenus meminta persetujuan.

Tiba-tiba listrik mati.  Gelap. Hanya ada cahaya handphone. Sepertinya negara tidak ingin lagi mendengar ocehan dan kritik mereka. Flabi yang kompleks-oedipus pun tak diizinkan berkomentar tentang kejadian yang baru tadi. Suasana sontak hening dan senyap. Mereka menanti cahaya yang memekakkan mata.

 

Djogja, September 2012

Alfred Tuname

 

14 Comments to "Seksi Mencubit Diskusi"

  1. Bagong Julianto  25 September, 2012 at 14:29

    Seksi mencubit diskusi….
    Senang sekali ngithik-ithiki dik Susi…..

  2. Lani  24 September, 2012 at 22:48

    11 KANG ANUUUU: botak krn membaca tulisan Alfred????? Setauku mmg udah ada bakat botak dr sononya????? hahahaha………pissssssssssss!

  3. anoew  24 September, 2012 at 20:45

    Rebilus
    Krenus
    Prengus
    Mak Plenthus

    Krenus = ??
    Jelas sudah itulah Kang Josh Buto, badan tinggi besar dan yang hampir tiap hari melototi televisi.

  4. anoew  24 September, 2012 at 20:40

    Hahaha aseli, seksi abis nih artikel.. Lincah, menarik dan selalu mancing senyum. Tumben amat, Al? Biasanya nulis yang serius di “IW”, sampai-sampai botaklah kepalaku mencernanya baaah!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.