Lintas Melawi dan Ella (3): Lancang

Christiana Budi

 

Artikel sebelumnya:

Menikmati Keindahan dan Aktivitas di Aliran Sungai Melawi (1)

Menikmati Keindahan dan Aktivitas di Aliran Sungai Melawi (2)

 

“Lancang” merupakan peti mati khas masyarakat Dayak Kebahan Koba di wilayah kecamatan Ella, kabupaten Melawi.

Jika dilihat secara sepintas lancang tidak ada bedanya dengan peti orang mati yang biasa dilihat namun yang membedakan adalah dibuat semasa orangnya masih hidup. Lancang merupakan peti mati yang dipersiapkan secara adat istiadat, dibuat saat orangnya masih hidup dan dipesan oleh pemakainya sendiri.

Peti mati (lancang), dibuat untuk orang yang sudah lanjut 70th ke atas dan merasa sudah siap untuk meninggal. Untuk pembuatannya lancang harus dipestakan, dalam adat istiadat Dayak terkenal dengan “gawai” (pesta adat masyarakat Dayak), gawai dilakukan dari pencarian kayu sampai selesai dibuatnya lancang. Pembuatan lancang dilakukan secara gotong royong membutuhkan waktu berkisar antara 2-4 minggu dan gawai pun dilakukan selama itu juga dan tiap hari. Dalam pelaksanaannya gawai selalu ada arak dan pemotongan binatang seperti babi, ayam dll.

Kayu untuk lancang dicari kayu khusus yaitu kayu ulin atau tebelian, dan mereka mencarinya harus dari hutan. Ukuran lancang diukur sesuai dengan pemiliknya dan diberi bansi (kelebihan ukuran sekitar 10cm). Setelah lancang selesai dilakukan peresmian secara adat dengan menempatkan orang di sampingnya untuk mencoba lancang, apakah pas atau tidak, jika tidak maka tidak dipakai namun selama ini selalu pas sesuai ukuran.

Peresmian lancang dilakukan secara adat yang dilakukan saat selesai pembuatan dan jika bersamaan dengan gawai yang biasa dilakukan tahunan untuk gawai panen maka gawai akan dilakukan secara besar-besaran. Dalam gawai itu dilakukan proses sengkelan lancang. Proses sengkelan merupakan proses memandikan lancang dengan darah binatang sepert babi, ayam dll dan ini merupakan keharusan yang harus dilakukan. Proses pemandian hanya dilakukan dengan membaluri bagian-bagian saja tidak disiramkan. Sengkelan merupakan ritual adat, maksud dan tujuan dari proses sengkelan adalah untuk membersihkan dari roh jahat karena lancang merupakan barang yang akan digunakan orang meninggal sehingga diyakini ada roh jahat. Proses peresmian harus diikuti dengan tarian adat.

Contoh lancang yang di gambar di atas adalah untuk nenek yang sudah berumur 90th. Alasan untuk pembuatan lancang disiapkan dari awal karena bahan kayu yang sulit didapatkan, rumit dan pembuatannya serta harus ada pesta adat yang disertakan. Proses penyimpanan lancang harus terbuka, tidak boleh dipasang tertutup. “Mali” jika ditutup kata orang Dayak kebahan koba yang artinya tidak boleh, sebab jika ditutup maka akan “brantu” atau berhantu dan biasanya lancang akan berbunyi-bunyi mengeluarkan suara pada malam hari jika ditutup. Dan di atas lancang ditulis nama orangnya dan tanggal pembuatan dari lancang.

Ada teknik pemakaman lain yang ada di Dayak Kebahan kKba adalah dibakar. Pemakaman ini biasanya hanya orang-orang tertentu yang punya nenek moyang mereka dahulu dibakar kemudian keturunannya mengikutinya, saat ini yang sudah mempunyai permintaan dibakar hanya 1 orang dan sudah berumur 100th (Nenek Kintan). Teknik pembakarannya tidak secara langsung ketika saat meninggal, tetapi dikubur dahulu ketika sudah tinggal tulang diangkat dan dibakar, biasanya penguburan dilakukan paling lama 1 tahun.

Setelah dibakar abu ditempatkan di tempat seperti tempayan dan ditempatkan di pondok di pemakaman khusus. Di pondok pemakaman ternyata tidak hanya yang dibakar namun juga tulang-tulang yang tidak dibakar yang dikumpulkan dari orang-orang terdahulu yang sudah meninggal tapi tidak di pemakaman umum, dikumpulkan jadi satu dan ditempatkan di satu tempat.

Itulah sepenggal kisah dari suku Dayak Kebahan Koba yang ada di wilayah Kecamatan Ella, Kabupaten Melawi Kalimantan Barat. Indonesia kaya dengan budaya dan adat istiadat bukan?

 

Sintang, 10 Septeber 2012

Christiana Budi

 

31 Comments to "Lintas Melawi dan Ella (3): Lancang"

  1. christiana budi  26 September, 2012 at 15:32

    @mbak lani …pertanyaannya lagi adalah siapa yang kasih tahu itu ya hehehehe….pak han ngapak tidak berlaku untuk aku ya hehehehe

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.