Para Pembesar yang Tidak Kunjung Dewasa

Juwandi Ahmad

 

Setelah memberikan ulasan singkat tentang Innoncence of Muslims, saya menonton televisi yang membuat saya terkejut: demonstrasi memprotes film Innoncence of Muslims merebak, memanas dimana-mana di Indonesia. Bahkan di antaranya diwarnai bentrok dan tindakan anarkis. Lebih mengejutkan, para pemuka negeri ini, termasuk presiden Yudhoyono juga tak jauh beda dengan demonstran: hanya menekankankan bahwa film Innoncence of Muslims adalah penghinaan terhadap nabi Muhammad, terhadap Islam, dan harus dikecam, tanpa memberikan pandangan yang mencerahkan bagi rakyat. Umat Islam tak perlu lagi dipanasi. Mereka akan berdemontrasi dengan sendirinya.

Ketika Pribadi Melebur Dalam Massa

Semakin besar dan massal perhatian hanya tertuju pada pemahaman bahwa Innoncence of Muslims adalah penghinaan terhadap nabi Muhammad, dan terlebih dikuatkan dengan pandangan para pembesar negeri yang sempit, tidak mencerahkan, maka umat Islam seolah mendapat pembenaran untuk bertindak anarkis. Mereka akan semakin berani dan bertindak gila karena tidak ada lagi tanggungjawab pribadi, yang ada adalah tanggungjawab bersama. Saat pribadi-pribadi melebur ke dalam massa, segala hal buruk dapat terjadi. Adakah yang lebih gila memprotes sesuatu yang tidak jelas asal-usulnya, yang ada jauh disana, dengan membuat kerusakan di kampung sendiri? Dan adakah yang lebih tidak masuk akal, dari para pembesar negeri yang justru ambil bagian dari kegilaan ini? Allah Robbi, sesat pikir apalagi yang membuat-Mu masih bersabar.

Ini bukan hanya masalah film Innoncence of Muslims, melainkan juga nalar umat yang perlu didewasakan. Silahkan protes, tapi jangan anarkis. Silahkan mengutuk, mengecam, tapi berikan juga pencerahan kepada umat. Setahu saya, Tuhan menciptakan otak manusia bukan dari kaleng, tapi mengapa sulit sekali diajak berpikir sedikit lebih cerdas dari simpanse. Saya tidak tahu harus bicara apalagi, dan karenanya saya hanya berharap Tuhan yang katanya maha mendengar dan maha mengetahui, dapat menangkap niat baik saya atas nama kecintaan kepada Muhammad, al-Qur’an dan Kemanusiaan.

Allah Robbi,
Janganlah Engkau hukum aku
atas kelupaan dan kebersalahanku,
Janganlah Engkau timpakan padaku beban berat
sebagaimana beban yang Engkau timpakan kepada orang-orang
sebelumku yang telah berlalu.
Allah Robbi,
Janganlah Engkau letakkan beban yang
aku tak sanggup memikulnya. Maafkalah aku. Ampuni aku.
Dan rahmatilah Aku. Engkaulah penolongku,
dan kerenanya tolonglah aku dari kekafiran yang kian beragam.

 

23 Comments to "Para Pembesar yang Tidak Kunjung Dewasa"

  1. Juwandi Ahmad  26 September, 2012 at 20:49

    he he he, kalau yang nyatet amal baik saya Dewi Aichi, waduh jangan deh: nggak valid he he he

  2. Dewi Aichi  26 September, 2012 at 10:28

    Wakakakka….saya catet deh mas Juwandi…kalau saya yang nyatet pake tinta emas lho…

  3. Juwandi Ahmad  26 September, 2012 at 10:23

    Mas Nugroho Arief: saya setuju sekali dengan pandangan anda. Pak Dj: ha ha ha ha. Seolah olah kalau sudah bertindak atas nama agama sudah religius pak. Dan setahu saya, Allahu Akbar itu artinya Allah Maha Besar, tapis sekarang kok lain ya: Serang..! Bakar..! Bunuh…! Kafir..! “Roh memang penurut, tapi daging lemah.” Boleh tahu arti, tafsirya pak? Mas Cechgentong: jangan di booking semualah malaikatnya. Nanti yang nyatet amal baik saya siapa ha ha ha ha ha…..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *