Tentang Sebuah Foto

Wesiati Setyaningsih

 

Saya jarang nonton televisi. Begitu juga anak-anak. Tontonan yang paling sering kami tonton hanya On The Spot karena memberikan informasi dan menghibur.

Suatu kali On The Spot menayangkan tema tentang foto-foto fenomenal. Karena selalu menonton tivi dengan sambil lalu, saya tidak menonton seluruh acara. Saya hanya sempat menonton tentang foto seorang anak kecil kelaparan dengan di belakangnya ada sebuah burung pemakan bangkai. Gadis kecil itu lemah karena kelaparan sehingga tidak mampu berjalan mengambil makanan ke pusat pembagian makanan. Dinarasikan bahwa gadis kecil dalam foto itu kemudian meninggal sementara Kevin Carter sang fotografer akhirnya mendapat Pulitzer Prize atas foto tersebut. Carter mendapat kecaman dunia karena bukannya menolong gadis itu malah memotretnya. Akhirnya Carter bunuh diri karena merasa bersalah tidak menolong gadis tersebut.

Penasaran dengan foto yang ditayangkan di On The Spot kali itu, saya googling mencari foto tersebut dan kisah akhir hidup Kevin Carter.

Dari Wikipedia saya temukan bahwa Carter sedang memotret kondisi kelaparan di Afrika saat seekor burung pemakan bangkai muncul di dekat gadis yang terduduk lemas karena tidak mampu lagi berjalan menuju tempat pembagian makanan. Benar bahwa Carter menerima berbagai kecaman karena bukannya menolong gadis itu dan malah memotretnya. Dia tak ubahnya burung pemakan bangkai yang ada di belakang gadis kelaparan tersebut. Foto tersebut muncul pertama kali di majalah Times dan ratusan orang segera menghubungi Times menanyakan nasib gadis tersebut namun disebutkan bahwa nasib gadis tersebut ‘unknown’. Tidak seperti di tayangan On The Spot yang mengatakan gadis kecil dalam foto tersebut meninggal.

Menurut seorang teman Carter yang waktu itu ikut bersama dia, mereka sedang berada di Sudan ketika hal ini terjadi. Mereka ke Sudan bersama PBB dan mendarat di Sudan tanggal 11 Maret 1993. Pihak PBB menginformasikan bahwa mereka akan terbang sekitar 30 menit kemudian sehingga mereka bergegas mencari obyek yang bisa difoto.

PBB sedang mendistribusikan makanan. Para perempuan penduduk Sudan bergegas keluar dari pondok mereka untuk mengambil makanan ke pesawat. Anak kecil itu terpuruk lemah karena kurang gizi dan tidak mampu mengikuti orang tuanya yang sedang mengambil makanan dari pesawat.

Menurut fotografer tersebut, Kevin sendiri shock melihat kejadian di sana. Dia segera mengambil gambar dan kemudian mengusir burung pemakan bangkai yang ada dalam foto sebelum akhirnya kembali ke pesawat.

Sementara di daerah yang sama, dua fotografer Spanyol, José María Luis Arenzana dan Luis Davilla, juga mengambil foto yang hampir sama di pusat pembagian makanan. Sebagaimana diceritakan dalam berbagai kesempatan, kejadian itu berlangsung di pusat pembagian makanan dan beberapa burung pemakan bangkai di sana. Sebenarnya yang memotret kejadian di sekitar pusat pembagian makanan adalah dua fotografer Spanyol tersebut dan bukan Kevin Carter karena dia memotret di sekitar pesawat pendistribusi makanan dari PBB. Jadi sepertinya apa yang disampaikan dalam narasi di On The Spot itu tidak sepenuhnya benar.

Dikatakan lebih lanjut bahwa memang di sana banyak anak-anak yang kelaparan yang terduduk lemas dengan posisi seperti itu di Sudan, begitu juga burung pemakan bangkai. Foto yang diambil oleh Kevin Carter itu seandainya dilihat dari situasi yang sebenarnya adalah, burung itu ada di belakang gadis itu sekitar 20 meter. Cukup jauh. Namun kalau keduanya dijadikan dalam satu frame, akan tampak bahwa burung pemakan bangkai mengincar anak kecil yang kelaparan. Demikianlah bahasa gambar bisa menimbulkan persepsi yang berbeda dari realitanya.

Kevin meninggal pada 27 Juli 1994 karena bunuh diri dengan memasukkan selang knalpot ke mobilnya dan keracunan karbon monoksida. Sebelum meninggal dia menulis :

I am depressed … without phone … money for rent … money for child support … money for debts … money!!! … I am haunted by the vivid memories of killings and corpses and anger and pain … of starving or wounded children, of trigger-happy madmen, often police, of killer executioners … I have gone to join Ken (temannya yang sudah meninggal Ken Oosterbroek) if I am that lucky.”

Dia mengeluh depresi karena terbayang-bayang pada semua kenangan mengerikan tentang pembunuhan, mayat-mayat, kemarahan, kepedihan, anak-anak yang kelaparan dan terluka. Tak heran, sebagai wartawan berita Kevin Carter pasti banyak melihat peperangan dan kelaparan. Ditambah lagi dengan masa kecilnya di Afrika Selatan di mana dia dilahirkan. Meski dia lahir dari kelas menengah atas yang tinggal di lingkungan perumahan dimana seluruh penduduknya adalah orang kulit putih, namun tetap saja dia melihat berbagai konflik sosial sejak kecil.

Setelah ini, saya kira saya akan tetap menonton acara ini. Bagaimanapun tayangan ini menghibur dan setidaknya aman ditonton anak-anak karena tidak ada umpatan, konflik yang berlebihan dan kekonyolan lain seperti sinetron. Cuma selanjutnya saya akan lebih hati-hati untuk tidak menelan mentah-mentah informasi yang diberikan. Bila ada kesempatan, mencari informasi tambahan tetap lebih baik. Selain menambah wawasan, siapa tahu saya jadi tahu latar belakang kisah yang ditayangkan di dalam On The  Spot.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

16 Comments to "Tentang Sebuah Foto"

  1. Anung FP  27 September, 2012 at 09:59

    @wsiati;
    ————————-
    Setuju comment 12, seandainya yang di photo cuman gambar bocah saja sudah bikin “mbrebes mili”, ditambah photo burung pemakan bangkai memang tambah dramatis!, cerita Photographernya yang meninggal lebih dramatis lagi…

    Ulasannya bagus, trimakasih uda berbagi…

  2. Dj.  26 September, 2012 at 00:04

    Mbak Wesiati…
    Terimakasih ya, untuk ceritanya….
    Menurut Dj. kita tidak bisa menghakimi photographer, disini si Kevin.

    Memang benar, dalam satu kejadian, bisa dilihat dari bermacam kacamata.

    1. Mungkin pengambilan photo dimaksudkan untuk menggerakan hati penonton.
    Agar mau mengulurkan tangan kasih untuk tempat-tempat kelaparan seperti di Sudan.

    2. Apakah bear Kevin tidak menolong…???
    Bisa jadi setelah ambil photo, dia juga berusaha untuk menolongnya.

    3. Kemungkinan untuk bisa menolong sehingga anak tersebut bisa kembali sehat, akan banyak
    memakan waktu. Dan belum tentu berhasil, anak tersebut menjadi kuat dan sehat kembali.
    Melihat keadaan anak tersebut yang sudah begitu parah dan tidak dekat dengan rumah sakit atau puskemas.
    Disana hanya diceritakan tempat pembagian makanan saja.
    Apakah hanya dengan makan saja akan menjadi sehat…???
    Belum tentu kan, tapi tidak tertutup kemungkinan, si anak akan menjadi kuat kembali.

    4. Dj. rasa, untuk Dj. Dj. akan berterima kasih kepada Kevin yang telah mengambil gambar ini.
    Karena dengan adanya photo ini, maka banyak orang yang melihat, juga akan berpikir lagi untuk
    menolong mereka yang kelaparan dan bukan hanya marah dengan yang ambil photo.
    Dj. yakin, Kevin memiliki maksud yang baik.
    Sayang dia bunuh diri.

    Salam manis dari Mainz.

  3. Christiana Budi  25 September, 2012 at 22:29

    mbak..seringkali foto bisa bercerita walaupun tanpa kata kata

  4. J C  25 September, 2012 at 20:24

    Wesiati, yang jelas aku emooooohhh suruh foto-foto si Anoew… girap-girapen…

  5. wesiati  25 September, 2012 at 20:18

    pelajaran dari ini semua adalah, saat kita melihat foto, persepsi kita beda-beda. apalagi ketika persepsi yang beda itu dilebih-lebihkan untuk mendapatkan efek dramatis. memang posisi anak yang duduk lemah menunduk begitu banyak terjadi di Sudan yang waktu terjadi kelaparan itu. burung pemakan bangkai juga banyak di sana. tapi waktu kejadian foto itu, burungnya jauh dari si anak kecil itu, tapi karena tampak dalam satu frame, itu yang diblow up orang-orang bahwa burung itu sedang menanti untuk memangsa si anak kecil itu. padahal bukan gitu ceritanya….

    kita memang harus lebih hati-hati menilai sebuah foto

    *ngomong-ngomong, jadi pengen banget liat burungnya mas anoew… mau buktiin burung beneran apa anak ayam.

  6. Kornelya  25 September, 2012 at 19:43

    Foto, merekam peristiwa, mewartakan fakta. Salam.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.