Draupadi (6)

Chandra Sasadara

 

Artikel sebelumnya:

Draupadi (1)

Draupadi (2)

Draupadi (3)

Draupadi (4)

Draupadi (5)

 

Ratu Sudesha bukan perempuan jahat, aku yakin permaisuri Raja Wirata itu pasti telah menasehati adik kandungnya untuk tidak menggangguku. Selain aku hanya  seorang perempuan biasa dari kasta rendah, Ratu Sudesha juga percaya bahwa aku adalah istri raksasa kejam yang setiap saat bisa datang ke Kota Raja Matsya dan menghancurkan isinya. Namun aku ragu nasehat Ratu Sudesha didengar oleh adiknya. Kicaka bukan jenis laki-laki yang akan menyerah dengan nasehat perempuan, meskipun hal itu berasal dari kakak kandungnya. Ia akan tetap menggodaku sampai hasrat kelaki-lakiannya bisa dilepaskan.

Kicaka tidak perlu menggodaku kalau hanya ingin mendapat perempuan cantik di negeri kakaknya ini. Matsya negeri yang banyak dihuni oleh perempuan cantik. Namun sungguh aneh mengapa orang dengan kekusaan besar seperti Kicaka masih mau menggodaku yang hanya bekerja sebagai pembantu kakaknya. Apakah penyamaranku tidak cukup baik untuk menutupi asal-usulku sebagai Permasisuri Indrapastha. Aku tidak mengerti, begitu besarkan daya pikatku sebagai perempuan terhadap laki-laki.

Selama ini Kicaka memang hanya menggoda dengan mata, mulut dan  bahasa tubuh kepadaku. Tapi aku yakin suatu saat ia pasti akan bertindak lebih jauh. Aku tidak berani membayangkan apa yang akan menimpaku kalau sampai Kicaka melakukan pemaksaan dan bertindak kasar. Bagaimanapun aku tetap harus melindungi penyamaran para Pandawa. Satu bulan bukan waktu yang lama, tapi sikap Kicaka kepadaku membuat waktu bergerak sangat lambat. Ingin segera aku mendengar desing Gandiwa dan suara melengking Terompet Perang Dewadatta Arjuna. Dua benda perang yang akan digunakan sebagai tanda berakhirnya masa penyamaran kami di Negeri Matsya.

Malam itu, seorang emban datang ke bilikku untuk memintaku datang ke Ratu Sudesha. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa permaisuri itu akan memintaku untuk mengantar minuman di bilik Kicaka. Senapati Negeri Matsya itu sedang menyelenggarakan pesta minum di bilik pribadinya kata permaisuri. Nyawaku hampir lepas ketika perintah itu diberikan oleh permaisuri kepadaku. Kembali terbayang  peristiwa arena judi di Hastinapura, di mana aku dijamah oleh tangan-tangan kasar Kaurawa dan hampir telanjang karena perbuatan nista mereka.

Aku tentu tidak bisa menolak. Bukan hanya karena derajatku yang hanya sebagai pelayan pribadi Permaisuri Wirata, namun aku juga harus melindungi penyamaran Pandawa. Aku yakin telik sandi Kaurawa pasti sudah masuk ke dalam Istana Negeri Mastya.  Sikap, pembawaan dan pelayananku kepada keluarga Raja Wirata harus kelihatan tulus dan apa adanya seperti halnya pelayan-pelayan permaisuri lainya. Saat ini aku bukan Draupadi, Permaisuri Negeri Agung Indraprastha dan istri kesatria-kesatria hebat Wangsa Bharata.  Aku berusaha keras menanamkan kesadaran itu, agar tidak menghalangi penyamaranku sebagai pelayan istri raja.

Kali ini aku terpaksa harus mengantar minuman di bilik pribadi Kicaka. Apa yang akan terjadi, aku tidak mau membayangkan.

*****

Aku letakkan kendi emas di meja Kicaka dengan cara pelan-pelan, agar ia tidak menengok ke arahku. Namun dugaanku meleset, Kicaka ternyata hanya pura-pura tidak melihat saat aku masuk ke dalam bilik pribadinya. Belum lepas jariku dari kendi emas berisi minumman keras, lenganku sudah disambar oleh Kicaka. Aku sadar ia telah merencanakan semuanya, bahkan Ratu Sudesha mungkin tidak tahu rencana busuk adiknya itu. Kicaka ingin menempatkan aku dalam keadaan tidak bisa menolak. Ia berpikir saat aku di bilik pribadinya, aku bisa diperlakukan seperti binatang. Ia salah, aku tidak akan menyerah.

“Kicaka, lepaskan tanganku!!” Aku mendelik dengan suara setengah teriak.

“Sairandri, apa yang kamu tolak dariku?” Ia menjawab dengan suara datar.

“Aku bukan laki-laki buruk rupa.”

“Aku calon pengganti Raja Wirata.”

“Ayolah Sairandri yang cantik.”

Aku memalingkan wajah, bau minuman keras keluar begitu kuat dari mulut Kicaka. Bukan dilepaskan, laki-laki itu justru menghentakkan tenaganya sehingga tubuhku bisa didekapnya. Aku tidak bisa bernafas. Lengannya yang kuat medekapku, tanganya melingkar di pinggangku. Aku berusaha mengatur nafas, berpikir agar bisa melepaskan diri dari dekapanya. Ia berusaha membopongku. Ketika ia membungkuk untuk mengangkatku, aku menggeliat, menjatuhkan tubuhku untuk melepaskan diri.  Berhasil, cengkeraman tanganya lepas. Tubuhku terjatuh di lantai, namun pada saat bersamaan kaki Senapati itu menghantam pungunggku.

Entah sudah berapa lama aku bebaring di peraduan Kicaka. Aku seperti baru siuman dari pingsan, pungungku berasa sakit dan nyeri. Tendangan kaki Kicaka rupanya membuatku tidak sadarkan diri dan menyisakan sakit yang luar biasa. Namun aku bersyukur, sebab Kicaka tidak melakukan apapun terhadap tubuhku ketika aku pingsan.

Aku diam, pura-pura tetap pingsan. Aku berusaha memulihkan tenaga agar bisa melakukan perlawanan apabila Kicaka mencoba menindih tubuhku. Sesekali aku bernafas panjang untuk mengusir nyeri di punggungku. Aku baru dapat memastikan bahwa Kicaka ada di dekatku ketika nafas bau minuman itu dapat aku rasakan. Aku menggeliat sangat pelan ketika yakin tenaga sudah pulih dan rasa nyeri telah hilang dari pungungku. Aku berusaha untuk tidak memancing tindakan apapun dari Kicaka.

Laki-laki itu tidak bergerak, entah apa yang ditunggunya. Aku mencoba bangkit, duduk dan berharap gerakan tubuhku tidak memancingnya untuk melakukan apapun terhadapku. Aku berhasil duduk, bersandar di pembaringan. Aku berusaha menggeser tubuh ke pinggir agar bisa cepat meninggalkan bilik pribadi Kicaka. Sebelum aku betul-betul berhasil turun dari tempat tidur dan menyembah untuk meninggalkan laki-laki itu, tubuh Senapati itu bergerak ke arahku. Aku berusaha untuk menghindar tapi tidak berhasil. Tubuh itu berdiri persis di depanku, aku terduduk.

“Sairandri maafkan aku.” Suara Kicaka dengan nada parau.

“Aku tidak bermaksud menyakitimu.”

“Aku hanya ingin kau menjadi milikku, malam ini dan malam-malam berikutnya.”

“Aku ingin kau memiliki apa yang aku miliki.”

“Tuan, tuan seorang senapati, bangsawan dan penguasa Negeri Matsya, untuk apa perempuan rendah seperti aku.” Aku berusaha mencari akal agar lepas dari Kicaka.

“Sairandri, di mataku kau bukan perempuan biasa. Kau lebih mirip perempuan terhormat dari pada seorang pelayan.”

“Tuan Senapati, jangan menempuh jalan yang salah. Aku istri seorang raksasa yang kejam.”

“Aku sudah mendengar perihal itu Sairandri. Aku bisa memberikan harta dan perempuan-perempuan cantik kepada suamimu agar ia mau melepaskan dirimu untuk hidup di bilik pribadiku.”

“Tuan Kicaka, sekuat itukah keinginanmu untuk memiliki aku.”

“Sairandri, mengapa kau meragukan aku?”

“Aku tidak bisa menolak tawaran tuan, tapi mohon beri aku waktu untuk meyakinkan suamiku agar mau menerima tawaran tuan.”

“Berapa lama kau perlu waktu untuk meyakinkan suamimu?”

“Pada hari yang sama pekan depan aku akan mengantar minuman untuk tuan. Pada saat itu aku akan memberikan jawaban kepada tuan”

“Oh Sairandri, aku ingin pekan ini cepat berlalu. Aku ingin cepat memilikimu.” Kalimat Kicaka itu diucapkan dengan wajah pernuh kemenangan. Aku hampir muntah mendengarnya.

*****

Keluar dari bilik pribadi Kicaka, aku menangis sejadi-jadinya. Aku ledakkan semua kekesalan, marah dan dukaku di bilik pribadiku. Aku sebut semua nama suamiku, ayah dan ibuku bahkan semua nama orang-orang suci yang bisa aku ingat. Aku tidak bisa membiarkan diriku diperlakukan seperti barang yang bisa dipertukarkan oleh Kicaka. Kuhabiskan setengah hari penuh untuk memikirkan cara agar Kicaka tidak lagi bisa melecehkan aku. Hari itu, aku hanya ingin ketemu Walala, nama samaran Bhimasena. Suamiku itu bekerja sebagai tukang masak dan pencari kayu bakar di barak pasukan Mastya.

Bhimasena akhirnya bisa menemui aku. Kami bertemu di tempat penyimpanan alat-alat gamelan istana Mastya. Tubuh Bhimasena yang sangat mudah ditandai oleh orang lain terpaksa membuat kami harus memadamkan obor di tempat itu. Kami benar-benar bertemu di kegelapan, padahal aku ingin sekali menatap wajah panenggak Pandwa. Aku bukan hanya merindukan wajah Bhimasena, aku juga berharap bisa menghapus wajah Kicaka yang menjijikkan itu dengan melihat wajah suamiku itu.

Aku menangis dalam dekapan Bhimasena, selama beberapa lama aku hanya bisa menangis. Selama itu pula Bhimasena hanya mengeluarkan mendesis bertanda ia sedang marah. Ia lepaskan pelukannya dan aku mulai bercerita tentang perlakuan Kicaka kepadaku. Aku memang tidak bisa melihat perubahan wajah Bhimasena ketika mendengar ceritaku, namun aku bisa membayangkan betapa wajah itu pasti merah padam. Aku mendengar suara gigi beradu dan suara mendesis dari mulut Bhimasena.

“Akan kubunuh Kicaka malam ini.” Suara Bhimasena itu berasa memenuhi ruang gamelan meskipun dikatakan secara tertahan.

“Aku tidak bisa membiarkan kamu diperlakukan seperti binatang Draupadi.”  Kalimat terakhir itu seperti bergema di sisi-sisi ruang hatiku. Ingin aku menginjinkan Bhimasena menghabisi Kicaka malam itu kalau mengingat perlakukannya kepadaku. Tapi aku juga harus mempertimbangkan samaran Pandawa. Kalau Bhimasena mengamuk di Istana Mastya maka tidak mungkin Arjuna, Nakula dan Sahadewa diam saja. Tidak akan mudah bagi Yudhistira untuk bisa menjelaskan kepada Raja Wirata kalau saudara-saudaranya mengamuk di Istana karena membela istrinya. Kicaka adalah pejabat tinggi, tentu akan mendapat pembelaan penuh dari Raja Mastya. Itu artiya sia-sia pengasingan kami dua belas tahun dan penyamaran yang tinggal hitungan pekan.

Aku sedang mempertimbangkan cara untuk melenyapkan Kicaka tanpa menimbulkan kegaduhan di istana. Kalau perlu Yudhistira, Arjuna, Nakula dan Sahadewa tidak tahu rencana ini. Mengingat penyamaran kami yang hanya tersisah beberapa pekan lagi. Biar hanya Bhimasena dan aku yang perlu memberikan hukuman terhadap Kicaka. Aku bisikan kalimat di telinga Bhimasena tentang rencana menjebak Kicaka. Ia merangkulku sambil mengucapkan kalimat pendek. “Akan aku lakukan untukmu Draupadi”.

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

32 Comments to "Draupadi (6)"

  1. Hergi  1 September, 2017 at 11:29

    Menarik mengikuti kisah mitologi hindustan mahabharata yg tanpa kita sadari mencerminkan watak manusia sehari2…keangkuhan, kesombongan, kebijaksanaan, kemarahan..dlsb, walau terkadang tidak logis….
    Drupadi adalah tokoh sentral wanita dlm kisah mahabharata, salah satu sebab terjadinya perang bharatayudha adalah membela kehormatannya sekaligus pelampiasan dendam pandawa atas tuntutan pewaris putra mahkota hastinapura..
    Menariknya drupadi adalah istri dari para pandawa, walaupun sebenarnya Arjuna lebih berhak atasnya karena dalam sayembara Arjuna yg memenangkannya. Kunti memerintahkan agar hadiah itu dibagi rata kpd saudara2 Arjuna dan ini sangat mengecewakan Arjuna karena harus berbagi istri kpd saudara2nya. Mengapa saudara2 Arjuna tidak menolaknya..? Hem …mungkin mereka juga ingin “mencicipi” Drupadi yg konon wanita terncantik di tanah Arya…padahal mereka bisa saja menolak dgn alasan yg bisa masuk akal dan upaya mengubah takdir yg disebut begawan Vyasa…
    Mengapa Kunti sendiri tidak mau menarik perintahnya setelah tahu bahwa hadiah sayembara itu seorang wanita cantik utk dijadikan istri…? Hem … saya sendiri berfikir ternyata sebelum drupadi melakukan polyandri, Kunti sendiri sdh melakukannya yaitu dengan menerima “benih” dari para Dewa utk 4 org anaknya, kecuali Nakula dan Sadewa…walau di dunia mereka di sebut putra pandu (pandawa)….
    Wel.. mungkin Kunti ingin mempunyai teman dalam polyandri…
    Lalu mengapa Drupadi tidak berkeras menolak Polyandri yg diakuinya dicap tidak “bermoral”?, padahal ia sendiri bisa menolak Karna yg juga menjadi pemenang dalam Sayembara itu..? Namun atas nama takdir ternyata Drupadi menerima ketetapan itu….
    Hem… saya memiliki pemikiran lain tentang mengapa Drupadi tidak menolak polyandri itu…., mungkin Drupadi sendiri ingin “merasakan” semua keperkasaan pandawalima yg menjadi pemenang dalam kisah ini…dan tentunya kalau ia bersikeras hanya arjuna yang menjadi suaminya, maka ia tidak akan pernah menjadi Ratu di hastinapura…
    Namun dibalik kisah Polyandri ini yg dilakoni Drupadi… ternyata hati Drupadi seorang wanita hanya mencintai satu dari pandawa yaitu Arjuna….
    Hem….kisah cinta yg rumit…dan yang paling menderita tentunya adalah Arjuna…yg mengorbankan miliknya demi mematuhi perintah sang Ibu Kunti yg juga melakukan “polyandri”….

  2. yyk  1 March, 2013 at 10:20

    Chandra, saya baca lagi Mahabharata-nya, Drupadi itu bukan hanya korban dengna cara seperti yang Anda sampaikan, tapi juga karena Ibu mertuanya, Kunti, nggak mau tarik ucapannya… jadi Drupadi itu korban keangkuhan perempuan juga… ini yang sampai sekarang bikin saya penasaran, kenapa Kunti bisa “jahat” juga kayak gitu…..

    BU Linda : ucapan Kunti yg mana ya bu ? mohon infonya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *