[Oase Hidup Malaikat Kecil] Saat Kembali ke Dapur

Angela Januarti Kwee

 

Memasak adalah satu hal menyenangkan terutama bagi kaum hawa. Meski tidak terlalu banyak kesempatan untuk bisa memasak, aku selalu punya kerinduan kembali ke dapur dan memasak menu kesukaan.

Minggu malam sahabatku Yanti berkata ingin mencicipi menu ayam beras merah. Mendengar ucapannya, kami segera membuat rencana untuk belanja ke pasar membeli bahan yang diperlukan.

Keesokan harinya, sekitar pukul 10 pagi kami menuju pasar Sungai Durian Sintang. Terik panas matahari menyatu dengan aktivitas para pedagang dan pembeli melakukan transaksi di pasar.

Kami membeli bumbu beras merah, daging ayam dan juga jahe. Nah, ada dua jenis jahe di pasar. Karena  terbiasa menggunakan jahe/leak padi, kami harus merogoh kocek sedikit dalam karena harganya lebih mahal. Aku lantas berpikir, andai saja aku di kampung, tinggal minta di tempat nenek secara gratis.

Baiklah … bahan pertama sudah terbeli semua, tapi kami masih kebingungan mencari pasangan yang tepat untuk ayam beras merah sebagai menu tambahan. Awalnya kami ingin menumis pakis, namun diurungkan karena sayur pakis yang dijual tidak segar lagi. Setelah berkeliling sekitar tiga kali, kami membeli tahu, tomat, hati ayam dan cabe rawit.

*

Kami membagi tugas memasak, aku memasak ayam beras merah dan sambal hati ayam; sedangkan temanku menggoreng tahu. Aku menghaluskan beras merah, menumbuknya berbarengan dengan jahe yang cukup banyak. Hati-hati dengan takarannya. Bila beras merah terlalu banyak, hasilnya masakan sedikit pahit. Sedangkan untuk jahe bisa disesuaikan dengan selera, kami menambahkan jahe cukup banyak. Setelah itu bumbu dilumuri pada daging ayam agar menyatu. Tambahkan sedikit air pada tahap memasak pertama, agar warna ayam tetap merah (bumbu meresap).

Ada kejadian lucu di sini. Aku yang tengah sibuk menumbuk cabe rawit untuk memasak sambal hati ayam, lupa kalau air di ayam beras merah hanya sedikit. Yanti yang belum pernah melihat cara memasak berpikir memang sengaja dimasak hingga airnya kering. Sontak aku terkaget mendapati masakanku hampir hangus. Akhirnya kami memindahkan masakan  ke panci lain dan mengisi air lagi. Meski begitu, masakan ini berhasil dimasak dengan rasa yang enak (versi aku dan Yanti).

Selanjutnya giliran sambal hati ayam yang dimasak. Tidak perlu waktu yang lama untuk memasaknya. Tomat yang diiris dan dicampurkan sengaja dimasak hanya sebentar agar tidak terlalu hancur.

Tahu goreng masakan Yanti juga sudah matang. Kami pun bersiap untuk menyantapnya. Ada yang special juga, nasi yang dimasak bukan nasi putih, melainkan nasi merah. Bisa dibilang makanan kami serba merah (ayam beras merah, sambal hati ayam dengan tomat-merah juga, nasi merah), hanya tahu yang tidak merah.

*

Ternyata kembali ke dapur itu menyenangkan. Terkadang ada saja hal ‘lucu’ yang terjadi dan membuat tertawa.

Inilah sedikit kisah saat aku dan temanku memasak di hari minggu yang ceria.

 

Sintang, 16 September 2012

SCA-AJ.020187

 

About Angela Januarti Kwee

Tinggal di Sintang, Kalimantan Barat. Bersahaja namun sangat dalam memaknai kehidupan. Banyak sekali kegiatan yang berkenaan dengan kemanusiaan, kebhinnekaan dan wujud Indonesia yang plural. Menembus batas benua dan samudra membagikan cerita kesehariannya melalui BALTYRA.com

My Facebook Arsip Artikel

19 Comments to "[Oase Hidup Malaikat Kecil] Saat Kembali ke Dapur"

  1. Lani  29 September, 2012 at 14:10

    AKI BUTO : kumatttttttt! gimana klu kamu makan sendiri tuh babi merah pakai obat merah/betadine?????? heheheh…….coba aki buto sakti tenan opo ora??????

  2. Angela Januarti  29 September, 2012 at 09:05

    Terima kasih semuanya. Juga untuk Pak JC yang sudah membantu menjelaskan tentang beras merah (Angkak) ^_^

  3. Bagong Julianto  27 September, 2012 at 05:26

    Sepanjang tentang masakan, apalagi ada ayam kampung dan jahe/serta kawan-kawannya, komentar yang dipastikan adalah: enak sekali dan enak.
    Enak jika membaca saja.
    Enak sekali jika diTIKIkan atau diJNEkan…..

  4. J C  27 September, 2012 at 04:54

    Bener Lani, charsiu merah memang pakai angkak… yo mbuh kalau charsiu’mu mungkin pakai obat merah atau betadine…

  5. Lani  27 September, 2012 at 02:30

    AKI BUTO : mmg bener adanya, baca cm sekelebatan, krn yg ada dipikiranku cm mo tau soal ANGKAK, jd babi merah itu jg pake angkak to. Heran saja apakah itu charsiu babi jg pake angkak ya merahnya? banyak sih di Hawaii……

  6. Dj.  27 September, 2012 at 00:57

    Angela…
    Terimakasih untuk ceritanya….
    Tapi untuk hal memasak, Dj. rasa bukan lagi monopoli kaum hawa.
    Jaman sekarang sangat banyak koki laki yang malah lebih pintar masak dari kaum hawa.
    Kalau Dj. memang jelas sekarang malas masak, karena Susi tidak kasi kkesempatan lagi.
    Dia bisa mamsaka apa saja ( masakan indonesia ) kecuali gudeg, karena dia tidak suka.

    Selamat memasak, semoga dari hari, kehari, masakannya semakin uenaaaaak…!!!
    Salam manis dari Mainz.

  7. Alvina VB  26 September, 2012 at 21:37

    Angela, Kelihatannya enak….coba disharing resep ayamnya ya…

  8. J C  26 September, 2012 at 17:10

    Lani, berarti kowe tidak baca artikel ini dengan baik. Lha wong itu ada gitu lho cara Angela bikin ayam dengan angkak. Foto-foto angkak juga sudah aku tempel. Contoh penggunaan angkak yang paling umum adalah babi panggang merah yang rasa manis, itu merahnya pakai angkak. Terus kalau demam berdarah, juga minum rebusan angkak untuk menaikkan trombosit yang ngedrop.

  9. anoew  26 September, 2012 at 16:58

    Saya cuma bisa memasak mie instan..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.