Selubung Hitam Konspirasi (17): Akhir Sebuah Babak

Masopu

 

Budi, Septian dan Anita duduk di kursinya masing-masing. Mereka terbawa ke alam pikirannya masing-masing. Setelah semua yang mereka alami, kini mereka sama-sama berharap semoga tidak mengulangi kesalahan yang sama dalam mempercayai orang. Detak jantung mereka semakin lama semakin cepat, seiring waktu pertemuan yang semakin mendekat.

“Selamat siang. Maaf membuat kalian semua menunggu, saya harus memerintahkan anak buah saya untuk membawa Arya kemari.” sapa AKBP Achmadi dengan suaranya yang ramah tapi tetap berwibawa.

“Arya dibawa kemari?” tanya Budi dengan nada tak percaya. Matanya melirik ke arah jam  dinding yang anggun tergantung. Jarum jam sudah menunjuk ke angka 13.45 wib.

“Mulai hari ini Arya kami pindahkan dalam pengawasan kami. Begitupun dengan kalian, mulai hari ini akan di dampingi oleh seorang polisi yang menyamar. Ini semata untuk menjaga keselamatan kalian.”

“Maksudnya?” tanya Anita heran.

“Karena kasus yang kalian hadapi saat ini menyangkut orang-orang penting, maka kami perlu memastikan keselamatan kalian dari orang-orang suruhan mereka. Saat ini beberapa anak buahku sudah bergerak mengamankan orang-orang yang diduga terlibat, baik itu warga sipil ataupun dari kalangan kepolisian sendiri.”

“Apakah termasuk AKBP Irwanto dan AKP Yohanes Jaka?” tanya Budi. Sorot matanya tajam mengarah ke AKBP Achmadi.

“Mereka sudah kami amankan sekitar dua jam yang lalu. Saat ini mereka sedang menjalani investigasi. Selain mereka, kami sedang mengawasi mantan manajer Arya  dulu.”

“Kenapa baru sekarang polisi bertindak mengamankan mereka? Bukankah sudah sedari awal ada yang tidak beres dengan kasus yang dituduhkan kepada klien kami?” suara tegas Septian membahana di dalam ruangan itu.

“Karena baru sekarang kami berhasil mendapatkan bukti dan saksi yang cukup kuat. Sejak kasus penusukan Arya di dalam penjara, kami terus mengintensifkan investigasi mengenai keterlibatan orang-orang dalam. Selain itu, kami juga menginvetaris orang-orang yang dibayar untuk memberikan kesaksian palsu dalam kasus kerusuhan itu. Kami berusaha untuk meyakinkan mereka dan menawarkan jaminan keamanan. Setelah melalui perjuangan yang cukup lama, akhirnya kami bisa meyakinkan mereka. Sekarang kami tinggal menunggu kesedian kalian selaku pengacara dan teman baik Aryauntuk berbagi data dan bukti yang kalian punya.” jawab AKBP Achmadi tenang.

“Sebelumnya sebagai pengacara Arya saya ingin bertanya, apakah Arya akan dibebaskan dari semua tuduhan jika kami memberikan apa yang dibutuhkan pihak kepolisian? Dan apakah ada jaminan jika data dan bukti yang kami berikan nantinya tidak akan digunakan untuk menjerumuskan kami dalam dakwaan yang lebih serius?” tanya Anita mencoba menaikkan posisi tawar Arya.

“Tidak. Data dan bukti yang kalian berikan tidak akan digunakan untuk menjerat Arya dan juga kalian dengan tuduhan yang lebih serius. Semua itu akan kami gunakan untuk melengkapi bukti-bukti yang telah kami dapatkan. Bukti-bukti tentang usaha pencucian uang yang dilakukan sebuah konglomerasi besar di Negara ini, dimana dana itu nantinya  bermuara untuk pemenangan salah satu calon presiden yang akan mereka usung. Dana-dana itu mereka kumpulkan dari selisih IPO BUMN baik yang sudah maupun yang akan dilakukan.  “ terang  AKBP Achmadi.

“Maksudnya?” kejar Anita.

“Kami bekerja sama dengan KPK dan PPATK untuk membongkar kasus ini. KPK dan PPATK yang menelusuri semua aliran dana mereka. Dari data-data yang mereka berikan, setidaknya ada benang merah yang berhasil kami tarik dari beberapa kejadian yang ada. Bahwa saat mereka menyadari aktifitas illegal mereka sedang diawasi oleh pihak berwajib, maka bisa dipastikan ada kerusuhan di daerah. Hal ini semata untuk mengalihkan perhatian pers dari aktifitas kedua badan ini. Saat pers sibuk memberitakan kerusuhan yang ada, mereka buru-buru membereskan masalah mereka. Joni dan Beni kebagian tugas sebagai pembuat umpan. Sedangkan Rudi  bertugas untuk membereskan data-data yang mungkin bisa dijadikan bukti KPK dan PPATK serta aparat berwajib untuk menindak lanjuti kecurigaan mereka.” AKBP Achmadi menjelaskan lebih rinci apa yang dia tahu.

“Kami bisa membantu polisi, tapi kami inginkan garansi untuk keselamatan klien kami dan tentunya kami sebagai pengacara dan teman Arya.” kata Septian sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Kami berjanji akan melakukannya. Percayalah saya tak akan mengingkari apa yang saya katakan. Sebagai bentuk sikap saling percaya, saya telah menyiapkan surat perjanjian bermaterai untuk kita semua, semata agar kita bertanggung jawab dengan apa yang kita lakukan saat ini.” AKBP Achmadi sambil menyodorkan surat perjanjian yang telah disiapkannya. Di sana tertera dengan jelas pernyataan AKBP Achmadi dengan persetujuan atasannya yang berwenang menangani investigasi ini. Mereka akan membebaskan mereka dari segala tuntutan.

“Ok. Kami percaya dengan apa yang anda katakan. Kami akan berikan beberapa bukti yang kami punya.” kata Anita. Dia menyerahkan koper hitam yang berisi lembaran foto, print out email Joni dan Rudi. Selain itu diserahkan juga flash disk yang berisi data-data penting dari komputer Yudi.

AKBP Achmadi mendata barang bukti yang diterimanya itu. Dia meminta Anita untuk mencocokkan kembali barang bukti dan daftar yang tertulis. Setelah semuanya terdata, AKBP Achmadi menandatangni berkas itu dengan disaksikan mereka bertiga.

_ _ _

Sunyi merayapi seisi ruangan berukuran 6 X 8 meter itu. Dua orang lelaki berperawakan tinggi itu secara bergantian memegang teropong. Dengan bantuan alat itu, mereka terus mengawasi sebuah ruangan yang ada di seberang jalan. Kata-kata sangat jarang meluncur dari bibir mereka. Komunikasi mereka lebih banyak menggunakan isyarat gerakan tangan ataupun gelengan kepala. Kata-kata lebih sering mereka gunakan untuk menghubungi orang-orang  melalui head set yang setia melekat di salah satu cuping telinga mereka. Posisi ruangan yang lebih tinggi memudahkan mereka mengawasi gerak-gerik orang di seberang.

Di seberang bangunan yang mereka tempati, seorang lelaki berusia mendekati 40 tahun terlihat mondar-mandir mengitari meja kerja besar yang berada di tengah-tengah ruangan.Di atas meja tergeletak lembar-lembar foto dan kertas yang sedikit terserak. Benda-benda itu bersisian dengan laptop Lenovo yang terlihat masih aktif.

Setelah beberapa kali berjalan mengitari meja, akhirnya lelaki bergerak cepat memasukkan lembar kertas dan foto ke sebuah kantong plastik hitam lusuh. Melihat hal itu, lelaki yang memegang teropong segera memberi tanda temannya untuk bergabung menyaksikan kegiatan lelaki yang sedang mereka awasi. Saat lelaki itu mematikan lenovonya dan bersiap pergi, lelaki yang memegang teropong segera memberi tahu seseorang yang senantiasa setia menunggu perintah dari mereka.

“Segera bergerak, target akan meninggalkan ruangannya.” perintah lelaki itu.

_ _ _

Yudi beberapa kali berjalan mengitari meja kerjanya. Sudah memasuki hari kedua sejak penahanan AKBP Irwanto dan AKP Yohanes Jaka, dia belum juga menjenguk mereka. Perintah pak Rudi kemarin siang begitu menghantuinya. Keinginan untuk segera menjenguk mereka berdua, seketika luntur begitu tahu penyidikan diam-diam polisi telah menembus masuk ke sel-sel pertahanan kelompok usaha pak Rudi. Satu persatu orang yang diduga terlibat dan tahu kegiatan illegal kelompok usaha ini ditangkap.

“Jika AKBP Irwanto dan Yohanes Jaka sudah mereka tangkap, pasti mereka saat in sudah mengarahkan bidikannya ke aku. Pasti mereka sudah tahu tugasku di jaringan ini. Cepat atau lambat mereka pasti akan menangkapku. Sebelum itu semua terjadi, aku harus segera meninggalkan tempat ini.” lirih kata mengalir dari bibir Yudi. Dia sudah membulatkan tekad untuk pergi sejauh yang dia mampu.

Sambil memasukkan lembar kertas dan foto yang terserak di mejanya, ide pelarian segera tersusun di benaknya. Rencananya dia akan terbang ke Batam. Dari sana dengan bantuan seorang teman yang punya jaringan pembuat paspor palsu, dia meneruskan perjalanan ke Singapura. Dari Singapura, dia bisa pergi kemanapun yang dia mau. Tujuan utamanya adalah terbang ke Swedia dan mecari suaka di sana. Bagaimanapun Swedia jelas lebih masuk akal sebagai tempat mencari suaka, karena di sana banyak tinggal mantan petinggi GAM. Dan yang pasti Negara Skandinavia tersebut tidak mempunyai perjanjian ekstradisi dengan Indonesia, hingga dirinya tak perlu takut akan diekstradisi.

Sebelum pergi, Yudi berjalan menuju PC yang terletak di samping meja utama. Dengan cekatan dia menghapus seluruh data yang tersimpan di sana. Sambil menunggu proses penghapusan data, dia memeriksa laci meja kerja dan lemari arsip. Beberapa file penting segera dimasukkanya ke dalam kantong plastik hitam tempatnya menyimpan lembar kertas dan foto tadi. Setelah itu dia mematikan lenovonya, tepat sesaat sebelum proses penghapusan data di PC selesai.

Setalah yakin semua telah dibereskan, dia segera beranjak keluar ruangan. Tas berisi Lenovo tergantung di bahu kanannya. Sementara kantong hitam yang berisi file dan foto dibawanya dengan tangan kiri. Setengah berlari dia menuju lift. Tak berapa lama dirinya telah sampai di lantai bawah. Resepsionis yang melihatnya tergesa-gesa tampak keheranan. Keheranannya semakin menjadi, saat beberapa orang berseragam polisi tiba-tiba menyerbu masuk ke lobi. Yudi-pun terperanjat melihat rombongan polisi tersebut.

“Berhenti!” sebuah bentakan menghentikan langkah kaki Yudi yang hendak berbalik arah. Dua orang polisi segera berdiri di samping kiri dan kanannya. Senapan serbu SS-1 mengarah ke bagian sisi wajahnya. Semnetara dari arah belakang seorang polisi lain berjalan mendekat sambil menodongkan pistol dinas.

“Angkat tangan. Anda kami tahan” kata Polisi yang berada di belakang Yudi sambil berpindah posisi. Kini dia berdiri berhadapan dengan Yudi.

“Atas tuduhan apa saya di tahan?” Tanya Yudi sambil melihat ke arah nama yang tercantum di baju seragam polisi itu.

“Anda ditahan atas keterlibatan dalam beberapa tindak pidana, salah satunya pidana pencucian uang.” kata Polisi bernama AKP Doni. Tangan kanannya segera menyodorkan surat tugasnya.

“Itu semua fitnah. Saya hanya korban kebohongan yang dilakukan seseorang.” sanggah Yudi dengan suara bergetar.

“Sanggahan anda tidak ada gunanya. Semua data dan bukti telah kami kumpulkan. Silahkan tunjuk pengacara yang akan mendampingi anda di sidang pengadilan nanti.” lanjut AKP Doni. Tangannya segera mengambil tas hitam yang Yudi jatuhkan di lantai. Sementara salah seorang polisi bergerak mendekat dan memborgol Yudi. Dengan pengawalan ketat, Yudi digelandang ke mobil tahanan yang sudah parkir di halaman. AKP Doni bersama beberapa polisi lainnya bergerak menuju ke ruang kerja Yudi dan membawa beberapa file serta PC di ruang itu.

_ _ _

Berita pecidukan Yudi di kantornya segera menyebar. Dalam sekejap pemberitaan mengenai hal itu segera menjadi headline di berbagai media online. Televisi pun tak mau ketinggalan menayangkan berita hangat tersebut. Meski beberapa polisi yang turut serta menangkap Yudi tak mau buka mulut mengenai motif penangkapan Yudi, Media cetak, online dan elektronik berlomba mencari update informasi termasuk mendatangi beberapa orang yang sempat menyaksikan peristiwa tersebut.

Pak Rudi yang sedang berada di rumahnya tertegun mendengar peristiwa itu. Satu persatu orang kepercayaan telah diciduk aparat. Setelah kematian Joni dan Beni, praktis pertahanan Pak Rudi semakin melemah. Keadaan semakin parah dengan ditangkapnya AKBP Irwanto dan AKP Jaka. Kini, Yudi anak buahnya yang tersisa pun telah diciduk aparat.

“Hancur. Semuanya telah hancur.” teriak Pak Rudi.” Bodoh! Kenapa aku terlena dengan rencana Joni. Harusnya aku pertimbangkan semua ini dengan lebih matang. Kasus yang Joni ciptakan memang cukup bagus untuk mengalihkan perhatian media, tapi lokasi yang berdekatan dengan ibu kota provinsi harusnya aku hindari. Bagaimanapun Surabaya adalah lokasi berkumpulnya sumber daya manusia hebat. Kemampuan mereka yang tak jauh beda dengan Jakarta pasti rentan mendatangkan bencana seperti ini.” hardik Pak Rudi sambil menjambak rambutnya yang telah memutih.

Pelan dia berjalan menuju ke meja persegi di tengah ruang kerjanya. Tangannya manarik laci atas perlahan. Dua buah benda tergeletak di atas sebuah bingkai foto dirinya yang berdiri mengapit Presiden yang saat ini masih menjabat. Dikeluarkannya satu persatu benda itu. Pertama sebuah benda yang menyerupai pena, terus benda kedua yang tak lain sebuah Sig Sauer bergagang keperakan. Foto dirinya bersama presiden dikeluarkannya perlahan.

Matanya sayu memandang ke arah foto. Perlahan diusapnya foto yang selama ini begitu dibanggakannya. Usai mengusap foto, jemari tangannya gemetar memutar benda berbentuk pen. Dua buah pil terjatuh dari dalamnya. Warnanya putih berkilau tersapu sinar lampu yang ada. Setelah itu tangan kanannya meraih Sig Sauer yang tergeletak di meja.

“Aku telah gagal. Tak ada lagi alasan untukku membela diri.” kata-kata lirih mengalir dari bibirnya. Kembali tangan tuanya mengusap foto itu. Matanya lekat memandang ke arah presiden dan orang di sampingnya secara bergantian.” Bentuk pertanggung jawaban telah aku pilih. Dan tak akan ada orang yang mampu menggagalkannya.” lanjutnya lagi sambil mengangkat Sig Sauer dengan tangan kanannya. Perlahan benda itu menempel di pelipis kanannya. Sekali lagi jemari tangan kirinya mengusap foto sang ketua partai yang berada di samping presiden. Pelan telunjuk tangan kanannya mengiring setiap usapan tangan pak Rudi dan sebuah ledakan mengakhiri usapan jemari tangan kirinya.

_ _ _

Belum hilang gempita penangkapan Yudi oleh aparat kepolisian di Surabaya, televisi kembali disuguhi berita yang mengguncang. Pagi tadi, pucuk pimpinan tertinggi konglomerasi yang membawahi perusahaan tempat Yudi bekerja ditemukan mati bunuh diri di rumahnya yang berada di pemukiman elite Jakarta. Sebuah pistol Sig Sauer tergeletak di genggaman tangannya. Sementara dua buah pil yang diduga akan dijadikan salah satu alat untuk bunuh diri tergeletak di meja. Pak Rudi ditemukan mati bunuh diri sambil memegang foto dirinya, presiden dan seorang petinggi partai koalisi di tangan kiri.

Polisi menduga bunuh dirinya lelaki yang telah 15 tahun memimpin konglomerasi itu adalah upaya tutup mulut atas aksi polisi menelusuri keterlibatan dirinya dalam berbagai kasus, termasuk beberapa kerusuhan yang timbul saat aparat penegak hukum dan media mulai menyoroti berbagai skandal yang melibatkan perusahaanya. Penangkapan Yudi dan kaki tangannya di kepolisian membuatnya frustasi. Dugaan polisi itu diperkuat dengan ditemukannya selembar surat wasiat untuk anak tunggalnya yang saat ini sedang menempuh pendidikan S2 di Ohio University. Selain itu beberapa file yang ada di komputer maupun laptopnya memperkuat dugaan polisi perihal keterlibatan lelaki yang cukup dekat dengan beberapa petinggi partai itu.

AKBP Achmadi segera menceritakan kejadian penangkapan Yudi dan juga peristiwa bunuh diri atasan Yudi itu kepada Arya. Arya yang sedang berada di salah satu ruangan perlindungan saksi terkejut mendegarnya. Setelah sadar dengan apa yang dialaminya, dia segera berlutut mencium lantai 2 kali. Belum hilang rasa keterkejutannya, muncul Anita dan Septian dengan membawa berita yang tak kalah menggembirakan. Raut muka mereka berseri ketika menyampaikan berita itu. Setelah 5 hari lamanya pingsan, jam 09.15  pagi tadi, Aneeva siuman. Dan bibirnya beberapa kali menyebut nama Joni Dan Beni. Menurut dokter hal itu bisa terjadi, mungkin karena sebelum pingsan merekalah sosok-sosok yang terakhir ditemuinya.

Arya kembali berlutut untuk mencium lantai 2 kali. Sayup-sayup suara adzan dzuhur bergema menyapa telinganya. Air mata bahagia perlahan turun dari kelopak matanya.

“Terima kasih atas semua bantuanmu mas.” Arya berkata sambil memeluk Septian lama.

“Itu sudah tugas kami sebagai pengacara Ar.” jawab Septian membalas pelukan Arya.” Selepas semua ini, aku ingin kamu, Aneeva dan juga Budi  untuk menjadi saksi peristiwa penting lainnya.” lanjut Septian sambil melirik ke arah Anita.

“Peristiwa penting apa mas?” Tanya Arya segera melepaskan pelukannya ke Septian.

“Kamu Tanya Anita saja. Masak kamu hanya berterima kasih kepadaku?” jawab Septian sambil tersenyum dan menoleh ke Anita.

“Kami akan menikah selepas hari raya.” jawab Anita singkat sambil menjabat tangan Arya.

“Itu artinya beberapa hari lagi? Bukankah sekarang tanggal 29 Ramadhan mbak? Selamat ya mbak, mas !” seru Arya dengan ceria.” Bagaimana dengan AKBP Achmadi? Bukankah dia juga berandil mengungkap kasus ini?” tanya Arya saat matanya melihat AKBP Achmadi tersenyum melihat tingkah mereka bertiga.

“Benar sekarang 29 Ramadhan. Kami menikah tanggal 14 Syawal, Jadi masih ada waktu sekitar 2 minggu lebih. Mengenai AKBP Achmadi, dia kami pastikan orang pertama setelah kamu, Aneeva dan Budi yang kami minta untuk menjadi saksi pernikahan. Bagaimana?” tanya Septian melihat ke arah AKBP Achmadi.

“Siap!” jawab AKBP Achmadi larut dalam kebahagian mereka.

_ _ _

T A M A T

 

16 Comments to "Selubung Hitam Konspirasi (17): Akhir Sebuah Babak"

  1. Dewi Aichi  29 September, 2012 at 00:10

    Jitak Anoew pake teklek….

  2. Anoew  28 September, 2012 at 22:39

    gk papa menggantung, malah menimbulkan rasa penasaran. yang penting inti dari tokoh utama kan selesai sudah. masalah gantung menggantung biar diurus sama Dewi Aichi sebagai ahli gantungan.

  3. agung "Masopu"  28 September, 2012 at 13:33

    @ El Nino
    “Idem Dewi… Mudah2an masih ada aparat yg punya hati nurani.
    Ditunggu kisahnya yg lain, Masopu”

    Makasih mbak.
    Sabar ya, saat ini lagi nyiapin sesuatu untuk event di bulan desember Nanti, mungkin ada cerita-cerita pendek yang akan saya adaptasi dari lagu-lagu Kendang kempul Banyuwangi, seperti kisah Mak Onah kapan hari. Sekalian untuk melestarikan kebudayaan suku Using banyuwangi
    Salam

    @Alvina VB
    “Akhirnya….happy ending….
    Masopu, yang pasti ini cerita cuma bisa terjadi di Indonesia baru, he..he…..(peace ah”
    Semoga Indonesia Baru segera terwujud. Amien
    Salam

  4. agung "Masopu"  28 September, 2012 at 13:29

    @ Linda Chenag
    “ini negeri sebelah mana?”
    Sudah saya jawab di bawahnya mbak

    @ Anoew
    “Kalau di dunia nyata, si petinggi partai itu bakal bunuh diri juga gk ya?”

    Tidaklah, kasihan anak istrinya nanti hiduo susah.
    Sepertinya menangkap akhir ceritanya masih menggantung ya?
    Salam

  5. agung "Masopu"  28 September, 2012 at 13:26

    @ J C
    “Ini negeri yang bernama Republik Indonesia Utopia ya?”

    Ini kisah negeri sebelah om. Sebelahnya Jiran
    salam

  6. agung "Masopu"  28 September, 2012 at 13:25

    @dewi Aichi
    “Mas Agung….waaaaaa……kalau pada kenyataannya seperti ini ya sipp..yang salah kalah, yang bener menang…atau yang jahat celaka, yang bener, selamat…..pengennnnnn sekali dalam kenyataan hidup seperti itu”

    Saya juga kepinging mbak
    Semoga kisah ini bisa menginspirasi baik untuk kita semua, jangan trik-trik buruknya yang diikuti ya mbak.
    Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.