Stiker

Dewi Aichi – Brazil

 

Shoshinsha maaku atau Wakaba Maaku

Saya mau berbagi pengetahuan tentang stiker resmi yang dikeluarkan pemerintah Jepang untuk kendaraan roda 4. Kita tau bahwa sistem lalu lintas di Jepang sangat rapi dan aman. Itulah enaknya, karena saya sudah merasakan bertahun-tahun menggunakan lalu lintas di Jepang.

Untuk mendapatkan SIM, susahnya minta ampun, saya test 4 kali baru bisa dapat SIM, itupun saya harus belajar dulu sebanyak 3 kali 2 jam. Per 2 jam membayar Y.7500. nah setiap orang yang masih baru dalam mengemudi, akan mendapatkan stiker berbentuk V, berwarna kuning dan hijau, namanya “shoshinsha maaku” (初心者マーク), atau “wakaba maaku” (若葉マーク).

Bentuk dan gambar stikernya seperti ini:

Tanda V berwarna kuning dan hijau adalah simbol “muda”, wakaba bisa diartikan “daun muda”. stiker ini harus ditempelkan dibelakang/depan body móbil, untuk pengemudi yang belum ada satu tahun menyetir “terutama pengemudi warga asing yang baru saja lulus ujian SIM”. stiker ini wajib ditempelkan pada móbil selama satu tahun.

Saya kenal banyak sekali orang Brasil yang tidak disiplin, yaitu tidak menempelkan stiker walau baru saja mendapatkan SIM. Jika melakukan pelanggaran dan polisi mengetahui bahwa si pengemudi belum ada satu tahun menyetir dan tidak menempelkan stiker di body móbil, akan dikenakan denda Y14.000 dan dikurangi 2 point SIM-nya.

 

Fukushi maaku atau koreisha maaku

Fukushi maaku (高齢者マーク), ini adalah stiker untuk lanjut usia. Bentuk stiker seperti tetesan embun, warnanya Orange dan kuning. Ini lambang “daun di musim gugur”, dikeluarkan tahun 1997. Dan stiker ini diwajibkan kepada pengemudi yang usianya 75 tahun ke atas. Tetapi pada tahun 2008, ada kebijakan baru yaitu untuk pengemudi yang usianya 70 tahun ke atas.

Jadi pengemudi pada umumnya akan menghormati pengemudi móbil berstiker ini jika móbil berjalan lambat.Dan juga tidak boleh mengemudi dengan jarak yang terlalu delat atau menyalip jika bisa membahayakan. Jadi pengemudi normal, dituntut kesabarannya jika di depannya ada pengemudi berusia lanjut, dengan memperhatikan tanda stiker di mobilnya. Pelanggar dikenakan denda Y6.000 dan 1 point dikurangi.

Tanda “daun pada musim gugur dan mati” sempat menuai kritik pada saat itu. Karena melambangkan bahwa usia lanjut sudah mendekati kematian. Begitulah mitos dari masyarakat Jepang mengenai pendapatnya tentang bentuk dan warna stiker itu.

Akhirnya pada tanggal 1 Februari 2011, lambang tersebut diganti bentuknya. Bentuknya menjadi seperti bunga atau 4 daun berwarna hijau tua, hijau muda Orange dan kuning, kemudian di tengahnya ada bentuk S warna putih.

S= sênior.

 

Shintai maaku atau Kuroba maaku

Shintai maaku (身体障害者マーク), atau kuroba maaku (クローバーマーク), adalah stiker untuk pengemudi yang cacat fisik. stiker berwarna biru dikeluarkan tahun 2009, untuk pengemudi yang cacat secara fisik. Simbol ini biasanya yang berlaku untuk internasional adalah bergambar kursi roda, di kenal di negara manapun pada umumnya. Dan dengan adanya tanda stiker ini di móbil, maka pengemudi lainnya harus menghormati dan menjaga jarak agar tidak terlalu dekat.

 

Tyoukaku maaku

Tyoukaku maaku (聴覚障害者マーク), juga dikeluarkan tahun 2009, untuk pengemudi yang kurang pendengaran atau tuli. Seperti halnya dengan stiker untuk cacat fisik, ada juga stiker untuk pengemudi tuli dengan lambang yang berlaku internasional. Di Jepang memiliki stiker dengan tanda gambar kupu-kupu, dikarenakan arti katanya yaitu pendengaran adalah “chyoukaku” dan kupu-kupu adalah “chyou”, disamping itu, sayap kupu-kupu yang mempunyai kemiripan bentuk telinga. Maka gambar kupu-kupu dipilih sebagai gambar pad stiker.

Jadi betapa perhatiannya pemerintah Jepang akan keselamatan pengguna jalan raya. Ini yang disebut dengan Shoshin Untensha Hyooshiki, stiker keamanan bagi pengemudi, untuk saling menghormati pengemudi lain sesuai dengan kondisi pengemudi. Ini menunjukkan bahwa Jepang peduli dan mengkuatirkan keselamatan.

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona.

Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

58 Comments to "Stiker"

  1. Nur Mberok  2 October, 2012 at 12:53

    Thanks info nya ratu gemblunkkkk…

    Suwi ora maido kok rada kagok ya…wkwkwkwk

  2. triyudani  1 October, 2012 at 02:39

    salut,,,salut…saluuut….ada pemerintah kok sampai sebegitunya ya. Kapan Indonesia bisa seperti itu ya…??.

  3. Lani  30 September, 2012 at 03:01

    51 DA : itulah pake nama apapun dr sulap menyulap, tilep, sampai uang kopi……….rokok……….dll…….tp maksudnya sama saja kan????? KORUPSI dr yg kecil mungil sampai yg IKAN PAUS………dr semua itu berangkat dr yg terkecil……….lama2 klu dibiarkan jd gedeeeeeeeeeee……….sulit utk diberantas krn mentalnya mmg bobrok!

  4. Dewi Aichi  30 September, 2012 at 02:50

    Hennie…terima kasih sudah berkomentar..memang ya, Jepang termasuk negara teladan di seluruh dunia tentang masyarakatnya yang berdisiplin tinggi, tidak heran jika Jepang sangat maju.

  5. HennieTriana Oberst  29 September, 2012 at 22:53

    Dewi, benar-benar di Jepang hal kecil diperhatikan.
    Masyarakatnya juga ikut mendukung, jadi segalanya teratur.

  6. Dewi Aichi  28 September, 2012 at 17:23

    Pak BJ, DPR bisa study banding dengan membaca baltyra….rasah sing sing pleding….dan tidak usah nge rampok duit rakyat buat jalan jalan ke sana sini, hasilnya nol besar. Kan pada bawa tablet to di ruang kerja….bisa online.

  7. Bagong Julianto  28 September, 2012 at 10:51

    Salut!!
    Untuk hal positip seperti ini, pemerintah dan DPR kita ora susah sing-sing telek garing lagi. Ndang ditiru, eksekusi langsung. Studi banding lagi? Edan ‘po?! Suwe-suwe nggawe proposal stunding wae, stunding meneh…….

  8. Dewi Aichi  28 September, 2012 at 03:06

    Lani, yang ngga pake duit sedikit lah….habis masyarakatnya juga suka nyogok sih, asal urusan gampang….nyogok deh. Pernah aku perpanjang KTP , waktu itu KTP ku DKI, Jakarta timur, perpanjang sih ngga ada masalah, melalui prosedur yang berlaku, tapi setelah KTP ku jadi, ku ambil, aku dipanggil Pak lurah…..”neng…kasih uang kopi nape, buat anak buah no….” ya sudah,aku kasih…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *