Duwet

Roesmi S. Rus

 

Duwet atau Jamblang, buah berbentuk lonjong. Warnanya ungu tua, gelap. Daging buahnya berwarna putih keunguan. Jika kita makan, warna ungu itu juga akan tertinggal di lidah kita. Ya, warna lidah kita akan menjadi keungu-unguan pula. Rasanya manis-manis sepet. Tetapi jika sudah tua benar, rasa sepetnya tak begitu lekat.

Tampaknya buah ini sudah semakin sulit ditemukan di pasaran. Beberapatahun terakhir, aku sudah jarang melihat di pasar Kebonpolo, di mana aku biasa belanja. Ini hanya kata lain untuk mengatakan bahwa selama ini aku belum menemukan buah ini di pasar.

Payahnya, sudah tiga bulan ini aku begitu menginginkannya. Dalam tiap kesempatan aku pergi ke pasar, aku selalu berusaha menemukannya. Dan alhamdulillah, tampaknya aku memang belum beruntung. Penjual buah tak ada yang memilikinya.

Begitu inginnya, sampai aku minta tolong teman, barangkali melihat, minta tolong untuk dibelikan. Alias dibela-belain ‘ndremis’…hehehe… Dan hasilnya…??? Nihil…!!! Akhirnya aku pupuskan keinginanku. Ya, siapa tahu sekali waktu aku bisa menikmati buah masa kecil yang tampaknya sudah mulai langka ini.

Beruntung sekali aku malam ini. Ponakan datang membawakan duwet. Ketika kutanya, darimana ayahnya bisa mendapatkan ini. Dia hanya mengatakan tidak tahu. Dan aku belum menanyakan langsung pada pembeli duwet. Yang terpenting, sekarang, aku menikmati manis sepetnya duwet.

 

17 Comments to "Duwet"

  1. RM  1 October, 2012 at 22:01

    hi all..ketemu lagi, smoga semuanya bae2…
    d pasar tradisional cirebon klo bulan okt n nov biasanya musim duwet…ayo2 siapa yg mau borong…

  2. Anastasia Yuliantari  1 October, 2012 at 18:22

    Ooohhh…jamblang itu duwet, to? Baru ngeh sekarang.

  3. Alvina VB  1 October, 2012 at 11:23

    Mbak Roesmi, akhirnya berhasil juga makan jamblang ya…. jadul di rumah nenek saya ada pohon jamblang dan kl dah mateng buahnya, biasanya diambil pakai galah panjang yg ujungnya bisa buat metik. Kl dulu sich kita makannya selalu pakai gula pasir dikit dan kl org Jkt bilang digeprokin gitu dech di taruh dlm mangkok kecil yg ditutup sama piring, rasanya seger banget….

  4. Dewi Aichi  1 October, 2012 at 00:18

    Lho…justru biar sepet saja rasanya…..kan asli….

  5. Anung FP  30 September, 2012 at 22:42

    Duwet termasuk buah musiman bukan ya?

  6. Roesmi S Rus  30 September, 2012 at 22:21

    ini edisi kangen masa cilik, mas AH. jadi ditanggung pasti nyidam berat. selama 14 tahun balik magelang, belum pernah nemu lagi buah ini. so, ketika ada yg kasih, ‘kejutan manis-manis sepet’. Biar saja terasa sepetnya yg khas itu, mb Sasayu. Nah karena dptnya gratisan, bayar pake duwet-duwetan bolehlah, mas Anoew. Mungkin saja sekali waktu dapat kiriman duwet dari Jamblang Cerbon ya, mb Linda

  7. Roesmi S Rus  30 September, 2012 at 22:17

    Kersen bulet kecil. yg masih muda warna masih hijau, mas DJ. yg sdh tua warna merah. Manis ya. Dan meski tidak dijual, masih mudah mendapatkan kersen, karena pohonnya banyak tumbuh di pinggir jalan sebagai peneduh. Di tempatku mengajar saja aku hitung ada 13 pohon. Satunsdh ditebang, uletnya buaaanyak banget. Pas ditebang pd jalan ke mana2 tuh ulet. hiiiiiiii…..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.