Detektif Jitu Bernama CCTV

Nuni

 

“Please teach your son to respect women!” Demikian poster yang tertera di depan sebuah gereja tak jauh dari tempat terakhir Jill Meagher terlihat masih hidup di kawasan Sydney Road, Melbourne, Australia. Misa khusus pun digelar untuk menghormati Jill. Tampaknya kemarahan orang masih belum reda atas tragedy terbunuhnya Jill sekitar seminggu lalu itu. Hari Minggu (30/9) ini pun warga sekitar akan melakukan rally sekitar Sydney Road sebagai bentuk protes warga atas tindak kekerasan terhadap perempuan.

Untuk yang belum tahu soal peristiwa tragis yang sedang jadi buah bibir di sini perlu saya ceritakan sedikit kisahnya sebagai background. Tapi saya tidak akan bercerita terlalu jauh karena kasus ini masih dalam tahap proses penyelidikan polisi, walau tersangka pelakunya sudah diamankan oleh pihak berwajib dalam sel tahanan polisi.

Akhir pekan ini tepatnya Jumat (28/9) dini hari, polisi Melbourne akhirnya menemukan jasad perempuan cantik bernama Jill Meagher (29) yang dilaporkan hilang sejak Sabtu (22/9) dini hari lalu. Sejak Jill menghilang banyak poster selebaran disebarkan baik melalui cara konvensional (di tempat-tempat umum) sekitar kejadian (tempat terakhir Jill terlihat oleh public), hingga melalui internet dan social media.

Antusias warga Melbourne terhadap peristiwa ini tampaknya lumayan besar, karena dari respon yang diterima polisi kabarnya lumayan banyak support untuk membantu memecahkan kasus ini. Termasuk di antaranya halaman khusus di sebuah social media yang dibikin keluarga Jill tak luput dari perhatian dan respon besar masyarakat tak hanya dari Melbourne, Australia atau Negara bagian lainnya bahkan dari negara-negara lain seperti New Zealand, Inggris dan negara asal tempat keluarga Jill berasal yakni Irlandia.

Kasus ini lumayan mendapat perhatian karena memang jarang terjadi perempuan hilang begitu saja di Melbourne karena terkait kasus kriminal. Ini tergolong kasus yang fenomenal dan random terjadi selama beberapa dekade terakhir. Bisa dibilang Melbourne tergolong kota yang aman untuk berwisata dan bisnis apalagi untuk bersekolah (banyak pelajar Indonesia yang betah sekolah di sini), karena tergolong nyaman kotanya jadi benar-benar mengejutkan banyak pihak. Apalagi tahun ini Melbourne baru saja mendapat pernghargaan sebagai kota yang paling layak dihuni oleh sebuah majalah ekonomi dan pariwisata dunia, jadi sangat ironi bukan?

Demikianlah dari jasad temuan polisi tersebut jelas Jill adalah korban pemerkosaan dan pembunuhan. Masalahnya siapa yang tega berbuat biadab seperti itu kepada seorang staff sebuah radio ternama di Australia ini? Polisi lumayan kerja keras untuk mengungkap kasus yang menyedot perhatian banyak orang ini termasuk tentu saja media yang melaporkan khusus peristiwa ini lewat breaking news dan headline mereka. Lantas siapa akhirnya yang berperan besar ikut mengungkap kasus ini? Ya, seperti yang sudah terduga adalah jasa sebuah kamera tersembunyi CCTV di dalam toko bridal (pakaian pengantin perempuan) di kawasan Sydney Road tersebut. Lewat CCTV itu dengan jelas merekam gerak gerik setiap orang yang melintas di depan toko tersebut. Posisi CCTV nya memang cukup stategis, agak ke tengah ruang show room bridal, tapi bisa membidik setiap orang yang lalu lalang di trotoar jalan depan toko tersebut.

Mengapa CCTV itu penting karena di tempat itulah Jill terlihat terakhir kali sebelum akhirnya dinyatakan hilang. Lokasi toko bridal sendiri berdeketan (satu deretan) dengan sebuah café/club malam tempat Jill menghabiskan malam bersama beberapa rekan kerja nya hingga pukul 1 dinihari. Kawasan Sydney Road memang terkenal sebagai kawasan malam yang menyajikan banyak hiburan malam seperti café, club, life music dll. Di kawasan berjarak sekitar 10 menit ke arah utara dari Melbourne CBD itu kalau siang juga ramai karena banyak restaurant, toko serba ada, toko pakaian, halal butchery, hingga perkantoran, lumayan favorit karena memang menawarkan aneka jasa pelayanan yang berbeda termasuk aneka restaurant ala berbagai negara di dunia. Mungkin itu sebabnya kabarnya sebelum Jill memutuskan pulang dengan jalan kaki ke apartemennya yang berjarak sekitar 10 menit, koleganya sudah menawarkan tumpangan, tapi dia menolak dengan alasan rumahnya ga terlalu jauh dari club tersebut jadi mungkin dia merasa aman jalan sendirian di lokasi yang selalu ramai 24 jam itu. Tapi jangan lupa di kawasan itu juga banyak gank-gank kecil (alley) yang tentu akan sepi kalau lewat tengah malam seperti itu, jadi mungkin faktor kesempatan dan naas berperan besar dalam hal ini. Saya lumayan familiar dengan kawasan ini karena sering belanja halal butchery dan juga Indonesia food yang berada ga jauh dari jalan utama Sydney Road.

Demikianlah dari pengamatan CCTV itu terekam beberapa orang yang lalu lalang termasuk juga Jill yang terlihat bercakap-cakap dengan seorang pria yang mengenakan jumper hoody berwarna biru. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, CCTV juga berhasil merekam sebagian gambar tampak samping wajah si pelaku dan juga korban (Jill). Dan lewat jasad yang ditemukan di sebuah lubang dangkal sekitar 50 km barat daya Melbourne terungkaplah semua siapa pelaku pembunuhan tersebut yang sesuai dengan sosok yang terekam dalam CCTV. Maka polisi pun semakin yakin pria tersebut adalah pelaku utama pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Jill. Kini semua sudah lega, pelakunya sudah terungkap. Sekali lagi berkat CCTV yang merekam gerak gerik orang tersebut polisi berhasil menyelesaikan teka teki kasus pembunuhan yang terjadi sejak seminggu lalu.

Kini pemerintah kota Melbourne pun merasa perlu untuk menambah pemasangan kamera CCTV di tempat-tempat umum karena menurut mereka sekitar 3000 an CCTV yang sudah ada dirasa masih kurang untuk melindungi warganya dari berbagai ancaman criminal. Tentu saja niat baik tak selalu mulus karena banyak kendala yang menghadang rencana pemkot tersebut, di antaranya, masalah privacy yang juga menjadi sorotan utama warga sini, harga CCTV yang tergolong mahal (puluhan ribu dollar) terutama untuk yang 24 jam dan juga perawatannya, serta tenaga untuk memantaunya/tenaga operasional yang bekerja memantau CCTV di tempat-tempat strategis. Karena menurut mereka, CCTV dirasakan lebih banyak manfaatnya daripada sisi negatifnya, seperti factor vandalisme yang diyakini mereka tak terlampau besar kasusnya terdata oleh pemerintah, lagipula alasan mereka pemerintah dan aparat bisa bergerak cepat bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti halnya kerusuhan yang baru-baru ini terjadi di Inggris (London) pelakunya juga berhasil diringkus polisi berkat jasa pengamatan mata-mata tajam CCTV milik pemerintah lokal setempat.

Demikianlah, pro kontra selalu ada pada hal-hal apapun termasuk halnya dengan pengadaan CCTV yang dinilai terlalu berlebihan di dalam ruang public (toko, perpustakaan, toilet, kantor, bank, airport dll). Tapi memang nyatanya saat ini kita sedang hidup di dunia penuh mata-mata, sepertinya tak sepenuhnya bebas lagi melanglang buana. Bahkan sebuah produk provider telepon selular di sini pun sudah melengkapi perangkat rekam jejak, sehingga akan melaporkan posisi terakhir sang pemilik kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti ini.

Ada satu cerita pengalaman lucu tentang CCTV ini. Suatu saat anak sulung saya yang waktu itu masih berusia 4 thn (sekarang 5,5 thn) diajak ke departemen store kesayangannya (karena toko ini menjual mainan-mainan favoritnya) mungkin dia mulai tanggap dengan CCTV, dia melihat layar monitor tak jauh dari pintu masuk dept store tsb dan melihat wajah kami di layar tersebut. Lantas dengan gaya polosnya dia berteriak-teriak, “Look mommy, we are in TV!” tentu saja orang-orang di sekeliling jadi tersenyum. Suami saya pun coba menjelaskan apa itu CCTV, mengapa ada CCTV di toko, bank, kantor dll sesuai dengan daya pikir anak-anak, seperti harus bersikap behave karena CCTV akan merekam dan security akan datang kalau terjadi sesuatu. Lantas dengan respon lugunya waktu itu anak saya pun cuman berucap enteng, “So, I can’t be naughty again at the store.” He he he tapi nanti kalau sudah besar dia akan mengerti dengan sendirinya karena di sekolah juga akan dijelaskan oleh gurunya.

 

12 Comments to "Detektif Jitu Bernama CCTV"

  1. Nuni  2 October, 2012 at 07:08

    Thx u semua yg udah mampir nonton CCTV) he he tuh ketangkep semua mukanya!!! iya bener kata bang Napi eh bang Gandaalf dan bang JC, ongkos server dan perawatannya yg muahal bgt yaaa…tapi kayaknya niat pemkot bakal didukung sih asal ga banyak-2 nambahnya biar kota Melbourne makin uhuy!

    Untuk Lani: monggo kalo ke sini aman-2 aja kok insyaallah asal ga dpt wrong time wrong place kayak gini, ini kasus jarang bgt terjadi di sini…

    Mba Ninik: kapan jln-2 ke sini lagi???

    Aye setuju banget sama ANoew, Alvina dan Linda, Anoew itu dia repotnya kalo CCTV ditaro di Jkt, aman ga ya??? di sini sih yg di jalanan aja aman, tapi org jadi sebel, soale dikit-2 ketangkep speeding atau ngelanggar lampu merah, kata org sini itu sih proyeknya pemda he he he…padahal sih demi keamanan semua ya, maklum org sini demen ngebut kalo driving, abis jarang muacettttt cet….Alvina…tenang, kayaknya pemda bakal gol planning nya krn org makin sadar demi keamanan bersama dan juga menghindari hal-2 yg tak diinginkan

    Oom Han: itu ide yg bagus juga, tapi hrs bermodal bgt ya)
    Dewi Aicihi: iya itu perlu apalagi kalo kita lbh merasa safe why not? ok see u later utk semua….

  2. Handoko Widagdo  2 October, 2012 at 06:41

    Bagaimana kalau maling yang pasang CCTV supaya tahu kapan yang punya rumah/satpmnya sudah lengah?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.