Nonton Festival Kutoarjo (2)

Anung F. Prayitno

 

Halo keluarga Baltyra,

Jangan bosen ya lihat jepretan aku, masih dalam Festival Kutoarjo ke-V ada tari dolalak, konon katanya sudah pernah tampil di beberapa Negara, Setelah tanya mbah Google, Wiki ada beberapa keterangan asal mula tari dolalak.

Asal mula kesenian dolalak adalah akulturasi budaya barat (Belanda) dengan timur (Jawa). Pada jaman Hindia Belanda Purworejo terkenal sebagai daerah/tempat melatih serdadu/tentara. Sebagaimana tentara pada jamannya, mereka berasal dari berbagai daerah, tidak hanya Purworejo saja dan dilatih oleh tentara/militer Belanda. Mereka hidup di tangsi/barak tentara.

Pada awal pertunjukannya kesenian tersebut tidak diiringi instrumen, namun dengan lagu-lagu vokal yang dinyanyikan silih berganti oleh para penari atau secara koor. Perkembangan berikutnya setelah dikenal dan digemari oleh masyarakat, pertunjukan kesenian ini diberi instrumen/iringan dengan lagu-lagu tangsi yang terasa dominan dengan notasi do-la-la. Dalam proses perkembangannya dari pengaruh jaman dan kondisi kemasyarakatan serta penyajiannya maka kesenian ini kemudian menjadi Dolalak.

Adapun penyebaran tari Dolalak ini dimulai dari Desa Kaligono Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo, kemudian “merembes” ke wilayah sekitarnya. Sudah di Hak Patenkan milik PURWOREJO,  http://purworejonews.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=999

Ini salah satunya “Paguyuban nDOLALAK Putri Pertiwi Desa Sumberrejo Purwodadi”

Sedang untuk iringan nyanyian menggunakan syair – syair dan pantun berisi tuntunan dan nasihat. Isi syair dan pantun yang diciptakan merupakan campuran dari bahasa Jawa dan bahasa Indonesia sederhana.

SAMPUR, dipergunakan sebagai pelengkap busana, yang merupakan kebiasaaan orang Jawa dalam melakukan kegiatan menari yang selalu menggunakan sampur/selendang.

Memerlukan kekompakan team dan tiap-tiap pasangan.

Kostum penari dolalak, mengenakan layaknya pakaian serdadu Belanda, yaitu pakaian lengan panjang hitam dengan pangkat di pundaknya, topi pet, dan kacamata hitam.

Tarian dolalak semula ditarikan para penari pria, namun dalam perkembangannya, dolalak ditarikan penari wanita, bahkan kini jarang sekali ditemui ada grup dolalak dengan penari pria (angguk/Jidur).

Memang lebih cocok penarinya wanita, Pria bantu jadi suara 2 sajalah …

Penari-penari Dolalak bisa mengalami TRANCE, yaitu suatu kondisi mereka tidak sadar karena sudah begitu larut dalam tarian dan musik.Tingkah mereka bisa aneh-aneh dan lucu.

Nah lho …

Biasanya yang ketiban sampur pertama adalah orang penting lho….

Terbukti kalau perempuan yang nari, sopan : “Nyuwun sewu, gantian sama yang motret Pak!”

“Ma’af tukang potretnya ga ketemu, lanjut saja?” bisik Pawang yang belum sempet ganti kostum.

PAMITAN, Minta tolong DIRAPIKAN! Sudah Mau Pulang ….

Beberapa sumber :

http://pdk.purworejokab.go.id/artikel.php?dtl=6#

http://www.promojateng-pemprovjateng.com/detail.php?id=770

 

Semoga bisa sedikit menghibur Baltyra semua. Semoga juga makin banyak kesenian daerah yang bermunculan yang merupakan kekayaan kesenian dan kebudayaan di Indonesia.

Salam Purworejo Berirama

 

37 Comments to "Nonton Festival Kutoarjo (2)"

  1. Dian Nugraheni  5 December, 2012 at 09:40

    Aku asli Purworejo, adikku juga penari…suka juga tampil nari Ndolalak..sampai ke Mangkunegaran juga dulu aku pernah liat…
    Biasanya, satu dari para Penari suka ada yang “kerasukan”…ngeri2 asyik ngeliatnya…kalau diajaak, aku masih mau lho nariin ndolalak…Ikan cucut mandi di laut…, bla..bla..bla..bergoyang buntut…itu salah satu lagunya kalaau ga salah…hay..hay….Ihiiirrrr…

  2. sri suryati  20 November, 2012 at 16:54

    Foto fotonya bagus dan karakter pemain terlihat jelas..kegembiraan,ketegangan terlihat nyata, makasih yaa, salam budaya..

  3. Kornelya  6 October, 2012 at 07:15

    Keren banget kostum dan penarinya. Walau terbungkus rapih, tetap terlihat bening. hahaha

  4. Lani  6 October, 2012 at 03:48

    32 JURAGAN PONDOL : sesama sak ndeso ndak boleh saling mendahului……..gmn klu kita berdua saling melestarikan kesenian ini????? milih endi? kowe nunggang jaran kepang????? aku macak ndolalak????? wahahahah……..member yg ikut nabuh gamelan……mengko kesurupan bareng2…….setelah sembuh gimana makan gempol pleret……..dan es cendol?????

  5. lili  6 October, 2012 at 01:04

    matur nuwun mas sudah diliput kebudayaan dolalak, kotaku je.. Purworejo gitu!!! yu Lani tuh… perlu melestarikan juga di KOna.. .. bukannya biasanya dolalak dibarengi sama jaran kepang? makanya bisa trance ya.. kan biusap begitu.. utk meula dan mengakhiri…

  6. Anung FP  2 October, 2012 at 09:34

    Handoko Widagdo
    —————————–
    Pd dasarnya sama pa, mungkin cuma penyebutan namanya dari masing2 daerah berbeda (PWR)
    ada yg bilang JIDUR, ANGGUK, DOLALAK
    ada lagi ni yg mirip2 gitu di daerah lain (PWR) namanya MADYO PITUTUR
    tentunya Hiburan yang ada tarian, nyanyian (syair2) berisi tentang pitutur (wejangan), ajaran hidup..
    tq

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.