Writing in Silent Time

Wesiati Setyaningsih

 

Kemarin saya ngambek enggak mau ngajar. Lebay, memang. Tapi saya kehabisan akal. Tahun ini saya dipercaya menjadi wali kelas X-1 yang kebetulan anak-anaknya gemar bicara. Ini menjadi keluhan banyak guru. Mereka tidak juga berubah meski berbagai cara saya lakukan. Dari menasehati tiap kali masuk kelas, sampai ‘menghukum’ dengan silent time di mana saya meminta anak-anak untuk berdiam diri selama 15 menit. Sampai kemarin tidak ada perubahan berarti bahkan masalah bertambah dengan laporan adanya anak yang tidak mengerjakan PR dan menggunakan HP saat pelajaran.

Besoknya, saya mengecek pekerjaan yang saya berikan sebelumnya apakah sudah dikerjakan. Karena ternyata belum semua menyelesaikan pekerjaannya, saya minta menyelesaikan pekerjaan itu sementara saya memasukkan nilai ulangan. Bukannya mengerjakan, malah beberapa dari mereka bercanda lagi. Saya minta mereka segera menyelesaikan lalu mengumpulkan LKS. Ketika saya lihat pekerjaan mereka, ternyata masih banyak juga yang belum selesai. Saya benar-benar jengkel, tapi marah-marah di kelas saya tidak suka. Capek.

Saya bilang pada anak yang kebetulan sedang di ruang guru bahwa saya tidak mau mengajar hari itu karena satu pekerjaan sudah dua kali diperintahkan tapi tidak diselesaikan. Saya minta dia mengambil saja LKSnya tapi saya tidak akan mengajar. Beberapa anak kemudian menghampiri saya dan meminta maaf dan parahnya, anak-anak yang datang itu justru anak-anak yang kemarin pekerjaannya selesai. Saya cuma bisa merasa konyol sendiri.

Akhirnya saya putuskan besoknya saya akan mengajar lagi tanpa perlu marah-marah. Marah juga buat apa? Saya jengkel sampai kaya apapun juga pasti mereka tidak akan paham. Dinasehati berkali-kali saja tidak paham apalagi cuma dibiarkan saja?

Pagi sebelum bel masuk sekolah, dua orang anak sudah datang dan membujuk,

“Bu, nanti masuk ya..”

Jelas saya mengiyakan karena memang saya sudah berniat masuk kelas.

Di kelas, setelah memberikan tugas dan mendiskusikannya, saya sengaja menyediakan waktu sekitar 30 menit. Lima belas menit saya gunakan untuk menjelaskan kenapa kemarin saya tidak mengajar. Lima belas menit lagi saya gunakan untuk silent time lagi yang idenya tiba-tiba terlintas, cuma kali ini berbeda.

Entah kenapa tiba-tiba saya ingin tahu apa yang sedang mereka pikirkan. Cuma karena mereka gemar bicara, saya sengaja bilang bahwa ini saatnya silent time tapi dengan menulis. Karena saya guru, suka-suka saya mau menyuruh mereka melakukan apapun, bukan? :D

Instruksi yang saya berikan, masih sama. Meminta mereka diam, bicara dengan diri sendiri, namun kali ini mereka harus menuliskan apa yang sedang mereka pikirkan. Waktu silent time baru habis kalau bel ganti pelajaran berbunyi. Karena ini bukan bagian dari pelajaran, saya minta mereka menuliskan dalam bahasa Indonesia agar lebih mudah. Kalau saya minta menulis dalam bahasa Inggris, bisa-bisa mereka malah saling bertanya dan kelas ramai lagi. Padahal saya Cuma ingin tahu apa yang mereka pikirkan. Itu saja.

Tanpa bicara mereka menulis. Beberapa segera menulis dengan lancar, lainnya lama berpikir dan belum juga menulis apa-apa.

“Tulis apa saja. Mulai dari sekarang apapun yang terlintas atau kalian tidak akan menulis apa-apa nanti,” kata saya.

Akhirnya semua menulis. Beberapa anak perempuan menulis sambil menangis. Entah kenapa kalau saya mengadakan silent time beberapa anak malah menangis. Ketika beberapa waktu lalu saya mengadakan silent time, beberapa anak juga menangis. Kalau waktu itu saya tidak tahu apa yang mereka pikirkan, kali ini saya akan tahu karena saya bisa membaca tulisan mereka nanti.

Sekitar 7 menit menulis, saya meminta mereka berhenti. Kemudian saya minta mereka meditasi sebentar dengan memejamkan mata, memikirkan jadi apa mereka kira-kira 15 tahun kemudian. Saya minta mereka melihat benar dalam kegelapan mata terpejam, detil pekerjaan mereka, apa yang mereka pakai dan apa yang mereka kerjakan. Sekitar 3 menit saya meminta mereka membuka mata dan menuliskan apa yang mereka lihat. Mereka menulis dengan lancar. Malah ada yang menulis sambil menangis. Padahal tadi dia baik-baik saja.

Bel berbunyi dan waktu habis. Beberapa masih meneruskan menulis untuk menyelesaikan kalimatnya. Saya mengakhiri pelajaran pagi itu dengan berpesan agar mereka melanjutkan menulis di rumah bila masih ada ganjalan yang ingin dituliskan tapi belum sempat diselesaikan.

Saya kemudian masuk ke kelas berikutnya. Sambil menunggu anak-anak mempersiapkan diri iseng saya membaca sekilas beberapa. Hasilnya sungguh mengejutkan. Beberapa dari anak-anak yang berisik ini memang ternyata penuh masalah hidup yang mereka rasakan berat.

Siang pulang sekolah ada sms dari murid mengatakan :

Terima kasih ya bu, lumayan lega setelah nulis tadi.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

20 Comments to "Writing in Silent Time"

  1. Dewi Aichi  2 October, 2012 at 22:29

    Haha ha ha…woi Semarang…

  2. wesiati  2 October, 2012 at 18:33

    ra kenthir ra seru! wahahahah…..

  3. Nur Mberok  2 October, 2012 at 12:32

    Baru kusadar… wesiatiyem yang kenthir ternyata suka waras juga….. hahaha…..

    Memang ada banyak hal yang bisa kita gali saat kita beri kesempatan anak-anak menuliskan hal yang dipikirkan atau dirasakannya. Waktu aku mengajr dulu anak kelas 2 SD juga mengungkapkan betapa ia merasa dibenci orang tuanya karena sering dimarahi, tetapi dengan jiwa besar dia tahu bahwa itu adalah cara orangtuanya mencintai dia. Lalu ia mendoakan orangtuanya supaya diberi kesabaran menghadapinya…. sungguh luar biasa anak-anak itu….. Jadi kangen mengajar…

  4. wesiati  2 October, 2012 at 12:17

    kadang saya berharap, jaman saya dulu ada satu guru aja yang mau ngajari tentang meditasi dan mau ngasi cara2nya di kelas. biar kepala enggak panas seharian. udah mapel susah2, kalo enggak bisa diomelin mulu, di rumah diomelin ibu saya yang darah tinggi. coba dari dulu saya tau tentang meditasi, mungkin saya bisa menemukan ketenangan lebih awal.

    apapun penilaian orang, saya terima. apapun yang dilakukan murid saya mengenai cara ini, saya terima juga. ada yang kemudian mau meneruskan sendiri di rumah, ada yang enggak. baik saja. semua orang akan menemukan sendiri ketenangan jiwanya. apapun caranya.

    mungkin saya harus nulis lebih banyak lagi tentang ini. soalnya si Marke yang smsnya saya potong untuk kalimat akhir itu, punya cerita yang menarik tentang ‘inner peace’. (murid2 biasa sms saya dan ngajak curhat) mohon maaf dulu kalo nanti saya dinilai melanggar privacy Marke. di note nanti tidak akan saya tulis nama dia… smoga nanti sempat nulis note-nya.

    terima kasih banyak atas tanggapan2nya…

  5. wesiati  2 October, 2012 at 12:11

    kalo mau jujur, tulisan ini sebenarnya justru menunjukkan gimana parahnya pendidikan kita. seorang guru seenaknya pake cara dia untuk ‘meditasi’ dan curhat. tapi mengingat banyak lagi keparahan yang lain : ninggalin kelas (enggak ngajar pas jam dia ngajar karena sesuatu yang enggak penting), kasi PR yang enggak masuk akal banyaknya, kasi tugas yang diluar kemampuan siswa (anak kelas 3 SD disuruh bikin topeng bulu, misalnya), saya kira cara saya lebih masuk akal.

    memang saya juga merasakan kok. saya sedang melakukan hal yang tidak masuk akal : pelajaran bahasa inggris kok pake meditasi dan curhat2an. na sekarang, daripada saya ngajar lalu mereka enggak siap dan berisik mulu, kan mending enggak usah ngajar sekalian, tapi mereka saya minta ‘silent time’. sama kaya anak om DJ yang memberikan waktu buat murid2nya istirahat. cuma kalo murid saya saya biarin istirahar doang dan masih boleh ngomong sama temannya, yang terjadi adalah mereka akan ribut banget di kelas.

    masalah nulis curhatan, saya cuma ingin mereka ada kesibukan aja pas silent time. jadi saya suruh nulis, eh, ternyata anak-anak yang kemarin waktu silent time itu nangis, nulis curhatan tentang hidupnya yang begitu rumit. dia anak ke4, 3 orang kakaknya laki-laki, bapaknya selingkuh mulu jadi ibunya marah2 terus dan jadinya sering bertengkar. anak lain yang nangis waktu silent time, bapaknya nikah lagi. anak lain, bapak ibunya cerai dia dititipin di neneknya dan dia merasa terbuang.

    masalah penilaian terhadap cara saya, apapun itu terserah aja. tapi nyatanya dengan melihat apa yang mereka tulis, saya jadi tau apa yang sedang mereka hadapi. akhirnya, kalo ada guru yang complain tentang seorang anak, saya bisa memberi masukan yang seimbang dan menghindarkan anak itu dari mendapat penghakiman yang semata-mata menyudutkan.

  6. Handoko Widagdo  2 October, 2012 at 06:40

    Kapan kita punya guru kreatif seperti ini ya? Wesiati adalah sedikit guru hebat yang tersisa di Nusantara.

  7. Dewi Aichi  2 October, 2012 at 05:57

    Saya sepakat dengan cara atau sistem yang bu Wesiati gunakan dalam mencari jalan keluar seperti itu, karena tidak semua murid bisa mengeluarkan unek-uneknya dengan lisan, atau berbicara secara langsung, baik kepada gurunya atau orang tuanya sehingga berpengaruh tidak baik disaat jam pelajaran. Tidaklah bijaksana kalau semua hal-hal negatif yang ditampilkan murid sekolah hanya dipertanyakan kepada pihak sekolah atau gurunya saja. Harus dipertanyakan juga bagaimana kontribusi orangtua murid untuk keberhasilan pendidikan seorang anak di sekolah termasuk dalam hal pembinaan karakter keseharian anak di sekolah. Jika ada sesuatu yang salah pada murid, misalnya murid tidak perhatian pada gurunya yang sedang mengajar dan itu selalu dilakukan maka guru juga berhak menegur, memberi peringatan, jika menemui jalan buntu, guru bisa memberi peringatan yang dikirimkan ke ortu murid sehingga tau kenapa si murid seperti itu., Silent time, bisa memberikan kesempatan kepada murid untuk melakukan perenungan, dan memilih suatu tindakan , keluar dari masalahnya, jika si murid tidak bisa berkomunikasi dengan orang tuanya sendiri. Dengan menuliskan permasalahannya, tanpa dikasih nama siapa penulisnya, tetapi hal itu bisa menjadikan perasaan yang lega , karena telah mengeluarkan unek uneknya. Ahh..saya tau bu guru Wesiati lebih tau apa yang harus dilakukan daripada saya….he he…iya kan bu?

  8. matahari  2 October, 2012 at 04:02

    Sama seperti pak Djoko…s.aya juga merasa aneh membaca pernyataan Ibu Wesiaty…”Karena saya guru, suka-suka saya mau menyuruh mereka melakukan apapun, bukan?

    Kata “ suka suka “disini menunjukkan sikap arogansi….dan sangat aneh karena kata kata ini justru dinyatakan oleh seorang guru…Sekilas saya baca Ibu Wesiaty orang yang punya rasa ingin tahu yang besar akan masaalah pribadi murid murid dan kemungkinan tujuan Ibu menyuruh mereka menulis itu agar Ibu tau masaalah pribadi mereka…apalagi ada beberapa murid perempuan yang sebelumnya menangis setiap ibu berikan silent time:

    Entah kenapa kalau saya mengadakan silent time beberapa anak malah menangis

    “Ketika beberapa waktu lalu saya mengadakan silent time, beberapa anak juga menangis. Kalau waktu itu saya tidak tahu apa yang mereka pikirkan, kali ini saya akan tahu karena saya bisa membaca tulisan mereka nanti.”..


    Sambil menunggu anak-anak mempersiapkan diri iseng saya membaca sekilas beberapa. Hasilnya sungguh mengejutkan. Beberapa dari anak-anak yang berisik ini memang ternyata penuh masalah hidup yang mereka rasakan berat”

    Kata kata “Ternyata “disini menunjukkan bahwa Ibu sudah mencurigai bahwa murid murid Ibu punya masaalah pribadi…

    Kalau dari kaca mata Eropa….yang Ibu lakukan ini salah karena Ibu memberi semacam umpan agar murid murid Ibu menuliskan masaalah pribadi mereka..sementara Ibu bukan seorang dokter atau psikolog…yang mana profesi psikolog itu ada sumpahnya….yaitu tidak memberitahu orang lain mengenai apapun yang pasien katakan…. Dan seorang guru?Saya tidak tahu apa punya sumpah jabatan seperti itu.

  9. Dj.  1 October, 2012 at 23:52

    Mbak Weesiati….
    Dj. pikir tidak akan dijawab, taunya dijawab juga.
    Terimakasih ya….
    Bukan Dj. katakan mbak Wes tidak boleh bikin hal tersebut.
    Tapi Dj. tulis, KALAU DI JJERMAN, hal ini tidak akan terjadi.
    Karena di Jerman, pelajaran kimia ( contohnxs saja ) ya belajar kimia.
    Tidak mungkin dalam pelajaran kimia, menyuruh murid untuk bermeditasi.
    Meditasi, “mungkin” bisa dalam pelajaran Joga atau apalah……
    Nah kalau di Indonesia masih boleh, ya silahkan saja.
    Yang penting, kan tujuan mbak Wesiati adalah baik adanya.
    Ingin agar murud, tenang dan tidak ribut, bisa belajar dengan baik.

    Dj. juga beberapakali sedikit sharing dengann guru di Indonesia.
    Dan ingat guru Dj. saat di SR dulu, malah tidak ada pendidikan gurunya sama sekali.
    Mereka masih mahasiswa, tapi karena dibuutuhkan, maka mereka juga terjun mengajar.

    Kalau di Jerman, ya tidak mungkin.
    Anak Dj. ( contoh ) dia kuliah 2 jurusan , Biology dan agama ( global Region ).
    Dua-duanya punya diplom.
    Selesai kuliah, dia menunggu panggilan dari pusat, untuk sekolah lagi, agar bisa ngajar selama 2 tahun.

    Kalau tidak langsung dapat tempat, ( panggilan ) maka dia mungkin hanya boleh mengajar beberapa jam saja ( latihan mengajar )
    Dan dan setelah sekolah 2 tahun, maka dia harus ujian negara.
    Baru dia boleh mengajar, itupun selama 1 tahun diawasi ( dibimbing oleh guru yang senior ).
    Setelah itu dia boleh mengajukan untuk jadi pegawai negri.
    Karena pegawai negri, dia boleh pensiun umur 55 tahun, kalau guru biiasa, maka dia harus kerja smpai umur 65 tahun.
    Begitupun upah pegawai negiri jauh lebih besar daripada guru biasa ( pperbedaannya sekitar Rp 24,- juta ).
    Melihat hal ini, memang upah mereka besar, tapi kalau dilihat dari pendidikannya , juga tidak mudah..

    Dia pernah hampir putus asa dan berkata, tau begini, mending sekolah kedokteran, jauh lebih muduah.
    Karena nilai kelulusan kuliahnya, dia mencapai nilai 9,8
    Dan dia juga bilang, kuliahnya sangat mudah, tapi pendidikan gurunya yang sangat sulit, dia lulus dengan nilai 9 saja.

    Okay, selamat mengajar dan semoga sukses selalu.

  10. Lani  1 October, 2012 at 23:00

    WESIATI : menjadi pendidik/guru, tugas mendidik mmg sulit………apalagi dikelas ada puluhan murid…….buatku? aku ora sanggup……..hehehe…….wlu kerjaanku jg membutuhkan super duper kesabaran, dan hrs penuh cinta…….pdhal cm wong siji tok……….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.