What’s Next Setelah Pilgub DKI Jakarta 2012?

JC – Global Citizen

 

Pasangan gubernur terpilih Jokowi – Ahok resmi diumumkan oleh KPUD DKI Jakarta dengan 53.82% berbanding 46.18%. Hasil pilgub ini sesuai dengan prediksi saya dalam artikel: http://baltyra.com/2012/03/27/menakar-kekuatan-calon-dki-1-dan-2-pemanasan-2014/ dan mengutip penutup artikel tsb:

Sepertinya laga calon DKI-1 dan DKI-2 adalah pemanasan dan saling mengukur kekuatan serta mulai melirik para calon RI-1 dan RI-2 di 2014, yang masih dua tahun dari sekarang. Saling menjajaki potensi dan dukungan partai-partai yang bisa menjadi sekutu sepertinya merupakan agenda utama di balik ramainya pemilihan DKI-1 dan DKI-2 kali ini. Siapa pemenangnya, apakah ketokohan dan reputasi seseorang lebih berpengaruh ketimbang reputasi dan solid tidaknya partai? Menghitung dukungan dan perolehan suara kali ini akan menjadi amunisi di 2014 nanti.

Dalam putaran pertama dan menjelang pemilihan putaran kedua, baik PDIP dan Gerindra jelas-jelas menyangkal agenda utama mengukur kekuatan untuk 2014 ataupun “testing the water” ranah politik nasional dari cermin hasil pilgub paling seru dalam sejarah republik ini.

Bergabungnya dua kekuatan PDIP dan Gerindra mendukung dan mengegolkan pasangan Jokowi – Ahok mendulang sukses besar dengan kemenangan pasangan favorit nasional ini (bukan hanya DKI Jakarta). Reputasi coreng moreng Demokrat dan partai uzur Golkar, yang bergabung mengusung Kumon Fauzi Bowo – NaRa, yang masih didukung oleh partai ‘agamis’ (yang lebih banyak munafiknya dan punya ‘presiden’ sendiri) serta partai-partai ‘besar’ lain tidak cukup kuat menahan langkah Jokowi – Ahok. Ketika si NaRa ber-haiya-ahok-haiya, di situlah lonceng kekalahan sudah ditabuh sendiri.

Tamparan telak dengan tergulingnya Kumon (KUmis MONtok) Fauzi Bowo – satu-satunya gubernur yang hanya menjabat satu periode dan terjungkalnya partai-partai pengusungnya. Rakyat mengabaikan seruan partai-partai besar, terlebih lagi mengabaikan seruan Rhoma Irama – si Rasis-Berdalil-Pokoke-Bernalar-Picik yang mengkafir-kafirkan Ahok yang beretnis Tionghoa dan beragama Kristen, yang masih bersambung dengan pernyataan ‘aib besar bagi bangsa’.

Terbukti bahwa mayoritas masyarakat masih menjunjung tinggi pluralisme di negeri ini, bahwa Republik Indonesia bukan negara agama dan dikangkangi golongan tertentu.

Belum lagi KPUD DKI Jakarta tuntas menghitung perolehan suara, persaingan PDIP dan Gerindra untuk menakar 2014 terbukti. Tidak perlu menunggu lama perseteruan terbuka PDIP dan Gerindra berkobar. Taufik Kiemas mengeluh merasa ‘rugi’ berkoalisi dengan Gerindra karena ternyata justru kemenangan Jokowi – Ahok malah menaikkan pamor Prabowo bukannya Megawati – istrinya. Ada lagi berita PDIP merasa dimanfaatkan untuk pencitraan Prabowo. Dalam saat yang hampir bersamaan, Prabowo menyatakan siap menerima amanat maju sebagai presiden di 2014.

Diakui atau tidak, kemenangan Jokowi – Ahok semakin memuluskan langkah Prabowo untuk maju di 2014. Sementara kalau PDIP cerdik menakar peluang dan potensi diri sendiri, tidak akan ngotot untuk mencalonkan lagi Megawati, yang dari segi usia sudah bukan saatnya lagi maju menjadi presiden, ditambah sudah berapa kali pencalonannya tidak pernah mendulang sukses sama sekali. Megawati dengan PDIP’nya akan menuai simpati dan memupuk suara potensial jika Megawati dengan legawa tidak maju sebagai calon presiden 2014. Lebih baik Megawati dan PDIP mulai mencari seseorang dengan ketokohan dan kharisma seperti seorang Jokowi, mengkadernya dan mengusungnya di 2014. Dalam situasi demikian, Megawati menampilkan dirinya sebagai seorang ibu bangsa, yang legawa dan ngemong serta membina sosok alternatif yang merakyat dan bersih track record’nya.

(Koran Tempo)

Jika Megawati masih nekad maju di 2014, berarti memang dia seorang politisi bebal yang tidak ‘nggrayangi githok’e dhewe’ (tidak introspeksi diri sendiri). Justru sekarang mumpung nama PDIP membaik dengan momentum menangnya Jokowi, PDIP harus mencari tokoh alternatif yang diterima masyarakat luas.

Dahlan Iskan adalah satu contoh tokoh yang bisa diusung oleh PDIP dan memiliki nilai positif di mata mayoritas rakyat Indonesia dibandingkan jika Megawati sekali lagi maju di 2014. Puan Maharani juga bukan pilihan bagus untuk diusung di 2014. Dan sepertinya Jokowi bukanlah pilihan terbaik untuk 2014, karena baru dua tahun menjabat sebagai DKI-1, bukanlah ide yang baik mengusungnya di 2014 untuk RI-1.

Saat ini Prabowo dengan Gerindra masih di atas angin untuk segala-galanya. Usia, partai yang cukup solid, dana yang almost-unlimited, dan membaiknya reputasi serta ketokohannya di mata masyarakat. Ciri khas masyarakat Indonesia adalah mudah lupa, masyarakat yang amnesia sejarah. Belum lama berselang kemungkinan terlibatnya Prabowo dalam Prahara Mei 1998 masih belum terbukti iya atau tidaknya, toh sekarang sebagian masyarakat sudah melupakannya.

Kemeriahan dan hiruk pikuk menuju 2014 semakin ditambah dengan pernyataan-pernyataan Amien Rais yang semakin mencerminkan kepikunan dan kalapnya kehilangan popularitas di usia senja. Pernyataannya semakin ngawur dan nglantur:

http://megapolitan.kompas.com/read/2012/08/21/1625103

http://www.republika.co.id/berita/menuju-jakarta-1/news/12/09/19/makulv-amien-rais-solo-itu-kumuh-dan-gelap

http://jogja.okezone.com/read/2012/08/21/511/679835/amien-rais-jokowi-wali-kota-gagal

Itu masih sebagian kecil dari kepikunan Amien Rais.

Bagaimana dengan partai koruptor berwarna biru? Bagaimana partai pohon beringin? Partai agamis? Partai si pikun Amien Rais? Kalau partai-partai itu tidak berkoalisi di pemilu sebelumnya, sudah jelas tidak ada yang menang. Untuk 2014, partai-partai tsb sepertinya benar-benar harus berhitung dan menakar kekuatan sendiri. Partai-partai baru penggembira, Hanura dan Nasional Demokrat yang jelas cukup solid pundi-pundinya akan menambah semaraknya 2014 nanti. Suara-suara terpecah semakin banyak, koalisi-koalisi yang menghasilkan negosiasi politik semakin banyak. Sepertinya Gerindra bisa menjadi ‘bintang baru’ di 2014 nanti, sama seperti Demokrat di 2009 yang di 2004 sudah mulai dikenal. Tidak kalah meriahnya adalah para penggembira pupuk-bawang seperti Yusril Ihza Mahendra (http://nasional.kompas.com/read/2012/09/28/02425638/Yusril.Tegaskan.Siap.Jadi.Capres.2014).

Dari riset yang dilakukan oleh Koran Tempo, nampak para pemilih dengan pendidikan rendah yang memilih petahana (incumbent) Kumon Fauzi Bowo dan menyukai isu etnisitas dan POKOK’E kesamaan agama. Namun di saat yang sama partai-partai besar tidak akan gegabah lagi mengedepankan isu etnis dan POKOK’E kesamaan agama untuk hajatan lebih besar di 2014 dibanding ‘pilot project’ pilgub DKI Jakarta 2012 ini.

(Koran Tempo)

 

Beberapa sumber:

http://nasional.kompas.com/read/2012/09/08/13205143/Prabowo.Saya.Siap.Menerima.Amanat.Menjadi.Capres?utm_source=WP&utm_medium=Ktpidx&utm_campaign=Ada%20Apa%20Dengan%20Pdi-p%20Dan%20Gerindra

http://nasional.kompas.com/read/2012/09/23/14432579/SRMC.JokowiBasuki.Unggul.Untungkan.Prabowo.Ketimbang.Mega?utm_source=WP&utm_medium=Ktpidx&utm_campaign=Ada%20Apa%20Dengan%20Pdi-p%20Dan%20Gerindra

http://nasional.kompas.com/read/2012/09/26/11514921/PDIP.Tak.Ada.Janji.Dukung.Prabowo.Nyapres?utm_source=WP&utm_medium=Ktpidx&utm_campaign=Ada%20Apa%20Dengan%20Pdi-p%20Dan%20Gerindra

http://nasional.kompas.com/read/2012/09/26/12312851/PDIP.Merasa.Dimanfaatkan.untuk.Pencitraan.Prabowo?utm_source=WP&utm_medium=Ktpidx&utm_campaign=Ada%20Apa%20Dengan%20Pdi-p%20Dan%20Gerindra

http://nasional.kompas.com/read/2012/09/28/02425638/Yusril.Tegaskan.Siap.Jadi.Capres.2014

http://news.detik.com/read/2012/09/28/172839/2044161/10/waketum-pd-jokowi-effect-sudah-end?991101mainnews

 

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

37 Comments to "What’s Next Setelah Pilgub DKI Jakarta 2012?"

  1. Fidelis R. Situmorang  22 October, 2012 at 03:42

    Iya, masa’ yang tua terus sih? Kasih kesempatan dong sama yang muda- muda

  2. J C  3 October, 2012 at 20:02

    mas Juwandi Ahmad: hahaha….wani piro jawabku kalau ada yang nglamar jadi analis politik… belum tentu berani memuat analisaku kalau di mainstream media…

  3. J C  3 October, 2012 at 19:59

    Alvina: amiiiiinnn…

    mas BagJul: bener buanget kok, sekarang ini partai jelas jadi sarang koruptor kabeh…

  4. juwandi ahmad  3 October, 2012 at 19:58

    Mas josc, justru di Baltyra ini perlu analisis yang unik unik, nyleneh, berbeda gitu loh. he he, gak dilamar dadi analis ya tak apalah. Mbak dewi: he he he….pacar ketinggalan kereta….

  5. Bagong Julianto  3 October, 2012 at 17:23

    JC…

    1. Setuju banget, saat Nara berHaiya, itu adalah tutup bukunya foKE-naRA.
    2. Masa emas partai yang jualan issue SARA, sudah lalu. Kalau masih nekad, berarti mereka nglalu…
    3.Sejak sekarang, “unthul bawang” diganti “pupuk bawang”. Itu kalau pada setuju…..
    4.Indonesia sehat luar dalam pada saat hanya ada 2 partai saja yaitu: Partai Golongan Pekerja Pemikir dan Partai Kaum Pemikir Pekerja…… Partai ‘kok jadi sarana korupsi berjamaah. Edian ‘po?! Horrok tennan kuwi….

  6. Alvina VB  3 October, 2012 at 09:49

    JC, gak masalah dah mau siapa aja yg bakal naik pimpinan di thn 2014, asal bersih dan gak korup….

  7. Anoew  3 October, 2012 at 08:57

    kowe keringeten karena lihat artikel pak Djoko yang semriwing…

    ooh tidak bisaaaa…. jelas artikelnya pak Dj bikin mata tidak mengantuk, bukan keringatan. lha kowe malah yang memperhatikan setiap detil CD dan tattoo di pantai itu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.