Draupadi (7)

Chandra Sasadara

 

Aku sudah tidak tahan lagi menghadapi Kicaka. Aku relakan diriku menjadi pelayan Ratu Sudhesa, meskipun aku sendiri seorang ratu di Negeri Agung Indraprastha, seorang putri dari Negeri Panchala. Namun semua tentang asal usulku aku lupakan. Sekarang aku hanya pelayan. Semua tugas pelayanan aku lakukan dengan iklas. Tanganku berubah kasar, kakiku pecah-pecah, dan rambutku yang selalu dipuji oleh Arjuna kini bercabang di mana-mana. Semua aku jalani tanpa mengeluh sedikitpun. Aku rela menjani semuanya, tapi aku tidak sudi kalau harus melayani Kicaka. Aku tidak akan membiarkannya melecehkanku semaunya.

Mengingat wataknya yang kasar dan bernafsu. Aku menduga Kicaka tidak akan tahan sampai hari yang telah aku janjikan untuk menjawab permintaannya agar suamiku mau menukar diriku dengan sejumlah perempuan dan kekayaan. Dugaanku tidak meleset, aku melihat kelebatan Kicaka di taman Ratu Sudhesa. Aku tahu ia hanya mencari alasan untuk melihatku dan mencegatku agar bisa menggoda atau mengatakan kata-kata yang menjijikkan. Namun kali ini kehadiran Kicaka di taman ratu justru membuatku senang, sebab semua rencanaku dengan Bhimasena bisa mulai dijalankan. Benar saja, ia mencegatku di lorong ke luar taman.

“Sairandri, aku tidak bisa lagi menahan perasaanku.” Kicaka mengucapkan kalimat itu dengan nada merengek dan wajah merah penuh nafsu.

“Tuan senopati, bersabarla beberapa hari lagi. Aku belum bisa bertemu dengan suamiku.”

“Kamu jangan mengulur waktu wahai sudra, jangan mencoba membohongiku.” Wajah Kicaka berubah bengis.

“Tuan, aku tidak berani berbohong pada tuan. Seperi janjiku, beberapa hari lagi aku akan memberikan jawaban.”

“Sairandri, aku bisa memaksamu! Tidak akan ada yang sanggup menolongmu, bahkan Raja Wirata.”

“Aku mengerti tuan, tapi aku juga harus bertemu dengan suamiku lebih dulu.”

“Hai sudra! Sekarang jangan berpura-pura dan keras kepala.” Kicaka membentakku.

“Begitu kuatkah keinginan asmara tuan kepada perempuan sudra, istri raksasa ini.” Aku berusaha melunakkan Kicaka.

“Ooh Sairandri, puaskan dahaga asmaraku perempuan cantik.” Tangan Kicaka meraih pinggangku.

“Tuan, tidak di sini tempatnya. Ratu Sudhesa sebentar lagi akan melalui lorong ini.” Aku menepis tangan Kicaka dengan lembut.

“Dimana putri cantik, di mana kita bisa olah asmara calon ratuku?” Suara Kicaka merengek seperti bayi.

“Aku tidak tidak ingin ada orang yang tahu hubungan kita sebelum suamiku bener-benar menyerahkanku pada tuan.”

“Tapi aku sudah tidak tahan Sairandri, di mana kita bisa melakukan olah asmara malam ini.” Jijik aku melihat wajah, mulut dan mata Kicaka yang seolah mau menelanku.

“Tuan tahu tempat para putri berlatih menari?”

“Tahu, aku tahu Sairandri.” Kicaka menjawab dengan wajah memelas.

“Di seberang tempat para putri berlatih menari itu ada ruang gamelan. Di ruang gamelan itu nanti malam aku akan menunggu tuan.” Aku memaksakan diri ternyum untuk meyakinkan Kicaka.

“Oh Sairandri, malam nanti kita akan mengarungi swargaloka.” Jakun Kicaka naik-turun, entah apa yang ditelannya.

Oh Dewa, apa yang telah aku lakukan. Karma apa yang akan aku tanggung dengan segala muslihat ini. Aku memang tidak suka, bahkan jijik melihat perlakuan Kicaka kepadaku. Tapi apakah aku punya hak untuk menghukumnya. Oh Yudhistira yang agung dan pemaaf. Apakah aku salah kalau ini semua aku lakukan tanpa kau ketahui. Aku hanya ingin kita semua selamat dalam penyamaran dan terbebas dari kesengsaraan yang telah kita tanggung bersama selama tiga belas tahun ini.

*****

Semua pekerjaanku di bilik pribadi Ratu Sudhesa cepat aku selesaikan. Aku ijin kepada ratu agar membebaskanku malam ini dari tugas melayaninya. Cepat-cepat aku menuju ruang latihan menari para putri bangsawan Mastya. Aku mendekam di bilik kecil tempat ganti baju. Sebentar kemudian aku melihat Bhimasena masuk ke dalam ruang penyimpanan gamelan. Tempat di mana aku berjanji untuk menemui Kicaka. Hanya ada satu obor di tempat pelatihan menari, namun cahayanya tidak sampai menembus ruang penyimpanan gamelan. Sehingga ruang itu tetap gelap. Sedangkan bilik ganti di mana aku sembunyi sedikit lebih temaram. Aku yakin kalau Kicaka menyeberang ke ruang gamelan dan melewati bilik ganti ia tidak akan melihatku, sebab aku ada di balik baju-baju menari para putri.

Aku mengirup bau wewangian dan suara langkah kaki menuju ruang gamelan. Aku menduga itu adalah langkah Kicaka. Rupanya ia menyiapkan diri secara istimewa untuk bisa berolah asmara denganku. Mungkin ia memakai baju yang paling bagus, dengan gelang emas yang mahal. Bau wangi yang kuat seperti ini biasanya digunakan oleh seseorang dengan cara menaburkan wewangian ke seluruh tubuh. Aku menduga Kicaka telah menaburi seluruh tubuhnya dengan wewangian.

“Sairandri!!” Kicaka memanggilku dengan suara tertahan.

“Sairandri!” Ia memanggil beberapa kali seperti seseorang yang kehilangan hewan peliharaan.

Ada suara berdenting di ruang gamelan. Aku yakin Bhimasena sengaja memancing Kicaka masuk dalam ruang gamelan untuk meyakinkan bahwa di ruang itu ada seseorangyang sedang menunggunya.

“Ah, kau sudah menunggu jelitaku.” Suara Kicaka hampir tidak bisa aku dengar.

Terdengar lagi suara benda jatuh dari ruang penyimpanan gamelan. Mungkin Bhimasena berusaha meyakinkan Kicaka agar masuk ke ruang gamelan. Aku tahu watak Bhimasena yang tidak sabaran, apalagi orang yang akan dihukumnya tidak jauh dari tempatnya menunggu.

Entah berapa langkah Kicaka masuk dalam ruang gamelan. Namun terdengar suara benda jatuh, kali ini lebih berat dari suara benda jatuh sebelumnya. Disusul suara seperti ranting atau dahan patah beberapa kali. Hanya sekali ada suara ahk, seperti suara orang tercekik.

“Kau raksasa suami Sairandri.”  Itu kalimat terakhir yang aku dengar sebelum semua hening seperti semula. Aku bisa menduga apa yang telah terjadi.

Aku tidak bisa melukiskan perasanku, senang atau sedih. Menyesal atau lega atas kematian Kicaka. Aku merasa berdosa atas kematian Kicaka, hingga saat ini aku merasa tidak berhak membunuh seseorang. Namun aku juga tidak bisa membiarkan ia melakukan perbuatan sesuka hatinya. Mungkin bukan hanya aku yang menjadi korban, sebab ada banyak pelayan Ratu Sudhesa yang juga cantik. Siapa di antara korban-korbannya yang berani melawan Kicaka. Ia seorang senapati, ipar raja dengan kewenangan memerintah yang sangat besar. Bahkan mengalahkan Pangeran Uttara sebagai Yuwaraja Negeri Mastya dalam hal pengaruh kekuasaan.

*****

Seluruh istana geger ketika mayat Kicaka ditemukan. Prajurit Mastya disiapkan di seluruh kota raja, sebagian diperintahkan untuk mengepung istana dan sebagian yang lain diminta untuk mengejar pembunuh sampai di tepi hutan kota raja. Ratu Sudhesa menangis tidak henti-hentinya atas kematian adiknya yang begitu mendadak dan dikabarkan mayatnya dalam keadaan mengenaskan. Seluruh tulang Senapati Kicaka dikabarkan patah, termask tulang leher dan punggung. Matanya melotot dengan lidah menjulur. Benar atau tidak, itulah kabar yang tersebar di lingkungan istana termasuk yang masuk di telinga Ratu Sudhesa.

“Sairandri, apa yang dilakukan suamimu?” Serasa disambar petir. Ratu Sudhesa seolah tahu apa yang terjadi tadi malam.

“Apa maksud ratu?”  Aku menjawab dengan mata menghujam ke lantai.

“Jangan berpura-pura kau sudra!” Ratu Sudhesa membantak.

“Aku tidak mengerti apa maksud ratu.” Aku tetap menahan gejolak hatiku untuk tidak balas membentak. Aku juga ratu, tidak pantas aku diperlakukan seperti ini. Kelak kau akan menyesal Sudhesa kalau tahu siapa Sairandri ini.

“Bukankah kau meminta suamimu untuk membunuh Kicaka?” Oh Dewa, begitu tajamkah batin Ratu Sudhesa sehingga mengetahui apa yang terjadi tadi malam.

“Baik kalau ratu mendesakku.” Aku mulai mengangkat wajahku. Aku tatap lekat-lekat wajah ratu. Aku tahu sikapku ini pasti membuat ia tidak senang, termasuk para pelayannya. Mereka pasti akan membenciku.

“Jaga sikapmu kepadaku perempuan rendah!” Ratu Sudhesa kembali membentak. Namu aku lawan matanya dengan sikap tidak berubah.

“Senapati Kicaka telah memperlakukanku dengan buruk Ratu.”

“Apa yang dilakukan Kicaka kepadamu sudra?”

“Aku kira ratu tahu apa yang dilakukan tuan senapati kepada pelayan sudra ini.”

“Apakah tidak pantas kalau tuanmu menghendaki kamu pelayan?”

“Sungguh pantas ratu, tapi bukan untuk olah asmara.”

“Apa yang membuatmu merasa lebih terhormat dari pada pelayan yang lain, sehingga menolak Kicaka?”

“Ratu, aku perempuan bersuami, lagi pula kalau sampai suamiku tahu Tuan Kicaka menghendaki aku dan memaksa untuk berolah asmara, suamiku pasti akan melabrak dengan seluruh rakyat raksasa.” Aku sengaja menekanku kata melabrak agar Ratu Sudhesa berpikir kalau ingin menyingkirkanku.

“Jadi kamu mengancam Negeri Mastya yang masyur ini?”

“Tidak ada maksud begitu ratu. Aku justru takut kalau suamiku akan bergabung dengan Kaurawa untuk menjarah kekayaan Negeri Mastya.”

“Tahu dari mana kamu kalau Hastinapura akan menjarah kekayaan Negeri Mastya.”

“Aku dengar dari suamiku ratu, bahwa Kaurawa sedang menghimpun kekayaan untuk membiayai perang besar yang katanya akan segera pecah.” Aku mencoba meyakinkan.

“Hai sudra, kembalilah kau ke hutan, Aku tidak ingin melihatmu lagi.”  Kalimat terakhir itu membuat jantungku seolah lepas. Apa jadinya kalau sampai aku terusir dari istana Ratu Sudhesa. Pandawa tidak akan tinggal diam kalau sampai aku terlunta-lunta di luar istana Mastya. Maka semua penyamaran akan terbongkar, padahal pekan depan penyamaran sudah akan selasai. Oh Dewa, tolonglah Pendawa.

 

24 Comments to "Draupadi (7)"

  1. Chandra Sasadara  4 October, 2012 at 22:30

    Bu’ Linda : memang Drupadi itu perempuan banget.. bukan setengah perempuan seperti Srikandi atau Prihanala..hehhehehe

  2. Chandra Sasadara  4 October, 2012 at 22:29

    Kang Anoew : ntar klo adegan kebug-gebukanya jelas … wah kompornya Bu’ Lidan berhasil dong..hehehehee

  3. Linda Cheang  4 October, 2012 at 22:06

    Chandra, boleh saja, sih, bikin kisah Mahabharata dari perspektif perempuan, tapi jangan kelewat perempuan banget. Lebay, deh

  4. anoew  4 October, 2012 at 21:05

    Lind, kok curiga sih kalau aku keringetan?

    Kang Chandra, lho kok bisa nelen biji? Pokok’e episode berikutnya harus lebih jelas adegan ‘gebug-menggebugnya’

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *