Pejaten (5)

Fidelis R. Situmorang

 

“Hai, sayang…” sambutnya mencium pipiku.

“Hai… udah lama nunggunya ya?”

“Nggak apa-apa. Aku sekalian ke toko buku barusan. Lihat-lihat… tuh, kopimu sudah aku pesan sekalian…”

“Makasih ya…”

 

Dari kursi di sebelahnya yang terlihat dipenuhi barang, ia mengambil sesuatu.

“Happy birthday ya, sayang…” katanya sambil  meletakkan satu kue mungil yang cantik berwarna coklat ke atas meja dan menempatkan satu lilin kecil di atasnya.

“Pinjam korek…” katanya lagi.

“Wah, ada yang ulang tahun ternyata ya…” kataku bercanda dan memberikan korek api ke tangannya.

“Hahaha… iya, kamuuu…” sambutnya tertawa.

Kemudian ia menyalakan lilin. “Ayo, make a wish, terus tiup lilinnya ya…”

 

Di api kecil yang menari manis di atas kue itu, tergambar seorang anak kecil yang sedang bermain mobil-mobilan di dekat kaki ibunya, sementara ayahnya sedang serius membaca koran.

Ah, cepat sekali waktu berlalu, kataku dalam hati.

“Ayo tiup lilinnya…”

“Harus merem ya?”

“Iya…”

Aku memejamkan mata. Ada lagi gambar seorang anak kecil sedang merayu ibunya minta dibelikan sepeda.

“Kok, nggak ditiup-tiup sih?”

Lalu gambar seorang ayah yang menemani anaknya belajar bersepeda. Ya, cepat sekali waktu berlalu.

“Rain… Sayang…?”

“Aku ketiduran…” jawabku

“Hahaha….”

Segera kutiup lilinnya. Semua gambar itu padam berganti sepasang alis manis di hadapanku.

“Selamat ulang tahun ya, sayang…” ia memeluk dan mencium pipiku.

“Makasih, sayang,” kataku balas mencium pipinya.

“Katanya suka sama alis aku, Kok yang dicium pipiku sih?” Katanya menggodaku. “Kan harusnya di…”

Segera kucium bibirnya, membalas godaannya. Pipinya memerah karena malu. Cantik sekali. Senang tapi malu. Malu tapi ingin lagi.

“Hei… ada orang tuh…”

“Biarin…” jawabku, “mau lagi?”

“Jangan di sini…”

“Hahaha… ” kami tertawa bersama.

 

“Tadi harapannya apa waktu tiup lilin?”

“Aku bilang, aku pengen kamu…”

“Hahaha… Gomballl…”

“Beneran…”

“Hahaha… Beneran apaaa…?”

“Aku cuma pengen kamu…”

Dia berhenti tertawa, lalu mencium pipiku, menciumnya sekali lagi, dan menciumnya sekali lagi.

 

“Eh, aku ada hadiah untukmu nih…” katanya, lalu mengambil sesuatu lagi dari kursi yang dipenuhi barang-barangnya, dan menyerahkan ke tanganku.

“Buku…”

“Iya…”

“Barusan beli ya?”

“Hehehe…”

“Kok tahu aku suka tulisan-tulisan Pak Andar?” kataku menerima buku berjudul Selamat Panjang Umur, karangan Andar Ismail.

“Tahu donggg…”

 

Untuk yang tersayang: Rain Hasudungan Siallagan.

Semoga hidupmu selalu dipenuhi kebahagiaan.

Riri

 

“Makasih ya, sayang…” kataku begitu membaca ucapan selamat yang tertulis di halaman depan buku itu.

“Iya… sama-sama…” jawabnya. Kemudian ia melanjutkan, “aku seneng banget lho, waktu menuliskan nama kamu di buku itu… Rain Hasudungan Siallagan, rasanya gimana gitu…”

“Rasa cokelat? sahutku bercanda.

“Hahaha… lebih enak. Adem gitu, seperti hujan. Aku seperti mendengar dan merasakan hujan…”

“Hahaha… kan memang namaku artinya hujan…”

“Iya, hujan yang manis…”

“Aduh, perasaanku nggak enak nih, dipuji terus…”

“Jangan-jangan masuk angin… Hahaha…

 

“Eh, masih ada lagi kadonya, lho…” Lalu ia menyerahkan satu kotak kecil yang dibungkus bagus sekali.

“Ayo, buka…”

“Nggak tega aku ngerobek bungkusnya, bagus banget…”

“Hahaha… nasib kertas kado memeng begitu kan? Ayo, buka dongg…”

“Wahhh… Fossil…” kataku membaca tulisan pada kotak kado yang telah terbuka.

“Iya… Suka kan?” sahutnya dan membantuku mengenakannya di lengan kiriku.

“Bagus banget di tangan kamu… aku juga pakai, lho…” katanya tersenyum mengangkat lengan kirinya. “Waktunya sudah aku samain. Nah, sekarang kita benar-benar jadi sepasang kekasih yang kompak… Hahaha…”

“Wah… makasih banget ya, Ri… seneng banget aku nih… maaf ya, aku sering telat waktu kalau janjian sama kamu…”

“Hahaha… bukan karena itu… aku memang pengen hadiahin kamu jam tangan kok… tapi besok-besok, kalau kita janjian, jangan telat lagi yaaa…”

“Makasih ya, sayang…” kataku sekali lagi dan mencium sepasang alisnya. Dia tersenyum. Manis sekali.

“Aku masih punya satu hadiah lagi untukmu, lho…” katanya mengedipkan kedua matanya. Sepasang alisnya ikut bergerak manis.

“Wah, hujan hadiah aku nih…”

“Pindah tempat, yukkk…” sambungnya menggandeng tanganku mengajak berdiri.

 

Di salah satu jendela toko, seorang anak kecil sedang merajuk, menarik-narik baju ibunya. “Barniii.. Barniiiii…” teriaknya.

“Kamu kan sudah punya semua, sayang… Sudah ada 3 yang sama di rumah, yang lain aja ya…” bujuk ibunya.

“Barni, Ma… Barniii… rajuknya tak mau yang lain.

 

Seketika melintas lagi gambaran anak kecil di api lilin ulang tahun tadi. Riri tersenyum menengok ke arahku. “Kamu begitu nggak waktu kecil?”

Aku membalas senyumannya. Ya, cepat sekali waktu berlalu. Dari dalam toko terdengar satu lagu:

 

I love you

You love me

We’re a happy family

With a great big hug and a kiss from me to you,

won’t you say you love me too?

 

Bulan yang hanya separuh mengintip dari rimbun daun-daun pepohonan di jalan. Aku menikmati malam yang hangat bersama si Alis manis. Malam yang selalu cepat habis jika bersama dia.

 

7 Comments to "Pejaten (5)"

  1. Fidelis R. Situmorang  8 October, 2012 at 21:36

    @James: Salam dari Pejaten
    @Om Dj: Hahaha… Iya, Om, hujan hadiah nih
    @Mas Anoew: Makasih, Mas… Suka juga sama tulisan2 Mas Anoew yang asyik2 banget itu
    @Bang J C, @Mbak Dewi: Hehehe…. Yang ini Riri (Ririn tanpa huruf n) Hahaha

  2. Dewi Aichi  8 October, 2012 at 20:53

    lhaaaaaaa..kok Ririn lagi ha ha…Fidelis memang mengukir tajam kisah Ririnmu di baltyra..

  3. J C  8 October, 2012 at 20:08

    Terus mengikuti kisah si Ririn…

  4. anoew  8 October, 2012 at 18:54

    Indah isinya, apik dialognya, cerdas penyampaiannya..! Mantabs..!!

  5. Dewi Aichi  8 October, 2012 at 08:52

    Hmm….rupanya kisah romantis nih yang di Pejaten nih….

  6. Dj.  7 October, 2012 at 14:02

    Waaaaaw….
    Hujan hadiah kali ini.
    Selamat…!!!

  7. James  7 October, 2012 at 11:14

    SATOE Pejaten

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.