Air

Chandra Sasadara

 

Sejak berabad lalu tanah telah berubah, batuan alam telah bergeser dan gunung-gunung seperti telah berpindah dari tempatnya. Sepanjang mata memandang hanya terdapat gugusan berpasir dan onggokan batu. Bukan hanya panas matahari yang menyengat kulit, namun hamparan pasir dan angin yang bertiup juga mengeluarkan  panas yang membakar.  Penghuni tanah itu tidak kenal pohon, hutan, sawah , ladang dan berbagai jenis binatang. Mereka hanya mendengar semua itu dalam dongeng yang dituturkan secara lisan oleh orang tua mereka dan sisa lukisan tua di dinding museum kota.

Dulu tanah itu bernama Aikmaluak, air yang meluap-berlimpah. Dalam dongeng, tanah itu juga disebut Siti Tirta Pawitra. Sebutan itu ingin menunjukkan bahwa tanah yang sekarang terdiri dari hamparan pasir itu dulu berupa tanah becek dengan curah hujan tinggi, bersuhu lebab dan mejadi sumber hidup bagi penghuninya. Di tanah itu dulu hutan menjadi dinding pembatas setiap lembah dan ngarai. Air mengalir di setiap cerukan tanah hingga ke laut lepas. Sawah dan ladang menghampar di setiap lembah, kaki bukit dan ngarai. Berbagai jenis binatang hidup berdampingan dengan manusia.

Beratus tahun lalu gelombang laut pasang menyapu bumi , menghancurkan peradaban dan tata nilai. Memusnahkan sawah, ladang dan aliran air. Membunuh binatang dan manusia. Menyisahkan hamparan tanah kering dan panas yang menyengat. Hanya manusia penghuni dataran tinggi  yang masih tersisa.

“Nek, apakah nenek pernah melihat hewan bernama ayam?” anak umur belasan tahun itu mengajukan pertanyaan kepada perempuan tua di hadapannya. Perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia menarik nafas panjang sambil mengibaskan kainnya yang berdebuh.

“Dari mana kamu tahu nama binatang langkah itu Cucu?”

“Dari buku Nek. Dalam buku-buku tua ada banyak gambar tentang binatang, termasuk ayam.”

“Nenek tidak pernah melihat binatang bernama ayam, entah berapa generasi di atas nenek yang tidak lagi melihat binatang bernama ayam.”

“Mengapa binatang ayam itu musnah Nek?”

“Hewan tidak bisa hidup tanpa air cucuku, seperti halnya jenis kita.”  Nenek itu menjawab tanpa semangat.

“Nek, menapa kita tidak berbagi air dengan hewan-hewan agar aku bisa melihat ayam?”

“Cucu, binatang bernama ayam itu telah musnah sejak manusia penghuni tanah ini kesulitan air.”

“Bukankah nenek pernah bercerita dulu tanah ini punya sumber air yang besar?”

“Beribu tahun lalu, tanah ini bukan hanya punya sumber air.  Tapi terdiri dari tanah dan air.”

“Berarti nenek moyang kita dulu hidup di antara aliran air?”

“Moyang kita dulu membangun rumah di atas air cucuku, di atas tanah yang di bawahnya mengalir air jernih dan berbagai binatang penghuninya.”

“Apa nama binatang penghuni air itu Nek?”

“Moyang kita dulu menyebut binatang air itu ikan dan udang.”

“Mengapa sebutan ikan dan udang sekarang tidak ada dalam buku-buku Nek?”

“Untuk apa nama binatang itu ada dalam buku, nama itu telah hilang berabad lalu. Sejak penghuni tanah ini tidak punya air.”

Perempuan tua itu diam, bukan menunggu pertanyaan lanjutan dari cucunya namun sedang melamunkan sebuah tanah becek, hutan lebat dan suara-suara binatang. Ia sendiri tidak pernah melihatnya, hanya mendengar cerita dari ibunya dan dari dua lukisan warisan keluarganya. Satu lukisan kuda-kuda sedang belarian di padang rumput yang berbatasan dengan pohon-pohon lebat dan satu lagi lukisan hamparan sawah di kaki bukit.

“Nenek, dari mana kita mendapat air setiap hari yang kita minum?” Remaja itu melanjutkan pertanyaan.

“Kita mendapat jatah air dari penguasa tanah ini atas pengorbanan ayah dan ibumu.”

“Apa yang dilakukan oleh ayah dan ibu Nek?”  Suara remaja itu setengah menjerit.

“ Ayah dan ibumu menukarkan dirinya agar kita berdua mendapat jatah air dari penguasa cucuku.” Mata tua perempuan itu berlinang.

“Dari mana penguasa itu mendapat air Nek?”

“Konon penguasa itu memiliki alat yang bisa mengubah air asin menjadi air tawar yang bisa kita minum.”

“ Di mana alat itu Nek?”

“Nenek tidak tahu cucu. Kabar yang beredar alat itu di bawah tanah, kabar lain menyebut alat itu jauh di tengah gugusan air asin. Tapi entalah, di mana gugusan air asin itu.”

Perempuan tua itu teringat cerita tentang gugusan air asin. Moyang manusia menyebutnya dengan laut.  Namun manurut kabar dari para pemburu air, gugusan air asin itu hanya bualan penguasa.

“Nek, apa yang membuat tanah kita berubah dari tanah becek menjadi gugusan pasir seperti sekarang ini.”

“Cucu, pipislah di depan rumah.” Perempuan tua itu menjawab pendek.

“Apa buhungannya dengan pipis Nek?”

“Pipislah, tunggu beberapa saat, apakah pasir basah itu berubah menjadi kering atau tidak.”

“Pasti menjadi kering Nek.”

“Itulah jawaban dari pertanyaanmu. Mengapa tanah becek menjadi gugusan pasir.”

“Berarti perubahan itu karena panas matahari?”

“Betul cucu.”

“Mengapa matahari jahat pada kita Nek?” Remaja itu terus mengejar .

“Matahari tidak pernah jahat pada kita, matahari memberikan kehidupan Cucu. Bahkan beratus abad lalu, ada bangsa manusia yang mengagungkan matahari.”

“Bagaimana matahari disebut tidak jahat Nek, bukankah matahari membuat kering air yang harusnya kita minum?”

“Kitalah yang jahat Cucu, bangsa manusia yang jahat.”

“Apa yang dilakukan manusia pada matahari Nek?”

“Bukan kepada matahari Cucu, tapi kepada tanah yang kita pijak ini.”

Perempuan tua itu bercerita tentang dongeng sapasang kekasih. Kekasih yang merana karena terpisah  ruang. Namun sebelum berpisah mereka bedua berjanji untuk saling mejaga dan memberikan keturunan dengan cara mereka sendiri. Kekasih perempuan itu menyebut dirinya sebagai Bumi Pertiwi, sedangkan kekasih laki-laki menyebut dirinya Surya Bagaskara.

“Kita ini anak-anak Bumi Cucu.”

“Berarti kita juga anak-anak Bagaskara, mengapa Bapak tidak menolong kita Nek. justru membuat kita mati kehausan?”

“Karena kita, bangsa manusia telah mendurhakai Bumi, merusak, bahkan memperkosanya.”  Nafas perempuan tua itu tiba-tiba sesak ketika mengucapkan kalimat itu.

“Manusia telah membuat Bumi menjadi cepat tua, kering dan kehilangan kesuburan.” Nenek itu melanjutkan penjelasanya.

“Mengapa manusia, moyang kita dulu melakukan kejahatan itu ?”

“Konon dulu penghuni  tanah ini terdiri dari manusia-manusia jahat, rakus dan gila.”

“Maksud Nenek? ”

“Semua milik Bumi telah dirampok anak-anaknya sendiri, manusia-manusia yang hidup sebelum kita. Hutan di darat, hutan di gugusan air asin, isi perut Bumi  semua dikuras, dibabat untuk kesenangan sesaat”

“Itu yang membuat Bagaskara meningkatkan sengatannya, membakar gunung es di belahan utara dan selatan. Dan airnya menyapu daratan.” Perempuan tua itu melanjutkan.

“Mangapa kita yang menerima hukuman Nek.”

“Bukan hanya kita yang menerima hukuman Cucu. Manusia sebelum kita, kita sekarang ini dan manusia-manusia setelah kita juga akan mendapat hukuman.”

“Itu tidak adil Nek.”

“Itu adil Cucu. Tidak ada kekasih yang akan membiarkan pasangannya dirusak, diperkosa sampai kehilangan kesuburanya tanpa hukuman.”

“Mengapa dewa-dewa tidak menolong kita Nek?”

“Jangankan menolong, kencing pun dewa-dewa tidak sudi untuk mengembalikan kesuburan tanah ini.”

Keduanya terdiam. Mata-mata yang sayu, kosong dan nampak kering itu memandang jauh ke batas cakrawala yang berselimut debu. Mereka marah, marah kepada moyangnya. Marah kepada bangsa manusia yang hidup sebelum mereka.

 

18 Comments to "Air"

  1. Chandra Sasadara  15 October, 2012 at 21:12

    Elnino : jangan sampai dech apa yg ada dalam cerita itu menimpah anak cucu

  2. Chandra Sasadara  15 October, 2012 at 21:11

    Benar Kang Anoew : mengusai memang bisa berarti mengelola. namun kata (terminolgo itu) sudah tercemar penggunaaanya dalam kosa kata bhs indonesia karena praktek kekusaaan. dadi lek jeneng mengusai iku yo included rakus, menang dewe, pek dewe, ngerusak lan sak pinunggalane..hehehehe

  3. Chandra Sasadara  15 October, 2012 at 21:09

    Mas Sumonggo.. kalau pun di planet lain ada air yang melimpah. siapa yang akan ngangsung (ambil air) di planet tersebut. wongjaraknya saja 500 thn cahaya…hhehehehe

  4. elnino  12 October, 2012 at 18:51

    Mengerikan..!! Sungguh mengerikan membayangkan jaman krisis air di masa depan. Sedangkan saat ini, air bersih sudah menjadi barang langka di beberapa belahan dunia. Air bersih bukanlah sumber alam yg tidak tak terbatas. Mungkin akan tiba masanya manusia saling perang dan membunuh demi berebut air bersih. Na’udzubillah. Mudah2an tidak sempat mengalami jaman itu..
    Kapan manusia sadar bahwa bumi ini bukan warisan tapi pinjaman dari anak cucu dan generasi yg akan datang?

  5. anoew  12 October, 2012 at 16:26

    Menguasai kan tidak harus merusaknya tho, Kang Chandra? Menguasai dalam arti mengelola, menumbuhkembangkan sekaligus melestarikan apa yang sudah disediakan oleh sang pencipta alam semesta.

    Kalau bumi dan segala isinya tidak dikuasai, lha manungsa trus ngapain tapi ya itu tadi, dengan penguasaan yang baik dan benar tentunya.

  6. Sumonggo  12 October, 2012 at 12:56

    Musim kemarau ini, dropping air menjadi rutinitas di sejumlah daerah, juga kemarau tahun lalu, dan sebelumnya .. dan sebelumnya .. dan mungkin tahun depan juga.
    Bila bumi yang kering, akankah dropping air dari planet lain?

  7. Chandra Sasadara  12 October, 2012 at 07:17

    Pak DJ terima kasih atas apresiasinya.. beberapa org memang lebih suka yang panjang..hehehehhe

  8. Chandra Sasadara  12 October, 2012 at 07:16

    Kang ANoew : kalau tidak salah manusia tidak dicipta untuk menguasai tapi untuk mengelola (khalifah) dalam bahasa jawa kata khalifah diartikan sbg “memayu hayuning bawono”. memperindah dan memelihara alam semesta. khalifah sendiri berarti wakil, wakil Tuhan untuk memelihara alam. kiro-kiro ngono..heheheh.

    maka sungguh TERLALU kalau hari ini manusia merusaknya..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *