Andriana

Ki Ageng Similikithi

 

“Andri, jangan tinggalkan kami. Kasihan anak kita Tantri”. Terdengar suara seorang pria berteriak parau. Suara orang berlari lari ditengah hiruk pikuk  stasion. Stasion Tugu, Yogyakarta. Jeritan seorang anak kecil, menangis pilu. “ Mami, jangan pergi. Tantri nggak mau ikut. Tantri takut”. Kemudian suara  bergetar seorang wanita nyaring melengking “ Mas Hari, kita cukupkan sekian saja. Saya pergi meninggalkanmu. Titip jaga Tantri. Saya menemukan cinta. Saya ingin menggapai bahagia dengan orang yang saya kasihi”.  Hiruk pikuk suara manusia bercampur dengan desah mesin lokomotif, terdengar memekakkan telinga.  Kuatkan hatimu, Andriana. Saya sangat mencintaimu. Jangan ragu. Kita harus berangkat sekarang”. Suara lain seorang pria, bergema berwibawa. Semakin gaduh,  suara musik menghentak-hentak, menambah ketegangan.

Itu suara dari radio. Lupa stasiun mana. Mungkin RRI satu  Nusantara, Yogyakarta. Acara sandiwara radio. Suatu siang yang panas.  Tahun 1995 bulannya lupa. Jam setengah dua siang. Saya mendengarkannya  di mobil, dalam perjalanan kembali ke kantor lewat jalan Kaliurang. Baru saja mengontrol pembangunan rumah saya di Ngaglik, Sleman. Tak sengaja menghidupkan radio di mobil dan mendengar dialog itu. Saya memegang setir dengan tenang menikmati  sandiwara tersebut. Ingat masa-masa di tahun enam puluhan saat sekolah di Solo. Selalu mendengar sandiwara radio. Begitu adiktif. Tetapi sudah lama sekali berlalu. Hiburan radio kemudian menjadi jauh dari kehidupan saya. Hanya sempat mendengar  jika pas mengemudikan mobil berangkat dan pulang kantor saja. Seperti siang hari itu.

Tiba-tiba terdengar jeritan memilukan dari radio. “Andrianaaaaaaaaaa”. “Mamiiiiiiiiiiiiiiii”. “Mas Hari,  selamat tinggal. Saya pergi. Tak akan kembali. Tantriiiiiiiiiiiiii, I love you Tantri. Maaf, Mami pergi ya”. Musik menggema memilukan. Hiruk pikuk suara manusia. Suara sempritan berkepanjangan. “Priiiiiiiiiiiiiiiit”.  Ada yang berteriak tak jelas. Menyusul suara rem kereta, nyaring mengiris. “ Griiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit”. Saya terbawa. Insting saya menginjak pedal rem mobil. Mendadak berhenti.

“Braaaaak”. “Gomballlllllll”. Tiba-tiba suara menggebrak mobil. Terkejut setengah mati saya. Seseorang berteriak nyaring. Masih kebingungan saya ketika orang tersebut menghardik marah. “ Oom, bahaya. Jangan berhenti mendadak di tengah jalan”. Menjawab sekenanya “ O iya ? Sori”. “Si oom berlagak pilon”. Sepasang muda mudi boncengan naik motor. Mereka pergi meninggalkan saya. Si gadis masih sempat mengumpat “ Bloon banget”.

Kembali tenang. Bangun dari lamunan.  Radio saya matikan. Saya  menjalankan mobil pelan-pelan. Sambil berpikir. Andriana, Andriana. Siapakah kamu ini?. Menyakiti suami. Menyakiti anak tersayang. Demi cinta. Mungkin gombal. Saya yang hanya jadi pendengar setia pun, hampir ikut celaka. Dihardik orang di tengah jalan. Edaaaaan.

Hidup memang penuh sandiwara. Manusia hanya menjalani. Orang di sekitar kita yang menonton dan menikmati. Yang penting jangan menyakiti dan menyengsarakan orang lain.

 

Salam damai

Ki Ageng Similikithi.

 

9 Comments to "Andriana"

  1. Dj.  11 October, 2012 at 22:17

    Ki…. Terimakasih….

    Kalimat pertama saja Dj. sudah salut dengan pria, yang demi keluarga masih mengharap
    agar istri tidak pergi.
    Dj. kira namanya Dewi Ajeng ( DA )bukan…??? Hahahahahaha….
    Salam manis dar Mainz, untuk Nyi ya Ki…

  2. anoew  11 October, 2012 at 21:43

    Untung Ki, cuma menginjak rem mendadak secara refleks begitu mendengar suara rem di drama radio tersebut, dan untungnya itu cerita roman. Wah kalau cerita perang seperti tokoh Manthili yang konon bisa menembus bumi, saya gk terbayang apa yang akan dilakukan Ki Ageng secara refleks begitu mendengar suara tubuh manusia ketika menembus bumi..

  3. Asianerata  11 October, 2012 at 21:36

    melihat judulnya saya kira bekas pacarnya Ki…ah ternyata hanya sandiwara radio tho….saya selalu menikmati tulisan ki, enak sekali dibacanya.

  4. Chandra Sasadara  11 October, 2012 at 17:17

    hampir ku gebrak meja baca.. masa cerita hanya adegan di stasiun..hhehehe

  5. HennieTriana Oberst  11 October, 2012 at 16:23

    Ki, cinta memang sering membutakan.
    Kalau nyetir mendengarkan lagu saja Ki, yang lembut.

  6. J C  11 October, 2012 at 15:40

    Haduuuuhhh pak Ki Ageng, saya ikutan terkejut ketika rem mendadak itu…

    Saya hanya ingat numpang dengar sandiwara radio Zuraida/Zoraida yang sangat populer ketika itu. Kalau masa sebelum itu, senangnya dengar kaset dari Sanggar Cerita, seru sekali. Belum punya video player, belum ada serial apapun juga…

  7. Linda Cheang  11 October, 2012 at 13:57

    btw, yang benar itu : Love blinds….

  8. Lani  11 October, 2012 at 13:47

    wadooooooh………….ediaaaaaaan hampir mencelakai org lain gara2 sandiwara radio………mmg betul adanya dl aku jg kedanan sama yg namanya sandiwara radio heheheh………..ngaku aku Ki

  9. Linda Cheang  11 October, 2012 at 13:40

    gara-gara terhanyut drama radio, nyaris celaka….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *